
-◈ Regar Mahali ◈-
Aku tidak marah pada Rama hanya karena kalah balapan. Selama ini Rama selalu memenangkan balapan. Dan ini pertama kalinya dalam sejarah, Rama dikalahkan di sirkuit. Namun, itu tidak membuatku malu, mengingat lawannya adalah Januaar. Aku melihat sendiri kemampuan laki-laki itu ketika memacu mesin kudanya.
Tadinya aku ingin Dion masuk sirkuit untuk balapan mobil dengan Januaar, namun Januaar malah pergi begitu saja setelah memenangkan pertandingan.
Setelah kabar kemenangan Januaar di arena balapan tersebar di seluruh geng, banyak sekali anggotaku yang mengeluarkan diri dengan tiba-tiba dan memilih masuk ke geng-nya.
Ini membuatku stres dan tertekan. Semua geng mulai merendahkanku. Semuanya terjadi dalam sekejap dan melukai harga diriku.
Bahkan anggota-anggotaku mulai menyalahkanku.
"Kau membuat peraturan yang terlalu ringan."
"Seharusnya ada hukuman untuk orang yang mau keluar."
"Awalnya kita nomor satu, tapi sekarang jadi begini. Seharusnya dari awal kita membuat geng ini lebih kuat dibanding Januaar."
Sepertinya aku mulai kehilangan instingku sebagai pemimpin geng Aku merasa semua ini akan selesai.
Apa mungkin geng-ku akan berakhir sampai di sini?
Memalukan!
Hari ini aku berangkat ke sekolah sendirian. Aku memarkirkan mobil di rumah kenalan ayahku. Tentu saja, anak SMP mana boleh membawa mobil. Bukan Regar namanya kalau disiplin.
Aku memasuki kelas dan duduk di bangku paling belakang. Tak lama kemudian, Givar datang dan duduk di sampingku.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Givar.
Apa dia harus bertanya, tanpa melihat wajahku yang sudah menunjukkan jawaban?
Kuputuskan untuk tidak menjawabnya.
"Anggap saja geng kita sedang sedikit sial di tahun ini. Kita bisa memperbaikinya." Givar berkata begitu hanya untuk membuatku merasa lebih baik.
Hari ini aku tidak ingin banyak bicara, jadi kuputuskan diam selama di jam pertama sampai jam ketiga.
Jam keempat tidak ada guru. Jadi, aku bersama Givar memilih masuk ke lapangan. Di sana ada tim kami. Dan kami pun bermain voli sampai jam keenam berlangsung.
Aku tidak tahu, apakah di kelas ada guru, atau tidak.
Aku melupakan perasaanku ketika bermain voli, tidak kupikirkan lagi seberapa keras aku memukul bola dan melukai teman-temanku. Tak kupikirkan lagi kalau aku sudah melukai mereka.
Hingga sebuah tangan yang lembut menyentuh lenganku. Aku menoleh, ternyata seorang gadis cantik yang menatapku dengan ekspresi sendu.
"Sedang apa di sini? Kami sedang bermain voli. Seharusnya kau tidak ke lapangan laki-laki. Kami sedang bermain serius." Salah satu temanku memarahinya.
Gadis itu menunduk. "Maaf."
"Regar, kau baik-baik saja? Lebih baik kau istirahat saja." Givar menepuk bahuku.
Akhirnya aku berlalu ke ruangan ganti. Gadis itu masih mengikutiku. Aku menoleh padanya.
"Kenapa mengikutiku terus?!" Aku menggerutu kesal.
Tampaknya dia takut dengan ekspresi kemarahanku. "Aku...."
Tanpa menunggu ucapannya, aku masuk ke ruang ganti dan menutup pintu. Tanpa diduga, gadis itu malah ikut masuk dan dia mengunci pintunya.
"Kau ini kenapa? Sudah tidak waras?!" Aku membentaknya.
Gadis itu tiba-tiba mengecup bibirku. "Aku menyukai Kak Regar. Aku mau jadi teman kencan Kak Regar."
Sesaat aku terpaku dengan aksinya yang mendadak. Aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?!
Menjijikan, jangan-jangan dia sudah pernah mencium laki-laki lain dan melakukan hal yang lebih lagi.
"Aku sedih sekali, ketika mengetahui kalau Kak Regar berpacaran dengan kak Rayaa. Padahal aku sudah lebih dulu menyukai kak Regar sebelum masuk ke SMP ini."
"Keluar dari sini," kataku dingin.
Bukannya mendengarku, dia malah memelukku dengan erat. Ruang ganti yang sempit membuat napasku sesak.
"Aku mau jadi miliknya kak Regar. Aku mohon." Gadis itu mulai menangis.
Sial, aku benar-benar tidak bisa menahan diriku ketika menghirup aroma tubuhnya. Apalagi belakangan ini aku tidak melakukan pelepasan dengan gadis manapun, mengingat kondisi geng-ku yang hampir runtuh.
Aku mengusap punggungnya. "Kau sudah pernah melakukannya?"
Entah kenapa aku menanyakan hal bodoh itu pada gadis yang mungkin seumuran dengan Shica.
"Aku... aku hanya...." Tidak mau menunggu jawabannya, aku langsung melahap bibirnya. Dia terkejut, tetapi langsung membalas ciumanku.
Gilanya, aku dan gadis ini melakukannya di kamar ganti. Dan dia... dia masih utuh!
Ketika kami keluar dari ruang ganti, aku terkejut melihat keberadaan Rayaa di sudut ruangan dengan wajah sembab, dia menangis.
Apa dia melihat apa yang kulakukan dengan gadis ini?
Biasanya dia juga melihatku dengan gadis lain. Tapi, kali ini dia tampak begitu terluka.
Gadis yang bersamaku menoleh padaku, seolah bertanya, 'Bagaimana ini?'
Namun, aku tidak peduli dan memilih pergi bersama gadis ini meninggalkan Rayaa.
Biarkan saja Rayaa menangis seperti itu. Aku sudah bosan dengan hubungan ini. Aku akan mengakhirinya.
Apalagi dia kakaknya Januaar, ini membuatku makin muak.
-
Sesampainya di rumah, aku membawa gadis yang ternyata bernama Tiffani. Gadis yang masih polos, namun dia membuatku cukup terkejut. Aku tertarik padanya.
Jam dinding di rumahku menunjukkan pukul 2 siang. Kedua adikku pasti belum pulang.
"Ini rumah Kak Regar?" Tanya Tiffani sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Iya, kamu diam di kamarku, ya. Jangan ada yang melihatmu." Aku membawanya ke kamar.
Sebenernya orang tuaku sedang di Den Haag. Namun, aku tidak mau Shica melihat Tiffani. Meskipun bukan pertama kalinya melihatku bersama seorang gadis, Shica akan marah dan melaporkanku pada papa.
"Wah, kamar Kak Regar luas sekali." Tiffani terpukau melihat kamarku.
Aku menangkup wajahnya. "Kau menyukainya?"
Tiffani tersenyum seraya mengecup bibirku. "Aku menyukainya."
"Menyukai kamarku, atau aku?" Aku membalas ciumannya.
"Menyukai Kak Regar yang sedang di kamar."
Dia pandai sekali menggoda.
****** kecil.
-
Rama dan Shica pulang. Sesuai yang kumau, Tiffani tidak menunjukkan dirinya dan tetap di kamarku.
Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
"Aku akan menyuruh adik-adikku pergi duluan. Kau tunggu di sini." Aku menyuruh Tiffani duduk di sisi ranjang.
Ketika membuka pintu, aku terkejut melihat keberadaan Shica di depan pintu dengan tatapan tertuju pada Tiffani.
"Kakak tidak takut dengan kemarahan papa?" Kalimat itu yang pertama kudengar dari Shica pagi ini.
Kulihat Tiffani tampak ketakutan. Mungkin dia takut dengan ekspresi Shica. Aku merangkul Shica agar pergi dari depan kamarku.
Namun, Shica malah nyelonong masuk dan menarik lengan Tiffani.
"Shica, jangan melukainya." Aku memperingatkan adikku.
"Kau siapa?! Kenapa di sini? Apa kau tidak tahu, kami adalah keluarga Mahali!" Bentak Shica.
Tidak seperti biasanya Shica semarah itu, apalagi dia berbicara seperti itu.
"Shica." Aku segera menjauhkannya dari Tiffani.
"Kak Regar kenapa berubah sejak masuk SMP! Kak Regar jadi seperti ini! Aku setiap hari dipaksa papa untuk memata-matai kalian. Aku tahu, kalian selalu berbuat salah! Tapi... aku tidak pernah mengadukannya pada papa. Itu karena aku sayang kak Regar dan kak Rama!" Shica menghentakkan kakinya kemudian berlalu meninggalkanku.
Sejak saat itu, Shica jadi semakin jauh denganku. Dia lebih dekat dengan Rama. Adik laki-lakiku itu memang pandai merayu. Pada Shica dia bilang dia sudah berubah menjadi baik, padahal sama saja sepertiku.
-
Sepulang dari sekolah\, aku pergi ke ___base camp___. Melihat keberadaan Rayaa di ___base camp___\, aku benar-benar terkejut.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanyaku.
Beberapa temanku langsung pergi meninggalkan kami berdua.
"Aku... aku tidak tahu, apa kesalahanku. Kenapa Kak Regar menjauhiku?" Tanya Rayaa sembari menunduk dalam menyembunyikan air matanya.
Sudah jelas, aku membenci adikmu.
Tanpa melihat wajah gadis itu, aku bersuara, "Rayaa, daripada kau terseret ke dalam masalah pribadiku, lebih baik akhiri saja hubungan ini. Aku sudah bosan dan aku tidak mau melanjutkannya."
"Ta-tapi, kenapa?" Rayaa mengguncangkan lenganku.
"Rayaa, ini tidak ada hubungannya denganmu. Pergilah." Aku menyingkirkan tangannya dariku kemudian berlalu, namun gadis itu menghalangi jalanku.
"Apa salahku, Kak Regar? Aku akan menjadi lebih baik, jika itu membuatmu nyaman bersamaku."
Gadis ini kenapa begitu keras kepala?! Apa dia itu benar-benar mencintaiku, atau dia memang bodoh?
"Ini bukan masalah tentang dirimu. Aku punya masalah dengan adikmu. Kau tidak ada hubungannya." Aku pun berkata jujur.
"Kalau tidak ada hubungannya, kenapa memutuskan hubungan kita?" Tanya Rayaa.
Karena aku malah menyakitimu.
"Rayaa, pergilah." Aku melipat kedua tangan di depan dada.
"Kak Regar... aku sangat mencintai Kak Regar."
"Rayaa, kita sudah berakhir." Aku membukakan pintu untuknya.
Gadis itu menyentuh tanganku, "Kak Regar... jika ini membuatmu senang... aku akan menyerahkan diriku... asalkan jangan meninggalkanku."
Apa?
Dia sudah gila?
Aku mati-matian menahan diriku agar tidak menyentuhnya. Sebenarnya aku tidak mau merusak gadis polos dan baik seperti dia.
"Kak Regar." Rayaa memelukku dengan erat.
Sial, jika begini....
"Jangan meninggalkanku."
"Apa kau yakin? Kau tidak akan menyesal?" Tanyaku.
Gadis itu menggeleng ragu.
Pintu pun kututup. "Aku bukanlah laki-laki yang baik. Pandanganku bisa berubah padamu."
Tidak ada respon dari Rayaa.
"Tapi, karena kau sudah mengatakannya, kau tidak bisa menarik ucapanmu." Aku menarik pinggangnya dan memberikan kecupan pada bibirnya.
Ini bukan pertama kalinya. Rayaa dan aku pernah berciuman sebelumnya. Aku menindih tubuhnya yang lebih kecil dariku. Gadis itu sedikit meringis merasa berat dengan beban tubuhku.
Aku tidak berhenti menciumnya. Rayaa memiliki pesona yang tidak dimiliki gadis lain. Dia begitu cantik dan menarik.
Apa aku jatuh cinta padanya?
"Aarrgghh!" Rayaa berteriak ketika tanpa sadar aku menggigit lehernya.
"Maaf." Aku terbiasa berbuat kasar ketika bercinta.
Rayaa menatapku dengan penuh makna. Entah tatapan apa itu. Aku juga tidak bisa membacanya.
Entah bagaimana, tapi kami sudah tak berpakaian. Ketika aku merenggutnya, teriakan dan tangisan Rayaa memenuhi ruangan ini.
Hal yang terpikir olehku adalah kesenangan. Hanya itu.
Aku tidak tahu, apakah Rayaa menikmati perbuatanku atau tidak. Gadis itu berkali-kali pingsan dan tanpa peduli, aku melakukannya berkali-kali.
Yang kulihat saat ini adalah tubuh lunglai berkeringat yang tak sadarkan diri di sampingku. Aku menyentuh wajah cantiknya yang sembab.
"Aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu." Entah kenapa aku mengatakan itu dengan tiba-tiba. Ini gila, tapi sebenarnya Rayaa adalah cinta pertamaku.
Ponselku bergetar. Aku bangkit dan melihat nama Dion di layar.
___"Januaar mencarimu. Apa kau tidak menyembunyikan kakaknya? Kudengar dari orang base camp\, kau bersama Rayaa sekarang."___
Aku benar-benar terkejut. Januaar mencari Rayaa? Memangnya ini jam berapa?
Jam 1 malam?!
Aku harus membawa Rayaa pergi dari sini. Yang terpikir olehku sekarang adalah vila Mahali milik kakekku.
Tidak ada pilihan lain.
Tanpa pikir panjang, aku membawa Rayaa ke tempat itu. Hanya ada beberapa pembantu dan tukang kebun. Aku bisa berbicara dengan mereka, agar tidak melaporkan ini pada papa.
Di sini aku cukup bebas, karena tidak ada siapa pun yang bisa mengekangku. Waktu kecil, aku pernah kabur ke sini setelah dimarahi papa hanya karena menguping pembicaraannya dengan tamu rahasia.
Yeah, keluargaku dipenuhi dengan rahasia. Bahkan sesama keluarga besar pun dibatasi dinding kokoh untuk melindungi rahasia masing-masing.
Kadang aku berpikir, apa aku terlahir di keluarga yang salah?
-◈◈◈-
22 September 2016
Ucu Irna Marhamah