La Hora

La Hora
LH - 19 - Stimulate



 


 


 


 


-◈ Raihan Alfarizi ◈-


 


 


Mimpi sialan itu membuatku kepikiran terus. Aku jadi tidak ingin makan. Kuputuskan untuk datang ke rumah Januaar.


 


 


Rumah bertingkat dengan cat putih itu dikelilingi oleh para bodyguard. Aku memarkirkan mobil di pelataran yang cukup luas itu.


 


 


Ketika aku lewat di depan mereka, beberapa bodyguard mengangguk hormat padaku. Aku juga mengangguk kecil.


 


 


Aku memasuki rumah itu dan mencari keberadaan Rayaa atau Januaar. Aku ke halaman belakang, ada kolam renang di sana.


 


 


Terlihat olehku, Januaar sedang bersama beberapa perempuan berpakaian minim di pinggir kolam. Mereka sedang....


 


 


"Ehm." Suaraku membuat mereka terkejut dan menoleh padaku.


 


 


"Kembalilah, nanti aku akan memanggil kalian lagi," kata Januaar.


 


 


Gadis-gadis cantik itu berlalu sambil menyentuh wajahku ketika mereka lewat. Aku menghampiri Januaar dan duduk di bangku berjemur.


 


 


Tampaknya Januaar tidak berniat keluar dari kolam.


 


 


"Kau menyukai salah satu dari mereka? Ambil satu, jangan sungkan," kata Januaar.


 


 


"Aku hanya menyukai kakakmu, bodoh!" Kataku menggerutu.


 


 


Januaar menoleh padaku, "Dia tidak akan marah hanya karena kau tidur dengan gadis lain."


 


 


Sunyi.


 


 


"Apa kau sudah membuat gadis Mahali itu jatuh hati padamu?" Tanya Januaar.


 


 


"Iya." Aku menjawab asal.


 


 


"Kenapa tidak segera membuatnya menderita? Jangan-jangan kau juga menyukainya." Januaar manatapku seolah menatap maling.


 


 


"Aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang." Kualihkan pandanganku dari Januaar.


 


 


"Dia memang cantik, jangan membuatmu luluh padanya, darah yang sama mengalir di tubuhnya." Januaar menengadah sambil menutup kedua matanya.


 


 


"Kau saja yang melakukannya, jangan aku."


 


 


Mendengar ucapanku, Januaar tertawa, "Kau benar-benar tidak bisa melakukannya? Dasar payah, sudah kubilang untuk mencobanya dengan salah satu gadisku."


 


 


"Kau juga payah, kenapa tidak kau saja yang melakukannya?" Aku tak mau kalah.


 


 


"Aku akan melakukannya setelah kau," ucap Januaar sambil naik ke tepian dan menepuk bahuku kemudian berlalu.


 


 


Dia juga menyukai gadis yang masih polos, kenapa tidak dia saja yang mengambil Shica?


 


 


Januaar kembali dengan botol vodka. Dia meminumnya dan menyodorkannya padaku.


 


 


Tidak kunjung mendapatkan respon, dia menarik kembali botol tersebut.


 


 


"Kakakku akan menerimamu jika kau menyentuh gadis itu dengan paksa, kau lupa?" Tanya Januaar.


 


 


Yeah, mana mungkin aku lupa. Itu permintaan konyol.


 


 


"Di mana dia?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


 


 


"Cari saja di kamarnya," jawab Januaar.


 


 


Setelah mendapatkan jawaban darinya, aku pun berlalu dan menaiki tangga menuju ke kamar Rayaa.


 


 


Di depan pintu bercat putih itu, aku akan mengetuk pintu, namun ada keraguan dalam hatiku.


 


 


Bagaimana jika Rayaa sedang tidak ingin bertemu dengan orang lain. Tidak apa-apa, jika dia marah, aku akan pergi.


 


 


Aku mengetuk pintu kamarnya.


 


 


"Masuk."


 


 


Mendengar jawaban dari dalam, aku membuka pintu dan masuk. Kulihat Rayaa sedang duduk di tempat tidurnya. Dia menoleh ke arahku.


 


 


Raya adalah gadis cantik yang memiliki wajah khas Asia. Kulitnya putih dan mulus. Kedua matanya sayu yang diturunkan dari sang ayah. Hidungnya yang macung disertai bibir tipis dan belah bagian tengahnya. Dia memiliki rambut panjang berwarna hitam.


 


 


Kenapa dia tidak mirip Januaar yang lebih bule? Karena ibu mereka berbeda. Ibunya Januaar wanita berketurunan Inggris, dan ibunya Rayaa wanita asal China, sementara ayah mereka adalah seseorang berdarah Indonesia.


 


 


"Kemarilah," ucapnya sambil menepuk tempat di sampingnya. Aku melangkah mendekatinya dan duduk di ranjang tepat di samping Rayaa.


 


 


"Kamu baik-baik saja?" Tanyaku. Rayaa mengangguk. Dia melelapkan kepalanya ke bahuku.


 


 


"Aku rasa... aku mulai menyukaimu, Raihan."


 


 


Aku senang sekali mendengarnya. Tentu saja! Aku menunggu ini sejak lama!


 


 


"Aku mencintaimu, Rayaa."


 


 


Rayaa mendongkak dan menatapku. Aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya dengan lembut. Rayaa menutup kedua matanya dan membalas ciumannya.


 


 


Aku melihat Januaar akan masuk, namun terkejut dengan apa yang sedang kami lakukan.


 


 


"****! Kenapa pintunya tidak ditutup!" Januaar tidak jadi masuk.


 


 


Aku hanya mendecih.


 


 


Setelah sedikit berbincang dengan Rayaa, aku memilih kembali ke mansion.


 


 


Aku ingin menghabiskan waktu luangku di hari minggu sebelum berganti senin pagi.


 


 


Aku berendam di bath-up yang berisikan air hangat. Itu akan membuatku lebih nyaman dan tenang ketika tubuhku sedang lelah.


 


 


Di saat nyaman seperti ini, tiba-tiba bayangan Shica di mimpi semalam muncul lagi.


 


 


Hell, kenapa harus teringat hal itu ketika sedang menikmati waktu santaiku?!


 


 


Atau... kutemui saja dia, ya?


 


 


Kuambil ponselku dan menghubunginya lewat chat.


 


 


Hai... 👋👋👋


 


 


Belum ada jawaban dari gadis itu. Aku meletakkan kembali ponselku dan memasukkan kepalaku ke dalam air hangat.


 


 


Ponselku bergetar, aku segera melihatnya. Shica membalas chat dariku!


 


 


Haaaii 😁


 


 


Aku tersenyum dan mengetik balasan untuknya.


 


 


Apa kamu sibuk? 🤔


Bagaimana kalau kita keluar untuk menghabiskan waktu di akhir pekan ini? 😅😁


 


 


Shica typing...


 


 


Semoga dia tidak menolak. Kedua kakiku bergerak memainkan air.


 


 


Balasan dari Shica masuk.


 


 


Aku sudah bilang pada Papa, katanya boleh. 😆


 


 


Yes!


 


 


Aku segera bangkit dari bath-up dan meraih jubah mandi milikku.


 


 


Jam 10 aku sudah tiba di rumahmu. 😉


 


 


Aku segera berpakaian dan menaburkan wewangian, haha. Sesaat aku melihat wajahku dari cermin. Jemariku bergerak menyibakkan rambutku ke belakang.


 


 


Yeah, kau sudah tampan, Raihan.


 


 


Rasanya senang sekali akan bertemu Shica.


 


 


Kenapa perasaanku jadi begini? Apa aku mulai menyukainya? Lalu bagaimana dengan Rayaa?


 


 


Bagaimana dengan rencana awalku?


 


 


Lagi-lagi notifikasi masuk ke ponselku. Aku membacanya, ternyata chat dari Shica.


 


 


Raihan, aku akan menunggu kamu di teminal bus. 🚍


 


 


Kenapa dia menungguku di tempat itu lagi? Memangnya ada masalah, kala aku menjemputnya ke rumah?


 


 


Tidak apa-apa, aku akan menjemputmu ke rumah. Jangan ke terminal bus, di sana panas.


🔥🔥🔥


 


 


Ada kak Regar di rumah. Dia akan bicara yang bukan-bukan kalau melihatmu. 😢


 


 


Baiklah, sepertinya tidak masalah dia menunggu di terminal. Kalau kulitnya terbakar, jangan salahkan aku.


 


 


Iya, hati-hati... cari tempat yang teduh. 😉😊


 


 


Iya. 😉😏


 


 


Kusambar jaket hitam milikku dan menuruni tangga, beberapa pelayan yang bekerja membungkuk padaku.


 


 


Aku segera memasuki mobil dan bergegas ke rumah kak Riska untuk mengambil motor.


 


 


Sesampainya di rumah kak Riska, aku melihat Lala sedang bermain bola berukuran sedang berwarna merah pudar yang sudah tak layak pakai.


 


 


Aku merasa iba melihatnya. Bagaimana bisa kak Riska dan bang Garry tidak membelikan bola baru untuk anak mereka?


 


 


"Kak Raihan!" Lala menghampiriku sambil membungkukkan badan.


 


 


Aku mengusap rambutnya dengan lembut, "Tolong ambilkan kunci motor Kak Raihan, yaa."


 


 


Lala mengangguk dan segera memasuki rumahnya. Kulihat motorku tampak bersih dan mengkilap, mungkin bang Garry yang membersihkannya.


 


 


Lala kembali dan memberikan kunci motor tersebut padaku.


 


 


"Terima kasih, anak baik."


 


 


Aku segera meluncur ke terminal bus. Tidak sabar diriku ingin menemui Shica.


 


 


Sesampainya di terminal, aku melihat Shica yang sedang berbicara dengan beberapa pria yang sepertinya aku kenali.


 


 


 


 


Aku segera menghampiri mereka dan menarik tangan Shica, "Ayo, pergi."


 


 


Shica menatapku.


 


 


Ketika melangkah pergi, salah satu dari mereka menghalangi jalanku, "Hei, geng Januaar, ya? Raihan."


 


 


Kulihat Shica terkejut dengan pertanyaan mereka.


 


 


"Kau mendekati adiknya Regar? Kau menyukainya? Kupikir, kau membencinya, karena telah menyentuh Rayaa dengan paksa."


 


 


Secepat kilat aku meraih lehernya. Laki-laki di depanku terkejut dengan apa yang aku lakukan.


 


 


"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu." Aku menggeram dan memperlihatkan ekspresi membunuh.


 


 


Tangan Shica bergerak menarik tanganku dengan lembut, "Raihan, kita pergi saja."


 


 


Aku melepaskan mereka dan berlalu bersama Shica.


 


 


Di perjalanan, aku fokus menyetir motor, sementara Shica diam saja di belakangku. Sesekali aku melihat ke spion untuk memastikan dia baik-baik saja.


 


 


"Rayaa itu... siapa?" Tanya Shica.


 


 


Apa aku harus menjawabnya? Seperti di mimpi?


 


 


"Dia gadis yang kucintai."


 


 


Kulihat ekspresi Shica menunjukkan rasa keterkejutan. Jujur saja, aku tidak tega melihat ekspresinya seperti itu.


 


 


Kalau aku tidak tega padanya, bagaimana bisa aku melakukan misiku?!


 


 


Ya ampun!


 


 


"Apakah gadis yang waktu itu kamu ceritakan?" tanya Shica pelan.


 


 


"Aku pernah menceritakannya?" Tanyaku.


 


 


"Yang kamu bilang, kamu mencintainya... tapi dia mencintai orang lain," ujar Shica.


 


 


Kapan aku mengatakannya? Jika iya, pasti aku sedang tidak sadar.


 


 


"Emm... yeah," jawabku asal.


 


 


Shica mengusap punggungku, "Lama-lama Rayaa pasti akan menyukaimu, hanya butuh waktu dan proses."


 


 


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, tiba-tiba aku mengatakan, "Aku sudah tidak menyukainya... aku menyukai orang lain."


 


 


Lewat spion, kulihat Shica tampak berpikir, "Kenapa kamu mudah sekali melupakan cintamu? Apa kamu tidak mau memberinya kesempatan untuk mencintaimu juga?"


 


 


Mendengar pertanyaan itu, aku jadi ragu, apakah Shica sudah mencintaiku atau belum?


 


 


"Sudah 3 tahun lebih aku menunggunya," kataku jujur.


 


 


Tampaknya Shica terkejut, "Benarkah? Ma-maaf...."


 


 


Aku jadi geli, "Kenapa meminta maaf?"


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


"Aku mau mengajakmu ke tempat bagus hari ini," kataku mengalihkan pembicaraan.


 


 


"Kemana?" Tanya Shica semangat.


 


 


"Ice Cream Planet."


 


 


"Tempat ice cream? Aku baru mendengarnya." Shica tampak semangat.


 


 


"Memangnya kamu tidak pernah ke sana sama sekali? Aku rasa, tempat itu cukup populer tahun lalu."


 


 


Shica tidak menjawabku. Aku tahu, dia memang tidak pernah keluar rumah sebelumnya. Tapi, aku pura-pura tidak tahu saja, agar dia tidak curiga, kalau aku sedang menargetnya.


 


 


"Aku salah bicara, ya? Maafkan aku," ucapku.


 


 


"Tidak, Raihan. Oh ya, tempatnya seperti apa? Apakah banyak ice cream?" Tanya Shica yang tampaknya ingin mengalihkan pembicaraan.


 


 


"Iya, tentu saja."


 


 


Sesampainya kami di tempat tersebut, Shica langsung terpukau ketika masuk ke dalam. Dia melihat patung es yang begitu indah. Dia berkeliling sambil menggenggam tanganku.


 


 


"Lihat! Ada coklat raksasa!" Seru Shica sambil menunjuk coklat batangan di dalam ruangan yang di guyur susu vanila.


 


 


Beberapa pengunjung melihat Shica dengan ekspresi aneh, mungkin mereka menganggap Shica seperti norak.


 


 


Mungkin ini adalah pertama kalinya Shica mengunjungi tempat-tempat seperti ini. Jadi, dia tampak senang.


 


 


Dia terus-menerus menarikku dan mengajakku mengelilingi tempat ini. Rambutku sampai membeku, karena suhu di ruangan tersebut.


 


 


Shica tertawa melihat bentuk rambutku yang seperti ice cream. Aku melihat lewat layar ponsel dan benar saja, ini membuatku tertawa.


 


 


Kami keluar dari bangunan besar itu dengan membawa dua ice cream di masing-masing tangan kami.


 


 


Cuaca di luar bangunan sangat panas, jauh berbeda ketika berada di dalam tadi. Shica menepuk-nepuk lenganku, "Aku mau pulang."


 


 


"Sebentar... aku cape," kataku. Iya, aku cape... tadi berkeliling bersama Shica.


 


 


Kami duduk di bawah pohon rindang. Aku memperhatikan Shica yang sedang memakan ice cream miliknya yang rasa vanila.


 


 


Entah kenapa, aku malah gagal fokus. Pikiranku merujuk ke hal lain.


 


 


Shica menoleh padaku dan menyodorkan ice cream yang baru saja di makannya. Aku membuka mulut untuk memakannya, namun Shica malah memainkannya dengan sedikit menitikkan ujung ice cream tersebut ke hidungku.


 


 


Dia tertawa.


 


 


Aku mencolek ice cream itu dan menodai pipinya, "Agar pipimu semakin putih."


 


 


"Aku sudah putih, kamu yang belum putih," gerutu Shica sambil membalas perbuatanku.


 


 


"Gapapa, yang penting aku tampan... meskipun tidak putih."


 


 


"Besar rasa!" Gerutu Shica.


 


 


Shica menggerakkan ujung kakinya, "Ayo pulang."


 


 


"Aku masih mau berduaan denganmu," ucapku tanpa berpikir.


 


 


"Besok 'kan sekolah, aku harus menyiapkan buku untuk besok." Shica mengambil kunci motorku.


 


 


"Kamu mau kemana?" Tanyaku.


 


 


"Pulang, aku yang menyetir." Shica menaiki motorku.


 


 


"Eh, tunggu! Memangnya kamu bisa menyetir?" Tanyaku sambil duduk di belakangnya.


 


 


"Iya, tentu saja." Shica menghidupkan motor dan melakukannya dengan baik.


 


 


Aku tertawa, tidak mengira dia bisa menyetir motor. Meskipun kedua kakaknya geng motor, bukan berarti adiknya bisa mengendarai motor, kan?


 


 


Apalagi Shica diperhatikan dengan sangat ketat.


 


 


Di posisi seperti ini, aku bisa menghirup aroma dari leher Shica. Aroma feminim yang kukenali. Jaketku yang pernah dipakainya memiliki wangi tubuhnya.


 


 


Aku meletakkan daguku di bahu Shica, "Kenapa kamu memiliki aroma seperti ini?"


 


 


"Ya... karena aku mandi," jawab Shica dengan polosnya.


 


 


Iya, aku juga mandi, Shica.


 


 


"Kamu belajar motor sejak kapan?" Tanyaku. Shica menjawab, "Sejak aku masih SMP."


 


 


"Apa orang tuamu mengizinkan?" Tanyaku lagi.


 


 


"Sebenarnya aku belajar diam-diam bersama kak Rama."


 


 


Gadis nakal.


 


 


"Di antara kak Regar dan kak Rama, yang mana yang paling dekat denganmu?" Tanyaku.


 


 


"Dua-duanya dekat, tapi... kalau pada kak Rama, aku lebih terbuka. Kak Rama jarang marah, jadi aku merasa sedikit nyaman berbagi cerita dengannya. Kalau kak Regar... dia jarang di rumah, suasana hatinya juga berubah-ubah. Kadang dia sangat baik dan sangat galak. Tapi, meskipun begitu... kak Regar adalah orang yang bertanggung jawab terhadap adik-adiknya."


 


 


Tanpa sadar, aku mendecih, bertanggung jawab? Benarkah?


 


 


"Kenapa?" Tanya Shica.


 


 


Sepertinya dia mendengarku mendecih, aku segera menjawab, "Tidak, aku mau bersin barusan, tapi tidak jadi."


 


 


Kebohongan yang tidak masuk akal, Han.


 


 


Shica bertanya, "Kamu punya kakak?"


 


 


"Tidak, aku anak tunggal."


 


 


"Aku pikir, kak Riska adalah kakak kamu," ucap Shica.


 


 


Ah, iya... kenapa aku bisa melupakannya? Kenapa aku malah bicara jujur?


 


 


Sekarang aku harus menjawab apa, coba?


 


 


"Han? Raihan?"


 


 


"Kak Riska itu sepupuku, jadi... aku tinggal di rumahnya setelah pindah sekolah ke SMA Hardiswara." Aku berbohong untuk menutupi kebohongan lain.


 


 


"Ooohh... Eh, kamu 'kan seumuran dengan kak Rama, ya? Seharusnya aku memanggilmu kakak!" Goda Shica.


 


 


"Jangan Shica, aku tidak mau dipanggil kakak, aku belum tua."


 


 


Shica terkekeh, "Jadi... aku jangan memanggil kakak? Terus aku memanggilmu Raihan saja?"


 


 


"Aku lebih senang, kalau kamu memanggilku sayang."


 


 


-◈◈◈-


 


 


21 April 2016


Ucu Irna Marhamah