
-◈◈◈-
Kedekatan Regar dan Rayaa membuat Raihan terluka. Meskipun dia senang melihat kebahagiaan di wajah Rayaa, Raihan tidak bisa mengabaikan perasaannya begitu saja. Dia tidak bisa membohongi hatinya, dia cemburu melihat itu.
Raihan tahu seperti apa reputasi Regar di mata para gadis. Dia sering mengatakan semua yang didengarnya pada Rayaa. Namun, gadis itu juga tahu dan sering juga dia menjawab, 'Aku tahu, tapi dia sudah berubah. Aku menyukainya, dia juga menyukaku.'
Yeah, sepertinya Regar memang menyukai Rayaa, tapi karena hal lain.
Raihan berpikir, jika dia masuk geng Januaar, maka akan lebih mudah untuk mendapatkan Rayaa. Selain itu, dia tidak punya banyak teman. Dengan masuk anggota geng, berarti dia akan memiliki banyak teman.
Januaar mengerutkan keningnya ketika melihat Raihan datang. Beberapa temannya menghalangi laki-laki itu dari Januaar.
Terpaksa Raihan menghentikan langkahnya, "Aku mau bicara dengan ketua kalian."
"Berikan dia jalan. Kalian tidak perlu over protektif padaku," gurau Januaar.
Mereka membiarkan Raihan mendekati Januaar. Tanpa permisi, laki-laki itu duduk berhadapan dengannya. Beberapa teman Januaar saling pandang.
"Aku mau masuk geng ini."
Mendengar kekonyolan dadakan yang terucap dari mulut Raihan, teman-teman Januaar saling pandang.
Tampaknya Januaar juga terkejut.
"Tinggalkan kami berdua," ucap Januaar.
Ruangan itu menjadi hening, hanya ada Raihan dan Januaar.
"Kau mau masuk geng-ku karena kau menyukai kakakku, kan?" Tanya Januaar.
Tanpa ragu, Raihan menjawab, "Iya."
Januaar tertawa, "Aku menyukai kejujuranmu."
"Apa yang harus kulakukan untuk bisa masuk ke geng ini?" Tanya Raihan.
"Bermalam di kolam es dan kau harus bisa balapan," kata Januaar.
Raihan terdiam sesaat.
Januaar menyandarkan punggungnya ke kursi, "Kau keberatan?"
Raihan tidak menjawab.
"Apa kau yakin, kak Rayaa akan berubah pikiran jadi menyukaimu, setelah kau masuk geng? Kau akan menyesal jika dia tidak berubah pikiran."
"Tidak masalah, aku aka tetap berada di geng ini." Raihan tampak yakin.
"Kau begitu menyukai kakakku, kenapa?" Tanya Januaar.
"Apakah harus ada alasan, kenapa aku menyukainya?" Raihan balik bertanya.
Januaar mengedikkan bahunya, "Sebenarnya aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan. Aku terlalu kecil untuk memahaminya, tapi... baiklah, aku akan menyuruh orang-orang geng untuk menyiapkan kolam. Nanti malam kau datang kemari."
Tidak ada jawaban.
"Kau mendengarku tidak?" Tanya Januaar.
"Kau tahu, Rayaa sedang dekat dengan siapa?" Raihan mengalihkan pembicaraan.
Januaar tampak berpikir, "Memangnya dia dekat dengan siapa?"
"Regar."
Deg!
Januaar cukup terkejut mendengarnya.
"Apa kau yakin, Regar menyukai Rayaa dengan tulus?" Setelah berkata demikian, Raihan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Januaar.
Regar? kenapa kak Rayaa dekat dengan Regar?
-
Rayaa berjalan menyusuri koridor sekolah. Gadis itu ingin menemui Regar. Dia bergegas menuju lapangan voli.
Rayaa melihat Regar sedang berlatih voli dengan timnya. Ada beberapa gadis juga di sana. Rayaa merasa sedikit kesal melihat itu.
Dion melihat keberadaan Rayaa. Dia menepuk bahu Regar sambil memberikan kode, kalau ada Rayaa di sana.
Regar menoleh ke arah Rayaa. Gadis itu melambaikan tangannya. Regar tersenyum lalu melemparkan bolanya pada Ferdad. Laki-laki itu berjalan menghampiri Rayaa.
"Ada apa, Rayaa?" Tanya Regar.
Rayaa menunduk sambil memainkan ujung kakinya, "Ada sesuatu yang ingin aku katakan."
Regar menoleh pada teman-temannya, "Kalian kembali ke kelas."
Mendengar perintah dari sang kapten, mereka segera pergi.
"Tidak ada siapa-siapa, sekarang kau bebas mengatakan apa pun," kata Regar lembut.
Rayaa mendongkak menatap laki-laki bertubuh tinggi itu. Kedua mata Rayaa bergetar ketika kedua matanya bertatapan langsung dengan manik abu-abu gelap milik Regar.
"Aku... aku menyukai kak Regar." Ucapan Rayaa begitu pelan, namun Regar bisa mendengarnya.
Setelah mengatakan itu, Rayaa mengalihkan pandangannya karena tak berani menatap Regar terlalu lama.
"Aku menyukai Kak Regar sejak pertama aku mendaftar di sekolah ini," kata Rayaa lagi jujur.
Regar menyeringai tampan sembari memiringkan kepalanya mendengarkan Rayaa.
"Aku... aku ingin jadi pacar Kak Regar." Rayaa memberikan coklat pada Regar.
Tiba-tiba Regar mendorong Rayaa ke tembok yang membentengi lapangan. Rayaa terbelalak ketika bibir Regar bersentuhan dengan bibirnya. Coklat di tangan Rayaa jatuh ke bawah.
Itu adalah ciuman pertama bagi Rayaa. Selama ini, tidak pernah ada laki-laki yang menciumnya, kecuali Januaar, itu pun ciuman di pipi dan kening.
Regar bisa menghirup aroma parfum yang menyeruak dari tubuh gadis yang baru saja menyatakan perasaan padanya.
Rayaa sangat mempesona. Regar tak bisa menahan diri terlalu lama. Ciumannya semakin dalam. Rayaa menutup kedua matanya merasakan kelembutan Regar.
Ada sesuatu yang membuat Regar begitu menginginkan Rayaa. Tentu saja.
Regar melepaskan ciumannya lalu menyatukan dahi mereka, membuat jarak pandang mereka semakin dekat.
"Yeah, aku juga menyukaimu, Rayaa. Mulai sekarang kau pacarku."
Teman-teman Regar tidak benar-benar pergi, mereka mengintip dan berteriak, "so sweat!", ketika melihat adegan romantis itu secara langsung.
Itu membuat kedua pipi Rayaa blushing. Regar kembali mengecup bibirnya sekilas.
Kabar Regar dan Rayaa yang sudah menjalin hubungan tersebar begitu saja di SMP Bunga Indah.
Shica juga mendengarnya. Namun, dia tidak tahu, yang mana Rayaa itu. Regar maupun Rama tidak pernah mempertemukan pacar mereka pada Shica. Kedua laki-laki itu cenderung berpacaran di luar rumah. Mereka tidak mau Ridan mengetahuinya dan bisa-bisa pria paruh baya itu memarahi mereka berdua.
Regar mengantarkan Rayaa sampai rumah. Gadis itu terlihat bahagia.
"Terima kasih telah mengantarku pulang." Rayaa mengecup pipi Regar sekilas kemudian berlalu ke rumahnya dengan pipi memerah.
Regar terpaku untuk sesaat. Laki-laki itu tersenyum kemudian melajukan motornya meninggalkan rumah besar tersebut.
Ketika Rayaa memasuki rumahnya, dia terkejut melihat keberadaan Januaar.
"Kakak pacaran dengan dia?" Tanya Januaar.
"Memangnya kenapa?" Rayaa malah balik bertanya.
"Aku mendengarnya dari anak-anak di sekolah. Laki-laki itu cukup terkenal di SMA, kabar apa pun tentang dia akan mudah tersebar." Januaar berbohong.
Rayaa mengangguk, "Iya, aku berpacaran dengan kak Regar."
Januaar bersuara, "Kakak tahu seperti apa dia, kan? Kenapa mau menerima laki-laki seperti itu? Dia suka melakukan hal buruk pada para gadis."
Raya terdiam sesaat.
Regar menggenggam kedua tangan Rayaa, "Kau tahu, aku laki-laki yang tidak baik, kan? Kenapa mau berpacaran denganku? Kau tidak takut padaku?"
Rayaa tersenyum tipis, "Aku tahu. Kak Regar tidak pasti akan berubah, kan?"
Regar masih menatap Rayaa tanpa memberikan jawaban yang pasti.
"Kak Regar tidak akan mendekati perempuan-perempuan nakal itu, kan?" Tanya Rayaa lagi.
Regar tersenyum kemudian memeluk Rayaa dengan erat, "Aku mencintaimu."
Januaar menunggu jawaban dari kakaknya.
"Dia pasti berubah," kata Rayaa menenangkan hatinya sendiri.
Januaar mendecih, "Laki-laki ******* seperti dia tidak akan pernah berubah."
Rayaa menatap kesal pada adiknya, "Bagaimana denganmu? Kau pikir, aku tidak tahu... kau juga sering mempermainkan perempuan."
Januaar memundurkan wajahnya, "Kenapa jadi menyalahkanku, Kak?"
Rayaa menautkan alisnya, "Kau sama seperti papa... sama-sama menjijikan."
"Aku begini karena dia," bantah Januaar.
"Iya, papa dan kau itu laki-laki brengsek! Jadi berhenti menilai laki-laki lain." Setelah berkata begitu, Rayaa berlalu meninggalkan Januaar yang masih terlihat kesal.
Raihan membuka seluruh pakaiannya di depan kolam yang berisikan air dingin. Uap tipis mucul di permukaan menandakan kalau air tersebut baru saja dituangkan dari tempat pendingin.
Januaar mengalihkan pandangannya, "Tidak tahu malu."
Raihan turun ke kolam tersebut dan mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulang.
"Aku akan meninggalkanmu. Jangan sampai kau mati," kata Januaar kemudian berlalu.
Raihan menunduk melihat pantulan wajahnya dari permukaan air.
Kau terlahir sendirian. Jangan membuatmu kehilangan orang-orang yang berada di sekitarmu. Mereka adalah kekuatan dalam hidupmu.
-
Perlahan Januaar membuka matanya. Dia melihat jam di meja yang menunjukkan pukul 8 pagi. Laki-laki itu segera mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.
Di meja makan, dia melihat Rayaa sudah rapi dengan seragamnya. Gadis itu sedang sarapan.
Kak Rayaa sarapan tanpaku? Batin Januaar.
Ketika laki-laki itu duduk berhadapan dengannya, Rayaa segera beranjak dari kursinya.
"Kak Rayaa, Kakak berangkat bersamaku, kan?" Tegur Januaar.
Rayaa menoleh kemudian menggeleng dan berlalu. Januaar mendengar suara motor yang berhenti di depan.
Ketika melihat keluar, Januaar menautkan alisnya kesal. Regar datang untuk menjemput sang kakak.
Motor itu melaju meninggalkan tempat itu.
Tiba-tiba ponsel Januaar berdering. Laki-laki itu segera mengangkat panggilan dari temannya.
"Bos! Ada calon anggota baru yang pingsan!"
Kedua mata Januaar terbelalak. Dia menepuk dahinya, "Ya ampun! Bagaimana bisa aku melupakan orang itu."
Tanpa ba-bi-bu, Januaar langsung pergi ke base camp. Padahal dia sudah terlambat ke sekolah.
Di base camp, dia melihat teman-temannya membantu Raihan yang pingsan.
"Dia masih bernapas, kan?" Tanya Januaar panik.
"Iya, dia hanya pingsan karena kedingingan."
Januaar bisa bernapas lega mendengar jawaban itu. Dia mendekat dan melihat wajah pucat Raihan.
"Orang yang berkulit gelap bisa pucat juga, ya?" Tanya salah satu temannya Januaar.
Ketika sadar, Raihan menepuk-nepuk pipi Januaar, "Aku diterima jadi anggotamu, kan?"
-
Setelah Raihan sadar sepenuhnya, dia berbicara dengan Januaar di belakang base camp. Raihan memakai jaket tebal.
Raihan mendelik pada Januaar, "Kau tidak pergi ke sekolah karena mendengarku hampir mati? Aku baru tahu, ada ketua geng yang perhatian dan punya hati."
"Kau belum menjadi anggotaku," kata Januaar tanpa mau menanggapi perkataan Raihan.
Raihan tercengang, "Apa maksudmu?! Aku sudah mati-matian berada di kolam es bodoh itu dan kau... kau dengan mudahnya mengatakan hal barusan?!"
Januaar menoleh pada Raihan, "Yeah, kau tahu 'kan aku geng motor. Jadi, kau harus punya motor dan bisa balapan."
Raihan tampak berpikir.
"Kenapa berpikir? Kau 'kan anak orang kaya, kau bisa membeli mobil juga."
Raihan mendelik pada Januaar, "Dari mana kau tahu?"
Januaar mendelik kesal pada Raihan, "Jangan meremehkanku. Meskipun aku setahun lebih muda darimu, aku tidak bodoh sepertimu."
Ucapan menohok dari Januaar membuat Raihan cukup kesal, "Baiklah, aku akan membawa motor ke sirkuitmu besok."
"Besok? Kenapa besok? Sekarang saja. Aku sudah menyianyiakan waktuku dan tidak pergi ke sekolah hari ini," protes Januaar.
"Motorku di rumah, aku jarang ke sana." Raihan mencari alasan.
"Jika kau tidak tinggal di rumah, kau tinggal di mana?" Gerutu Januaar.
"Aku bisa tinggal di mana saja."
"Jangan berbohong padaku, aku tahu kau tidak punya motor. Kau bisa meminjam motor punya temanku dan kau harus balapan hari ini juga."
Skakmat.
-
Argaa duduk bersama gadis-gadis cantik di sisinya. Dia melihat ada mobil yang masuk dan berhenti.
Januaar dan Raihan keluar dari mobil tersebut.
"Sepertinya dia punya anggota baru," gumam Argaa.
Januaar menghampirinya, "Ada anggota baru yang akan mengikuti balapan amatir hari ini."
"Bisakah kau sedikit berbasa-basi?" Tanya Argaa.
"Tidak ada waktu."
"Mau pergi ke sekolah? Ini sudah jam 10." Argaa melihat jam tangannya.
Januaar melemparkan segepok uang ke meja di depan Argaa. Gadis-gadis di sampingnya berdecak kagum.
Raihan juga tampak terkejut.
"Cepat masukkan dia ke arena balapan," kata Januaar.
Argaa mengambil uang itu, "Sebentar dulu. Akan ada anggota baru juga yang mengikuti balapan amatir hari ini. Anggotamu bisa balapan dengannya."
"Siapa?" Tanya Januaar.
"Anggota geng Regar."
Raihan dan Januaar mengerutkan dahi bersamaan.
Argaa mendelik pada Januaar, "Bukankah bagus, ada dua ketua geng besar di sini? Aku merasa terhormat kedatangan kalian berdua."
Tak lama kemudian, Rama datang bersama dua calon anggota barunya. Raihan dan Januaar hanya melirik sekilas.
"Hei, aku membawa dua orang hari ini. Berapa bayarannya?" Tanya Rama sambil mengeluarkan ATM dari dompetnya.
"Dia membawa satu orang, dan bayarannya segini." Argaa menunjuk Januaar sambil memperlihatkan uang dari Januaar tadi.
Rama menoleh sekilas pada Januaar kemudian kembali menoleh pada Argaa, "Kau membuka sirkuit ini untuk balapan atau merampok?"
Argaa tertawa, "Ayolah... aku tahu, keluarga Mahali memiliki harta karun di bawah laut."
Rama mendecih, "Apa yang kau bicarakan? Jika aku punya harta karun di bawah laut, aku bisa membangun istana seperti Dewa Gangster di novel Atherio Park."
Lagi-lagi Argaa tertawa, "Apa yang kau bicarakan?"
Rama menggesek kartu ATM-nya kemudian mengetikkan nominal uang dan pasword-nya.
"Uang ini bukan untuk menyewa sirkuit, tapi untuk membayar pemenang balapan dan gadis-gadis ini." Argaa menepuk paha gadis di sampingnya.
"Terserah."
Semua bersiap di garis start.
Januaar menepuk bahu Raihan, "Kau pertama kali balapan?"
Raihan mengangguk.
"Jangan mati. Aku akan tetap menerimamu menjadi anggotaku, meskipun kau kalah balapan."
Raihan terkejut dan menatap Januaar.
"Jangan berterimakasih, akan lebih baik kalau kau memenangkan balapan."
Raihan menutup kaca helm.
Ketika bendera di angkat, balapan dimulai.
Rama sang petir, dan Januaar sang angin tampak serius memperhatikan anggota mereka.
Raihan tidak memimpin balapan, namun dia bisa mengejar dengan baik.
Kedua anggota Rama menjadi pemenang berurutan. Hadiahnya untuk kedua orang itu.
Januaar tidak terlalu memikirkan itu. Entah kenapa dia merasa kalau dia harus mempertahankan Raihan. Biasanya dia akan kesal dan tidak menerima anggota yang gagal memenangkan balapan.
"Seharusnya kau tahu, aku tidak akan menang," gerutu Raihan.
Januaar menepuk kepala Raihan dengan tidak sopan, "Diam kau! Yang penting aku sudah mau menerimamu jadi anggotaku."
Raihan menggertak gigi sambil mengusap kepalanya yang malang.
-◈◈◈-
19 September 2016
Ucu Irna Marhamah