
Pulang sekolah, Shica melihat keluarganya sedang berbincang di meja makan.
"Sayang, makanlah." Ratna memanggil putrinya. Wanita itu tampak lebih kurus sejak kematian Rama.
Shica menoleh kemudian menggeleng. "Aku tidak lapar."
"Shica, makanlah. Papa ingin mengatakan sesuatu." Ridan yang bicara.
Akhirnya Shica mengalah. Dia duduk di samping ibunya. Tatapannya tertuju pada kursi yang biasanya digunakan Rama. Laki-laki itu sering duduk di sampingnya dan mencuri makanan di piring Shica, apabila gadis itu sedang lengah.
Shica tersenyum sendu. __Selamat makan\, Kak Rama.__
Mereka menyantap makanan dengan lahap. Setelah itu, Ridan mengatakan hal yang selama ini ingin dia katakan.
"Papa sudah memutuskan untuk menghilangkan nama Rama dari keluarga kita," ucap Ridan.
Shica membeku sesaat.
Regar menoleh pada ayahnya. "Kenapa, Pa? Apa ada yang salah?"
Ratna juga bersuara, "Papa, kali ini Mama tidak setuju dengan apa yang Papa katakan."
"Demi nama baik keluarga, Papa harus menutupi kematian Rama dan apa yang sudah terjadi waktu itu. Rama harus dianggap tidak pernah ada di dunia ini."
Shica mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Papa, ini tidak adil." Regar menyahut.
"Mulai besok, semua dokumen akan diubah, artinya... keluarga Mahali hanya memiliki dua orang anak, Regar dan Shica." Tampaknya Ridan tidak ingin dibantah.
Shica tertawa pelan membuat semua mata tertuju padanya.
"Papa melakukan itu, karena kak Rama bukan anak Papa, kan?" Pertanyaan sarkas Shica membuat ketiga orang yang lebih tua darinya itu terkejut.
"Papa mengadopsi kak Rama saat Mama melahirkan bayi yang meninggal. Saat itu Papa pergi ke panti asuhan dan mengadopsi kak Rama agar Mama tidak sedih."
Ratna menatap Ridan, seolah meminta penjelasan. Sementara Ridan sedang menatap putrinya dengan serius. Regar mencerna ucapan adiknya dengan serius, karena dia juga tidak tahu tentang itu.
"Papa mencari bayi yang memiliki kemiripan dengan Mama. Papa mengambilnya, tapi Papa tidak pernah memberikan kasih sayang yang sama. Seharusnya aku menyadari ini dari awal. Itu sebabnya Papa lebih menyayangi kak Regar." Shica berhenti karena air matanya mulai menetes.
"Papa bukan melindungi nama baik keluarga Mahali, Papa melindungi organisasi gelap milik Papa." Shica berdiri dari tempat duduknya kemudian berlalu.
Namun, Regar memanggilnya. "Shica...."
Gadis itu berhenti kemudian menatap tajam pada kakaknya. "Ini tidak akan terjadi, jika bukan salahmu, Kak. Kak Rama tidak akan pergi jika Kak Regar tidak seperti ini. Apa yang Kakak katakan pada Rayaa sampai-sampai dia bunuh diri dengan melompat dari balkon?"
Regar tidak menjawab.
Shica kembali bersuara, "Atau... Om Felix yang mengatakan sesuatu pada Rayaa? Dia pasti bisa memanipulasi orang dengan mudah, karena dia adalah pemilik rumah sakit jiwa yang pastinya sedikit banyak mengetahui tentang kejiwaan seseorang. Apalagi saat itu Rayaa sedang dalam kondisi tidak baik."
Regar menyanggah ucapan adiknya, "Shica, ini tidak benar. Mungkin kau yang sudah dimanipulasi Januaar, jadi kau seperti ini."
"Meskipun kau kakak kandungku, kak Rama jauh lebih baik padaku." Shica melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang makan.
Ratna menggeleng kemudian berlalu menyembunyikan air matanya.
-
Shica mengunci kamar dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya.
Ponselnya berbunyi, menandakan ada notifikasi yang masuk. Setelah dicek, ternyata ada panggilan dari Raihan.
Shica mengangkatnya. "Raihan."
__"Shica? Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu serak begitu? Kau menangis?"__
"Tidak." Shica menghela napas berat.
__"Katakan padaku\, apa yang menjadi beban masalahmu?"__
"Aku hanya merindukan kak Rama. Aku masih belum bisa menerima ini semua. Bagaimana bisa dia pergi secepat ini?" Shica berhenti berbicara, atau tangisannya akan meledak.
__"Aku mengerti perasaanmu. Aku juga pernah kehilangan orang-orang yang aku sayangi di sekitarku. Satu per satu mereka pergi."___
Shica tampak sedih. "Seandainya kau di sini."
__"Aku akan ke sana\, jika kau mau."__
Shica tertawa. "Malam-malam begini."
___"Kau belum mengantuk?"___
Shica menggeleng.
__"Apa kau barusan menggeleng?"__
Shica tertawa. "Kau bisa membaca pikiranku?"
Raihan di seberang sana tertawa. __"Aku hanya menebak."__
"Aku tidak bisa tidur. Aku sedang mencemaskan sesuatu."
__"Jangan terlalu cemas. Kalimat apa yang biasa dikatakan Rama sebelum kau tidur?"__
Shica tampak berpikir. "Dia sering bilang, tidur yang nyenyak dan jangan mengigau."
Raihan tertawa. __"Kau suka mengigau\, ya? Kenapa aku baru tahu? Pacar macam apa aku ini."___
Shica terkekeh.
___"Baiklah\, anggap aku ini Rama... Shica\, tidurlah dengan nyenyak\, jangan mengigau. Aku mencintaimu\, semoga mimpi indah. Mimpikan aku\, ya."__
Raihan tertawa juga. ___"Karena aku pacarmu\, jadi aku mengatakannya seperti itu."___
Shica mengangguk. "Baiklah, terima kasih, Pacar. Aku akan tidur setelah mendengar ucapanmu."
__"Sampai jumpa besok."___
"Iya, sampai jumpa."
-
Waktu berlalu dengan cepat, Regar sudah lulus dan dia akan berkuliah di New York sesuai keinginan Ridan.
Shica yang mengantarnya.
Keduanya duduk bersebelahan menunggu panggilan keberangkatan.
Tidak ada percakapan yang menemani mereka. Sejak setahun terakhir mereka jarang berbincang, meskipun sekedar berbasa-basi.
Regar menoleh pada Shica yang sedang memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang di depannya.
"Jika nanti kau lulus SMA, kau mau kuliah di mana?" Tanya Regar.
Shica menoleh sesaat pada kakaknya. "Aku tidak tahu."
Regar menunduk. "Shica, aku menyayangimu juga seperti Rama."
Shica kembali menoleh pada Regar. "Terima kasih."
Bukan jawaban itu yang diharapkan Regar. Namun, Regar mengerti, ini semua adalah kesalahannya. Kesalahan yang menyeret adik-adiknya ke dalam masalah pribadinya.
Shica mengusap lengan kekar kakaknya. "Aku juga menyayangi Kak Regar, seperti kak Rama."
Regar tersenyum sendu. "Jaga dirimu baik-baik, meskipun kedua kakakmu tidak berada di sampingmu."
Shica mengangguk pelan.
-
Semuanya berjalan baik-baik saja. Hubungan Shica dengan Raihan juga semakin baik. Mereka harus terpisah ketika Raihan memilih berkuliah di Jakarta, sementara Shica ingin berkuliah di Paris.
Meskipun begitu, mereka tidak pernah putus kontak. Mereka saling memberikan kabar.
Shica tidak sendirian di Paris. Ada Floryn yang juga berkuliah di kampus yang sama.
Sementara Meishy dan Rangga berkuliah di Bandung. Sayang sekali Shica dan Meishy putus kontak.
Banyak sekali tulisan Meishy yang menjadi terkenal. Bahkan gadis itu sekarang memiliki perusahaan penerbitan buku sendiri. Sementara Rangga menjadi seorang guru sementara di salah satu SMP di Bandung.
Jadi, Rangga dan Meishy juga berjauhan.
Beberapa tahun kemudian, Rangga kembali ke Jakarta dan menjadi guru sementara di SMA Parameswara.
Meishy dan Rangga kembali dekat. Mereka mendengar kabar pernikahan Shica dan Raihan yang akan digelar di Paris.
Meishy dan Rangga tidak bisa datang, meskipun undangan sudah di tangan.
Waktu itu Rangga sedang sakit. Pria itu dirawat di rumah sakit umum, karena harus melakukan operasi usus buntu.
Tidak mungkin Meishy pergi sendirian. Dia menghubungi Shica dan meminta maaf karena tidak bisa hadir.
Shica memakluminya, dia dan Raihan mendoakan kesembuhan untuk Rangga.
Di tahun selanjutnya, Rangga dan Meishy juga menggelar pernikahan mereka di Jakarta. Mereka hanya mengadakan acara sederhana yang dihadiri keluarga terdekat saja. Jadi, mereka tidak mengundang teman.
Setelah itu mereka memutuskan tinggal di Bandung dan membeli rumah di sana. Kenapa pindah ke Bandung? Karena Rangga menjadi guru tetap di salah satu SMA di Bandung.
Di Bandung, perusahaan penerbitan buku Meishy semakin maju. Dia mulai mempekerjakan karyawan. Wanita itu kembali fokus menulis sembari menerbitkan karya penulis lain.
Dia teringat sesuatu. Wanita itu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Shica. Sayang sekali, nomornya sudah tidak aktif. Mungkin Shica sudah berganti nomor.
Nona Mahali yang sekarang menjadi Nyonya Abdurrachman itu menjadi seorang pengacara. Selain itu, dia juga memiliki galeri yang bisa dikunjungi pada penikmat seni rupa.
Sementara Raihan, pria itu menjadi pengusaha. Dia memegang perusahaan milik mendiang ayahnya. Sebagai anak tunggal, Raihan berhak atas perusahaan tersebut.
Kisah Floryn, setelah Rama pergi untuk selama-lamanya, gadis itu menemukan tambatan hatinya di Paris. Dia menikah dengan pria asli Perancis dan hidup bahagia di negeri romantis itu.
Raihan dan Shica kembali ke Jakarta untuk sekedar berlibur. Pasangan itu tampak begitu romantis. Meskipun masa remaja mereka sudah lama berlalu, terkadang ada saja candaan Raihan pada istrinya itu. Membuat siapa pun iri melihatnya.
Mereka mendatangi Taman Lavender. Beberapa pelayan membungkuk melihat kedatangan pasangan Abdurrachman itu.
Shica tersenyum. "Aku merasa deja vu. Dulu waktu kita masih SMA, kita pernah datang kemari dan membicarakan hal konyol."
Raihan tersenyum. "Aku ingat, waktu itu pernah bilang padamu, kalau aku akan membeli tempat ini, jika kau mau menikah denganku."
Shica mendongkak menatap suaminya. "Lupakan itu, yang penting aku bahagia, karena menikah dengan pria yang aku cintai."
Raihan tersenyum lalu merangkul istrinya. "Aku juga bahagia menikahi wanita yang aku cintai."
Shica melelapkan bahunya di bahu Raihan.
"Tapi, mau bagaimana lagi... aku sudah membeli tempat ini untukmu, Sayang."
Shica terkejut. "Benarkah?"
Raihan mengangguk. "Aku bukan orang yang suka mengingkari janji. Kau bersedia menjadi pendamping hidupku. Aku juga bersedia menepati janjiku. Aku mencintaimu."
Shica tersenyum sendu. "Aku juga mencintaimu."
-◈◈◈-
22 September 2016
Ucu Irna Marhamah