La Hora

La Hora
LH - 40 - Almost



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Rayaa benar-benar gugup sekarang. Dia sedang duduk bersebelahan dengan Regar. Sedari tadi dia hanya diam seperti patung. Regar mengibas-ngibaskan tangannya ke leher. Dia sedang kegerahan, sementara Givar sesekali memperhatikan Regar dan Rayaa bergantian.


 


 


Merasa ada kecanggungan, Regar menoleh pada Rayaa, "Kau diam saja, apa kau tidak apa-apa?"


 


 


Rayaa menoleh pada Regar kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


 


 


Regar kembali bersuara, "Jika kepalamu sakit, aku akan mengantarmu ke PMR."


 


 


Rayaa terkejut, mengantarku ke PMR? Ahhh, kak Regar perhatian sekali.


 


 


Givar melihat Dion datang dan duduk di samping Rayaa, membuat gadis itu duduk di antara kedua laki-laki tampan yang populer itu. Rayaa semakin gugup. Dia melihat beberapa tatapan dari gadis-gadis yang ada di seberang sana.


 


 


Tampaknya mereka tidak menyukai Rayaa, karena dia duduk di dekat Regar dan Dion.


 


 


Regar dan Dion mencondongkan tubuh, kedua laki-laki itu berbicara di depan Rayaa, membuat gadis itu semakin gugup.


 


 


"Kau tidak bilang akan masuk lapangan." Dion bertanya dengan nada setengah menggerutu.


 


 


Regar menjawab, "Givar yang mengajakku. Tadinya aku tidak ingin ke lapangan."


 


 


Dion mendengus kesal, "Kenapa tidak memberitahuku? Kalau aku tahu kalian masuk lapangan, aku juga ikut."


 


 


"Tidak apa-apa, kita menang, kok."


 


 


Dion mengangguk lega.


 


 


Rayaa menoleh pada Regar, "Maaf, Kak... tapi, sepertinya aku harus pergi."


 


 


"Kemana?" Tanya Regar.


 


 


Rayaa tampak berpikir, "Emm, ke kelas saja."


 


 


"Kenapa? Kau melihat tatapan mereka?" Tanya Regar dengan pandangan tertuju pada gadis-gadis yang duduk di seberang sana.


 


 


Rayaa menunduk.


 


 


"Kau anggota klub voli, jadi tidak apa-apa berada di sini. Kami seniormu, jadi wajar kamu dekat dengan kami." Regar menenangkan pikiran Rayaa.


 


 


Dion dan Givar saling pandang kemudian saling melemparkan senyuman.


 


 


Tidak mendapatkan respon, Regar menyentuh bahu Rayaa, "Jangan dipikirkan."


 


 


Rayaa mendongkak menatap Regar kemudian mengangguk dan mengalihkan pandangannya. Regar tersenyum menyadari jika gadis itu menyukainya.


 


 


"Kau kenapa? Jatuh di lapangan?" Tanya Dion sambil menepuk lengan Rayaa. Gadis itu mengangguk pelan.


 


 


Regar menatap kesal pada Dion, seolah dia mengatakan, jangan sentuh! Dia milikku!


 


 


"Ada yang menggantikanmu?" Tanya Dion lagi. Rayaa menganggukkan kepalanya.


 


 


Sementara itu di SMP Aurora.


 


 


Ketika SMP, Shica tidak satu sekolah dengan kedua kakaknya. Dia bersekolah di SMP khusus perempuan, tepatnya di SMP Aurora. Itu adalah kebijakan Ridan, agar putrinya tidak salah bergaul seperti kedua kakaknya.


 


 


Shica terlihat serius melukis di kanvas besar. Dia adalah peserta lomba melukis sebagai perwakilan kelas 7 putri.


 


 


Jam menunjukkan pukul 4 sore. Dia belum dipulangkan oleh guru seni rupa. Ada beberapa siswi juga di sana. Mereka juga berlatih untuk mengikuti lomba seni rupa yang berbeda sesuai bakat dan bidang masing-masing.


 


 


Shica keluar dari ruangan ekstrakurikuler menggambar. Dia yang masih mengenakan seragam biru tua (pakaian seragam untuk kelas seni) memilih pergi ke kamar mandi sekolah untuk berganti pakaian.


 


 


Tanpa di sadarinya, ada beberapa siswi yang mengikutinya. Mereka adalah siswi yang ada di ruangan seni rupa tadi bersama Shica.


 


 


Salah satu dari mereka mengunci pintu kamar mandi di mana Shica berada.


 


 


Ketika Shica mau keluar, dia panik, karena pintu kamar mandinya di kunci.


 


 


"Seseorang! Tolong buka pintunya!" Shica menggedor-gedor pintu tersebut.


 


 


"Hei, ****** kecil! Ini balasan untukmu karena kau adiknya Regar! Laki-laki brengsek itu telah menodai banyak perempuan polos! Sama seperti ayahnya yang suka berbuat seenaknya, hanya karena seorang pengusaha yang memiliki banyak koneksi!" Bentak seseorang dari luar.


 


 


Shica terkejut, "Kenapa kalian melakukan ini padaku! Aku tidak bersalah! Tolong buka pintunya!"


 


 


Siswi-siswi itu tertawa sambil berbisik-bisik.


 


 


Shica mulai menangis ketakutan, karena hari sudah semakin gelap. Dia memeluk tubuhnya sendiri di sudut kamar mandi.


 


 


Shica mendengar langkah seseorang mendekati pintu kamar mandi. Gadis itu segera bangkit dan menggedor pintu.


 


 


"Buka! Tolong buka! Aku terjebak di sini seharian!" Teriak Shica.


 


 


Ketika pintu dibuka, Shica melihat siswi-siswi itu menatap berang padanya.


 


 


"Kau ketakutan, ****** kecil?!" Mereka menarik Shica dan memukul perutnya.


 


 


Shica meringis tertahan.


 


 


"Mau tahu seperti apa cabulnya kakakmu?!"


 


 


Mereka menunjukkan foto-foto dan video-video ketika kakak-kakaknya melakukan hubungan intim dengan siswi di sekolah tersebut. Di dalam foto dan video itu, tampak jelas ekspresi kesakitan yang ditunjukkan oleh wajah gadis-gadis itu.


 


 


Shica ketakutan. Dia tidak mengira kakaknya bisa berbuat sejahat itu. Dia tidak tahu sama sekali tentang itu.


 


 


"Kami adalah perempuan, Shica! Kamu harus mendapatkan balasan!"


 


 


Mereka mengikat Shica di tiang bendera. Gadis yang tidak tahu apa-apa itu semakin ketakutan, dia berteriak sekencang-kencangnya. Mereka menyumpal mulut Shica dengan lakban.


 


 


Semua siswi itu membawa pisau. Mereka akan merobek rok yang digunakan oleh Shica.


 


 


"Di sini tidak ada laki-laki, jadi kami akan melakukannya dengan cara perempuan."


 


 


Shica menggeleng ketakutan. Kedua kakinya meronta. Mereka memegangi pergelangan kaki Shica agar tidak terus berontak.


 


 


Namun beruntung, penjaga sekolah sempat mendengar suara teriakan Shica sebelum mulutnya dilakban. Dia segera datang dan melihat siswi-siswi itu akan melukai Shica dengan pisau.


 


 


Mereka dilaporkan kepada kepala sekolah. Sementara Shica dipulangkan ke rumahnya.


 


 


Video-video itu tersebar dengan mudahnya di internet. Entah siapa yang melakukannya.


 


 


Karena video tersebut membuat resah pihak sekolah, akhirnya video tersebut dihapus permanen dan dibicarakan baik-baik dengan orang tua dari siswi-siswi yang terlibat.


 


 


Pihak sekolah bersedia mengganti rugi dengan apa pun, asalkan mereka tidak melapor pada pihak berwajib.


 


 


 


 


Dengan berat hati, para siswi dan orang tua mereka memutuskan untuk mengurus masalah tersebut dengan jalan damai.


 


 


Ridan mengganti rugi semuanya. Karena perilaku buruk Regar dan Rama, Shica hampir terluka dan terpaksa Ridan harus memindahkannya ke SMP Bunga Indah, nama baik keluarga Mahali dalam bahaya, banyak pengusaha yang memutuskan hubungan kerja sama, karena mendengar berita tersebut.


 


 


Ridan benar-benar sangat marah dan malu dengan perbuatan putra-putranya.


 


 


Regar dan Rama menunduk di depan sang ayah, kedua pipi mereka memerah setelah mendapatkan tamparan keras dari Ridan.


 


 


Shica juga berada di sana. Dia tampak mencemaskan kedua kakaknya. Ratna berusaha menenangkan Ridan yang sedang berupaya menahan amarah.


 


 


"Ratna! Ini sudah tidak bisa dimaafkan! Mereka telah gagal menjadi putra Mahali!" Ridan membentak Ratna.


 


 


Ratna terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa lagi mendebat suaminya.


 


 


Ridan mengambil tongkat besi panjang 50 sentimeter. Shica membelalakkan matanya, ketika Ridan memukul kaki Regar dan Rama menggunakan benda tersebut.


 


 


"Papa!" Shica berteriak sambil menutup kedua matanya. Ratna menutup kedua telinga Shica. Dia membawa putri bungsunya ke kamar.


 


 


"Mama... kakakku...." Shica menangis panik.


 


 


"Sayang... maaf... mama sudah berusaha." Ratna memeluk putrinya.


 


 


Setelah kejadian itu, Regar dan Rama tidak berubah sama sekali. Mereka semakin nakal di luar sana. Kali ini keduanya tidak bersembunyi lagi dari Shica. Gadis itu sering 'melihat' kakaknya bersama perempuan.


 


 


-


 


 


Rayaa melangkahkan kakinya menuju ke kelas 7. Dia mencari Januaar.


 


 


Ketika berhasil menemukan adiknya, Rayaa memberikan kotak bekal makanan pada Januaar. Teman-teman sekelas Januaar yang melihat itu tampak iri.


 


 


"Waah, kakaknya Januaar cantik sekali, perhatian pula."


 


 


"Iya, Januaar beruntung sekali."


 


 


"Aku juga mau punya kakak."


 


 


Januaar hanya tertawa. Rayaa juga, "Baiklah, aku harus pergi. Nuaar, bagi-bagi makanannya dengan teman-temanmu, yaaa."


 


 


Di sekolah, Januaar tidak menunjukkan kalau dirinya seorang anggota geng motor. Dia akan berakting seperti adik kelas yang polos dan baik.


 


 


 


 


Shica duduk di bangku taman. Dia sendirian sedang membaca novel. Ya, gadis itu sangat menyukai novel.


 


 


"Ah, seandainya aku bisa menulis cerita, aku pasti akan membuat novel yang romantis." Gadis itu menutup bukunya.


 


 


Setiap hari hanya berteman dengan buku. Tidak ada yang mau mendekatinya. Mungkin lebih tepatnya tidak ada yang berani mendekatinya.


 


 


Shica mengikuti banyak kegiatan sekolah, seperti ekstrakurikuler, organisasi sekolah, dan masih banya lagi. Dia mengikuti semua kegiatan itu untuk mendapatkan teman. Namun, tetap saja tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya.


 


 


Shica merasa bingung, padahal Regar dan Rama bisa dengan mudah memiliki teman. Jadi, dia memutuskan bertanya langsung pada kedua kakaknya.


 


 


Sore ini, Rama sedang mengerjakan PR. Shica menghampiri kakak keduanya itu.


 


 


"Kak Rama."


 


 


Laki-laki itu menoleh sesaat kemudian kembali fokus ke laptopnya, "Hemm?"


 


 


"Kakak sibuk?" Tanya Shica. Rama menggeleng, "Tidak juga."


 


 


"PR Matematika?" Tanya Shica.


 


 


Rama menganggukkan kepalanya, "Mau melihat materinya? Siapa tahu kamu ada pelajaran yang sama."


 


 


Shica mengangguk semangat. Mereka berdua tampak serius mengerjakan soal.


 


 


Maklum, Rama termasuk murid yang cerdas di sekolahnya, begitupun dengan Shica. Mereka sering berdiskusi tentang pelajaran.


 


 


"Terima kasih pembahasannya," kata Shica sambil tersenyum manis.


 


 


Rama mengangguk seraya tersenyum tipis. Laki-laki itu membereskan bukunya. Shica tidak tinggal diam. Dia juga turut membantu.


 


 


"Sepertinya kau membantuku karena ada keinginan tersembunyi." Rama mencium aroma mencurigakan dari adiknya.


 


 


Shica terkekeh, "Kak Rama peka sekali."


 


 


"Memangnya kau mau apa?" Tanya Rama serius.


 


 


"Aku hanya ingin bertanya."


 


 


"Tanyakan saja."


 


 


"Bagaimana caranya punya teman?" Tanya Shica.


 


 


Rama terdiam sesaat, "Emm... itu... aku pikir, tidak ada cara khusus untuk memiliki teman. Semua orang pasti bisa berteman dengan siapa pun, jika dia bisa berinteraksi dengan baik."


 


 


Shica mencerna ucapan kakaknya, "Apa aku tidak bisa berinteraksi? Kenapa aku tidak punya teman?"


 


 


Kedua alis Rama terangkat, Shica tidak punya teman? Apa aku terlalu memikirkan diri sendiri tanpa memperhatikan dia selama ini?


 


 


"Semua orang mudah sekali memiliki teman, kenapa aku tidak? Apa karena keluarga Mahali galak?" Tanya Shica lagi.


 


 


Rama mengusap rambut adiknya, "Tidak, Shica."


 


 


Hening.


 


 


Kedua orang itu menoleh ketika Regar memasuki ruang keluarga.


 


 


"Kalian sedang berbicara serius, ya?" Tanya Regar sambil duduk di samping Rama.


 


 


"Tidak juga." Rama yang menyahut.


 


 


Shica beranjak dari tempat duduknya kemudian pindah duduk ke samping Regar. Gadis itu mengguncangkan lengan kakaknya.


 


 


"Kakak punya teman?" Tanya Shica.


 


 


Regar menoleh pada Rama sesaat kemudian menoleh pada adik termudanya, "Iya, memangnya kenapa?"


 


 


Shica cemberut, "Kalian punya teman, kenapa aku tidak?"


 


 


Regar tampak berpikir, "Bukankah papa memang melarangmu berteman dengan sembarangan orang?"


 


 


Shica terlihat sedih, "Ya... jangan bilang papa."


 


 


"Memangnya teman itu penting?" Gerutu Rama. Shica mendelik kesal pada Rama, "Jika tidak penting, kenapa Kak Rama punya teman?"


 


 


Rama bungkam.


 


 


"Shica, kami berteman karena kau tahu sendiri, kami anggota geng." Regar bicara jujur.


 


 


"Kenapa aku tidak ikut saja bersama kalian menjadi anggota geng?" Tanya Shica.


 


 


Rama bersuara, "Jangan, kau tidak boleh jadi anggota geng."


 


 


"Tidak baik bagimu." Regar menambahkan.


 


 


Shica mendengus kesal.


 


 


Regar kembali bersuara, "Lebih bagus kalau kau tidak punya teman, kau mudah dimanipulasi oleh orang lain. Nanti kau bisa terjerumus."


 


 


Rama mengiyakan, "Kau tidak memerlukan teman, Shica."


 


 


"Lalu kalian bagaimana? Kalian juga sudah terjerumus ke dalam pergaulan buruk. Kalau papa tahu, kalian pasti dilarang berteman dengan sembarangan orang juga sepertiku." Shica menuntut keadilan.


 


 


"Memangnya kau akan bilang pada papa?" Tanya Regar.


 


 


"Iya, agar kalian tidak punya teman sepertiku." Shica berlalu.


 


 


"Shica jangan egois, kamu tidak boleh seperti ini." Rama menyusul adiknya.


 


 


Shica tetap melanjutkan langkahnya tanpa mau mendengarkan, "Aku tidak dengaaar."


 


 


"Shica kau mau kemana?" Tanya Rama masih berusaha menghentikan adiknya.


 


 


"Aku akan bilang pada papa... kalau kalian suka bermain-main dengan perempuan, suka merokok, minum, dan bermain dengan sembarangan orang." Shica menaiki tangga menuju ruangan pribadi sang ayah.


 


 


Rama terkejut, "Shica, jika itu terjadi, bisa-bisa aku dan kak Regar dibunuh papa."


 


 


"Biarkan saja."


 


 


Mereka sampai di depan pintu bercat merah bata yang kokoh. Shica akan mengetuk pintu, namun Rama menahan tangan Shica.


 


 


"Jangan begitu, Shica."


 


 


Pintu dibuka dari dalam. Rama dan Shica terkejut lalu mendongkak menatap sang ayah yang menatap heran pada kedua anaknya.


 


 


"Kenapa kalian berdiri di sini?" Tanya Ridan.


 


 


"Aku mau bicara dengan Papa." Shica yang segera menyahut membuat Rama menelan saliva.


 


 


"Rama juga?" Tanya Ridan.


 


 


Rama menggeleng.


 


 


Ridan masuk ke dalam disusul oleh Shica. Pria paruh baya itu duduk di kursinya. Shica duduk di samping Ridan.


 


 


"Mau bilang apa, Ca?" Tanya Ridan.


 


 


Shica tampak berpikir, "Apa benar, Papa melarangku berteman?"


 


 


"Iya, selain itu, Papa senang mendengar kalau kamu aktif di sekolah. Dari wali kelas kamu, Papa tahu, kalau kamu memiliki banyak bakat dan pergaulanmu baik-baik saja."


 


 


Shica menunduk, apanya yang baik-baik saja? Aku tidak punya teman. Mereka menjauhiku, karena aku anaknya Papa."


 


 


"Kamu sering salah dalam memilih apa pun, jadi Papa tidak ingin kamu salah pilih teman. Kalau kamu mau, Papa akan mengajakmu ke pertemuan dan mengenalkanmu dengan anak-anak dari rekan kerja Papa. Setidaknya mereka lebih jelas."


 


 


Shica tidak merespon. Niatannya untuk mengadukan Regar dan Rama menjadi urung. Dia tidak ingin Ridan menghukum kedua kakaknya.


 


 


Shica berpikir, kalau itu akan membuat Regar dan Rama kehilangan teman mereka.


 


 


Shica mengangguk, "Iya, aku mengerti."


 


 


Setelah berkata demikian, Shica permisi untuk pergi.


 


 


Ketika pintu dibuka olehnya, Shica terkejut melihat keberadaan Regar dan Rama di depan ruangan tersebut.


 


 


Mereka sedang menguping?


 


 


"Kalian berdua sedang apa di sana?" Tanya Ridan.


 


 


Regar dan Rama terkekeh.


 


 


"Tidak, Pa."


 


 


-◈◈◈-


 


 


19 September 2016


Ucu Irna Marhamah