La Hora

La Hora
LH - 26 - Abduction



-◈◈◈-


 


 


Shica menunggu Regar atau Raihan di tempat parkir. Siapa yang lebih dulu masuk ke tempat parkir, maka Shica akan pulang bersamanya.


 


 


Belakangan ini Rama mengizinkan Raihan mendekati Shica, karena kakaknya itu tidak bisa membuktikan niatan buruk Raihan. Selain itu, Rama juga sibuk dengan pacarnya, Floryn.


 


 


Shica senang, karena Rama memiliki pacar yang baik seperti Floryn.


 


 


Lalu bagaimana dengan Regar?


Belum tahu pasti bagaimana tanggapannya. Shica tidak memberitahu kakak tertuanya, kalau dia sudah menjalin hubungan dengan Raihan.


 


 


Shica yakin, Regar akan marah dan mungkin saja kakaknya itu malah berbuat hal buruk pada Raihan.


 


 


Shica melihat ponselnya, berharap ada notifikasi dari Regar atau Raihan. Tapi, tidak ada.


 


 


Kenapa Raihan dan Shica tidak pulang bersama? Padahal mereka satu kelas.


 


 


Raihan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sementara Shica tidak. Jadi, otomatis Shica pulang lebih awal.


 


 


Gadis itu melihat Bella menghampirinya. Dia duduk di samping Shica.


 


 


"Menunggu Rama?" Tanya Bella.


 


 


Shica menganggukkan kepalanya, "Kak Regar sudah keluar dari kelasnya?"


 


 


Kenapa menanyakan dia padaku? Aku sudah bukan pacarnya lagi! Batin Bella menjerit.


 


 


Namun, selintas ide muncul di kepalanya, "Tadi dia menyuruhku mengantarmu pulang."


 


 


Shica tampak berpikir, jadi... kak Regar belum memutuskan hubungan dengan kak Bella? Kak Rama bilang, kak Regar sudah memutuskannya. Atau mungkin... dia ingin kembali pada kak Regar melalui aku. Jadi, dia mendekatiku.


 


 


Bella menatap Shica, dia menunggu jawaban dari gadis itu.


 


 


"Emm, aku menunggu kak Regar saja." Shica tersenyum untuk menghilangkan kesan jutek.


 


 


Bella mendengus pelan, "Ya sudah, aku duluan, ya."


 


 


Shica mengangguk dan melihat mantan pacar kakaknya itu memasuki mobil. Shica menghela napas lega.


 


 


Sudah putus dengan kak Regar saja masih menyebalkan, batin Shica.


 


 


Tiba-tiba sebuah pisau diletakkan di lehernya. Shica terkejut dan mendongkak menatap siapa yang menodongnya.


 


 


Ternyata laki-laki berambut blonde yang malam pesta itu berbincang dengannya, Argaa.


 


 


"Masih mau hidup, gadis cantik?" Bisik Argaa.


 


 


Shica mengangguk cepat.


 


 


"Ikut denganku." Argaa menarik lengan Shica tanpa menyingkirkan pisaunya dari leher gadis itu.


 


 


Mereka mendekati mobil Bella. Shica tidak berniat berontak, karena pisau itu bisa melukainya kapan saja.


 


 


Bella membuka pintu mobil, "Aku sudah menawarkan jasa dengan baik-baik, tapi kamu menolak."


 


 


Shica terbelalak, jadi ini adalah rencana Bella?


 


 


Sebelum Shica menjawab, Argaa memukul tengkuk Shica dengan cukup keras dan membuat gadis itu pingsan seketika. Dia mengangkat tubuh Shica dan menidurkannya di kursi belakang.


 


 


"Kasar sekali," kata Bella, ketika Argaa duduk di sampingnya dan menyetir.


 


 


"Aku akan lembut padanya, setelah dia bangun."


 


 


Bella tersenyum sinis.


 


 


-


 


 


Regar keluar dari kelasnya dengan ekspresi kacau. Pembelajaran hari ini membuatnya lelah.


 


 


Givar menepuk bahu Regar, "Gar! Kau memilih pelajaran apa untuk mata pelajaran pilihan UN nanti?"


 


 


Regar menoleh kemudian merangkul bahu temannya itu, "Aku ini orang yang suka simpel... jadi, aku memilih Biologi. Bagaimana denganmu?"


 


 


Givar tampak berpikir, "Aku memilih Kimia."


 


 


Regar menganggukkan kepalanya, "Aku tidak diciptakan untuk Kimia, jadi aku memilih Biologi saja."


 


 


Givar tertawa, "Setelah lulus, kau mau kuliah di mana?"


 


 


Regar menghela napas berat, "New York, bagaimana denganmu?"


 


 


"Kyoto, itu pilihan ayahku, agar aku tidak nakal lagi." Givar mendengus kesal.


 


 


Regar tertawa, "Bagus, kau jadi lebih bebas 'kan di sana?"


 


 


Givar menggeleng, "Ada Tante dan Om di sana."


 


 


Regar mengangguk, "Sepertinya hanya aku yang akan bebas di New York."


 


 


"Beruntung sekali."


 


 


Kedua laki-laki itu sampai di tempat parkir. Regar memasuki mobilnya. Dia tidak melihat keberadaan Shica, tidak ada notifikasi juga dari adiknya itu.


 


 


Regar melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.


 


 


Sementara itu, Rama dan Raihan sedang bermain basket. Sebentar lagi, akan ada pertandingan basket untuk kelas 10.


 


 


Sebagai kakak kelas yang baik, Rama dan timnya menemani adik kelas mereka.


 


 


Ketika permainan selesai, Raihan dan Rama berjabat tangan dengan jantan, sebagai seorang kapten dari masing-masing tim.


 


 


Keduanya keluar dari lapangan diikuti oleh anggota timnya.


 


 


Raihan melihat ponselnya. Rama menoleh, "Ada chat dari Shica?"


 


 


Raihan menggeleng, "Tidak, apa dia pulang dengan Regar?"


 


 


Rama mengedikkan bahunya, "Coba Shica di chat, dia bukan tipe orang yang suka chat duluan."


 


 


Raihan mengangguk, dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Rama.


 


 


"Biasanya dia pulang dengan siapa, selain dengan kalian?" Tanya Raihan.


 


 


"Dengan sopir, tapi itu dulu. Semenjak papa menenalmu, Shica diperbolehkan pulang bersamamu."


 


 


Raihan merasakan sesuatu yang tidak beres.


 


 


-


 


 


Argaa menidurkan tubuh Shica ke tempat tidur. Dia menatap lekat wajah cantik yang sedang pingsan itu. Pandangan Argaa semakin turun ke tubuh Shica yang masih 'utuh' itu.


 


 


Argaa benar-benar menginginkannya sekarang.


 


 


Laki-laki itu menyentuh paha mulus Shica yang dibalut stocking. Regar yang memaksa adiknya untuk selalu memakai stocking, tak peduli roknya sepanjang apa. Laki-laki itu sangat memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh adiknya.


 


 


Argaa membuka satu per satu kancing seragam Shica, "Aku ingin melihat lebih jauh lagi."


 


 


Baru tiga kancing teratasnya yang terbuka. Ternyata gadis itu mengenakan kaos berwarna putih di dalamnya.


 


 


Bella memasuki kamar tersebut, "Apa yang sedang kau lakukan? Harusnya tunggu dia bangun dulu."


 


 


"Dia terlihat masih kecil, aku tidak tega jika harus merenggutnya dengan paksa. Aku akan melakukannya dengan baik-baik," kata Argaa.


 


 


"Ingat, Gaa... Regar pernah mengambil Nadin dengan paksa waktu itu. Kau tidak ingat?" Bella masih berusaha membangkitkan dendam dalam diri Argaa.


 


 


"Gadis itu sebanding dengan apa yang dilakukan Regar pada Nadin." Bella menghampiri Argaa.


 


 


Gadis itu menarik dagu Argaa dan menciumnya dengan penuh penuntutan. Argaa membalas ciuman gadis itu.


 


 


Beberapa saat kemudian, Bella melepaskan tautan bibir mereka, "Nikmati gadis itu."


 


 


Setelah berkata demikian, Bella berlalu meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


 


 


Argaa tersenyum sambil menangkup wajah Shica, "Yeah, kita lihat saja nanti seperti apa."


 


 


Bibir Argaa menempel pada bibir Shica. Laki-laki itu menyesap bagian bawah bibir Shica.


 


 


"Emmhhh, beginikah rasanya bibir gadis yang masih perawan?" Argaa semakin memperdalam ciumannya.


 


 


Shica yang mulai sadar, merasa kesulitan bernapas. Dia membuka mata dan terkejut ketika hazel miliknya bertemu dengan sapphire milik Argaa.


 


 


 


 


"Akhirnya bangun juga. Aku menunggumu lama sekali."


 


 


Gadis itu menatap ke sekeliling, "Aku mau pulang! Biarkan aku pergi, aku tidak punya masalah denganmu!"


 


 


Shica bangkit untuk duduk, namun dengan kasar, Argaa mendorongnya, membuat Shica kembali terlentang.


 


 


"Mau kemana? Kau tidak bisa pulang sebelum membuatku puas." Argaa menyeringai dingin.


 


 


Shica kembali bangkit, tapi kali ini Argaa menindihnya dengan posisi Shica di antara kedua lututnya yang bertumpu pada tempat tidur.


 


 


"Aku akan berusaha lembut, jika kamu tidak berontak." Argaa mengunci kedua tangan Shica ke atas dengan satu tangannya.


 


 


Shica berteriak minta tolong, Argaa membiarkan Shica berteriak seperti itu.


 


 


Itu adalah base camp miliknya. Tidak akan ada yang datang menolong Shica.


 


 


"Aku tidak punya masalah denganmu! Kenapa kau tiba-tiba menodongkan pisau padaku!  Aku tidak kenal padamu! Beraninya kau melakukan ini padaku!" Shica masih berusaha berontak.


 


 


Argaa memiringkan kepalanya, "Kenapa? Karena kamu putri dari keluarga Mahali?"


 


 


Shica terdiam.


 


 


"Aku tidak takut pada keluarga Mahali." Argaa menyentuh dada Shica. Gadis itu meringis, "Jangan melakukan ini! Kau telah memilih gadis yang salah!"


 


 


"Aku menyukai ukurannya," kata Argaa sambil bermain di dada Shica. Shica menahan diri untuk tidak menangis. Belum pernah ada yang menyentuhnya seperti itu.


 


 


Argaa menatap Shica, "Regar adalah pendosa yang biadab. Banyak orang yang terluka karenanya. Tidak ada yang bisa menyentuhnya, semua orang takut padanya. Tapi, ada kamu yang bisa dipermainkan agar Regar juga terluka."


 


 


Shica menatap Argaa dengan tatapan marah, "Aku tidak pernah melukai orang lain, kenapa melukaiku?!"


 


 


"Karena kau adiknya Regar." Argaa mengecup leher Shica


Gadis itu merasa jijik ketika merasakan lehernya yang basah karena perbuatan Argaa.


 


 


"Hentikan! Jangan lakukan ini! Aku akan melapor pada polisi!" Shica membenturkan dagunya ke kepala Argaa.


 


 


Laki-laki itu hanya tersenyum di sela kecupannya, "Bagaimana caranya melapor? Kau saja tidak bisa keluar dari sini."


 


 


Shica  menggigit rambut Argaa, dia cukup keras ketika berontak. Argaa membiarkan Shica melakukan itu.


 


 


"Liar sekali dirimu." Argaa menarik seragam Shica, hingga dua kancing yang masih terpasang harus lolos dengan paksa.


 


 


"Sialan kau!" Shica menghantam perut Argaa dengan lututnya. Tangan Argaa yang satunya menahan kaki Shica agar tidak berontak terus padanya.


 


 


Shica menendang-nendang. Dia tidak ingin dipermalukan seperti ini. Dia seorang gadis terhormat dari keluarga Mahali yang tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti ini.


 


 


Argaa sedikit terganggu. Dia mengambil jaketnya dan membalik tubuh Shica dengan kasar hingga gadis itu telengkup membelakanginya.


 


 


Argaa mengikat kedua tangan Shica ke belakang dengan jaketnya, seperti polisi yang menangkap pencuri. Argaa tertawa melihat bokong Shica, dia menepuknya dengan keras membuat Shica marah dan ingin mencakar wajah Argaa.


 


 


"Kak Regar akan menghabisimu! Dia akan membunuhmu!" Teriak Shica.


 


 


"Tidak masalah, jika aku bisa mendapatkan keperawananmu. Itu bayaran yang seimbang," ucap Argaa dengan frontal.


 


 


Shica membelalak kedua kakinya menekuk ke belakang dan menendang punggung Argaa.


 


 


"Ah, shit... ada saja gerakanmu yang membuatku terkejut!" Argaa melepaskan stocking Shica dengan paksa. Dan mengikat kedua kakinya sampai dia tidak bisa bergerak sepenuhnya.


 


 


"Masih bisa melawan? Jangan macam-macam jika tidak ingin aku berbuat kasar."


 


 


Shica masih berusaha bergerak, namun tanpa rasa kasihan, Argaa menindih tubuh Shica dari belakang. Gadis itu merasa berat, karena Argaa menitikberatkan seluruh beban tubuhnya.


 


 


Shica meringis dan merasa sesak, ketika tubuh Argaa yang seukuran dengan Regar itu semakin menekan tubuhnya.


 


 


Tangisan Shica akhirnya pecah. Argaa menarik leher gadis itu agar menoleh ke samping. Argaa ******* bibir Shica di posisi itu.


 


 


"Ehmmmppp." Argaa melepaskannya dan menatap Shica yang tidak berhenti menangis. Dia menjilat air mata yang sedang mengalir itu.


 


 


"Simpan air matamu, kamu memerlukannya untuk nanti, ketika aku mengambilmu." Argaa mengigit telinga Shica.


 


 


"Aaarggghhh!" Shica meronta kesakitan.


 


 


Tiba-tiba pintu dibuka, ternyata Bella. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Argaa.


 


 


"Sudah mulai? Aku belum mendapatkan kameraku," kata Bella.


 


 


Argaa menoleh dan beranjak dari tubuh Shica, "Kenapa kau harus datang di saat seperti ini?!"


 


 


Shica berbalik, akhirnya dia bisa terlentang dengan napas terengah-engah. Dia menatap kesal pada Bella.


 


 


Argaa menghampiri Bella


 


 


"Sialan kau! Kenapa kau melakukan ini padaku!" Teriak Shica.


 


 


Bella memasang ekspresi merasa tak bersalah, "Argaa juga tertarik dengan tubuhmu, jadi aku berikan saja kau padanya."


 


 


Shica membulatkan matanya, "Perempuan gila kau!"


 


 


Bella tertawa, "Ya, aku gila begini karena kakakmu!"


 


 


Argaa mendorong Bella, "Sana keluar, aku memerlukan privasi."


 


 


Bella menepuk pangkal paha Argaa, "Tunjukkan padanya, seperti apa cara kerjamu."


 


 


Mereka berdua menoleh pada Shica yang masih menatap mereka dengan ekspresi marah.


 


 


Bella menurunkan resleting celana Argaa. Shica segera mengalihkan pandangannya.


 


 


Sialan! Kenapa bisa begini?!


 


 


Argaa tertawa dan menaikkan kembali resleting celananya, "Jangan membuatku jadi menginginkanmu."


 


 


Argaa mencium Bella. Perempuan itu tersenyum dan membalas ciuman Argaa.


 


 


"Aku harus membawa dulu kameranya. Kau harus merekam dan memberikannya pada Regar," kata Bella kemudian berlalu.


 


 


Argaa kembali menghampiri Shica. Dia menatap tubuh Shica ketika terlentang seperti itu. Mendapatkan tatapan mengerikan, Shica mulai panik.


 


 


"Merekamnya nanti saja, aku jadi ingin dirimu sekarang." Argaa mengambil gunting dan menggunting seragam serta kaos yang dikenakan oleh Shica.


 


 


"Tidak! Jangan!" Shica memohon sambil menangis. Namun percuma, Argaa tidak mau mendengar.


 


 


Dirobek semuanya, bagian atas tubuh Shica kini bisa dilihat jelas oleh Argaa. Shica benar-benar merasa malu. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang melihat tubuhnya.


 


 


Dengan kasar, laki-laki itu melahap dada Shica. Gadis itu berteriak kesakitan. Karena itu adalah masanya dia merasa sakit dibagian sana.


 


 


"Hentikan! Sakit! Toloooong!" Shica berteriak sampai-sampai suaranya habis.


 


 


Argaa mengusap perut rata dan mulus milik Shica. Dia menyingkap rok gadis itu. Shica menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Argaa menurunkan stocking yang tinggal sebelah itu.


 


 


Laki-laki itu tersenyum seduktif sambil membuka stocking yang mengikat kaki Shica. Gadis itu kembali menendang-nendang, saat kakinya lolos. Namun tak berselang lama, Argaa memposisikan dirinya di antara kedua paha Shica.


 


 


Roknya di singkap sampai perut. Argaa bisa melihat paha mulus tanpa cacat itu. Tubuh putri Mahali yang begitu terawat dan bersih.


 


 


Shica membelalak saat merasakan sesuatu yang menekan di bawah sana.


 


 


"Jangan, kumohon jangan... aku akan melakukan apa saja, jangan lakukan ini," tangis Shica.


 


 


Argaa mendecih, "Tadi mulut cantikmu mengeluarkan sumpah serapah, dan sekarang memohon padaku. Meskipun kau menangis darah, aku akan tetap mengambil tubuhmu dengan paksa."


 


 


Shica menggeleng ketika laki-laki itu menarik kain terakhirnya.


 


 


"Aaaaarrrrggghhhhh!!!!"


 


 


Bella yang menaiki tangga menuju kamar tersebut tampak kaget mendengar suara teriakan Shica.


 


 


"Apa Argaa sudah menyentuhnya? Kenapa tidak menungguku membawa kamera dulu!" Gerutu Bella sambil melihat kamera di tangannya.


 


 


Dia bergegas menaiki tangga dan sampai di depan pintu.


 


 


Dia ingin masuk, namun dia tidak mungkin mengganggu. Tapi, pintu dibuka, Argaa keluar dengan ekspresi kesal.


 


 


"Apa yang terjadi?" Tanya Bella.


 


 


"Dia berdarah."


 


 


-◈◈◈-


 


 


3 September 2016


Ucu Irna Marhamah