La Hora

La Hora
LH - 32 - Warmest



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Melihat Regar bersama Januaar, teman-teman Januaar tampak bingung.


 


 


Regar segera pergi setelah mengantarkan Januaar pulang dari kantor polisi menuju base camp.


 


 


"Bos, apa yang dilakukan Regar?"


 


 


"Kau tidak apa-apa?"


 


 


Januaar menjawab, "Tidak perlu dipermasalahkan."


 


 


Januaar memasuki ruangan pribadinya di base camp tersebut. Ruangan tersebut berantakan karena digeledah oleh polisi.


 


 


Namun, itu tidak membuat Januaar berubah pikiran untuk melelapkan tubuhnya ke sofa. Laki-laki itu menoleh ke pintu ketika mendengar suara ketukan.


 


 


"Masuk."


 


 


Ternyata Raihan.


 


 


Laki-laki itu masuk kemudian duduk di sofa yang sama.


 


 


"Aku sudah mendengarnya, berita itu menyebar dengan cepat. Regar membawamu dari kantor polisi. Apa dia juga meminta maaf padamu sesuai permintaanmu pada Rama?" Ucap Raihan diakhiri dengan pertanyaan.


 


 


"Dia tidak meminta maaf padaku. Posisiku di penjara telah digantikan oleh Argaa."


 


 


Raihan terkejut, "Polisi mempercayai Regar?"


 


 


"Yeah, mereka saling mengenal."


 


 


Raihan mengangguk paham.


 


 


Januaar bangkit dan menatap Raihan dengan serius, "Apa pun yang terjadi, kau harus membawa Shica padaku."


 


 


Deg!


 


 


Raihan terkejut. Dia mengira, kalau Januaar akan melupakan masa lalu setelah Regar membantunya barusan.


 


 


Namun, Raihan menyadari jika kesalahan Regar memang tidak bisa dimaafkan.


 


 


Haruskah Shica yang menanggungnya?


 


 


Raya juga tidak bersalah, tapi dia yang harus menderita karena Januaar yang bermasalah dengan Regar.


 


 


"Tampaknya kau tidak ingin melakukannya," ucap Januaar setengah bertanya.


 


 


Raihan menggeleng, "Aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang."


 


 


"Kenapa?" Tanya Januaar dengan nada kesal.


 


 


"Seperti yang kau lihat, sekarang keluarga Mahali pastinya sedang memperketat penjagaan setelah mengetahui ada yang berniat menculik putri mereka," kata Raihan mencari alasan yang tepat.


 


 


Januaar tampak berpikir, "Ucapanmu ada benarnya juga."


 


 


Terdengar suara langkah terseret menuju ruangan tersebut. Kedua laki-laki itu menoleh, ternyata Rayaa.


 


 


Gadis malang itu memang tidak bisa berjalan normal setelah insiden yang menimpanya.


 


 


Dia menangkup wajah Januaar, "Aku mendengar dari bodyguard... kamu tidak apa-apa, kan? Regar tidak melukaimu?"


 


 


Januaar tersenyum sembari menggeleng, "Tidak, Kak. Aku baik-baik saja."


 


 


Rayaa menoleh padaku, "Raihan, aku mau bicara."


 


 


Laki-laki itu mengangguk.


 


 


-


 


 


Di belakang base camp ada sebuah kolam ikan. Raihan dan Rayaa duduk di tepi kolam. Kedua kaki mereka dibiarkan berselonjor ke dalam air.


 


 


Beberapa ikan mendekat dan menyentuh kaki Raihan dan Rayaa dengan mulut-mulut kecil mereka.


 


 


"Kamu sudah membuat gadis itu jatuh cinta padamu?" Tanya Rayaa.


 


 


Raihan mengerti, gadis yang dimaksud oleh Rayaa adalah Shica.


 


 


"Iya," jawab Raihan.


 


 


Rayaa menatap wajah Raihan yang sedang memandang lurus.


 


 


"Tidak perlu mendengarkan ucapan Januaar. Kamu tidak perlu melakukan hal itu pada Shica," kata Rayaa.


 


 


Raihan menoleh padanya.


 


 


Rayaa mengalihkan pandangannya, "Tidak perlu menyentuhnya seperti apa yang sudah dilakukan Regar padaku... aku akan cemburu."


 


 


Kedua alis Raihan terangkat.


 


 


Rayaa kembali menatap Raihan, "Aku mencintaimu, Raihan."


 


 


Raihan tidak merasakan apa-apa ketika Rayaa mengucapkan itu. Bukankah seharusnya dia bahagia? Berarti cintanya tidak bertepuk sebelah tangan seperti dulu lagi.


 


 


Rayaa memeluk Raihan, "Aku mencintaimu, Raihan."


 


 


Tidak ada jawaban dari Raihan. Dia juga bingung dengan perasaannya sendiri.


 


 


Ada yang salah.


 


 


Dia hanya mencintai satu orang saat ini, Shica.


 


 


Tidak kunjung mendapatkan jawaban, Rayaa mendongkak menatap laki-laki itu.


 


 


"Aku juga." Raihan segera menjawab dengan kebohongan.


 


 


-


 


 


Di dalam penjara, Argaa yang sudah kehilangan kedua matanya tampak duduk di sudut ruangan. Ada perban yang menutupi kedua matanya.


 


 


Dia mendengar suara langkah kaki menuju sel tempatnya berada. Argaa menoleh meskipun tidak bisa melihat.


 


 


"Merasa nyaman di base camp baru?"


 


 


Argaa membeku sesaat mendengar suara itu. Tentu saja dia mengenalnya. Itu suara Regar.


 


 


"Tidur saja di sini selamanya. Kau sudah berurusan dengan orang yang salah, Argaa." Raihan tersenyum penuh kemenangan.


 


 


Tiba-tiba Argaa tertawa keras, "Tidak masalah kau memenjarakanku, Regar. Ingat satu hal, orang yang membencimu bukan hanya aku. Akan ada banyak orang yang siap mengambil semua barang berharga milikmu. Entah itu harga dirimu, kekuasaanmu, atau keluargamu."


 


 


Regar mengepalkan tangannya geram, "Masih mampu berbicara? Apa pun yang kau katakan tidak akan pernah terjadi."


 


 


"Lihat saja nanti."


 


 


-


 


 


Sesuai perintah dari Ridan Mahali, Shica akan pergi dan pulang sekolah dengan diantarkan oleh bodyguard.


 


 


Tidak ada satu pun teman Shica yang mengetahui tentang penculikan yang menimpanya. Sebagai seseorang yang berpengaruh, Ridan melarang semua kantor berita untuk menyebarkan insiden itu. Padahal semua orang di kantor berita sudah mengetahuinya, namun Tidak mengantisipasi dengan cepat.


 


 


Jadi, yang tahu itu semua hanyalah anak-anak geng.


 


 


Semuanya berjalan lebih baik sekarang.


 


 


Hubungan Shica dan Raihan semakin baik, begitupun dengan Rama dan Floryn.


 


 


Rangga dan Meishy juga sudah menjalin hubungan. Beberapa orang menyebut mereka, 'pasangan cerdas'.


 


 


Regar juga sedang fokus untuk UAS.


 


 


Cuti akhir semester telah tiba, waktu dua minggu digunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat atau berlibur.


 


 


Shica tidak diperbolehkan keluar rumah, kecuali jika bersama bodyguard.


 


 


Lalu bagaimana caranya berbicara dengan Raihan? Mereka melakukan video call.


 


 


Malam ini akan ada tamu yang datang. Tamu itu adalah rekan bisnis Ridan.


 


 


Ratna menyuruh ketiga anaknya untuk turun dan makan malam bersama tamu mereka.


 


 


Namun, Rama sudah tidur.


 


 


Jadi, Shica dan Regar yang ikut makan malam. Pria tampan  dengan rambut halus di wajahnya itu duduk bersebelahan dengan Regar. Dia memiliki ciri khas orang barat, tentu saja karena dia berasal dari New York.


 


 


Ridan bilang, usianya 30 tahunan, padahal dia tampak jauh lebih muda.


 


 


"Waahh, ini sangat lezaaat. Aku sangat menyukai makanan Indonesia yang kuat sekali rasanya," ucap tamu tampan itu ketika menghabiskan makanannya.


 


 


Pria ramah itu tidak canggung menunjukkan ekspresinya. Membuat sang tuan rumah tidak merasa segan padanya.


 


 


Pria bernama lengkap Felix Nicholas Donovan itu mengusap bahu Regar, "Kudengar, putramu ini akan berkuliah di New York. Dia tumbuh dengan cepat. Terakhir kali aku bertemu dengannya 3 tahun yang lalu dan sekarang dia tampak lebih tinggi dariku."


 


 


Regar tersenyum santun.


 


 


 


 


"Iya, sebagai anak tertua, Regar harus memberikan contoh bagi adiknya," tambah Ratna.


 


 


Felix tertawa, "Anda bisa saja. Oh ya, Shica mau kuliah di mana?"


 


 


Pria itu beralih pada Shica yang duduk berhadapan dengannya. Gadis itu mendongkak pada Felix.


 


 


"Saya belum memikirkannya," jawab Shica sambil tersenyum kaku. Ratna mengusap rambut putrinya.


 


 


"Ah, iya... masih lama untuk memikirkan kuliah."


 


 


Shica hanya tersenyum.


 


 


"Ada seorang guru di SMA Hardiswara yang merupakan temanku. Dia bilang, lukisan Shica sangat bagus dan dia adalah murid yang berbakat di kelasnya," kata Felix.


 


 


Ridan tersenyum, "Mungkin gurunya terlalu melebihkan."


 


 


"Bagaimana dengan rencana liburan kalian?" Tanya Felix pada Regar dan Shica.


 


 


"Beristirahat." Regar dan Shica menjawab bersamaan.


 


 


Felix tersenyum, "Itu lebih baik. Semester dua membutuhkan lebih banyak tenaga, kan?"


 


 


"Iya, akan ada banyak ujian," ujar Regar.


 


 


Mereka berbincang hangat.


 


 


-


 


 


Keesokan harinya,


 


 


Shica bangun pagi dan seperti biasa, dia hanya diam di rumah. Sudah seminggu ini diam di rumah dan di rumah.


 


 


Membosankan.


 


 


Ridan dan Ratna pergi ke kantor. Tidak ada libur untuk kedua orang tuanya.


 


 


Regar dan Rama pergi keluar bermain dengan teman-teman mereka.


 


 


Shica sendirian lagi.


Menonton TV dan membaca novel adalah pilihannya.


 


 


Meishy membuat banyak novel di situs web resmi untuk membaca. Jadi, karya sahabatnya itu bisa dibaca oleh semua orang di seluruh Indonesia.


 


 


Lama-lama dia bosan dengan kebiasaan yang tidak menyenangkan itu.


 


 


Sore harinya, Rama pulang. Dia tidak sendirian. Ada Raihan, Rangga, Meishy, dan Floryn yang datang. Mereka menemui Shica.


 


 


Tentu saja gadis itu merasa sangat senang. Dia merindukan teman-temannya.


 


 


Malam ini, mereka memanggang jagung dan sosis di halaman belakang.


 


 


Rangga dan Meishy yang telaten membolak-balikan sosis dan jangungnya. Raihan dan Shica mengolesi kedua makanan itu dengan mentega dan saus, sementara Rama dan Floryn membantu sebisanya.


 


 


"Lezat sekali." Floryn yang pertama memakan jagung bakar.


 


 


Meishy mencicipi sosis dengan saus yang banyak, gadis berkacamata itu memang menyukai makanan yang pedas.


 


 


"Kalian buka rumah makan saja, kalian memang hebat. Ini bisa jadi bisnis rumah tangga yang menguntungkan." Raihan menggoda Rangga dan Meishy.


 


 


Kedua orang itu malah tertawa.


 


 


Malam itu berlalu dengan menyenangkan dan hangat. Mereka berkumpul dan menghabiskan waktu dengan baik.


 


 


Rama mengajak Regar untuk bergabung, tapi laki-laki itu tidak berminat dan memilih diam di kamarnya.


 


 


Rama dan Shica mengantarkan teman-temannya pulang sampai ke depan rumah. Ketika mobil Rangga benar-benar hilang, Shica memeluk kakaknya.


 


 


"Aku sayang kak Rama."


 


 


Rama merangkul adiknya, "Kakak juga menyayangi Shica."


 


 


Rama melihat keberadaan Regar yang berlalu dari pintu. Semenjak Ridan menampar Rama, Shica jadi jarang berkomunikasi dengan Regar maupun Ridan.


 


 


Gadis itu telah menyadari, kalau Ridan lebih berat sayangnya pada Regar. Dan kakak yang selama ini memperhatikan Shica dengan benar-benar baik, hanya Rama.


 


 


Regar juga memperhatikannya, hanya saja suasana hati Regar yang berubah-ubah membuat Shica kurang nyaman bersamanya.


 


 


"Shica." Rama melepaskan pelukannya. Dia menangkup wajah adiknya.


 


 


"Apa, Kak?"


 


 


"Kamu sayang kak Regar juga, kan?"


 


 


Shica mengangguk cepat.


 


 


"Sekarang kamu datang ke kamarnya dan peluk dia juga."


 


 


Shica tampak berpikir, "Tapi...."


 


 


"Hanya karena papa lebih galak pada kita, bukan berarti kita jadi membenci kak Regar, Ca. Kak Regar menyayangi kita, Ca."


 


 


Shica mengangguk semangat, "Iya, ayo aku mau menemuinya juga."


 


 


Gadis itu menarik tangan Rama. Mereka berdua mengetuk pintu kamar Regar dengan tidak sabaran.


 


 


Regar yang sedang berada di dalam kamar menoleh, "Masuk."


 


 


Rama dan Shica masuk. Regar melihat Shica yang sedikit canggung padanya. Beberapa minggu tidak berbicara membuat mereka segan untuk menyapa satu sama lain.


 


 


"Kak Regaaaar." Shica mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung kaki kirinya.


 


 


Regar tersenyum dan memeluk adik perempuannya itu tanpa menunggu dulu menyelesaikan kalimatnya.


 


 


"Maaf, caraku menunjukkan perhatian padamu memang berbeda dari orang lain," ucap Regar.


 


 


Shica membalas pelukan kakaknya, "Aku mengerti, aku sayang kak Regar."


 


 


Rama tersenyum.


 


 


Shica menarik tangan Rama agar ikut berpelukan. Mereka bertiga berpelukan dalam hangatnya persaudaraan. Malam yang dingin terasa lebih hangat.


 


 


-


 


 


Raihan memasuki mansion miliknya. Dia melemparkan tasnya ke sofa kemudian berlalu ke kamarnya. Laki-laki itu terkejut melihat keberadaan Rayaa di kamarnya.


 


 


"Raihan." Rayaa melangkah menghampirinya. Dia mengecup bibir Raihan sesaat.


 


 


"Ka-kamu bisa berada di sini?" Tanya Raihan.


 


 


Rayaa menganggukkan kepalanya, "Aku bilang pada bibi Salimah, kalau aku adalah pacarmu dan dia membiarkanku masuk."


 


 


Raihan membeku seketika.


 


 


Rayaa menunjuk sketsa wajah Raihan di meja belajarnya, "Itu bagus sekali, kamu membelinya dari mana?"


 


 


Raihan tampak berpikir, "Seseorang yang memberikannya padaku secara cuma-cuma."


 


 


"Siapa?" Tanya Rayaa semangat.


 


 


"Emm, Shica."


 


 


Senyuman gadis itu memudar. Tersirat kecemburuan dan kesedihan di wajah cantiknya.


 


 


"Kalian dekat sekali, ya? Aku mendengar dari teman-teman Januaar... kalian berpacaran. Itu masih termasuk misimu, kan?" Tanya Rayaa sambil menatap kedua mata onyx milik Raihan.


 


 


Raihan tidak menjawabnya.


 


 


Rayaa mengguncangkan lengan Raihan, "Kamu tidak sungguh-sungguh mencintainya, kan? Kamu hanya mencintaiku, kan?"


 


 


Raihan tersenyum kemudian menganggukkan kepala.


 


 


Rayaa masih menatap serius pada Raihan, "Kamu berbohong! Kamu sudah jatuh cinta padanya!"


 


 


Gadis itu mengamuk dan melemparkan semua barang-barang di meja Raihan, termasuk kertas yang menggambarkan sketsa wajah Raihan.


 


 


Laki-laki itu berusaha menenangkan Rayaa.


 


 


"Kamu tidak mencintaiku lagi karena aku sudah tidak suci? Iya?! Dan kamu mencintai gadis itu karena dia belum pernah disentuh siapa pun!" Rayaa menangis dan memukuli kepalanya sendiri.


 


 


Raihan mendekap tubuh Rayaa, "Aku mencintaimu, Rayaa."


 


 


Gadis itu menangis dalam pelukan Raihan. Dia tahu, Raihan sedang berbohong.


 


 


Rayaa tahu lewat pandangan matanya. Tidak ada lagi tatapan cinta seperti biasanya dari onyx milik Raihan. Kedua mata itu biasanya menatap Rayaa dengan penuh kelembutan.


 


 


Kini yang tersisa hanyalah rasa kasihan. Raihan hanya mengasihaninya.


 


 


Raihan tidak mencintainya.


 


 


-◈◈◈-


 


 


11 September 2016


Ucu Irna Marhamah