
-◈ Shica Mahali ◈-
Hari ini aku benar-benar senang!
Raihan mengungkapkan perasaannya padaku hari ini. Rasanya aku bermimpi, laki-laki yang merupakan cinta pertamaku juga merasakan hal yang sama denganku.
Dia juga menciumku, aku cukup kaget, karena itu ciuman pertama bagiku. Aku tidak bereaksi apa pun.
Apa Raihan benar-benar mencintaiku?
Awalnya aku merasa ragu, karena dia mencintai gadis lain, namun ternyata dia memilih untuk menyerah dan bersamaku.
Hari ini adalah tanggal 22 Agustus, hari jadian kami, aku dan Raihan.
Sketsa wajah Raihan telah selesai, aku meminta salah satu bodyguard untuk mengirimkan sketsa wajah tersebut ke rumah Raihan.
Aku merebahkan tubuhku ke sofa dan melihat ponselku. Ada notifikasi dari Raihan.
Hai, pacar. 😚
Aku terkekeh kecil membaca chat tersebut. Aku membalas chat darinya.
Hai, pacar. 😚
Besok aku akan menjemput kamu ke rumah. Kita akan berangkat bersama. 🤗😊
Aku meng-copy pesan darinya dan mengirimkan kembali pesan tersebut pada Raihan.
Kamu sedang bercanda, ya? 😏😏
Lagi-lagi aku mengirimkan kembali chat tersebut.
Shica, katakan sesuatu. 😌😌
Sesuatu. 😌😌
Shicaaaaa... 😒😒😒
Raihaaaaaan... 😋😋😋
Baiklah, aku menyerah. 😟😟😟
Raihan, jangan marah... aku hanya bercanda. 🤗🤗🤗
Iya, aku tahu. 😋
Kami hanya saling membalas chat dan candaan. Tiba-tiba Raihan mengirimkan foto, ternyata sketsa wajah buatanku telah sampai kepadanya.
Wah! Ini keren! Aku sungguh meyukainya! Kamu benar-benar hebat! 😃
Semoga kamu menyukainya. 😁
Tentu saja, ini terlihat seperti wajahku. Wajahku sungguhan. 😂
Aku tertawa membaca pesan tersebut, "Itu memang dirimu, Raihan."
Terdengar suara pintu kamarku yang diketuk, aku menoleh. Terlihat kak Rama berdiri di sana. Kebetulan pintunya sedikit terbuka.
"Boleh aku masuk?" Tanya kak Rama. Aku menganggukkan kepala sambil bangkit untuk duduk.
Kak Rama duduk di sampingku, "Ini masih semester 1, tapi kak Regar sudah sibuk dengan simulasi dan sebentar lagi UAS. Perhatiannya pada kita akan sedikit berkurang."
Aku merasa sedih dengan ucapan kak Rama. Sebelum kak Regar sibuk dengan pelajaran pun, dia jarang memiliki waktu denganku. Apalagi sekarang.
"Kak Regar akan kuliah di New York," kata kak Rama yang berhasil membuatku terkejut.
Kenapa harus di tempat yang jauh?
"Apakah... itu keinginan papa?" Tanyaku memastikan.
Anggukkan kak Rama adalah jawabannya. Hemm, papa memang selalu memutuskan apa pun sesuai keinginannya. Belum tentu kak Regar ingin kuliah di New York. Teman-temannya 'kan di sini semua.
Atau mungkin, papa sengaja agar kak Regar tidak geng-geng-an lagi?
Tapi, apa New York adalah pilihan yang tepat?
"Masih ada semester 2, kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi," kataku menghibur kak Rama.
"Justru semester 2 akan semakin sibuk."
Sunyi.
Aku tidak tahu harus bicara apa.
"Kamu dan Raihan pacaran?" Tanya kak Rama yang membuatku terkejut.
Aku harus menjawab apa, coba?
"Raihan itu pernah punya masalah dengan kak Regar. Jadi, aku rasa, Raihan mau membalasnya padamu."
Aku terkejut mendengar ucapan kak Rama. Apa benar seperti itu?
Jika iya... mana mungkin. Kak Rama pasti berbohong. Raihan tidak mungkin seperti itu.
"Setahuku, waktu itu Rayaa dan Raihan dekat. Tapi, entah kenapa... Rayaa memilih bersama kak Regar dan meninggalkan Raihan. Lalu, kak Regar melukai Rayaa dan Raihan marah pada kak Regar, jadi... yaaa..."
Kak Rama sedang berbicara, atau bercerita? Aku tidak mengerti dengan apa yang diceritakannya.
"Jadi, maksud Kakak, Raihan bisa saja melukaiku untuk membalas kak Regar, karena kak Regar telah melukai Rayaa? Tapi... kenapa harus padaku? Aku bahkan tidak tahu apa masalahnya."
Kak Rama tampak berpikir, "Kurang lebih seperti itu. Dendam bisa jatuh pada siapa saja, jika si pendendam sudah menentukan target, siapa pun yang berada di sekitar si pendosa, maka dia akan menjadi sasaran."
Perlu beberapa detik untuk mencerna ucapan kakakku.
Jika itu benar, apakah Rayaa begitu berarti bagi Raihan? Sampai-sampai dia harus membalaskan dendam gadis itu?
Perasaan cemburu mulai menghantuiku. Sepertinya Raihan memang masih mencintai Rayaa.
"Memangnya apa yang telah dilakukan kak Regar pada gadis itu?" Tanyaku.
Kak Rama menatapku dengan serius, "Kamu pasti mengerti."
Memperkosanya?
"Jika itu benar, itu adalah kesalahan kak Regar. Raihan pantas marah, karena gadis yang dicintainya telah dilukai oleh laki-laki lain. Raihan berhak marah pada kak Regar. Tapi... dia tidak berhak melukaiku. Aku tidak bersalah."
Rama mengusap rambutku, "Jauhi dia untuk keselamatanmu. Kakak tidak bisa terus-menerus menjagamu. Ada kalanya Kakak lengah dan tidak memperhatikanmu."
Ucapan kak Rama membuatku terdiam sesaat. Dia bangkit dari tempat duduknya kemudian berlalu.
Aku melihat ponselku. Ada banyak notifikasi dari Raihan.
Shica?
Sudah tidur, ya? 😴😴
Besok tunggu aku, ya... jam 7 aku sudah di depan rumahmu. 😉😉
Aku akan menunggumu besok. 😁
Shica?
Benar-benar sudah tidur, ya? 🤔🙄
Ya sudah, semoga mimpi indah. 🤗😘
Aku tidak berniat membalasnya. Lagi-lagi keraguan itu mengangguku. Aku akan mencari tahu sendiri semuanya.
-
Paginya, aku berangkat ke sekolah dengan diantarkan sopir. Aku juga menyuruhnya menjemputku ketika aku menghubunginya.
Jam 7 aku tiba di sekolah. Belum ada Meishy di kelas. Hanya ada beberap murid yang sedang piket. Karena kelas sedang dibersihkan, aku keluar dan duduk di bangku depan kelas.
Terlihat kak Bella bersama teman-temannya berjalan melewatiku. Tatapan sinis kak Bella tertuju padaku.
Itu sudah biasa.
Selama menjadi pacar kak Regar pun, dia tidak memiliki senyuman untukku.
Aku tidak mengira, perempuan modis seperti dia bisa datang sepagi ini ke sekolah.
Bangku yang kududuki tiba-tiba bergoyang, menandakan ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku menoleh, ternyata Floryn, gadis yang kemarin pingsan dan dibawa ke UKS bersamaan denganku.
"Hai, Shica." Dia menyapaku dengan ramah. Aku hanya tersenyum kecil.
Dia pasti ingin mendekatiku untuk mendapatkan perhatian dari kak Rama. Sama saja seperti gadis lain.
Floryn memberikan sebuah krim padaku. Aku tidak tahu, ini krim, atau gel, atau body lotion. Aku menerimanya dan memperhatikan benda itu dengan teliti.
Dia berujar, "Cairan ini bisa digunakan sebelum kamu keluar rumah. Jadi, sinar matahari langsung tidak akan membuat kulitmu memerah lagi. Pakai secukupnya saja."
Aku menoleh padanya, "Terima kasih, kamu kelas apa?"
"Aku kelas IPS-A. Kelasku di sana jika ingin berkunjung." Dia menunjuk kelas yang berada di ujung sana.
Yeah, kelas unggulan.
"Emm... kamu menyukai kak Rama, ya?" Entah kenapa aku ingin sekali bertanya begitu.
Floryn mengangguk ragu, "Awalnya iya... tapi... setelah mengetahui... ah, lupakan."
"Tenang saja, aku memberikan ini ikhlas tanpa ada maksud apa-apa. Aku hanya teringat padamu ketika di UKS kemarin, jadi aku memberikan benda ini." Dia tersenyum cantik.
Mungkin aku telah salah menduga kebaikannya. Dia adalah gadis yang baik.
"Maafkan aku, aku memang sedikit sensitif belakangan ini," kataku.
Floryn tersenyum, "Aku mengerti, wajar bagi perempuan."
Meishy datang. Dia menoleh ke arahku dan Floryn. Ekspresinya tampak terkejut dan bingung.
"Shica punya sahabat baru, ya? Shica melupakan Meishy, ya?" Tanya sahabatku itu dengan ekspresi yang membuatku gemas.
Floryn tertawa mendengar ucapan Meishy. Dia bangkit dari tempat duduknya lalu mencubit kedua pipi Meishy.
"Tidak akan ada yang melupakan pemenang kita di sini," kata Floryn.
Aku tidak mengira, nama Meishy akan sampai ke kelas IPS. Mengingat kelas IPS juga memiliki popularitas bagus di SMA Hardiswara. Itu membuktikan, kalau Meishy memang dikenal oleh banyak orang.
Kau hebat Meishy.
"Aku bercanda, kok." Meishy balik mencubit kedua pipi Floryn.
Melihat itu aku jadi canggung. Bukankah mereka tidak saling mengenal? Dan mereka bisa akrab?
Itu bagus!
Setidaknya kelas IPS dan kelas IPA jangan terlalu memancarkan aura persaingan yang kental.
Tentu saja, di SMA mana pun pasti akan ada persaingan, terutama antar tingkatan yang sama dan jurusan yang berbeda. Itu normal.
Begitu pula di SMA Hardiswara. Kelas IPA menunjukkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga, sains, dan prestasi akademik lain mengenai IPA.
Kelas IPS menunjukkan prestasi dan keunggulan mereka di bidang sosial, kesenian, dan kedudukan penting dalam organisasi.
"Kalian akrab?" Tanya Meishy padaku dan Floryn.
Aku tertawa, karena pertanyaan Meishy seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.
"Begitulah, kami hanya pernah berada dalam satu ruangan di UKS waktu upacara kemerdekaan." Floryn yang menjawab.
Meishy mengangguk mengerti.
"Oh ya, malam ini ada acara kelas 10-IPS, kalian datang, yaaa." Floryn memberikan dua kartu undangan berwarna hijau gelap padaku dan Meishy.
"Bagaimana jika ini acara untuk kelas IPS saja?" Tanya Meishy dengan ekspresi sedih.
"Kamu ini bicara apa? Ini untuk kelas 10. Ya... mungkin tidak semua kelas IPA yang diundang, tapi aku punya 4 undangan. Kalian boleh memberikan satu untuk seseorang yang bisa diajak oleh kalian." Floryn memberikan dua undangan lagi pada kami.
Seseorang?
Siapa?
Apa aku perlu membawa Raihan?
Tapi, aku....
"Aku harus pergi, terima kasih." Floryn berlalu dengan ekspresi ceria.
"Apa mungkin... aku harus mengajak Rangga?" Gumam Meishy sambil membenarkan kaca matanya untuk membaca undangan tersebut.
"Iya, kenapa tidak?" Kataku.
Meishy balik bertanya, "Bagaimana denganmu? Kamu akan mengajak Raihan?"
Aku tidak segera menjawabnya, karena aku juga bingung.
"Aku akan memikirkannya nanti."
Kami memasuki kelas. Meishy memberika buku catatannya padaku, "Aku menyelesaikan tulisanku kemarin. Aku ingin kamu yang pertama membaca, apabila ada kesalahan, tolong dikoreksi, yaaa."
Aku tersenyum lalu menerimanya kemudian duduk di bangku tempatku seperti biasa.
Meskipun buku tebal yang berisikan cerita ini ditulis tangan, namun tulisan Meishy sangat rapi dan mudah dipahami.
Aku mulai membacanya.
Meishy membuat cerita fantasy yang unik. Dia menciptakan karakter tokoh yang berasal dari dunia lain dan memiliki usia ribuan tahun.
Sangat menarik, dia memang memiliki imajinasi yang bagus.
Akan lebih baik jika aku menaburkan imajinasi liar ke kepala Meishy, hehe.
Ceritanya perlu sedikit panas, bukan?
Ehm, maaf... aku sedikit nakal.
Ketika asyik membaca, tiba-tiba seseorang duduk di kursi kosong sebelahku, ketika aku menoleh, ternyata Raihan.
Dia menatapku penuh tanya. Dan dia memang bertanya, "Kamu marah sama aku?"
Melihat ekspresinya yang seperti itu, aku benar-benar tidak tega. Kualihkan pandanganku darinya sembari menjawab, "Tidak."
Raihan kembali berkata, "Tadi aku datang ke rumahmu, tapi... kak Rama bilang, kamu sudah berangkat. Bahkan kak Rama juga tidak tahu, kamu sudah pergi."
Iya, aku pergi ke sekolah tanpa memberitahu siapa pun.
Raihan menunggu jawaban dariku. Dia masih menatapku. Rasanya risih ketika ditatap seperti ini dan di jarak sedekat ini.
"Kalau misalnya aku salah bicara, aku minta maaf," ucap Raihan.
Aku menoleh padanya kemudian tersenyum, "Tidak salah, kok. Aku tidak marah. Aku hanya sedang... sedikit sensitif."
Tampaknya Raihan tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Perlu beberapa detik baginya untuk memahami maksudku.
"Ooohhh, iya, iya... aku mengerti." Dia mengatakan itu dengan kedua pipi memerah.
Aku tersenyum geli melihat ekspresinya yang tampak manis ketika malu.
Ah, mana mungkin aku bisa menjauhinya. Tapi, ucapan kak Rama cukup mengangguku.
"Shica, aku mendapatkan undangan pesta dari kelas IPS untuk malam ini, apa kamu akan ikut?" Tanya Raihan sambil menunjukkan dua kartu undangan yang serupa dengan milikku dari Floryn.
"Aku juga mendapatkannya." Kutunjukkan kartu yang tadi aku dapatkan dari Floryn.
"Aku harap, kamu mau pergi bersamaku, tanpa malu... karena...." Ucapan Raihan terhenti karena aku memegang tangannya.
"Aku tidak pernah malu bersamamu, Raihan. Aku senang ketika berada di dekatmu," ucapku.
Raihan tersenyum, "Terima kasih."
-
Sebelum pulang sekolah, aku mencari Floryn untuk mengembalikan dua undangan yang kelebihan.
Ketika datang ke kelasnya, ternyata Floryn sedang rapat organisasi. Siapa sangka, gadis cantik yang suka pingsan ketika upacara itu adalah seorang anggota PKS.
Aku perlu menunggunya beberapa menit di depan ruangan organisasi PKS.
"Hai lagi, Shica." Dia tersenyum padaku.
Aku juga tersenyum padanya dan memberikan dua kartu undangan yang kelebihan ini.
"Aku mendapatkan undangan lain yang serupa, ini kelebihan dan mungkin saja ada beberapa orang yang belum mendapatkannya."
"Oh begitu, ya? Pasti dari pacarmu." Floryn menggodaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Baiklah, sampai jumpa di pesta."
"Iya, sampai jumpa di pesta."
Aku pulang bersama kak Rama, aku juga sudah bilang pada Raihan.
Selama di perjalanan, tidak ada hal yang kami bicarakan. Tampaknya kak Rama juga sedang fokus ke jalanan. Saat ini papa sudah mengizinkan kak Rama mengendarai mobil.
"Oh ya, Kak... apa Kakak ingat dengan Floryn?" Tanyaku.
"Yang sering pingsan ketika upacara?" Tanya kak Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Aku mengangguk, "Lihatlah, dia memberikanku krim ini."
Aku menunjukkan krim yang tadi diberikannya di sekolah. Kak Rama mengambil krim tersebut dariku dan melihatnya sejenak.
"Sudah dicoba?" Tanya kak Rama sambil kembali fokus menyetir.
Aku menunjukkan kedua tanganku, "Tadi aku mengoleskannya dan berjalan cukup lama di bawah terik matahari."
Kak Rama memegang tanganku, "Tidak perih lagi?"
Aku menggeleng cepat.
"Sudah bilang terima kasih?" Tanya kak Rama.
Aku terkekeh, karena kak Rama ini bicaranya seperti pada anak kecil, "Iya, aku sudah bilang, ketika Floryn memberikan krim ini."
Kak Rama tersenyum tampan, "Gadis pintar."
Aku tertawa.
-◈◈◈-
23 April 2016
Ucu Irna Marhamah