La Hora

La Hora
LH - 34 - Fearful



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Keluarga Mahali lagi-lagi dalam kepanikan, putri bungsu mereka tidak ada di rumah. Kali ini Ridan sendiri yang turun tangan mencari Shica. Dia menyuruh orang-orang khusus yang disewanya untuk membantu.


 


 


Ratna tidak bisa menahan tangisannya lagi.


 


 


Setelah belasan tahun berlalu, penculikan Shica terjadi lagi. Dia benar-benar takut sekarang, apalagi keadaan Shica sedang kurang sehat belakangan ini.


 


 


Regar dan Rama juga menyuruh anggota geng untuk membantu secara diam-diam.


 


 


"Siapa lagi yang sedang mencari masalah denganku!" Geram Regar.


 


 


"Mungkin kali ini bukan musuhmu, Gar... bisa jadi ini musuh ayahmu. Mereka tidak meninggalkan jejak sama sekali," kata Givar.


 


 


Regar mendengus, "Jika aku menemukan orang itu, aku sendiri yang akan memisahkan kepala dari lehernya."


 


 


-


 


 


Floryn mengusap bahu Rama, "Polisi sedang berusaha mencarinya."


 


 


Rama mengangguk pelan, "Dia adikku."


 


 


Rangga memeluk Meishy yang tidak bisa berhenti menangis, karena sahabatnya menghilang entah kemana.


 


 


Semuanya dalam kepanikan.


 


 


Kali ini, berita penculikan putri dari keluarga Mahali telah tersebar di TV dan koran.


 


 


Semua orang membicarakannya.


 


 


Selain khawatir dengan keselamatan putrinya, Ridan juga harus menahan rasa malu. Semua media menyorot keluarganya.


 


 


Mereka mulai mengorek informasi tentang keluarga Mahali.


 


 


Ridan menelepon seseorang, "Ini sangat mengganggu. Mereka tidak boleh mengetahui apa pun tentang keluarga besar kita. Tutup semua kantor berita di Indonesia, jika mereka tidak mau berhenti menyebarkan ini."


 


 


"Aku bisa melakukannya, lalu bagaimana dengan berita di internet?"


 


 


Ridan tampak berpikir, "Itu akan kuurus, aku akan membicarakan ini dengan ahlinya."


 


 


"Baiklah, semoga putrimu segera ketemu."


 


 


Ridan mematikan ponselnya. Dia melihat ke layar kaca.


 


 


"... penculikan terjadi ketika Rastarani Mahali pulang sekolah. Bukan hanya gadis malang itu yang hilang. Mobil dan sopir yang menjemputnya pun ikut hilang. Saat ini kami sedang menanyakan kepada keluarga Mahali. Namun, mereka sangat tertutup dan...."


 


 


Ridan memindahkan ke channel lain.


 


 


"... pengusaha sukses, Ridan Mahali, diduga memiliki keterlibatan dengan pihak-pihak tertentu dalam...."


 


 


Ridan mematikan TV-nya.


 


 


"Sial, kenapa jadi begini?!"


 


 


-


 


 


Raihan yang panik karena pacarnya diculik, memutuskan untuk menelpon Garry, "Bang, kenapa Shica bisa diculik? Bukankan tuan Mahali sudah memperketat pengawasan?"


 


 


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Kemarin sepulang sekolah, salah seorang bodyguard lama yang menjemputnya dan sekarang orang itu juga menghilang dengan mobilnya."


 


 


Raihan tampak berpikir, "Apa mungkin Januaar...."


 


 


Raihan mematikan ponselnya. Dia mendatangi rumah Januaar dengan kecemasan.


 


 


Ada mobil Januaar di depan rumah tersebut. Raihan melihat ban mobil itu kotor karena tanah dan rerumputan yang terselip di sana.


 


 


Para bodyguard membungkuk melihat kedatangan Raihan. Laki-laki itu segera mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, Raihan melihat Rayaa.


 


 


"Mana Januaar?" Tanya Raihan tanpa basa-basi.


 


 


Laki-laki yang mengenakan singlet hitam itu menuruni tangga. Raihan dan Rayaa menoleh.


 


 


"Ada apa minggu pagi begini sudah ribut?" Tanya Januaar.


 


 


"Kita perlu bicara, ini serius!" Ucap Raihan.


 


 


Januaar melirik kakaknya, "Katakan saja di sini, memangnya ada apa?"


 


 


"Kita perlu bicara di tempat lain," bantah Raihan.


 


 


-


 


 


Di belakang rumah,


 


 


Januaar menolak keluar rumah. Dia sedang tidak ingin ke mana-mana.


 


 


Pandangan Raihan tertuju pada dahi Januaar yang diperban, "Kau kenapa?"


 


 


"Jatuh dari motor," jawab Januaar sekenanya.


 


 


Raihan mengerutkan keningnya, "Jatuh dari motor? Kau seperti angin ketika mengendarai motormu, kenapa kau bisa jatuh?"


 


 


"Aku ceroboh," jawab Januaar.


 


 


"Lain kali hati-hati."


 


 


Januaar mengedikkan kepalanya, "Apa yang ingin kau bicarakan? Aku sedang ingin menikmati hari minggu."


 


 


"Shica diculik," ucap Raihan.


 


 


Januaar tidak menanggapi, bahkan dengan ekspresi sekalipun.


 


 


"Aku benar-benar kesulitan mencarinya... apa kau tahu sesuatu?" Raihan menatap Januaar dengan serius.


 


 


Januaar menghela napas panjang, "Jadi... kau mengira aku yang menculiknya? Bukakah aku yang menyuruhmu menculiknya sejak lama?"


 


 


Raihan terdiam.


 


 


"Aku sudah tidak percaya lagi padamu. Kau bebas sekarang, tidak perlu memikirkan misi itu. Kau bisa menjalani hidupmu sebagai orang biasa, bukan anggota geng," kata Januaar kemudian berlalu.


 


 


"Tunggu, Jan." Raihan memegang bahu laki-laki itu.


 


 


Januaar berbalik menatap mantan anggota geng-nya.


 


 


Raihan juga menatap Januaar dengan serius, "Baiklah, sekarang aku bebas dari misi itu. Tapi, ada satu hal yang ingin aku katakan. Berhenti berpikir untuk melukai Shica, mulai sekarang aku berpaling darimu dan akan melindungi dia, karena aku tidak lagi menjalankan misi itu."


 


 


Januaar menautkan alisnya, "Meskipun kau bukan anggotaku, bukankah kau mencintai kakakku? Bukankah dulu kau juga setuju untuk membalas perbuatan Regar?"


 


 


"Iya, tapi dulu. Aku menyadari jika Shica tidak pantas mendapatkan hukuman atas perbuatan kakaknya." Raihan berbicara penuh penekanan.


 


 


Januaar mengepalkan tangannya geram, "Katakan saja, kalau kau mencintai gadis itu, iya 'kan!"


 


 


"Iya!"


 


 


Deg.


 


 


Rayaa yang mendengar percakapan itu diam-diam tampak tercengang. Kali ini dia mendengarnya secara langsung dari mulut Raihan.


 


 


Hatinya sakit, sakit sekali.


 


 


Januaar mendorong dada Raihan, "Sialan kau!"


 


 


"Jika kau adalah dalang di balik penculikan ini, kita bukan teman lagi. Aku tidak akan ragu membuatmu mengenal kata menyesal!" Setelah berkata demikian, Raihan berlalu pergi.


 


 


Januaar melihat Rayaa yang menangis di tempatnya menguping. Laki-laki itu segera menghampiri kakaknya.


 


 


Dipeluk tubuh kakaknya itu dengan lembut, "Kak Rayaa."


 


 


"Sudah kubilang, dia mencintai gadis itu. Aku benci padanya!" Tangis Rayaa.


 


 


Setelah Rayaa sedikit lebih tenang, Januaar kembali ke rumah Gallardo. Raihan tidak tahu soal rumah itu, karena Januaar tidak pernah menceritakannya.


 


 


Di tengah hutan, Januaar melihat orang-orangnnya sedang membakar mobil milik Shica.


 


 


Ledakkan keras pun terjadi.


 


 


"Raihan, kau tidak perlu khawatir, gadis yang kau cintai ada padaku."


 


 


-


 


 


Semua kantor berita berhenti menyebarkan informasi mengenai hilangnya Shica dan misteri tersembunyi dari keluarga Mahali.


 


 


Setidaknya itu bisa membuat Ridan sedikit lebih tenang dan membuatnya fokus pada Shica.


 


 


Pria itu kini sedang berada di kantor. Dia memijat pelipisnya yang sakit.


 


 


Pintu diketuk.


 


 


Ridan menoleh, ternyata sekretarisnya, "Tuan, ada Tuan Hardiswara ingin bertemu dengan anda."


 


 


Ridan mengangguk, "Biarkan dia masuk."


 


 


Pria berjas hitam itu masuk dan tanpa permisi, dia duduk berhadapan dengan Ridan.


 


 


Juan Hardiswara, pemilik SMA Hardiswara, sekaligus ayah dari Givar, temannya Regar.


 


 


Ternyata Juan dan Ridan juga berteman baik.


 


 


"Aku minta maaf, putrimu menghilang di sekolahku. Aku akan bertanggung jawab dengan membantumu mencarinya," kata Juan tanpa berbasa-basi.


 


 


Ridan menganggukkan kepalanya, "Shica sudah menghilang selama satu minggu, aku benar-benar khawatir. Aku tidak mau polisi yang membantuku, aku takut mereka mencampuri masalah keluargaku yang lain."


 


 


"Padahal kau memiliki koneksi dengan orang-orang di kepolisian," kata Juan.


 


 


"Iya, tapi... tidak semua polisi temanku."


 


 


"Aku mengerti perasaanmu. Aku akan menyampaikan beberapa informasi yang didapat dari saksi mata," kata Juan.


 


 


Ridan menoleh dan menatap temannya itu dengan serius.


 


 


Juan mulai berbicara, "Satpam penjaga gerbang sekolah bilang, Shica sudah pulang bersama salah satu bodyguard-mu. Jadi, Shica tidak menghilang di sekolah."


 


 


Ridan masih serius mendengarkan.


 


 


"Lalu, jam 5 di hari yang sama, Shica datang ke rumah sakit Danuarga bersama seorang laki-laki yang jatuh dari motornya, aku mendapatkan informasi ini dari Michael. Dia sendiri yang mengobati laki-laki itu."


 


 


Ridan mencerna ucapan Juan, "Shica ke rumah sakit Danuarga? Bukankah di sana ada CCTV?"


 


 


Juan mengangguk, "CCTV-nya sudah aku cek. Tapi, tidak ada rekaman di jam tersebut. Sepertinya penculikan ini sudah direncanakan."


 


 


"Apa mungkin bodyguard yang kusuruh juga terlibat?" Tanya Ridan.


 


 


"Sepertinya tidak, karena jika iya, keluarganya pasti sudah disembunyikan. Kemarin aku mendatangi rumah Dian, bodyguard-mu, justru keluarganya juga panik, karena dia tidak kunjung pulang."


 


 


 


 


Juan mendecih pelan, "Itu cita-citaku dulu. Sekarang nyatanya aku jadi pengusaha."


 


 


-


 


 


Juan dan Ridan sedang duduk berhadapan dengan Michael.


 


 


"Aku turut sedih mendengar kabar ini. Shica adalah gadis yang baik dan peduli pada semua orang." Michael terlihat sedih.


 


 


Ridan menghela napas berat, "Aku tidak bisa tidur beberapa hari ini, karena memikirkan anakku."


 


 


"Ketika dia membayar tagihan rumah sakit, dia pasti menuliskan namanya, bukan?" Tanya Juan.


 


 


"Aku tidak tahu, siapa nama anak laki-laki itu, karena tagihannya dibayar oleh Shica dan... tunggu sebentar." Michael berlalu ke ruang administrasi.


 


 


Beberapa menit kemudian dian kembali dengan secarik kertas dan menunjukkannya pada Ridan.


 


 


Ridan melihatnya, begitupun dengan Juan.


 


 


"Januaar?" Baca Juan.


 


 


Ridan tampak berpikir, "Tidak ada nama belakang, ini menyulitkanku."


 


 


Juan menepuk bahu Ridan, "Jika dia bersekolah di SMA milikku, aku akan mencarikan informasi tentangnya."


 


 


Ridan mengangguk.


 


 


Michael bersuara, "Maaf, aku tidak membantu banyak. Hanya ini yang kupunya."


 


 


Juan mengangguk, "Terima kasih telah membantu."


 


 


-


 


 


Juan dan Ridan sedang berada di sekolah. Mereka berada di ruang TU. Semua data-data murid yang masih bersekolah di SMA itu ada di TU.


 


 


Seorang pegawai TU sedang mencari nama Januaar di daftar nama siswa.


 


 


"Bagaimana, Pak Andra?" Tanya Juan.


 


 


"Tidak ada murid yang bernama Januaar di SMA ini," jawab pak Andra.


 


 


Juan dan Ridan saling pandang.


 


 


"Tapi, ada nama Januaar di daftar anggota basket dari sekolah lain yang pernah bertanding di sini. "


 


 


"Dari SMA mana?" Tanya Ridan.


 


 


"SMA Parameswara."


 


 


Juan mengernyit, "Aku tidak yakin, apa mereka akan memberikan informasi tentang salah seorang muridnya?"


 


 


Ridan tampak berpikir, "Aku yang akan bicara."


 


 


-


 


 


SMA Parameswara, bangunan bertingkat dan tidak kalah megah dari SMA Hardiswara.


 


 


Ridan dan Juan sedang berada di sana. Mereka mencari informasi tentang Januaar. Keduanya duduk berhadapan dengan wakil kepala sekolah.


 


 


"Sebenarnya kami sedikit tidak enak jika harus menyampaikan informasi tentang salah seorang murid kami."


 


 


Juan segera menyahut, "Tolong, Pak. Kami sedang khawatir, karena murid dari sekolah ini yang terlihat bersama Shica terakhir kali."


 


 


"Kenapa anda tidak melaporkan ini pada polisi saja?"


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


Setelah mempertimbangkannya dengan matang, akhirnya kepala sekolah memberikan nama lengkap anak itu.


 


 


Januaar Axelle Bastian Gallardo.


 


 


Nama yang asing bagi Ridan, maupun Juan. Apalagi mereka tidak mendapatkan informasi apa-apa lagi selain nama lengkap anak itu.


 


 


"Aku belum pernah mendengar nama Gallardo, apa mungkin... dia orang berdarah campuran?" Tanya Juan.


 


 


Ridan tampak berpikir, "Aku juga tidak tahu, sepertinya Shica buka diculik oleh musuhku di dunia bisnis. Lalu... siapa yang menculiknya? Kenapa orang itu menculik Shica? Dan apa hubungannya dengan anak bernama Januaar ini?"


 


 


Ridan dan Juan menggabungkan orang-orang mereka untuk berupaya mencari Shica.


 


 


"Kalian semua ini tidak berguna, harus aku yang turun tangan ke lapangan!" Bentak Juan.


 


 


Mereka semua terdiam dan menunduk. Tidak ada yang bisa menjawab.


 


 


Juan kembali bersuara, "Sekarang cari informasi tentang Januaar Axelle Bastian Gallardo."


 


 


Sesegera mungkin, mereka mencari.


 


 


"Dia anggota geng."


 


 


Ridan terkejut, pikirannya sekarang tertuju pada Regar dan Rama. Apa ini karena perbuatan kedua anaknya?


 


 


"Belakangan ini Januaar bermasalah di kantor polisi dan Regar yang membantunya keluar."


 


 


Deg.


 


 


Ridan terkejut sekali mendengarnya, "Ini pasti ada kaitannya dengan geng Regar, anak itu!"


 


 


Juan termenung sebentar, "Mungkin Regar membuat masalah dengan si Januaar ini dan bodohnya, dia malah menculik Shica."


 


 


"Seharusnya aku bisa lebih kejam pada anak itu!" Ridan mengepalkan tangannya.


 


 


"Apa lagi yang kalian dapat?" Tanya Juan.


 


 


"Dia dikenal sebagai pembalap berkekuatan angin. Dia pernah balapan melawan Rama."


 


 


Lagi-lagi Ridan terkejut.


 


 


Juan menoleh pada Ridan kemudian kembali menoleh pada layar komputer.


 


 


"Rama pembalap petir? Waaaahh, itu julukan yang keren!" Juan tampak kagum, tapi Ridan masih terlihat serius.


 


 


Juan berdehem pelan, "Ehmmm, sorry."


 


 


"Meskipun dia masih remaja, dia cukup berpengaruh dan ditakuti banyak orang, karena dia putra dari Herdian Agung Lesmana Mahendra."


 


 


Juan mengernyit, "Siapa lagi orang itu?"


 


 


"Orang mengenalnya sebagai mafia Indonesia, ini sudah menjadi rahasia umum. Koneksinya penuh, dia pernah bekerja sama dengan gangster Korea bernama Park Johan Armez."


 


 


Ridan dan Juan saling pandang.


 


 


"Siapa lagi orang-orang itu? Aku benar-benar tidak mengenal mereka semua," kata Juan.


 


 


"Mungkin kita yang ketinggalan zaman. Mafia itu memiliki koneksi yang banyak. Rahasia adalah kode etik mereka. Jadi, kita tidak tahu apa-apa," ucap Ridan.


 


 


Juan mengangguk paham.


 


 


"Kenapa Januaar tidak memakai nama belakang ayahnya?" Tanya Ridan.


 


 


"Herdian tidak pernah memberikan nama belakang pada anak-anaknya. Jadi, anaknya akan diberikan nama belakang ibunya."


 


 


"Kumpulkan semua informasi, aku harus menemui anak-anakku."


 


 


Ridan berlalu.


 


 


-


 


 


Regar dan Rama tertunduk dalam.


 


 


"Kalian harus bertanggung jawab!" Bentak Ridan setelah menceritakan semuanya.


 


 


Januaar, seharusnya waktu itu aku tidak perlu menukarkan posisimu dengan Argaa. Regar mengepalkan tangannya.


 


 


Rama menggigit bagian bawah bibirnya, seandainya waktu itu kak Regar meminta maaf pada Januaar, ini tidak akan terjadi.


 


 


"Aku akan bertanggung jawab, Pa. Aku akan meminta maaf pada Januaar dan membawa Shica kembali," kata Rama kemudian berlalu.


 


 


"Tidak, Rama."


 


 


Langkah Rama terhenti mendengar ucapan Ridan.


 


 


"Regar, aku tahu ini salah, tapi... berikan alamat base camp Januaar. Aku akan mengirimkan orang-orangku untuk menghabisi mereka semua dan membawa Shica."


 


 


Kedua mata Rama membelalak. Dia berbalik, "Ma-maksud Papa, Papa harus membunuh orang?"


 


 


Ridan menatap Rama, "Papa tidak mau kalian kenapa-napa, jadi kalian harus diam di rumah."


 


 


Rama menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana bisa Ridan menyuruh anak buahnya untuk membunuh orang?


 


 


Regar dan Ridan berlalu.


 


 


Rama mengusap kasar wajahnya, "Mahali apanya!"


 


 


-


 


 


Di kamar,


 


 


Ratna yang duduk melamun di depan jendela kamar. Wanita itu melihat keluar jendela.


 


 


Ridan merasa sedih ketika melihat istrinya yang setiap hari merenung di tempat yang sama. Seperti dirinya, Ratna juga tidak bisa tidur.


 


 


Ridan mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia mendekat dan merangkul tubuh istrinya.


 


 


Ratna menunjuk keluar, "Lihatlah, itu ayunan yang biasa digunakan anak-anak bermain waktu mereka masih kecil. Aku yang menyuruh kamu membuatkan taman di halaman belakang."


 


 


Ridan mengangguk, "Iya."


 


 


Ponsel pria itu begetar. Ridan melihat ada panggilan dari salah satu anak buahnya.


 


 


"Halo?"


 


 


"Kami sudah menyelesaikan tugas dengan baik di tempat ini. Tapi, kami tidak menemukan Januaar dan nona Shica."


 


 


Ridan menutup kedua matanya. Dia menghela napas berat, pria itu tidak bisa apa-apa.


 


 


"Tapi, salah satu dari mereka bilang, Januaar memiliki persembunyian lain."


 


 


Kedua mata Ridan kembali terbuka, "Siapkan semuanya! Aku akan segera kesana! Aku sendiri yang akan pergi!"


 


 


Ratna menatap punggung suaminya.


 


 


-◈◈◈-


 


 


13 September 2016


Ucu Irna Marhamah