
-◈Rama Mahali◈-
Pagi ini adalah hari minggu di mana tidak ada lagi yang perlu direpotkan, seperti sekolah, misalnya.
Yeah, istirahat.
Tidak ada hari yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan hari minggu.
Namaku Rama Mahali. Sebenarnya aku memiliki nama lengkap yang panjang, itu bukan hal yang aneh dalam keluarga bangsawan seperti kami.
Mahali adalah nama keluarga besar di Indonesia yang berketurunan India-Indo. Mahali sendiri artinya mulia dan terhormat.
Aku memiliki wajah yang mirip dengan ibuku, Ratnara Mahali. Kedua mata yang tajam dibantu tautan alis yang menukik dan hidung mancung tegas ditambah dengan bibir tipis berwarna merah pudar. Karena mama seorang berketurunan Belanda-Indonesia, maka wajahku ada sedikit bule-nya, lah.
Tubuhku tinggi tegap dan cukup kekar dan six pack di perut. Rambutku berwarna hitam kecoklatan, ini asli tanpa cat rambut.
Aku anak kedua yang memiliki satu kakak laki-laki dan satu orang adik perempuan.
Usiaku dengan mereka hanya berselisih satu tahun.
Kakakku, Regar Mahali, memiliki perawakan tinggi kekar seperti papa yang merupakan keturunan India-Indonesia. Jadi, dia tampak keren dan berkharisma. Banyak sekali gadis yang menyukainya.
Sementara adik perempuanku memiliki wajah yang tidak jauh berbeda denganku, ya kami mirip sekali. Banyak yang mengira kalau kami berdua adalah anak kembar tidak identik.
Shica adalah versi perempuannya Rama, itu yang sering kudengar.
Shica memiliki sepasang mata seperti rusa dengan alis bertautan sepertiku ketika dia sedang marah. Hidungnya mancung hanya saja sedikit lebih kecil. Bibirnya yang sedikit merekah dan berwarna merah muda. Tubuhnya tinggi ramping untuk ukuran gadis berusia 15 tahun.
Kulitnya berwarna putih kemerahan kalau sedang di bawah terik matahari. Kulitnya terlalu sensitif apabila terlalu lama berada di bawah sinar matahari yang panas.
Dia termasuk anak yang cerdas dan sering mengikuti lomba. Namun, dia tidak pernah memiliki teman, karena papa dan mama membatasi pergaulannya.
Selama ini dia hanya berada di dalam rumah. Paling tidak dia akan berbicara dengan bodyguard, pelayan, atau siapa pun yang bekerja di sini.
Itu kelemahannya, dia terlalu baik dan terlalu penasaran. Jadi, orang lain akan mudah memanipulasi dan memanfaatkannya.
Berbeda denganku yang acuh tak acuh dan menjalani kehidupan sesuka hatiku.
Hari ini aku bangun pagi sekali untuk berolahraga ke gym bersama kak Regar. Kami sudah membicarakannya semalam.
Namun, sepertinya kakakku masih belum bangun.
Dasar kebo!
Ya, kebo tampan.
Aku memakai kaos hitam tanpa lengan dengan tulisan Las Vegas di dadanya dan boxer berwarna senada.
Setelah melewati kamar kak Regar, aku menuruni tangga dan melihat para pelayan sibuk menyajikan makanan untuk sarapan ke meja.
Ada Shica dan Papa yang sedang membaca koran.
"Selamat pagi," sapaku.
Mereka menoleh dan menjawab hampir bersamaan.
"Pagi, Rama."
"Pagiii, Kak! Kakak mau lari pagi?"
Aku mengangguk.
"Ikut, ikut!" Shica bangkit daru tempat duduknya. Dia tampak semangat.
"Ganti bajunya," ucapku. Shica mengangguk kemudian berlalu menaiki tangga.
Aku duduk di kursi bekas Shica. Rasanya masih hangat.
"Makan dulu, bangunkan Regar sekalian," kata papa tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.
"Kalau makan dulu, biasanya perutku sakit setelah berolahraga," jawabku.
Papa melipat korannya lalu meletakkannya di meja makan.
"Ada apa dengan Regar? Kalian berulah lagi?" Tanya papa menatapku serius.
Apa yang harus aku katakan. Sebenarnya aku tahu masalahnya, tapi apa aku harus memberitahu papa?
Yang ada bukan hanya kak Regar yang akan mendapatkan masalah, aku juga.
Aku mengedikkan bahu sebagai jawaban, "Kami sudah berubah, Pa."
"Awas saja jika kalian mempermalukan keluarga kita lagi. Ingat Rama, keluarga kita adalah keluarga bangsawan yang seharusnya menghindari tindakan buruk seperti apa yang sudah kalian lakukan," ucap papa dengan nada datar.
Aku sudah sering mendengar ini. Rasanya telingaku panas setiap mendengarnya.
Ya, kuakui aku dan kak Regar bukanlah anak laki-laki yang baik. Tapi, kami hanya ingin sedikit bersenang-senang di masa remaja seperti ini.
"Tidak apa-apa kamu tidak memikirkan itu, setidaknya pikirkan adik kamu. Dia perempuan juga. Apa kamu tidak takut kalau dia diperlakukan seperti itu oleh pria lain?" Sambung papa.
Jadi, ceritanya sekarang tuan Mahali sedang menasehatiku dan memberikan asupan makanan di pagi hari ini berupa petuah bijak.
Tapi, aku mengerti. Papa bicara begitu adalah tanda bukti, kalau papa menyayangi kami.
"Ingatlah dengan karma."
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Itu adalah Shica. Dia mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu dengan gambar kelinci kecil berwarna biru, berpadu dengan jogger di bawah lutut berwarna hitam, ada logo tiga garis di pinggangnya.
Apa dia tidak salah pilih baju? Itu membuatnya terlihat seksi, bagaimana jika ada mata yang nakal nantinya?
"Pa, Shica dan kak Rama berangkat, ya." Shica mencium tangan Papa.
Aku melakukan hal yang sama.
Kami pun mulai lari-lari kecil di dekat kompleks perumahan menuju ke taman kota.
Karena ini hari minggu, banyak sekali orang yang lari pagi di pinggir taman kota.
"Kenapa tidak mengajak kak Regar sekalian?" Tanya Shica dengan napas terengah-engah.
Aku menoleh padanya, "Masih tidur."
Shica mengangguk mengerti. Kami duduk di bangku taman yang kosong. Kusandarkan punggungku ke kursi.
Shica mengibas-ngibaskan tangannya di dekat leher, seolah tangannya itu sebuah kipas.
"Kakak mau ke tempat gym?" Tanya Shica.
Kuanggukkan kepala sebagai jawaban.
"Ah, aku tidak mau ikut. Lari pagi saja sudah lelah!" Gerutu Shica.
"Memangnya siapa yang menyuruh kamu mengikutiku?" Tanyaku menggerutu.
Di memukul lenganku, "Diamlah!"
Kulihat ada penjual air mineral di seberang sana. Rasa haus ini mulai menyiksaku.
Aku menepuk paha Shica sambil bangkit dari kursi taman, "Tunggu sebentar, ya."
"Mau kemana?" Tanya Shica.
"Beli minum," ucapku kemudian berlalu.
Aku membeli dua botol air mineral. Ketika kembali, aku terkejut melihat beberapa orang laki-laki yang mungkin seumuran atau lebih muda dariku sedang mendekati Shica.
"Hai, nama kamu siapa? Baru kali ini kami melihat kamu."
"Emm... a-aku..." Shica terlihat kebingungan dan takut.
"Jangan takut, kami laki-laki baik, kok."
Halah, *******!
Mana ada laki-laki baik berbentuk seperti kalian.
Aku segera mendekat dan menarik tangan adikku, "Permisi."
Tanpa menunggu jawaban, aku membawa adikku berlalu.
"Oh, dia sudah punya pacar, ya?"
"Sayang sekali."
"Eh, itu Rama Mahali, ya? Yang geng itu."
Aku terkejut mendengar salah satu dari mereka mengenaliku. Namun, aku tidak peduli dan mempercepat langkahku.
Shica menepuk-nepuk lenganku, "Kakak, pelan-pelan... aku cape."
Aku berhenti dan menoleh padanya. Shica melepaskan tanganku lalu dia sedikit membungkuk dan memegangi lututnya dengan posisi seperti sedang rukuk.
Napasnya tersengal-sengal.
"Buru-buru sekali," gerutu Shica.
Aku memberikan salah satu botol mineral padanya. Dia menerimanya. Kuteguk satu yang ada di tangan. Shica melakukan hal yang sama.
Wajah Shica memerah karena mungkin kelelahan. Bukan hanya itu, matahari mulai naik dan suhu di tempat ini mulai meningkat.
"Kita ke tempat yang teduh."
Shica mengangguk.
Di bawah pohon yang rindang, Shica mengambil salah satu daun yang cukup lebar dan menjadikannya kipas manual.
"Gerah! Mau?!" Shica mengibaskan daun itu padaku.
Lumayan juga.
Shica kembali mengibaskan daun tersebut untuk dirinya sendiri.
"Lagi, lagi," kataku sambil menarik tangannya. Dia menurut dan mengibaskan daunnya ke sekitar leherku.
"Sudaaah, aku juga gerah," kata Shica sambil menarik tangannya dan melanjutkan keinginannya.
Dia mengambilkan satu daun untukku. Aku tertawa lalu menirunya.
Tidak hanya satu, aku mengambil dua daun. Melihatku yang mengibaskan dua daun, Shica juga melakukan hal yang sama. Dia membawa satu daun lagi dan meniruku.
Kami tertawa kecil.
~
Pada akhirnya aku tidak jadi pergi ke gym. Aku dan Shica memilih pulang ke rumah.
Papa dan mama tidak ada. Mungkin mereka keluar, atau ke kantor, atau kemana.
Kak Regar masih di kamarnya.
"Shica, apa kamu sudah mempersiapkan alat-alat sekolah untuk besok?" Tanyaku.
"Sudah," jawab Shica.
"Coba kulihat."
Kami memasuki kamarnya. Kamar yang didominasi warna merah muda dan putih itu tampak mencolok dibandingkan ruangan lainnya di rumah ini.
Kamar Shica selalu rapi dan bersih.
Gadis itu membawa tasnya dari lemari dan menunjukkannya padaku.
Kulihat satu per satu barang-barang di dalam tas yang masih baru itu.
"Hari pertama tidak usah membawa banyak buku," ucapku sambil memasukkan dua buah buku dan pencil case ke dalam tas berwarna merah pudar itu.
"Seragamnya sudah ada?" Tanyaku lagi. Shica mengangguk dan menunjukkannya kepadaku.
"Kenapa roknya pendek?" Aku menyentuh rok abu-abu itu yang kalau dipakai oleh Shica, mungkin bisa 15cm di atas lutut.
"Itu sudah ada dibelikan Mama. Bukan aku yang membelinya," ucap Shica membela diri.
"Pakai stocking." Aku mengingatkan.
Shica tampak berpikir.
"Sepatunya mana?" Tanyaku sambil melihat ke dalam lemari.
"Ada sepatuku waktu SMP masih bisa dipakai," jawabku.
"Oh, ya sudah."
Ponselku bergetar.
Ada chat yang masuk, ternyata dari seseorang.
Kalian mau tahu?
Aku tidak mau memberitahu, hehe.
Baiklah, tapi... berjanjilah tidak akan bilang pada siapa pun.
Yang barusan menghubungiku adalah seorang perempuan.
Ya, mengerti, kan, kan?
"Kakak mau keluar dulu, ya."
Aku berlalu tanpa menunggu jawaban dari Shica. Ketika melewati kamar kak Regar, aku ada ide untuk mengajaknya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, aku masuk saja. Tidak ada siapa pun di kamarnya.
Kamar yang di cat dengan warna abu-abu dan putih itu terlihat sudah lebih rapi dibandingkan kemarin malam.
"Kak Regar?" Suaraku menggema di ruanga tersebut.
Aku mendengar suara air mengalir di kamar mandi. Aku terkekeh dan memikirkan apa yang sedang dilakukan olehnya.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur yang nyaman ini.
"Kak Regar?" Aku meninggikan suaraku.
"Ada apa?" Sahut kak Regar dari dalam kamar mandi.
"Kakak lama sekali, sedang apa? Cari perempuan saja, Kak. Jangan main pakai tangan," ucapku menggodanya.
"Tutup mulutmu, anak kecil." Terdengar suara kakak yang menggerutu dari dalam sana.
Aku tertawa, "Apanya yang kecil? Aku juga besar, Kak. Tidak kalah dengan Kakak."
Suara tawa kak Regar dari dalam sana menggema, "Kamu bicara apa, hah? Apa ada Shica di sampingmu?"
"Tidak," ucapku.
Kak Regar keluar dengan jubah mandinya. Paha dan betisnya terekspos begitu saja. Dia tampak begitu sexy.
Pantas saja banyak yang menyukainya sejak SMP.
Kak Regar membuka jubah mandinya di depanku tanpa merasa malu. Dia juga mengenakan pakaiannya tanpa merasa terganggu dengan keberadaanku.
"Jangan memperlihatkan tontonan seperti itu pada Shica. Nanti dia akan penasaran dan malah melakukan hal aneh di belakang kita," ujar kak Regar.
Aku sedikit terkejut mendengar tuduhannya, "Aku tidak memperlihatkan apa pun padanya."
"Dia bilang, dia pernah melihat film dewasa dari laptop kamu." Kak Regar menatapku dengan serius.
Aku terkejut, kapan Shica melihatnya?
Kemarin malam?
"Hapus saja," kata kak Regar lagi.
Yah, kenapa harus dihapus? Aku 'kan men-download menggunakan kuota dan mencarinya juga susah.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Ada Viona," kataku.
Ucapanku tidak membuahkan reaksi pada kak Regar. Dia tampak biasa-biasa saja.
"Kak," tegurku.
Kak Regar telah rapi dengan kaos dan boxer-nya yang berwarna biru gelap.
"Lalu? Aku harus bagaimana kalau dia di Jakarta?" Tanya kak Regar.
Aku tersenyum jahil, "Tidak mau bermain bersamanya?"
Regar menarik tanganku, "Jangan tidur di ranjangku!"
"Kenapa? Shica juga pernah tidur di sini, kan?" Aku menggerutu seolah iri pada Shica.
"Baumu tidak enak, minggir!"
"Kita keluar, ya. Temui Viona. Aku ingin sedikit bermain dengannya," ucapku.
Kak Regar mendengus, "Jangan bermain dengan wanita bekas itu. Kamu tidak takut terkena virus?"
"Itu juga bekas kak Regar," ucapku sambil menahan tawa.
Kak Regar melepaskanku, "Barang bekas tidak boleh dipakai."
Dari dulu pendapat kami memang berbeda. Kak Regar menyukai gadis yang masih suci. Setelah beberapa kali 'dipakai' olehnya, kak Regar langsung membuangnya dan mencari yang baru.
Sementara aku, aku suka perempuan yang sudah pernah melakukannya. Tidak perlu berhati-hati bermain dengan perempuan seperti itu, kan?
Tapi, gadis yang polos juga lebih menyenangkan, hanya saja aku sering merasa kasihan kalau harus melihat gadis itu kesakitan ketika pertama kali melakukannya denganku.
Kak Regar menepuk pipiku, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Aku hanya terkekeh, "Ayolah, Kak."
Setelah membujuknya, akhirnya kakak tercintaku mau juga. Kami berlalu keluar.
Ketika menuruni tangga, kami mendengar suara Shica.
"Kakak? Kalian mau kemana? Aku mau ikut."
Kami menoleh padanya.
"Kamu tidak boleh ikut, di rumah saja." Kak Regar yang menjawab.
Shica menggembungkan pipinya kesal.
"Lain kali, ya." Aku mengacak rambutnya.
"Bang Garry, tolong ambilkan mobil," kata kak Regar sambil memberikan kuncinya pada salah satu bodyguard rumah kami.
Dengan segera pria itu menuruti perintah.
Kak Regar menyetir menuju base camp kami. Kami memiliki tempat berkumpul dengan teman-teman yang lain. Tempat berupa pabrik ikan dan di bawahnya adalah base camp kami.
Bisa saja kami membeli tempat yang lebih bagus untuk dijadikan base camp, tapi itu akan mencolok, bukan?
Sesampainya di tempat tersebut, kami memasuki pabrik ikan dan menuruni tangga menuju ke bawah.
Ada beberapa teman kak Regar di sana. Bau asap rokok memenuhi ruangan ini. Kulihat ada banyak botol di meja.
Base camp kami sangat rapi dan berkelas seperti bar di kota besar.
"Bos! Wah, tumben datang di jam segini?" Sapa salah satu dari mereka.
"Hm, kalian tidak ada kerjaan?" Jawab kak Regar diakhiri dengan pertanyaan.
"Tidak ada perempuan di sini."
Regar mengangguk, "Givarel di sini?"
"Aku pikir, bos mau mencari Viona."
◈◈◈
01 April 2016
Ucu Irna Marhamah