La Hora

La Hora
LH - 17 - Regression



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Ridan duduk sambil membaca koran, sementara Raihan hanya diam. Shica dan Ratna sedang di ruangan lain.


 


 


Ridan melirik sedikit pada Raihan. Melihat kegugupan lewat wajahnya, Ridan tersenyum.


 


 


Ridan bersuara, "Shica itu gadis yang suka berbohong, dia berbanding terbalik denganmu."


 


 


Raihan mendongkak menoleh pada Ridan.


 


 


"Kedua kakaknya itu nakal, aku sering menghukum mereka. Jika aku bertanya pada Shica, dia akan berbohong untuk melindungi kakak-kakaknya dariku."


 


 


Raihan serius mendengarkan.


 


 


"Aku memberikannya nama Rastarani, agar dia bisa menjadi putri yang memiliki kedudukan baik, tapi dia malah senang dipanggil Shica." Ridan melipat korannya dan meletakkan kertas buram berisikan info itu ke meja.


 


 


"Aku harap, kamu bisa menjaga Shica, ketika kedua kakaknya tidak bisa melakukan hal tersebut." Ridan menatap Raihan menunggu jawaban dari laki-laki itu.


 


 


Menjaganya?


 


 


"Emm, iya... saya akan melakukan sebisa mungkin."


 


 


Jawaban Raihan membuat Ridan menganggukkan kepalanya, "Aku merasa lebih tenang sekarang.


 


 


Raihan kembali diam.


 


 


Ridan menyandarkan punggungnya ke kursi, "Shica alergi terhadap sinar matahari, kami tidak tahu, kenapa itu bisa terjadi. Mungkin karena kami melarangnya keluar rumah sejak kecil, jadi dia tidak terbiasa dengan sinar matahari."


 


 


Raihan mencerna ucapan Ridan.


 


 


"Kulitnya akan memerah dan berbintik apabila terlalu lama berdiri di bawah teriknya matahari."


 


 


Raihan mengangguk mengerti.


 


 


Ratna dan Shica masuk ke ruang makan. Ridan dan Raihan menoleh.


 


 


"Di mana Regar dan Rama?" Tanya Ridan.


 


 


"Rama sedang mengurus organisasi PMR, Regar sedang simulasi untuk ujian," jawab Ratna.


 


 


Ridan melihat jam tangannya, "Jam 5."


 


 


Para pelayan menyajikan hidangan makanan malam ke meja.


 


 


Regar dan Rama memarkirkan motor mereka. Para bodyguard memindahkan kedua motor sport itu ke garasi atas perintah dari kedua tuan muda.


 


 


Regar melepaskan dasinya. Dia menoleh pada Rama, "Senin besok, kelas 12 tidak akan ikut upacara kemerdekaan, karena simulasi masih tetap berlangsung sampai hari rabu."


 


 


Rama melepaskan jaketnya dan menoleh pada sang kakak lalu menganggukkan kepala, "Kelas 12 terlalu tua untuk mengikuti upacara."


 


 


Mereka berdua tertawa.


 


 


Regar dan Rama melangkah menuju ruang makan. Namun, langkah mereka terhenti di ambang pintu ketika melihat keberadaan Raihan.


 


 


"Sedang apa dia di sini?!" Regar bertanya sambil menunjuk wajah Raihan.


 


 


"Regar, Rama, kalian duduk dan makan, jangan seperti itu pada tamu." Ratna yang menyahut.


 


 


Mereka berdua saling pandang. Regar duduk di samping Ridan, sementara Rama duduk di samping kakaknya, karena kursi Rama diduduki Raihan.


 


 


"Pa, kenapa memasukkan orang asing ke dalam rumah kita?" Tanya Regar setengah menggerutu.


 


 


"Raihan itu temannya Shica," jawab Ridan. Rama mendelik pada Shica yang tersenyum manis.


 


 


"Papa dirayu oleh Shica?" Tanya Rama.


 


 


"Apa salahnya Shica berteman? Kalian berdua juga berteman, kan? Papa lihat, Raihan juga anak yang baik dan jujur."


 


 


Regar dan Rama bungkam.


 


 


Raihan tersenyum, "Halo, Kakak."


 


 


"Diam, telingaku panas," ucap Regar ketus.


 


 


"Hei, aku ini seumuran denganmu, beraninya kau memanggilku Kakak," gerutu Rama.


 


 


Shica menoleh pada Raihan dan Rama secara bergantian, "Kalian seumuran?"


 


 


"Raihan itu harusnya kelas 11, tapi ketika dia pindah ke SMA Hardiswara, dia memilih jadi kelas 10. Apa dia 'jujur' juga pada Papa?" Jawab Rama diakhiri dengan pertanyaan untuk ayahnya.


 


 


Ridan mengernyit, dia menoleh pada Raihan, "Benarkah?"


 


 


Raihan tampak sedih, "Iya, waktu saya di SMA Parameswara, saya tidak memiliki biaya di semester 2 kelas 11, jadi saya pindah ke SMA Hardiswara dengan beasiswa dan mengulang lagi dari kelas 10."


 


 


Ridan mengangguk mengerti, "Itu bukan hal yang memalukan, kamu sudah jujur."


 


 


Rama dan Regar mendengus kesal.


 


 


Mereka makan dengan lahap.


 


 


Setelah itu, Raihan pamit pulang. Shica mengantarnya sampai ke depan rumah. Dia melambaikan tangannya ketika motor Raihan melaju meninggalkan kediaman Mahali.


 


 


Dengan senyuman cerah, Shica memasuki rumah. Dia melihat kedua kakaknya yang terlihat kesal.


 


 


Regar dan Rama melihat Shica dengan ekspresi malas.


 


 


"Sepertinya Raihan menggunakan guna-guna untuk mendapatkan hati Papa," bisik Rama.


 


 


Mendengar ucapan konyol Rama, Regar menepuk dahi adiknya, "Masih percaya dengan kekuatan dukun di abad ini?"


 


 


Rama mengusap dahinya yang malang, "Ya... mungkin saja."


 


 


Regar tampak serius berpikir, "Aku sudah menyelidiki si Januaar, dia memang sekolah di SMA Parameswara, kelas 10. Dia memiliki hubungan dekat dengan Raihan, karena dulu Raihan adalah anggota geng Januaar."


 


 


"Raihan yang usianya lebih tua dari Januaar itu adalah anggotanya?" Tanya Rama.


 


 


Regar mendecih, "Januaar itu pembalap yang dijuluki angin oleh teman-temannya, dia juga pandai berkelahi."


 


 


Rama menautkan alisnya, dia sedang serius.


 


 


Regar menyentuh dahinya yang terasa nyeri, "Yang aku takutkan adalah... Januaar menyuruh Raihan untuk membalaskan dendam mereka pada kita lewat Shica. Itu bisa saja terjadi, kan?"


 


 


"Kenapa Kakak tidak datang saja meminta maaf pada Januaar dan kakaknya?" Tanya Rama.


 


 


"Tidak! Geng Januaar sudah membuatku muak sejak SMP, untuk apa aku meminta maaf padanya?" Gerutu Regar.


 


 


"Ini untuk Shica, Kak."


 


 


Regar terdiam, "Aku akan mengirimkan mata-mata ke geng Januaar."


 


 


Setelah berkata demikian, Regar bangkit dari tempat duduknya dan berlalu ke kamar.


 


 


Rama mendengus kesal, "Kenapa dia tercipta dengan kepala batu?"


 


 


-


 


 


Regar memasuki kamar mandi. Dia melepaskan seragam SMA miliknya. Tangan kekar itu bergerak menyalakan shower. Rintik-rintik dari lubang kecil shower itu berjatuhan membasahi tubuh Regar.


 


 


"Tidaaaak! Kumohon! Jangan!"


 


 


"Cepat! Kamu ingin keluar dari sini, bukan?!"


 


 


"Aku mau keluar dalam keadaan hidup... hiks, hiks, hiks."


 


 


Suara-suara itu selalu terngiang di telinga Regar. Tahun-tahun sudah berlalu, namun ingatan itu selalu muncul dengan tiba-tiba.


 


 


Gadis cantik itu menatap Regar dengan ekspresi penuh kesengsaraan.


 


 


Tanpa merasa iba, Regar menarik rambut gadis itu, hingga berdiri dengan terpaksa. Dia meringis sambil memegangi rambutnya.


 


 


"Bunuh makhluk hidup dalam perutmu!" Bentak Regar.


 


 


Beberapa dokter dan suster yang melihat itu saling pandang, mereka tampak kasihan melihat keadaan gadis itu yang kacau.


 


 


"Aku tidak mau!" Dengan sekuat tenaga, gadis itu mendorong Regar, sampai-sampai Regar terpundur beberapa langkah.


 


 


Laki-laki itu melihat helaian rambut di tangannya.


 


 


"Maaf, kami akan menunggu di dalam." Dokter dan perawat itu itu berlalu.


 


 


"Rayaa, jika kau tidak mau menggugurkan kandunganmu secara baik-baik, aku sendiri yang akan mengeluarkannya dari perutmu!" Bentak Regar sambil mendekat dan melepaskan sabuknya.


 


 


Rayaa menggeleng dan berteriak keras, ketika sabuk itu mengenai lengannya yang putih mulus.


 


 


"Tidaaaak! Kumohon! Jangan!"


 


 


"Cepat! Kamu ingin keluar dari sini, bukan?!"


 


 


"Aku mau keluar dalam keadaan hidup... hiks, hiks, hiks."


 


 


-


 


 


Laki-laki berambut blonde itu memukul wajah Regar. Meskipun ukuran tubuh dan usiany jauh di bawah Regar, dia tidak takut sama sekali.


 


 


 


 


Regar tersungkur ke lantai dan merasakan jika laki-laki yang tak lain adalah Januaar itu menindihnya dan kembali memukulnya.


 


 


"Mahali *******!" Januaar mengambil pisau, namun dengan cepat, Regar menendang ************ laki-laki itu.


 


 


Pria Mahali bangkit sambil mengusap darah dari sudut mulutnya.


 


 


Januaar meludahkan darah ke lantai, "Tidak masalah jika kau mau menghabisi anak haram itu dari perut kakakku, tapi kau sudah membuatnya hampir mati!"


 


 


Januar berlari ke arah Regar dan menusukkan pisaunya ke perut laki-laki itu.


 


 


Regar menyentuh perutnya yang sebelah kiri, ada bekas luka jahitan di sana.


 


 


Raihan berdiri di depan Regar, dia menggendong Rayaa yang tak sadarkan diri. Ada banyak darah di mana-mana yang menetes membasahi lantai.


 


 


"Apa kau bangga menjadi putra dari keluarga Mahali? Keluarga Mahali yang bangsawan dan terhormat melakukan hal rendah seperti ini," ucap Raihan.


 


 


Regar mendecih, "Gadis itu yang datang sendiri padaku, dia menolak laki-laki miskin sepertimu dan memilihku, aku tidak menginginkan dia."


 


 


Raihan menautkan alisnya, "Kau akan dapat balasannya."


 


 


Regar mematikan shower. Laki-laki itu menatap pantulan dirinya lewat cermin kamar mandi.


 


 


Di balik wajah tampannya, tidak lebih dia adalah iblis.


 


 


Iblis dari keluarga Mahali.


 


 


-


 


 


Sementara itu, Shica sedang berbicara dengan Rama di kamarnya.


 


 


"Raihan itu baik, Kak." Shica berusaha meyakinkan kakaknya.


 


 


"Bagaimana kalau dia sedang berpura-pura?" Tanya Rama.


 


 


"Papa saja menyukainya, kenapa Kakak dan kak Regar tidak?" Shica mengguncangkan tangan kakaknya.


 


 


"Aku sudah bilang 'kan... Raihan itu anak geng," bisik Rama.


 


 


"Buktinya?" Shica menatap Rama dengan ekspresi tidak percaya.


 


 


"Lihat jari tangannya, jika kamu menemukan luka, itu artinya dia anak geng." Rama menunjuk jari kelingkingnya.


 


 


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Shica.


 


 


"Geng Januaar akan memberikan luka di kelingking mantan anggotanya ketika keluar dari geng."


 


 


Shica mencerna ucapan kakaknya, "Kenapa seperti yakuza?"


 


 


"Begitulah mereka," jawab Rama.


 


 


Ketika pertama kali bertemu dengan Raihan, Shica teringat sesuatu. Raihan memegang tangannya.


 


 


"Halo?" Raihan mengibaskan tangannya


 


 


Shica tersentak kaget, "Iya?"


 


 


"Aku mencari kelas 10-MIPA-B di mana, ya?" Tanya laki-laki itu. Suaranya sangat dalam dan berat membuatnya terdengar seksi di telinga Shica.


 


 


"Itu kelasku," jawab Shica.


 


 


"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita ke sana bersama." Raihan menggenggam tangan Shica membuat gadis itu semakin gugup.


 


 


Shica merasakan ada luka menganga di jemari Raihan, entah di mana tepatnya luka tersebut.


 


 


"Ah... tapi... sebenarnya aku juga lupa lewat mana," kata Shica.


 


 


Raihan mengernyit, "Baiklah, kalau begitu, kita cari bersama-sama."


 


 


Shica mengangguk.


 


 


Rama melirik adiknya yang melamun, "Mengingat sesuatu?"


 


 


Shica mengangguk, "Sepertinya memang benar, ada luka yang cukup besar di salah satu jemarinya. Tapi, aku tidak tahu, apakah luka itu di jari kelingking, atau bukan."


 


 


Rama mengangguk, "Sudah pasti di jari kelingking, itu buktinya. Kamu masih mau dekat dengan dia?"


 


 


Sunyi.


 


 


Shica tidak menjawab.


 


 


"Dia itu seperti Kak Rama," kata Shica sambil tertawa kecil.


 


 


Rama mengernyit, "Sama apanya? Kenapa menyamakanku dengan orang itu?"


 


 


"Sama-sama konyol dan bisa membuat orang tertawa," jawab Shica sambil tertawa makin heboh. Sampai-sampai kedua matanya membentuk huruf u terbalik.


 


 


"Aku tidak konyol, aku ini keren," gerutu Rama sambil menepuk dahi adiknya.


 


 


Rama cemberut, "Ah, tidak mau bicara lagi dengan Shica!"


 


 


Rama cemberut dan berlalu. Shica semakin tertawa kegelian melihat tingkah kakaknya.


 


 


Shica mengambil kertas polos yang terdapat skesta wajah di sana. Gadis itu sedang menggambar wajah seseorang.


 


 


Ketika sampai di depan pintu, Rama terkejut karena berpapasan dengan Regar.


 


 


Laki-laki itu menepuk dahi Rama, "Kau membuatku terkejut."


 


 


Rama mengusap dahinya yang malang, "Ah, tidak mau bicara lagi dengan kak Regar!"


 


 


Rama berlalu.


 


 


Melihat tingkah kekanakan Rama, Regar memundurkan tubuhnya, "Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia jadi begitu lagi?"


 


 


Regar mengetuk pintu kamar adiknya, "Ca? Ini kak Regar."


 


 


Shica sedikit terkejut, dia menyembunyikan sketsa itu lagi ke bawah meja.


 


 


"Masuk, Kak, tidak dikunci."


 


 


Regar membuka pintu dan memasuki kamar adiknya, dia melihat Shica sedang mengerjakan PR.


 


 


"Masih ada PR?" Tanya Regar sambil duduk di samping Shica. Gadis itu mengangguk, "Tetap saja, mau kurikulum berapa pun, tetap saja ada PR."


 


 


Regar tertawa, "Tidak ada ruginya... itu akan membuat siswa semakin cerdas, bukan?"


 


 


"Semakin stres," bantah Shica.


 


 


Regar memutar bola matanya lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Shica menoleh, melihat kakaknya yang sudah tertidur pulas.


 


 


"Cepat sekali kak Regar sudah tidur," gumam Shica sambil bangkit menarik selimut dan menyelimuti tubuh kakaknya.


 


 


Gadis itu melanjutkan mengerjakan PR-nya.


 


 


Jam menunjukkan pukul 10 malam, Shica sudah tertidur dengan kepala terlelap ke meja belajar.


 


 


Regar membuka matanya. Dia pura-pura tertidur. Laki-laki itu menyingkap selimut dan mendekati adiknya.


 


 


Ada ponsel Shica yang berwarna merah muda di atas meja. Regar mengambilnya. Namun, ponselnya terkunci dengan sidik jari.


 


 


Regar mengusap kasar wajahnya. Mungkin Shica mulai curiga padanya, karena banyak balon percakapan yang hilang, jadi dia menguncinya dengan sidik jari, agar tidak mudah dibuka oleh siapa pun.


 


 


Perlahan dia mendekatkan ponsel tersebut ke tangan adiknya. Regar mencoba mencocokkan sidik jari dari telunjuk Shica ke ponsel tersebut dengan hati-hati.


 


 


Gagal, lalu telunjuk yang satunya lagi, dan berhasil.


 


 


Tidak sesulit yang aku bayangkan.


 


 


Regar melihat isi dari ponsel adiknya, dimulai dari balon percakapan.


 


 


Tidak ada yang aneh, hanya percakapan biasa antara Shica dengan Meishy, Raihan, dan teman-teman sekelasnya.


 


 


Regar mengecek ke galeri, dia melihat banyak foto di galeri adiknya, termasuk foto bersama Raihan. Namun, masih di batas wajar. Foto yang paling banyak adalah foto bersama Meishy.


 


 


Regar menggeledah isi ponsel adiknya sampai jam 11. Dia menemukan banyak hal, termasuk cerita-cerita dewasa dari catatan adiknya.


 


 


Regar sedikit terkejut, dia tidak mengira adiknya akan berani membaca cerita-cerita yang dikhususkan untuk kaum 21+ itu.


 


 


"Ini membuatku khawatir. Kenapa juga dia menyimpa cerita-cerita bodoh ini?" Tangan Regar gatal sekali ingin menghapus semua catatan adiknya, namun Shica akan curiga keesokan harinya.


 


 


Regar meletakkan kembali ponsel adiknya ke meja.


 


 


Pandangan laki-laki itu tertuju ke sesuatu di kolong meja. Karena penasaran, Regar mengambilnya. Ternyata sketsa wajah Raihan yang belum selesai. Diletakkan kembali kertas tersebut ke kolong meja.


 


 


Regar menatap adiknya sejenak. Wajah lelah Shica membuat Regar merasa sedih.


 


 


Tangan kekar itu terulur mengusap lembut rambut adiknya. Dia mengangkat tubuh Shica dan memindahkannya ke tempat tidur.


 


 


"Kamu telah mencintai orang yang salah, Shica. Maafkan Kakak... sebenarnya ini adalah salah Kakak. Tapi, Kakak akan memperbaikinya dengan cara Kakak sendiri."


 


 


-◈◈◈-


 


 


20 April 2016


Ucu Irna Marhamah