La Hora

La Hora
LH - 21 - Feeling



-◈◈◈-


 


 


Meishy sedang bersama Shica menuju kelas mereka. Keduanya tampak sedang bercanda sembari melewati koridor sekolah.


"Jadi, kapan kamu mau dibuatkan cerita?" Tanya Meishy. Shica tampak berpikir, "Aku akan memberitahumu nanti."


Meishy mengangguk.


Ketika kedua gadis itu melewati beberapa siswi, mereka berbisik-bisik ribut.


"Apa istimewanya 'sih si Meishy itu? Hanya karena menjuarai olimpiade fisika, dia bisa mendapatkan hati Rangga dan bisa bergaul dengan Raihan dan Shica."


"Iya, padahal dia tidak cantik-cantik juga."


"Meskipun dia pintar, aku tidak menyukai wajahnya."


"Mengerikan."


Ucapan mereka terdengar oleh Shica dan Meishy. Itu benar-benar membuat kedua gadis itu terluka dan marah.


Shica berbalik dan menghampiri mereka, Meishy menahannya, tapi Shica menepis tangan Meishy dan tetap melanjutkan langkahnya.


Shica melipat kedua tangan di depan dada,"Memangnya kalian merasa cantik? Kalian punya wajah cantik karena kalian memakai kosmetik, mulut kalian beraroma tidak sedap, meskipun sudah menyikat gigi."


Tidak ada yang berani merespon. Mereka menatap Shica dengan ekspresi kesal dan tersinggung.


Meishy menunduk dalam.


"Kenapa banyak orang yang menyukai Meishy? Dia baik dan peduli pada semua orang. Bicaranya bagus dan membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya," Shica memiringkan kepalanya ke kiri, "berhenti menyentuh kehidupan orang lain, jika hidupmu tidak mau diobrak-abrik."


Meishy mengangkat wajahnya dan membeku mendengar ucapan Shica. Setelah berkata demikian, Shica berbalik dan menarik tangan Meishy agar segera pergi dari tempat itu.


"K-kenapa kamu mengatakan itu? Nanti mereka jadi tidak menyukaimu," ucap Meishy pelan.


"Mereka memang tidak menyukaiku. Mereka bersikap agak baik padaku, karena mereka menyukai kakak-kakakku, damn!"


Meishy terdiam.


Menyadari ucapannya, Shica menoleh pada Meishy, "Maaf, aku marah-marah begini. Aku marah pada mereka... bukan padamu."


Meishy tersenyum, "Aku mengerti."


*


Bella mendatangi base camp geng Argaa. Laki-laki itu tersenyum melihat kedatangan Bella yang tiba-tiba.


"Sialan!" Bella duduk berhadapan dengan Argaa. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar, membuat pandangan Argaa tertuju pada dadanya yang sedikit berguncang.


"Ada apa denganmu? Tiba-tiba datang kemari dan mengumpat. Tidak ikut simulasi? Bukankah kau kelas 12?" Argaa memberikan banyak pertanyaan pada Bella.


"Kau juga kelas 12, kenapa tidak simulasi?!" Bella balik bertanya dengan nada ketus.


Laki-laki tampan berambut blonde itu memutar bola matanya, "Jangan main 'gas', kita tidak sedang di sirkuit, apa yang kau mau?"


"Aku ingin kau melakukan sesuatu," jawab Bella sambil menatap Argaa dengan serius.


"Apa yang kamu inginkan?" Argaa mulai serius juga.


Bella mengepalkan tangannya, "Aku ingin kau membuat Regar menyesal."


"Kenapa aku harus melakukannya? Itu urusanmu, apa karena dia mengetahui kalau kau sudah tidak perawan?" Ledek Argaa sambil menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangan di depan dada.


Laki-laki itu menatap Bella dengan intens.


"Aku tahu, kau pernah punya masalah dengannya, dan kau dirugikan. Apa kau tidak mau balas dendam juga padanya?" Ucap Bella sambil mengangkat kedua alisnya, menunggu jawaban.


Argaa tampak berpikir, "Apa imbalannya?" Tatapan laki-laki itu tertuju pada dada Bella.


Gadis itu melemparkan foto Shica ke meja, "Kau akan mendapatkan yang lebih bagus. Bukankah kau menyukai 'barang baru' dibandingkan aku?"


Sesaat Argaa melihat foto itu di meja. Namun, tatapannya kembali pada Bella.


"Meskipun kau sudah tidak 'utuh' lagi, aku masih menyukai tubuhmu."


Bella mendecih mendengar ucapan Argaa. Dia melemparkan foto Shica yang lainnya ke meja, hingga ada beberapa foto di sana.


Argaa mengambilnya dan melihat foto Shica dengan lekat, "Siapa dia?"


"Kau tidak tahu? Dia adiknya Regar," Bella melipat kakinya, "mungkin kau tidak mengenalnya, karena gadis itu tidak ikut di geng Regar."


Argaa mengernyit, "Cantik juga, apa kau yakin, dia masih...."


Bella memotong ucapan Argaa, "Kau bisa membuktikannya, jika dia tidak perawan, aku akan mengganti rugi."


"Kau masih belum bilang, apa yang harus aku lakukan," ujar Argaa, terselip pertanyaan dalam kalimatnya.


"Terserah." Bella mengedikkan bahunya.


Argaa menutup matanya, "Regar pernah mengambil kekasihku dan membuatnya berpaling dariku. Aku akan membuatnya menyesal kali ini."


Potongan kejadian muncul di benak Argaa. Bella mengangguk.


"Regar memiliki pesona yang luar biasa, siapa pun tidak bisa menolaknya. Gadis yang ada di foto itu juga terpesona dengan ketampanan kakaknya sendiri," kata Bella.


Argaa mengernyit, "Gadis ini menyukai kakaknya?"


"Bukan, maksudku, aku sering melihat tatapan gadis itu ketika melihat Regar atau Rama. Kau tahu maksudku 'kan? Da menatap dengan tatapan terpesona. Sepertinya keluarga Mahali memang terlahir dengan paras yang indah." Bella membayangkan sesuatu.


Argaa menyeringai dingin, "Gadis ini nakal juga, ya. Siapa namanya?"


"Shica Mahali."


"Apa kau punya informasi lainnya?" Tanya Argaa.


Bella tampak berpikir, "Entahlah, aku akan mencarinya nanti. Kapan kau akan melakukannya?"


"Aku akan melakukannya jika kau sudah mendapatkan informasi tentangnya dan mendapatkan imbalan darimu," jawab Argaa sambil mengusap bibirnya.


Bella memutar bola matanya, "Berhenti mengatakan imbalan, aku akan mencarikan gadis penghibur untukmu."


"Aku tidak mau menunggu, memangnya kau tidak menginginkannya? Sudah berapa lama kau putus dari Regar?" Goda Argaa.


Bella bangkit dari tempat duduknya, "Aku harus mencari informasi untukmu, kan? Jadi... sampai jumpa."


"Good luck."


*


Rangga dan Meishy sedang berada dalam mobil Rangga. Tampaknya Meishy sedang cemas. Rangga menoleh pada Meishy.


"Kamu kenapa, Meis?" Tanya Rangga. Meishy menoleh pada laki-laki itu, "Aku merasa bersalah padamu."


"Kenapa?" Tanya Rangga bingung.


Meishy menunduk dalam, "Kamu diidolakan banyak gadis di sekolah. Semenjak kita mengikuti banyak kegiatan bersama, mereka mengira kita ini dekat dan mereka membenciku dan juga membencimu. Maafkan aku."


Rangga menghela napas, "Kita memang dekat, bukan?"


Kedua pipi Meishy blushing seketika. Rangga memang sering mengatakan itu, namun Meishy mengira, jika Rangga sedang bercanda, karena Rangga memang tipe orang yang suka bercanda.


 


 


"Kamu tidak senang dekat denganku?" Tanya Rangga.


"Aku senang, senang sekali... hanya saja...."


Rangga tertawa, "Jangan memberikan alasan. Aku senang ketika kamu bilang, 'senang' dua kali."


Dan sekarang kedua pipi Meishy sudah matang.


*


Bangku yang diduduki oleh Shica bergerak, menandakan ada seseorang yang duduk di sampingnya.


Shica menoleh, ternyata Raihan. Laki-laki itu tersenyum padanya, "Menunggu kak Rama?"


Shica mengangguk, "Iya menunggu kak Rama, seperti biasa."


"Seperti biasa, kamu tidak pernah bilang, perlu kuantar pulang," ucap Raihan seolah menyambung kalimat yang diucapkan oleh Shica.


Gadis itu hanya tersenyum, "Kakak-kakakku akan marah, kalau aku pulang denganmu."


"Tapi, papa kamu sudah memberikan izin padaku untuk menjagamu, itu artinya papa kamu sudah mempercayaiku."


Shica tampak berpikir kemudian menganggukkan kepalanya, "Baiklah, ayo pulang."


Di perjalanan pulang, ada banyak hal yang terbesit di dalam benak masing-masing.


Ketika aku sudah yakin, kenapa aku jadi ragu, sekarang? Batin Raihan.


Aku menyukaimu, tapi... aku merasa... kamu memang menyukai Rayaa. Kamu mencintai Rayaa, bukan aku. Shica menatap awan-awan gelap di langit.


Sepertinya akan turun hujan.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kulitmu yang memerah sudah sembuh?" Tanya Raihan memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


Shica mengangguk, "Iya, sebenarnya kulitku akan kembali normal setelah beberapa jam kemudian. Tapi, saat kulitku memerah, rasanya perih, panas, dan gatal."


"Apa itu gejala vampire?" Tanya Raihan dengan ekspresi serius. Shica memukul punggung Raihan, "Kenapa kamu malah bercanda?!"


Raihan meringis tertahan, "Aku serius, kulit kamu 'kan putih sekali dan akan terbakar apabila berada di bawah sina matahari, wajah kamu juga ada bule-bulenya."


"Kamu juga ada bule-bulenya," ujar Shica. Raihan tersenyum, "Kalau kita menikah dan memiliki anak, kira-kira anak kita mirip siapa, ya?"


Shica membulatkan matanya mendengar pertanyaan konyol dari Raihan.


"Aku ingin anakku nantinya memiliki kulit seputih dirimu, jangan berkulit gelap sepertiku, nanti dia tidak akan kelihatan di malam hari," ucap Raihan yang membuat Shica tertawa.


"Laki-laki berkulit gelap itu sangat tampan menurutku, bukankah akan terlihat eksotis ketika berada di bawah sinar rembulan?"


Perkataan Shica membuat Raihan menyeringai, "Kamu tahu banyak tentang 'eksotis', ya?"


Shica terdiam sesaat, "Aku... aku hanya pernah membacanya. Meishy juga membacanya."


"Gadis nakal," ucap Raihan. Shica menepuk punggung Raihan, "Aku tidak nakal!"


Raihan tertawa, "Benarkah? Lalu... bagaimana bisa kamu membaca cerita dewasa, sementara kamu sendiri masih berusia 16 tahun."


"Kamu juga tadi membicarakan tentang anak, padahal usia kamu baru 17 tahun." Shica tidak mau kalah.


Raihan tertawa.


Hujan turun mengguyur kota Jakarta. Tetesan air hujan itu membuat Raihan harus ekstra hati-hati ketika mengendarai motornya.


Perlahan tangan Shica bergerak melingkar di perutnya. Raihan sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shica. Selama ini, Shica hanya berani berpegangan pada pinggangnya, dan kali ini dia memeluk Raihan.


"Tetesan air hujan menusuk wajahku," ujar Shica. Raihan tertawa, "Kalau begitu, menunduk saja."


Shica melakukan apa yang dikatakan oleh Raihan. Dia menunduk dan menyandarkan dahinya ke punggung Raihan tanpa melepaskan pelukannya.


Pelukannya membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Kenapa juga harus di saat seperti ini? Raihan merutuki dirinya dalam hati.


Raihan... aku tidak ingin kehilangan kamu... aku sudah merasa nyaman berada di dekatmu. Jangan pergi... kamu cinta pertamaku. Aku tidak bisa mencintai orang lain.


Raihan melihat ada bangku taman yang teduh. Dia memilih untuk memberhentikan motornya dan menunggu hujan reda. Shica merasa senang berada di bawah guyuran hujan. Dia tidak pernah hujan-hujanan selama ini. Gadis Mahali itu dijaga dengan ketat agar tidak keluar rumah ketika langit sedang panas atau sedang hujan.


Dulu ketika pulang sekolah dan tiba-tiba hujan pun dia tidak akan kehujanan, karena Shica pulang naik mobil milik sang ayah.


Jadi, ini pertama kalinya dia pulang dalam keadaan hujan. Dia merasa senang ketika shower dari langit itu menetes membasahi tubuhnya.


Shica tidak bisa diam. Gadis itu malah hujan-hujanan. Raihan berkali-kali harus menarik gadis itu agar diam di tempat yang teduh.


Shica juga menarik Raihan agar mau berlari-lari di bawah hujan.


"Raihaaan! Hujannya sejuk!" Seru Shica.


"Nanti kamu sakit," gerutu Raihan. Shica berlari menjauh, dia tidak ingin mendengarkan Raihan.


Seragam Shica yang basah membuat lekuk tubuhnya terlihat lebih jelas dan menantang di mata Raihan.


Laki-laki itu mati-matian menahan diri untuk tidak memikirkan ke arah sana. Apa yang dilakukan Shica membuat beberapa pejalan kaki menoleh padanya.


"Ah, gadis itu, dia bisa membuat syaraf kewarasanku hilang!" Raihan menghampiri Shica lalu meraih lengan gadis itu dan tanpa ada persiapan, tiba-tiba dia mengecup bibir Shica dengan spontan.


Tentu saja itu membuat Shica terkejut. Kedua mata mereka bertemu. Shica segera menutup matanya karena malu jika harus saling menatap di posisi seperti itu.


Raihan bisa merasakan bibir Shica yang terasa manis ketika bersentuhan dengan bibirnya. Ditatapnya wajah cantik Shica yang sedang terpejam.


Apakah begini rasanya bibir seorang gadis yang masih suci? Apa aku harus merenggut kesuciannya demi perempuan lain yang sama sekali tidak mencintaiku?


Raihan memperdalam ciumannya. Dia menarik pinggang Shica agar semakin dekat dengannya. Sementara Shica tidak melakukan apa-apa, dia hanya memejamkan matanya.


Raihan yakin, itu adalah first kiss bagi Shica. Seliar apa pun imajinasi gadis itu, Raihan yakin, gadis itu tidak pernah melakukan hal yang serupa dengan cerita yang dibacanya.


Gadis itu baru merasakan apa yang dimaksud dengan berciuman. Ketika membaca cerita-cerita dewasa, dia hanya membayangkan, seperti apa rasanya berciuman.


Meskipun hujan turun dengan deras, namun Raihan masih bisa mendengar suara detak jantung Shica. Gadis itu tampaknya gugup.


Shica berjinjit dan membalas ciuman Raihan, namun tidak lama. Dia segera melepaskan tautan bibir mereka.


Raihan tampak kecewa, dia belum puas. Sehingga laki-laki itu kembali mengecup bibir Shica sesaat dan mengucapkan...


"Ana uhibbuka, Shica."


Gadis itu membeku seketika. Dia mengerti sedikit bahasa Arab, namun dia masih belum percaya Raihan akan mengatakannya.


Tidak mendapatkan jawaban, Raihan kembali mengecup bibir Shica, "Te amo, Shica."


Masih belum mendapatkan jawaban, Raihan ******* bibir Shica sekali lagi, "I love you, Shica."


Shica membuka mulutnya untuk menjawab, namun Raihan malah mengecup dan menggigit bagian bawah bibir Shica, "Aku mencintaimu, Shica... apa kau mendengarku?"


Shica mendorong dada Raihan, "Tapi... kamu mencintai orang lain. Kamu mencintai Rayaa.


Raihan menatap Shica dengan intens, "Rayaa mencintai orang lain. Aku tidak bisa memaksakan perasaan orang lain. Ketika aku bersamamu, aku menyadari... perasaanku sekarang untukmu."


"Are you sure?" Shica masih tampak ragu. Dia mencari kebohongan di mata Raihan. Shica tidak melihat sedikit pun kebohongan, yang dilihatnya adalah kejujuran.


"Yes, trust me." Raihan menangkup wajah Shica dan menyatukan dahi mereka.


Gadis itu berjinjit dan mengecup bibir Raihan sekilas, "I love you too. Yeah, I trust you."


Keduanya tersenyum di bawah rintik hujan yang semakin jarang.


Langit yang semula tertutup oleh awan gelap, sekarang menjadi cerah. Ungkapan rasa cinta itu telah membuat hati yang ragu kembali yakin. Hujan benar-benar telah pergi, berganti dengan langit yang cerah, seperti perasaan Shica.


Apakah Raihan menyatakan real love, atau fake love?


Hanya Raihan yang tahu.


-◈◈◈-


 


 


22 April 2016


Ucu Irna Marhamah