La Hora

La Hora
LH - 28 - Handled



 


 


 


 


-◈ Raihan Alfarizi ◈-


 


 


Aku sampai di rumahku, tidak ada notifikasi dari Shica, ini membuatku khawatir bukan main.


 


 


Aku menghubungi Rama dan menanyakan, apakah Shica sudah pulang, atau belum.


 


 


Shica tidak ada di rumah, aku sudah mencarinya ke sekolah. Aku sudah menyuruh orang untuk menanyakannya pada teman-teman sekelas Shica. Tidak ada yang tahu.


 


 


Itu chat dari Rama. Aku mendengus kesal. Apa mungkin ada yang menculik Shica?


 


 


Deg


 


 


Bagaimana jika iya?


 


 


Januaar?


 


 


Apa mungkin Januaar yang menculiknya?


 


 


Kenapa dia tidak bilang-bilang?


 


 


Jika iya, Januaar yang menculinya, Shica benar-benar dalam bahaya!


 


 


Januaar itu tidak memiliki toleransi.


 


 


Entah pada perempuan atau laki-laki, dia menyamakannya. Apalagi dia membenci Regar, dan Shica adiknya Regar.


 


 


Aku harus segera mencari Shica di rumah Januaar.


 


 


Aku mengambil jaket dan kunci mobil. Sembari menuruni tangga, aku memakai jaket hijau pudar yang pernah dipakai Shica.


 


 


Aroma parfum Shica masih menempel di jaket ini setelah dicuci olehnya.


 


 


Di ujung tangga, aku melihat ada beberapa pelayan.


 


 


"Tolong masak sesuatu untuk makan malam," kataku. Mereka mengangguk hormat.


 


 


Aku berlalu menaiki mobil.


 


 


Selama di perjalanan, aku benar-benar cemas. Shica tidak bisa dihubungi. Aku menelpon dan mengirimkan chat.


 


 


Yang ada dipikiranku sekarang adalah Januaar.


 


 


Mungkin dia tidak percaya padaku, jadi dia sendiri yang menculik Shica dan... ah, aku benar-benar tidak bisa berpikir positif.


 


 


Di perjalanan, aku berpapasan dengan Rama.


 


 


Ah, sial! Kenapa harus bertemu di saat seperti ini? Oh iya, dia juga pasti sedang mencari adiknya.


 


 


Kami berbicara sebentar. Dia bilang, Regar sedang mencurigaiku. Aku tidak mengira, dia akan berterus terang seperti itu.


 


 


Sekarang aku menyadari perbedaan Rama dan Regar.


 


 


Rama itu masih ada sisi manusianya, sementara Regar tidak seperti manusia.


 


 


Mungkin drucless.


 


 


Aku jujur saja pada Rama, kalau aku akan pergi ke base camp Januaar untuk mencari Shica di sana.


 


 


Kami berpisah arah, aku menuju ke base camp Januaar dan dia ke tempat lain.


 


 


Sesampainya di base camp Januaar, aku segera masuk dan mencari Shica, tapi tidak ada.


 


 


"Pengkhianat sedang apa di sini?"


 


 


"Jangan mentang-mentang Januaar memberikanmu perlakuan khusus, kau bisa seenaknya disini."


 


 


"Iya, kau sudah keluar dari geng ini, sana pergi."


 


 


"Dia mendapatkan posisi bagus, lalu mendekati kakaknya Januaar, dan memilih keluar dari geng ini untuk kepentingannya sendiri."


 


 


"Memalukan."


 


 


Aku tidak menghiraukan ucapan mereka. Sepertinya Januaar sedang tidak ada di sini. Apa aku ke rumahnya saja?


 


 


Tidak berpikir terlalu lama, aku berlalu menaiki mobil menuju rumah Januaar.


 


 


Jam menunjukkan pukul 6.


 


 


Kebetulan Januaar sedang di rumahnya. Ketika pintu dibuka, ternyata Rayaa.


 


 


Gadis itu tiba-tiba memelukku, "Kenapa baru datang sekarang? Aku merindukanmu."


 


 


Aku membalas pelukannya, tapi entah kenapa aku tidak merasakan debaran ketika bersama Rayaa, berbeda saat aku bersama Shica.


 


 


Bukankah aku mencintai Rayaa, tapi... kenapa aku tidak merasakan apa pun sekarang?


 


 


Rayaa melepaskan pelukannya lalu mengecup bibirku sesat.


 


 


"Mau menemuiku atau Januaar?" Tanya Rayaa.


 


 


Aku bingung harus menjawab apa, jika aku bilang ingin menemui Januaar, Rayaa pasti terluka.


 


 


"Menemui Januaar, ya? Ayo masuk." Dia menarik tanganku dan memasuki rumahnya.


 


 


Rayaa meninggalkan kami berdua di ruang tamu.


 


 


"Menjelang malam datang kemari, ada masalah apa?" Tanya Januaar.


 


 


"Shica hilang, mungkin seseorang menculiknya," ujarku.


 


 


Januaar tampak berpikir, "Bagaimana bisa dia diculik oleh orang lain? Kenapa tidak segera kau culik waktu itu?"


 


 


Aku bingung harus bilang apa. Jadi, aku memilih diam.


 


 


"Kau khawatir padanya?" Tanya Januaar sambil menatap curiga padaku.


 


 


Aku menggeleng, "Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang duluan menculiknya."


 


 


Aku terpaksa berbohong, sebenarnya aku memang mencintai Shica.


 


 


"Aku menyuruhmu untuk membuatnya jatuh cinta padamu, bukan kau yang jatuh cinta padanya."


 


 


Yeah, aku terjebak ke dalam jebakanku sendiri.


 


 


"Kau mau apa sekarang?"


 


 


"Menemukan Shica," jawabku.


 


 


Kulihat Januaar terdiam sesaat, "Aku akan menemukannya dan membawanya sekarang untuk menuntut balas pada Regar."


 


 


Deg.


 


 


Tidak!


 


 


Jangan sampai itu terjadi!


 


 


Awalnya aku memang tidak mempermasalahkannya, tapi sekarang... tidak!


 


 


"Aku akan membawanya padamu nanti, sekarang aku harus menemuinya," kataku.


 


 


Januaar mendengus, "Setelah Shica bersamamu, kau harus membawanya padaku. Kali ini harus!"


 


 


Aku mengangguk pelan.


 


 


Januaar berlalu dan kembali dengan menunjukkan ponselnya, "Base camp geng Argaa."


 


 


Januaar memang memiliki anggota yang bisa melacak seseorang, entah bagaimana caranya, padahal mereka tidak memiliki kontak orang yang mereka lacak.


 


 


Geng Januaar memang geng yang sangat kuat, dan setelah keluar dari geng ini, aku tidak tahu sebesar apa perkembangan geng ini.


 


 


Aku mengangguk, "Aku akan segera ke sana."


 


 


Ketika berbalik, aku terkejut mendapati Rayaa berdiri tak jauh dari kami.


 


 


"Kamu mencemaskan gadis itu?" Tanya Rayaa dengan ekspresi sedih.


 


 


Tidak mungkin aku menjawab iya. Januaar merangkulku.


 


 


"Tidak, Kak... dia hanya kesulitan mencari gadis itu. Jika dia diculik oleh orang lain, kita tidak bisa mengurusnya." Januaar yang menjawab.


 


 


Salah seorang bodyguard memasuki rumah.


 


 


"Bos, base camp kita diserang oleh geng Regar."


 


 


Itu membuatku terkejut setengah mati, bagaimana bisa?


 


 


"Kenapa mereka menyerang?" Tanya Januaar dengan ekspresi marah.


 


 


"Mungkin mereka mengira kau yang menculik adiknya," kata Rayaa.


 


 


"Aku harus membantumu dulu," kataku. Januaar menggeleng, "Temukan gadis itu dan bawa dia padaku, maka Regar akan berhenti menyerang."


 


 


Jadi, Januaar mau menjadikan Shica sebagai sandera?


 


 


"Cepat!" Kata Januaar.


 


 


Aku pun segera pergi ke base camp Argaa. Kenapa juga Argaa menculik Shica?


 


 


Apa dia juga punya masalah dengan Regar?


 


 


Lalu, kenapa Regar menyerang geng Januaar setelah sekian lama. Benar kata Rayaa, dia ia pasti mengira, kalau Januaar yang menculik Shica.


 


 


Dari mana dia tahu?


 


 


Ah, rasanya kepalaku mau pecah!


 


 


Aku memacu mobilku agar lumayan cepat. Setibanya di base camp Argaa, ada beberapa orang yang merupakan anggota geng Argaa.


 


 


"Kau mantan anggota geng Januaar, sedang apa di sini?"


 


 


Kau pikir, ada waktu untuk menjawab?


 


 


Kepalan tanganku yang akan menjawab. Sudah lama aku tidak berkelahi, aku menghajar mereka untuk masuk ke dalam dan mencari Shica.


 


 


Aku mencari Shica ke setiap ruangan. Tidak ada!


 


 


Aku menaiki tangga menuju lantai dua base camp ini.


 


 


Apa tidak berlebihan, membangun sebuah base camp seperti ini?


 


 


 


 


Ketika masuk, aku terkejut melihat Shica terbaring dengan... setengah telanjang.


 


 


Ada Bella dan Argaa juga di sana. Tanpa ba-bi-bu, aku memukul Argaa tanpa ampun. Tidak ada perlawanan yang berarti dari laki-laki itu, sepertinya dia kehabisan energi... setelah melakukan... Shica? Apa mungkin dia sudah memperkosa Shica?


 


 


Aku berteriak keras, ketika ada vas bunga yang menghantam kepalaku sampai pecah, aku menoleh, ternyata Bella yang melakukannya.


 


 


Argaa menendang perutku, aku terpundur beberapa langkah. Argaa mengambil botol sampanye dan akan menghantamkannya padaku, namun aku menghindar, sehingga botol itu pecah karena mengenai nakas.


 


 


Aku menendang punggungnya dengan tumit kakiku. Dia jatuh, tanpa menunggu dia kembali bangun, aku menariknya dan mendorongnya ke arah Bella, sehingga mereka jatuh ke lantai.


 


 


Aku mendorong lemari ke arah mereka. Keduanya berteriak, ketika lemari akan jatuh menimpa mereka, padahal tidak, karena ujungnya menimpa dinding membentuk segitiga, dua orang itu di bawahnya.


 


 


Mana mungkin aku membunuh orang!


 


 


Aku menoleh pada Shica. Kedua matanya yang berwarna hazel gemetar dengan kelopak mata yang memerah karena sembab. Apa dia menangis sedari tadi?


 


 


Ada lakban yang menutup mulutnya. Tampaknya dia ingin mengatakan sesuatu.


 


 


Sejenak aku terpaku melihat tubuh indahnya. Aku jadi kembali teringat dengan mimpi itu. Tapi, kali ini benar-benar di depanku.


 


 


Shica sangat cantik, hanya ada rok yang menempel di pinggangnya, bagian tubuh Shica yang lain terekspos begitu saja. Buliran keringat membuat tubuhnya terlihat mengkilap.


 


 


Apa-apaan dengan tanda kemerahan di leher dan dadanya?!


 


 


Argaa yang melakukan itu?!


 


 


Beraninya!


 


 


Ah, aura kelelakianku muncul lagi.


 


 


Raihan, berhenti memikirkan hal bodoh! Dia pacarmu yang sedang syok dan ketakutan.


 


 


Aku mendekat dan membuka lakban dari mulutnya. Ketika lakban terbuka, rintihan Shica keluar. Dia menahan rasa sakit di tubuhnya.


 


 


"Raihan... sakit...." Tangis Shica.


 


 


"Kita akan keluar dari sini." Aku mengusap pipinya. Shica mengangguk pelan.


 


 


Aku membuka jaket yang mengikat kedua tangan Shica ke belakang. Lalu aku melepaskan stocking yang mengikat kedua kakinya.


 


 


Kulepaskan jaket yang melekat di tubuhku dan kupakaikan ke tubuhnya.


 


 


"Raihan... aku takut." Shica memelukku. Ah, sial! Tubuhnya begitu menempel padaku. Aku jadi... Shica, jangan banyak bergerak, Sayang... aku bisa gila.


 


 


Perlahan aku melingkarkan tanganku dan membalas pelukannya.


 


 


"Ada aku, jangan takut."


 


 


Shica mengangguk pelan.


 


 


Aku meresletingkan jaketku lalu mengangkat tubuh Shica dan keluar dari tempat itu menuju mobilku.


 


 


Di perjalanan, Shica tertidur dengan kepalanya terlelap ke dadaku. Sesekali aku menoleh padanya. Tanganku bergerak merangkul tubuhnya.


 


 


Aku membawa Shica ke rumah. Tubuhnya kuangkat dan ditidurkan di atas tempat tidur kamarku.


 


 


Masalahku belum selesai, aku harus ke base camp Januaar. Dia pasti membutuhkan bantuanku, karena geng Regar sedang menyerangnya.


 


 


Meskipun Januaar memiliki geng yang kuat, jika diserang secara mendadak, dia pasti akan terpojok.


 


 


Aku meninggalkan Shica yang masih tertidur. Salimah, kepala pelayan di rumahku datang menghampiri.


 


 


"Tuan muda, apa anda membutuhkan bantuan saya?" Tanyanya.


 


 


Mungkin dia melihatku membawa Shica ke kamar. Jadi, dia merasa khawatir.


 


 


"Ada teman saya di atas, dia perempuan. Kalau dia bangun dan menanyakan saya, bilang saja, saya ada urusan mendadak."


 


 


Setelah mendengar ucapanku, dia mengangguk. Aku pun berlalu.


 


 


Semoga tidak terjadi sesuatu dengan Januaar. Aku memasuki mobilku, dan tiba-tiba teringat pada Rama.


 


 


Aku harus memberitahunya, kalau Shica sudah ditemukan dan aman bersamaku.


 


 


Kasihan dia malam-malam begini masih berkeliaran mencari adiknya.


 


 


Sembari melajukan mobil, aku memasang earphone menunggu panggilanku diangkat Rama.


 


 


"Bagaimana Raihan? Apa kau sudah menemukan Shica?" Suara kecemasan seorang kakak yang aku dengar.


 


 


"Iya, dia aman bersamaku. Kau tidak perlu khawatir, kau pulang saja dan bila orang tuamu bertanya, katakan saja Shica sedang kerja kelompok dan lupa tidak izin padamu, makanya sekarang kau mencarinya, bilang saja begitu," kataku panjang, lebar, dan mungkin tidak jelas.


 


 


Tidak ada respon, sepertinya dia sedang mencerna ucapanku.


 


 


"Aku senang, jika dia baik-baik saja. Terima kasih, Raihan."


 


 


"Selain adikmu, dia juga pacarku."


 


 


"Terserah, yang penting dia baik-baik saja."


 


 


"Hemm." Aku bergumam untuk menjawabnya.


 


 


"Kau di mana? Aku mendengar kau sedang di mobil."


 


 


"Iya, aku mau pergi ke base camp Januaar, katanya geng kakakmu sedang menyerang mereka."


 


 


"Apa?! Kak Regar maksudmu?" Tanya Rama.


 


 


Kenapa dia masih bertanya? Jelas saja kakaknya, Regar. Siapa lagi memang?


 


 


"Iya."


 


 


"Sekarang kau di mana?"


 


 


"Di jalan... blok C." Aku melihat ke sekitar.


 


 


"Aku akan menyusulmu, berbahaya jika kau pergi sendirian, kau bukan anggota Januaar lagi. Jadi, kau tidak perlu pergi."


 


 


Apa dia mengkhawatirkanku?


 


 


"Tidak apa-apa, aku akan tetap pergi. Aku berhutang banyak pada Januaar sewaktu aku masih menjadi anggotanya dulu."


 


 


"Ternyata kau punya sisi yang baik, ya... hahaha." Rama sedang tertawa di seberang sana.


 


 


"Memangnya aku punya sisi buruk?!" Aku menggerutu.


 


 


"Aku tidak tahu. Jangan ke mana-mana sebelum aku sampai di sana."


 


 


Dia benar-benar seperti seorang kakak. Aku jadi ingin tertawa.


 


 


"Sebaiknya kau pulang, atau orang tuamu akan curiga. Bukankah kau harus menjelaskannya pada orang tuamu?" Tanyaku.


 


 


"Aku sudah menghubungi bang Garry, kepala bodyguard baru di rumahku. Dia pasti bilang pada papa, karena dia adalah andalan dan kepercayaan."


 


 


Aku tertawa dalam hati. Garry itu kepercayaan dan andalanku. Dia di sana atas perintahku untuk mengawasi kalian dan mendapatkan informasi terbaru.


 


 


Tapi, sekarang aku jadi tidak ingin melukai Shica.


 


 


Aku mencintainya... jangan ada yang melukainya!


 


 


Termasuk Januaar.


 


 


"Hei! Kau sedang melamun?"


 


 


"Tidak, aku kehabisan kata-kata."


 


 


Aku mendengar Rama tertawa. Mungkin dia merasa senang, karena Shica baik-baik saja bersamaku.


 


 


"Kau bukan pembalap, hati-hati ketika menyetir."


 


 


"Iya, aku tahu."


 


 


"Oh ya, aku sedang ada di belakangmu sekarang."


 


 


Aku menoleh ke spion, dan benar saja. Ada motor di belakangku, itu Rama.


 


 


"Iya, aku melihatmu."


 


 


"Barusan aku mendapatkan notifikasi dari temannya kak Regar. Benar katamu, kak Regar sedang menyerang Januaar. Kita harus menghentikan mereka, jangan sampai terjadi sesuatu dengan mereka."


 


 


"Jangan bermain HP ketika menyetir, meskipun kau pembalap, kau bisa lengah juga." Aku mengembalikan ucapannya.


 


 


"Haha, tidak mau kalah."


 


 


"Turun dari motormu, di depan ada rumah temanku. Titipkan motormu di sana dan masuk ke mobilku. Kita perlu bicara secara langsung."


 


 


"Beraninya kau memerintah kakak iparmu!"


 


 


Aku tertawa, "Ini juga demi kakakmu dan sahabatku, bodoh!"


 


 


"Sialan!"


 


 


Meskipun dia memaki, dia menuruti keinginanku. Kami berhenti di depan rumah temanku dan menitipkan motor Rama di sana. Lalu Rama naik ke mobilku dan pergi ke tempat tujuan.


 


 


"Shica di rumahmu? Dia sedang apa?" Tanya Rama.


 


 


"Iya, dia sedang tidur. Aku menemukanya di kamar Argaa dalam keadaan setengah telanjang."


 


 


Tanpa menoleh pun, aku yakin Rama sedang terkejut, "Apa Argaa sudah... sudah...."


 


 


"Aku tidak tahu, tapi tidak perlu khawatir, untuk saat ini aku akan mengurusnya."


 


 


"Aku percaya padamu. Besok pagi aku akan menjemputnya ke rumahmu."


 


 


Aku mengangguk.


 


 


"Ini mobilmu?" Tanya Rama sambil celingukan.


 


 


Aku menoleh sesaat padanya kemudian mengangguk.


 


 


"Kau anak pengusaha, ya?" Tanya Rama.


 


 


Aku memilih untuk tidak menjawabnya.


 


 


"Wah, kau keren juga, kau!"


 


 


-◈◈◈-


 


 


5 September 2016


Ucu Irna Marhamah