La Hora

La Hora
LH - 48 - Tears



 


 


 


 


Kembali ke masa kini (lanjutan part 34. Fearful)


 


 


Shica membeku mendengar itu. Dia menatap kosong ke vas bunga di meja. Air matanya mengalir dari sudut matanya.


 


 


Perasaannya kini menjadi campur aduk setelah mengetahui semuanya.


 


 


Januaar bangkit dari ranjang. Tampaknya dia sudah kembali tenang. Laki-laki itu menarik lengan Shica yang kemudian terpaksa berdiri.


 


 


"Kenapa menangis? Tangisanmu tidak akan membuatku berubah pikiran."


 


 


Shica menatap Januaar. "Maafkan kakakku."


 


 


Januaar menautkan alisnya. "Kau tidak bisa membuat semuanya berubah kembali seperti semula, hanya karena kau meminta maaf."


 


 


Shica melepaskan tangan Januaar darinya. "Meskipun kau membalas perbuatan kakakku melalui aku, semuanya juga tidak akan berubah seperti semula. Tidak ada bedanya, kan?"


 


 


Januaar akan berucap lagi, tapi ponselnya bergetar. Dia mengangkat panggilan dari salah satu temannya.


 


 


__"Bos! Ada orang yang menyerang __base camp__ utama."___


 


 


Januaar mengerutkan keningnya. "Geng mana?"


 


 


__"Sepertinya mereka bukan sekedar gang. Mereka benar-benar gangster.___


 


 


Januaar mengepalkan tangannya. __Ridan Mahali\, aku yakin ini ulahnya. Dia turun tangan juga rupanya.__


 


 


Shica melihat ekspresi Januaar yang tidak baik.


 


 


-


 


 


Ridan merasa sedih ketika melihat istrinya yang setiap hari merenung di tempat yang sama. Seperti dirinya, Ratna juga tidak bisa tidur.


 


 


Tidak hanya mengkhawatirkan Shica, Ridan juga mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia mendekat dan merangkul tubuh istrinya.


 


 


Ratna menunjuk keluar, "Lihatlah, itu ayunan yang biasa digunakan anak-anak bermain waktu mereka masih kecil. Aku yang menyuruh kamu membuat taman di halaman belakang."


 


 


Ridan mengangguk, "Iya."


 


 


Ponsel pria itu begetar. Ridan melihat ada panggilan dari salah satu anak buahnya.


 


 


"Halo?"


 


 


___"Kami sudah menyelesaikan tugas dengan baik di tempat ini. Tapi\, kami tidak menemukan Januaar dan nona Shica."__


 


 


Ridan menutup kedua matanya. Dia menghela napas berat, pria itu tidak bisa apa-apa.


 


 


___"Tapi\, salah satu dari mereka bilang\, Januaar memiliki persembunyian lain."___


 


 


Kedua mata Ridan kembali terbuka, "Siapkan semuanya! Aku akan segera kesana! Aku sendiri yang akan pergi!"


 


 


Ratna menatap punggung suaminya.


 


 


Ketika Ridan menuruni tangga, Regar dan Rama menoleh pada ayah mereka.


 


 


"Papa mau kemana?" Tanya Rama.


 


 


Tidak ada jawaban dari Ridan. Regar dan Rama saling pandang.


 


 


Regar tampak berpikir. "Sepertinya papa sudah menemukan Shica. Kita harus mengikutinya."


 


 


"Tapi, papa bilang, kita tidak boleh kemana-mana."


 


 


"Kalau begitu, aku yang akan pergi. Kau harus di sini menjaga mama." Regar berlalu.


 


 


Rama menarik tangan kakaknya. "Jangan pergi, Kak."


 


 


Regar terdiam sesaat. "Aku harus bertanggung jawab. Ini semua kesalahanku. Jangan sampai ada yang kehilangan nyawa lagi setelah ini."


 


 


Rama melihat motor merah milik kakaknya melaju meninggalkan rumah Mahali.


 


 


Rama menelpon Raihan. "Raihan, ikut denganku."


 


 


-


 


 


Ridan bersama orang-orangnya telah tiba di rumah besar milik Januaar. Para bodyguard yang berjaga di sana tidak tinggal diam.


 


 


Terjadi perkelahian antara orang-orangnya Ridan dengan orang-orangnya Januaar.


 


 


Ridan menerobos masuk dengan pistol di tangannya. "Seharusnya aku membunuh Gallardo sejak awal agar dia tidak melahirkan anak sialan ini yang juga menyusahkan seperti ayahnya."


 


 


Di lantai 2, Januaar melihat kedatangan Ridan. Shica tampak senang melihat kedatangan ayahnya.


 


 


Januaar menarik tangannya. "Ikut aku!"


 


 


-


 


 


Regar ketinggalan jauh ketika menyusul mobil Ridan. Dia mengusap kasar wajahnya.


 


 


Sebuah mobil berhenti di sampingnya. Regar menoleh. Kaca mobilnya turun, ternyata Felix.


 


 


"Om Felix?"


 


 


"Butuh navigasi?"


 


 


-


 


 


Raihan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Rama melajukan motornya di depan.


 


 


"Shica, semoga kau baik-baik saja."


 


 


-


 


 


Januaar yang masih menarik tangan Shica. Dia melihat ke sekeliling.


 


 


"Di mana kak Rayaa?" Gumam laki-laki itu.


 


 


-


 


 


Raihan dan Rama telah tiba di rumah Gallardo. Mereka melihat mobil tuan Mahali yang terparkir di depan. Tidak hanya itu. Ada mobil Felix dan juga motor merah milik Regar.


 


 


Beberapa orang terkapar di mana-mana. Rama mual sekali melihat itu.


 


 


"Ayo, cepat." Raihan menarik tangan Rama.


 


 


Mereka memasuki rumah besar itu. Keduanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


 


 


Rama menatap Raihan. "Rumah ini terlalu besar, aku yakin kita bisa menemukan Shica jika kita berpencar."


 


 


Raihan menggeleng. "Kita akan tersesat jika berpencar di rumah sebesar ini."


 


 


Rama menepuk bahu Raihan. "Aku ke sana, kau ke sana."


 


 


Raihan menatap punggung Rama yang menjauh. Akhirnya Raihan menurut. Dia berlali ke arah sebaliknya dengan Rama.


 


 


-


 


 


Ridan menaiki tangga menuju lantai dua. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


 


 


-


 


 


Rayaa sedang duduk melamun di balkon kamarnya. Terdengar suara langkah kaki mendekati kamarnya. Rayaa menoleh dan menatap pintu.


 


 


Knop ditarik dari luar. Perlahan pintu terbuka dan menunjukkan siapa yang berdiri di sana.


 


 


Kedua mata Rayaa membelalak. Regar berdiri di sana dengan tatapan tidak terbaca. Namun, ada rasa rindu yang tersirat di sana.


 


 


Mulut Rayaa terbuka melihat laki-laki yang sudah beberapa tahun ini tidak bertatap muka dengannya.


 


 


Sejenak mereka saling menatap di jarak sejauh itu. Namun, Rayaa mengernyit ketika melihat keberadaan seorang pria di belakang Regar.


 


 


Pria itu adalah Felix. Dia tersenyum pada Rayaa.


 


 


"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."


 


 


-


 


 


Raihan tidak menemukan siapa pun di ruangan-ruangan yang digeledahnya.


 


 


 


 


"Kak Rama." Gumam Shica yang berada dalam genggaman Januaar.


 


 


Rama mengepalkan tangannya. "Lepaskan adikku, Januaar!"


 


 


Januaar tersenyum. "Aku memang akan melepaskannya."


 


 


Laki-laki itu melepaskan Shica. Gadis itu berlari memeluk kakaknya.


 


 


"Shica, apa kau tidak apa-apa?" Rama menangkup wajah adiknya.


 


 


Januaar membuang muka melihat itu.


 


 


"Kakak, aku mau pulang."


 


 


Rama mengangguk sambil mengecup kening adiknya. Shica menarik tangan Rama agar segera pergi. Namun, tatapan Rama tertuju pada Januaar.


 


 


"Ayo, Kak." Shica menarik tangan kakaknya.


 


 


Mereka berdua menuruni tangga dan berpapasan dengan Raihan.


 


 


"Shica, kau baik-baik saja?" Raihan mengusap rambut Shica kemudian memeluknya. Shica membalas pelukan Raihan.


 


 


"Ayo, kita harus segera pergi." Raihan dan Shica menarik tangan Rama. Tapi, pandangan laki-laki itu tertuju pada pintu ruangan di mana Januaar berada.


 


 


"Kak Rama." Shica mengguncangkan tangan kakaknya.


 


 


"Kalian pergi saja duluan. Nanti aku menyusul."


 


 


Raihan dan Shica saling pandang. Rama meyakinkan Raihan dan Shica. Akhirnya mereka berdua pergi.


 


 


Rama menaiki tangga dan kembali menemui Januaar. Laki-laki itu menoleh pada Rama.


 


 


"Ada yang tertinggal?" Tanya Januaar.


 


 


"Ada apa denganmu?" Bukannya menjawab, Rama malah memberikan pertanyaan juga.


 


 


"Pernahkah kau berpikir, kalau Tuhan itu tidak adil?" Tanya Januaar.


 


 


"Kenapa menyalahkan Tuhan?"


 


 


Januaar tersenyum. "Bisakah kita balapan untuk terakhir kalinya, Rama?"


 


 


-


 


 


Shica dan Raihan keluar dari rumah itu. Raihan membuka pintu mobilnya untuk Shica, tapi pandangan gadis itu tertuju ke lantai 2. Kedua matanya membelalak melihat Rayaa berdiri di pagara balkon. Raihan menoleh ke arah pandang Shica. Dia juga terkejut.


 


 


Shica segera berlari dan mengibaskan tangannya. "Rayaa! Apa yang kau lakukan?! Jangan berdiri di sana!"


 


 


Raihan menyusul Shica. Dia juga berteriak pada Rayaa. "Rayaa, kembali ke kamarmu. Jangan berdiri di sana!"


 


 


Rayaa menunduk melihat pada Shica dan Raihan yang tepat berada di bawahnya. Air matanya berlinang membasahi pipinya.


 


 


__Kau telah menemukan gadis yang mencintaimu dengan tulus\, Raihan. Aku bahagia untukmu. Terima kasih sudah menjadi kekuatanku selama ini. Namun\, aku tidak bisa bertahan terlalu lama. Aku tidak sanggup.___


 


 


Rayaa membelakangi balkon.  Raihan dan Shica mengira, jika gadis itu akan masuk ke kamarnya, tapi ternyata dia menjatuhkan tubuhnya.


 


 


"Aaarrgghh!" Shica berteriak kencang melihat tubuh Rayaa yang berbenturan dengan atap lantai bawah dan jatuh ke patung taman sebelum akhirnya terkapar di pelataran rumah tersebut.


 


 


Raihan terbelalak. Kedua kakinya terasa membeku. Darah segar menggenang di sekitar tubuh Rayaa.


 


 


Shica menangis. Dia berlari menghampiri tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Raihan berjalan dengan lunglai dan air mata di pipinya.


 


 


Shica menyentuh tangan Rayaa yang mulai dingin. Gadis itu berkali-kali meminta maaf, entah untuk apa.


 


 


"Maafkan aku... maafkan aku, Rayaa...."


 


 


Raihan jatuh tertekuk di samping tubuh itu. Dia menyentuh rambut Rayaa yang sudah diselimuti dengan darah.


 


 


Kedua remaja itu menangis. Tanpa sadar jika senyuman terpatri di wajah Rayaa yang sudah kaku.


 


 


Shica mendongkak menatap ke lantai dua. Dia melihat keberadaan Regar dan Felix di sana. Shica mengernyit bingung.


 


 


Gadis itu juga melihat keberadaan ayahnya di depan pintu utama. Pria paruh baya itu sedang melihat ke arahnya.


 


 


Shica tampak berpikir. Namun, sesaat kemudian dia mendengar suara motor Rama.


 


 


"Raihan! Itu motor kak Rama! Raihan, cepat kita hentikan dia! Dia pasti dimanipulasi oleh Januaar!" Shica mengguncangkan lengan Raihan.


 


 


Mereka berdua segera memasuki mobil Raihan dan menyusul Rama. Raihan mengikuti jejak ban motor di rerumputan hutan.


 


 


"Mobilku tidak bisa menerobos lagi," ucap Raihan. Shica segera keluar dari mobil Raihan. Dia mengikuti jejak motor kakaknya dengan berjalan kaki. Dia akan mencari kakaknya, meskipun kakinya masih sakit karena Januaar yang memukulnya dengan besi.


 


 


"Shica! Tunggu!" Raihan menyusul Shica.


 


 


-


 


 


Di lokasi yang cukup lenggang, Rama dan Januaar bersiap dengan motor mereka. Keduanya tidak mengenakan helm. Sehingga angin lembut menerpa rambut mereka dan membuat mahkota manusia itu bergerak-gerak.


 


 


"Kita lakukan satu putaran." Januaar menyalakan mesinnya. Rama juga. "Okay."


 


 


Ketika mereka memakai aba-aba, motor keduanya melaju dengan kecepatan tinggi.


 


 


Angin dan petir.


 


 


Januaar melihat Rama yang lebih cepat darinya. Benar saja, Rama berhasil menyusul bahkan melewati Januaar.


 


 


Dalam satu putaran, Rama sebagai pemenang balapan berhenti. Dia melihat Januaar yang masih melajukan motornya.


 


 


Rama menautkan alisnya ketika motor Januaar menabraknya. Tubuh keduanya terlempar bebas beserta motor mereka.


 


 


Januaar memeluk tubuh Rama. Dia berbisik pada Rama, "Ada hal yang perlu kau ketahui sebelum kita mati."


 


 


Kedua laki-laki itu terlempar ke jurang dan tenggelam ke lautan.


 


 


-


 


 


Shica dan Raihan menemukan lahan luas dan jejak ban motor yang lebih jelas di sana. Shica melihat ada goresan di pohon dekat jurang penghubung antara hutan dan lautan.


 


 


Shica merasa kedua lututnya lemas melihat sarung tangan kakaknya mengapung di permukaan air.


 


 


Gadis itu jatuh tertekuk di tanah.


 


 


Raihan mengusap kasar wajahnya yang sudah sembab. Hari ini dia kehilangan banyak orang terdekat dalam hidupnya.


 


 


Laki-laki itu memeluk Shica.


 


 


"Kak Rama!!!!!!"


 


 


-


 


 


Pemakaman Mahali.


 


 


Meishy memeluk Floryn yang tidak bisa berhenti menangis di depan makam Rama. Rangga menunduk dalam mendoakan kepergian Rama.


 


 


Shica menangis tanpa suara dalam dekapan Raihan.


 


 


Setelah kepergian Rama, Ratna yang berkali-kali pingsan dibawa ke rumah sakit. Wanita itu bahkan tidak bisa hadir di pemakaman putranya.


 


 


Ridan dan Regar datang ke pemakaman, tapi mereka langsung pergi karena tidak ingin lama terlarut dalam kesedihan di depan orang yang juga datang ke pemakaman.


 


 


Floryn meletakkan helm hitam yang biasa dipakai Rama ketika balapan di samping foto Rama yang tersenyum ceria.


 


 


Shica juga meletakkan botol minum yang waktu itu diberikannya pada Rama. Dia meletakkannya di samping helm tersebut.


 


 


Setelah kejadian itu, Shica semakin jarang bicara dan mulai menjadi seorang yang pendiam. Gadis itu hanya akan menjawab orang rumah dengan seperlunya.


 


 


Shica tidak hanya sekedar diam saja. Dia mencari tahu banyak hal tentang keluarganya, tentang keluarga Gallardo, dan tentang Felix Donovan.


 


 


Hingga di suatu titik, dia menemukan kebenarannya.


 


 


"Bukan aku pemeran utama di novel ini."


 


 


-◈◈◈-


 


 


22 September 2016


Ucu Irna Marhamah