
-◈◈◈-
Raihan memasuki area parkir dengan menenteng jaket hitam dan tasnya. Dia melihat Shica sedang duduk termenung di bangku panjang yang menghiasi sepanjang tepi area parkiran sekolah.
Raihan tersenyum dan mempercepat langkahnya untuk mendekati gadis itu.
"Hai Shica."
Gadis itu menoleh kemudian tersenyum hangat.
"Maaf membuatmu menunggu, tadi aku ada rapat dengan teman-teman tim basket." Raihan menaiki motornya.
"Tidak apa-apa."
Raihan menganggukkan kepalanya, "Naiklah."
Motor Raihan melaju membawa Shica meninggalkan tempat parkir. Selama di perjalanan, mereka sama-sama diam. Tidak ada yang berniat meruntuhkan tembok kecanggungan di antara mereka.
Raihan melirik spion, tampaknya Shica sedang gugup dan tidak ingin mengatakan apa pun.
"Shica? Kamu baik-baik saja? Kamu masih di belakangku?" Tanya Raihan dengan nada panik.
"Iya, iya... memangnya kenapa?" Tanya Shica yang kebingungan.
"Aku takut kamu ketinggalan di tempat parkir, karena dari tadi aku tidak mendengarmu berbicara," ujar Raihan sambil tertawa.
"Biasanya juga kamu yang berbicara," gumam Shica.
Raihan terkekeh, "Sekarang kamu saja yang berbicara."
Sunyi.
Raihan melihat spion lagi, Shica malah terlihat semakin gugup. Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya.
Apa aku tidak membuatnya nyaman? Atau aku terlalu menakutkan? Kenapa dia tidak berani berbicara? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Raihan.
Biasanya kita akrab, tapi... dia akan gugup lagi setelah keesokan harinya. Ah, apa dia benar-benar tidak bisa berinteraksi dengan orang lain? Raihan sedikit melirik ke belakang.
Shica adalah tipe orang yang akan akrab apabila orang si sekitarnya terlebih dahulu mengakrabkan diri. Dia juga akan kembali merasa canggung setelah melewati satu hari tanpa berkomunikasi secara langsung.
"Shica?"
"Jangan menoleh ke belakang, fokus saja ke jalanan," gerutu Shica.
Raihan tertawa, "Kita tidak akan jatuh."
Waktu itu kamu jatuh dari motor sampai tidak sekolah dan membuatku panik! Kamu lupa? Gerutu Shica dalam hati.
"Kamu mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apa?" Tanya Raihan.
"Di SMA aku tidak mengikuti ekstrakurikuler... aku hanya memilih mengikuti kegiatan pembelajaran dalam kelas."
Raihan ber-oh-ria, "Kudengar dari Meishy, kamu bisa melukis dan bernyanyi, ya?"
Shica tampak berpikir, "Emm, iya... tapi tidak bagus-bagus juga."
"Di SMA Hardiswara ada ekstrakurikuler menyanyi dan melukis juga, kenapa tidak mencoba masuk saja?" Tanya Raihan.
"Sebenarnya aku takut... sewaktu SMP aku pernah mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler, dan... pulangnya aku di perlakukan kurang baik oleh kakak kelasku." Shica membayangkan kejadian dua-tiga tahun lalu.
Shica keluar dari ruangan ekstrakurikuler menggambar. Dia yang masih mengenakan seragam biru tua memilih pergi ke kamar mandi sekolah untuk berganti pakaian.
Tanpa di sadarinya, ada beberapa siswi yang mengunci pintu kamar mandi.
Ketika Shica mau keluar, dia panik, karena pintu kamar mandinya di kunci.
"Seseorang! Tolong buka pintunya!" Shica menggedor-gedor pintu tersebut.
"Hei, Jalang kecil! Ini balasan untukmu karena kau adiknya Regar! Laki-laki brengsek itu telah menodai banyak perempuan polos! Sama seperti ayahnya yang suka berbuat seenaknya, hanya karena seorang pengusaha yang memiliki banya koneksi!"
Shica terkejut, "Kenapa kalian melakukan ini padaku! Aku tidak bersalah! Tolong buka pintunya!"
Siswi-siswi itu tertawa sambil berbisik-bisik.
Ketika SMP, Shica tidak satu sekolah dengan kedua kakaknya. Dia bersekolah di SMP khusus perempuan. Itu adalah kebijakan Ridan, agar putrinya tidak salah bergaul seperti kedua kakaknya.
Shica mulai menangis ketakutan, karena hari sudah semakin gelap. Dia memeluk tubuhnya sendiri di sudut kamar mandi.
Shica mendengar langkah seseorang mendekati pintu kamar mandi. Gadis itu segera bangkit dan menggedor pintu.
"Buka! Tolong buka! Aku terjebak di sini seharian!" Teriak Shica.
Ketika pintu dibuka, Shica melihat siswi-siswi itu menatap berang padanya.
Mereka menunjukkan foto-foto dan video-video ketika kakak-kakaknya melakukan hubungan intim dengan siswi di sekolah tersebut. Di dalam foto dan video itu, tampak jelas ekspresi kesakitan yang ditunjukkan oleh wajah gadis-gadis itu.
Shica ketakutan. Dia tidak mengira kakaknya bisa berbuat sejahat itu.
"Kami adalah perempuan, Shica! Kamu harus mendapatkan balasan!"
Mereka mengikat Shica di tiang bendera. Gadis yang tidak tahu apa-apa itu semakin ketakutan, dia berteriak sekencang-kencangnya. Mereka menyumpal mulut Shica dengan lakban.
Namun beruntung, penjaga sekolah mendengar suara teriakan Shica. Dia segera datang dan melihat siswi-siswi itu akan melukai Shica dengan pisau tumpul.
Mereka dilaporkan ke kepala sekolah. Sementara Shica dipulangkan ke rumahnya.
Video-video itu tersebar dengan mudahnya. Entah siapa yang melakukannya.
Karena video tersebut membuat resah pihak sekolah, akhirnya video tersebut dihapus permanen dan dibicarakan baik-baik dengan orang tua dari siswi-siswi yang terlibat.
Pihak sekolah bersedia mengganti rugi dengan apa pun, asalkan mereka tidak melapor pada pihak berwajib.
Bukan tanpa alasan, memiliki masalah dengan keluarga Mahali akan menyebabkan masalah baru yang semakin bertambah dan semakin berat.
Jika orang tersebut mengajukan masalah ke pengadilan, dan dia meminta bantuan pengacara, tida akan ada pengacara yang mau membantunya. Itu adalah contoh sederhana.
Dengan berat hati, para siswi dan orang tua mereka memutuskan untuk mengurus masalah tersebut dengan jalan damai.
Shica dipindahkan ke SMP lain.
"Shica?" Raihan memanggil Shica yang terdiam dan melamun.
"Ca?"
Gadis itu terhenyak, "Ah? Iya?"
"Kenapa melamun? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Raihan.
"Aku... tidak ada." Shica tidak ingin menceritakan aib keluarganya pada Raihan.
Itu sangat memalukan.
"Aku salah bicara, ya?" Tanya Raihan dengan ekspresi merasa bersalah.
"Tidak, Raihan... aku tidak mengikuti ekstrakurikuler di SMA, karena aku pernah di bully," bohong Shica.
"Di bully? Kenapa mereka berani membulimu?" Raihan tampak kaget.
Shica tampak berpikir, "Entahlah."
"Meishy juga korban pembullyan, lihat luka di antara kedua matanya? Seseorang menancapkan bolpoin ke sana," kata Raihan.
Shica terkejut, "Benarkah? Dia tidak pernah menceritakan itu padaku. Luka itu dekat dengan mata, bagaimana jika kena mata?"
Raihan mengedikkan bahunya.
"Kamu tahu banyak tentang Meishy?" Shica tampak curiga.
"Rangga yang bilang, mereka 'kan dekat." Raihan menjawab dengan santai.
Emmm... aku telah salah paham, batin Shica.
"Kamu tahu 'kan mereka dekat? Seperti kita."
Ucapan Raihan membuat kedua pipi Shica memerah seperti kepiting rebus.
Raihan hanya tersenyum melihat ekspresi Shica lewat kaca spionnya.
"Shica, sebenarnya aku sudah dua kali berputar di jalan ini. Sekarang tunjukkan jalan ke rumahmu, atau kita tidak akan pernah pulang," ucap Raihan.
"Ah? Benarkah? Aku lupa." Shica menepuk dahinya sendiri.
"Aku melamun." Shica tampak menyesal.
Raihan tertawa, "Waktu itu aku pernah mengajakmu jalan, kan? Bagaimana kalau sekarang saja?"
Shica tampak berpikir, iya juga, ya. Tidak akan ada yang melarangku.
"Boleh."
-
Raihan dan Shica sedang berada di Taman Lavender, sebuah tempat yang bertemakan bunga lavender. Kebetulan pemiliknya adalah seseorang yang sangat menyukai bunga yang memiliki aroma khas tersebut.
Belakangan ini, tempat itu sangat populer di kalangan remaja, mereka datang untuk berkencan atau sekedar meminum teh lavender.
Shica membungkukkan badannya. Dia menghirup aroma dari bunga tersebut.
"Dulu waktu aku masih kecil, aku pernah demam berdarah. Satu keluarga panik dan membawaku ke rumah sakit. Jadi, di depan jendela kamarku selalu ada bunga lavender untuk mengusir nyamuk." Raihan mengingat kejadian yang sudah lama berlalu itu.
Shica menoleh, "Beruntung kamu sembuh dan baik-baik saja sampai sekarang."
Raihan tertawa, "Seandainya waktu itu aku mati, kita tidak akan bertemu, ya?"
Shica tertawa, "Iya."
Mereka berselfie ria. Lalu makan di tempat yang sama.
Ada cafe lavender di dekat taman lavender. Mereka memesan makanan yang masih bertemakan lavender.
Spaghetti berwarna ungu, sausnya juga berwarna ungu, minumnya juga teh lavender.
Shica menatap ke sekeliling, "Suatu hari nanti, aku ingin memiliki tempat seperti ini."
Raihan menaikkan sebelah alisnya, "Menikahlah denganku, aku akan membelikan tempat ini untukmu."
Shica menatap Raihan, lagi-lagi tatapan Raihan yang membuatnya takut itu kembali terlihat.
Shica mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan menakutkan dari Raihan.
Laki-laki itu mengubah ekspresinya menjadi lebih cerah, "Kamu mau 'kan menikah denganku?"
Shica kembali menoleh pada Raihan. Dia tersenyum kaku, "Menikahnya lain kali saja, ya."
Raihan tertawa, "Kamu takut padaku?"
"Ekspresimu sering berubah-ubah ketika menatapku, aku takut padamu." Shica menunduk.
Jangan takut dulu, kau belum melihat sisiku yang lain.
Raihan mengangkat dagu Shica dengan telunjuknya agar menatap dirinya, "Jangan takut padaku, karena aku menyukaimu... aku ingin kamu menyukaiku juga."
Entah kenapa, bagi Shica, itu terdengar seperti sebuah paksaan. Namun, tanpa dipaksa pun, Shica memang menyukai Raihan.
Setelah itu, Raihan mengantarkan Shica pulang ke rumahnya. Kali ini, Shica memberitahukan alamat rumahnya pada Raihan.
Laki-laki itu memarkirkan motornya di pelataran rumah Mahali.
Ridan yang sedang duduk santai sambil minum kopi di depan rumahnya tampak terkejut melihat kedatangan putrinya bersama seseorang yang tidak dikenal.
Shica tampak panik, aduh... bagaimana kalau papa marah, karena melihatku bersama Raihan?
Drama dan sinetron menyedihkan mulai menggerayangi kepalanya.
"Itu tuan Mahali, papa kamu?" Tanya Raihan.
Shica mengangguk khawatir.
"Boleh aku menemuinya?" Tanya Raihan lagi.
Shica menggeleng cepat, "Lebih baik pergi sekarang, yaaa."
"Tapi... itu tidak sopan," bisik Raihan. Shica menepuk-nepuk lengan Raihan agar segera melajukan motornya menjauh dari rumahnya.
Ridan berdiri menghampiri kedua remaja itu, "Kenapa mengusir temanmu, Shica?"
Shica terkejut mendengar suara berat ayahnya. Dia membatin, God, selamatkan diriku, selamatkan Raihan juga.
Raihan turun motornya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Ridan. Shica menelan saliva.
Namun di luar dugaan Shica, Ridan menerima uluran tangan Raihan. Dengan sopan, Raihan mencium tangan tuan Mahali seperti seorang anak pada orang tuanya.
"Maafkan saya, Tuan... saya telat mengantar Shica. Tadi, kami mampir di cafe. Dulu saya sudah berjanji akan mengajak Shica ke sana."
Pengakuan Raihan membuat Shica terdiam seribu bahasa. Ingin sekali dia membekap mulut Raihan.
Bagaimana jika Ridan mengamuk padanya?
"Oh begitu, ya. Kalian dekat?" Tanya Ridan dengan ekspresi biasa-biasa saja.
Raihan menoleh ke arah Shica yang memberikan kode agar Raihan tidak mengatakan hal apa pun yang bisa membuat ayahnya marah.
Raiha menjawab, "Sebenarnya kami tidak dekat. Shica bilang, kami tidak boleh dekat, karena suatu hal."
Ridan menoleh pada Shica yang menunduk ketakutan.
Ridan kembali menoleh pada Raihan, karena laki-laki itu mengeluarkan suaranya, "Karena sekarang saya sudah bertemu dengan Tuan Mahali, saya meminta izin dari anda untuk dekat-dekat dengan putri anda."
Refleks Shica menendang betis laki-laki membuat Ridan menoleh lagi pada putrinya.
"Papa, Raihan ini sedang lelah, dia sedikit ngawur bicaranya," ucap Shica sembari menunjukkan senyuman kaku.
Gadis itu mendorong Raihan agar segera pergi, atau mereka berdua akan berada dalam bahaya.
"Raihan itu teman kamu, kan? Kenapa di dorong seperti itu? Papa mengizinkan kalian dekat, kok."
Raihan membulatkan matanya karena terkejut. Apalagi Shica, dia tidak mengira, ayahnya akan mengizinkan kedekatan mereka dengan mudah.
"Terima kasih, Tuan...." Raihan belum menyelesaikan kalimatnya, karena Shica masih mendorongnya.
"Ya sudah, Raihan aku akan mengantarkanmu sampai ke depan gerbang," kata Shica.
"Shica, kenapa kamu memaksanya pulang? Biarkan dia makan malam bersama kita."
Perkataan Ridan seperti sebuah mimpi untuk Shica. Kedua remaja itu seketika membeku dalam posisi.
"Raihan, kamu bersedia makan malam bersama kami?" Tanya Ridan.
Raihan tampak berpikir, "Apa tidak merepotkan? Tapi, kalau Tuan memaksa, boleh, boleh."
Shica terkekeh karena jawaban konyol Raihan. Dia berhenti mendorong Raihan.
"Raihan, jangan panggil saya Tuan, kamu bukan bodyguard saya. Panggil saja Om."
-
Di meja makan,
Ratna menyajikan cemilan untuk teman putrinya itu. Raihan yang duduk bersebelahan dengan Shica tampak gugup, namun dia masih menunjukkan kesantaian.
"Ini keripik daun bayam, Tante yang membuatnya, lho." Ratna membukakan semua toples untuk Raihan. Shica membantunya.
"Ayo diambil, Raihan," kata Ratna.
Raihan mengambilnya satu, "Waahhh, ini lezat, Tante."
Ratna tersenyum, "Sebenarnya sudah lama Tante tidak masak, kesibukan Tante yang jadi masalahnya."
Raihan mengangguk mengerti.
"Papanya Shica bukan orang yang ramah, jadi... kalau papanya Shica tiba-tiba galak, kamu jangan terkejut, yaa."
Raihan mengangguk sambil tersenyum manis.
"Shica, kakak-kakak kamu di mana?" Tanya Ratna.
Shica mengedikkan bahunya, "Tidak tahu, Ma... mereka tidak bisa dihubungi, mungkin sibuk di kelas."
"Nanti Mama akan menghubungi wali kelas mereka, takutnya mereka tidak sedang berada di sekolah." Setelah mengatakan, Ratna berlalu meninggalkan kedua remaja itu di ruang makan.
Shica menghela napas panjang, "Aku kira, papa akan marah dan mengusirmu... syukurlah papa sedang dalam keadaan baik suasana hatinya."
Raihan tersenyum, "Kamu mengkhawatirkanku?"
Shica mengangguk. Dia sedang memainkan sendok di gelas yang berisikan susu coklat, "Tentu saja, papa bukan orang yang bisa mempercayai orang asing dengan mudah. Para bodyguard di rumah ini perlu diperiksa luar dalam. Begitupun dengan para pelayan."
Raihan menyantap lagi cemilannya sambil memperhatikan Shica yang sedang berbicara.
"Papa itu memang galak dan suka curiga... tapi papa sangat menghargai orang yang jujur. Mungkin itu alasannya papa mengizinkanmu. Kamu berbicara jujur tadi." Shica masih memainkan sendoknya tanpa menyadari tatapan Raihan yang sedang memakan cemilan daun bayam.
"Ada bagusnya aku tidak mengusirmu tadi, ya." Shica tampak berpikir, dia menoleh pada Raihan.
Shica baru menyadari kalau Raihan sedang menatapnya.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Shica ketus.
Raihan tersenyum sambil menggeleng.
"Tapi, sepertinya kakak-kakak kamu tidak akan membiarkanku dekat denganmu," kata Raihan.
Ucapan Raihan benar, Regar dan Rama pernah melarang Shica agar tidak dekat dengan Raihan. Namun, Shica merasa sedikit lega, karena ayahnya tidak mempermasalahkan itu.
Jadi, Shica tidak perlu khawatir.
"Nanti mereka juga akan mengerti, aku hanya ingin punya teman... seperti mereka, seperti orang lain." Shica membuang napas pelan.
Raihan menganggukkan kepalanya, "Yeah, I hope they like me."
"Yes, they must to like you."
Raihan menutup toples cemilan di meja.
Kau tidak bisa lolos, Shica. Entah bagaimana pun dirimu, aku tidak akan berhenti. Aku akan tetap melanjutkan ini.
Aku mencintai orang lain, dan aku harus menunjukkan cintaku padanya dengan menorehkan luka yang pernah dirasakannya.
Shica, kau terlalu mudah.
-◈◈◈-
20 April 2016
Ucu Irna Marhamah