
Leon menatap dingin Rangga yang menggenggam tangan kiriku, Aku menoleh beberapa kali pada mereka berdua dan memperhatikan kalau wajah mereka agak mulai memanas, "Anu .... Rangga! maaf tadi aku lupa jelasin sama kamu, sebenarnya aku harus menemani Leon untuk keliling ke beberapa tempat termasuk juga jalan menuju kampusnya," Jelasku.
Wajah Rangga tampak kecewa bercampur marah, tetapi dia tak menatap padaku dia malah menatap wajah Leon yang sejak tadi tak menunjukkan amarah apapun padanya, "Siapa pria aneh ini? mengapa dia bisa membawa Tiara begitu saja," Batin Rangga.
"Tidak masalah, Tiara! kami juga sepertinya akan mengajak teman yang lain juga, tempatnya juga lumayan jauh aku takut kalau kamu memang tidak boleh pergi," Ucap Rangga menahan emosinya di depanku.
Kini tidak ada lagi senyuman aneh yang biasanya dia tunjukkan padaku, tidak ada lagi Rangga yang tersenyum setiap kali dia bicara padaku. Aku merasa canggung, tidak tahu mau bicara apa supaya keadaan ini cepat berlalu dan aku bisa segera pulang untuk menemani Leon.
Aku baru ingat kalau kejadian saat kerja kelompok itu membuatku amat membencinya, aku melepas genggaman tanganku pada Rangga dan aku mulai membalikkan badanku kembali ke hadapan Leon, "Leon, ayo kita pulang! aku tidak mau lama-lama di sini, sudah cukup kejadian aneh untuk hari ini di sekolah," Ajakku dengan wajah gugup.
Leon tak menanggapi ucapanku, dia tetap menatap dingin pada Rangga, "mengapa masalah sepele harus dijadikan masalah besar? siapa sebenarnya yang salah?" Tanya Leon dengan nada datar.
Aku mencoba menarik Leon untuk segera pergi, tetapi dia tidak mau, "Leon! ayo, kita pulang saja!" Ajak ku mulai panik. Aku takut kalau mereka akan bertengkar di tengah banyak orang yang sedang memperhatikan kami sejak tadi.
Rangga mengepal tangannya seperti ingin menyerang Leon, tetapi untungnya ada Novi yang langsung menengahi pertengkaran itu, "Rangga! ayo, katanya kita mau jalan-jalan? kita harus cepat pulang dong, mengapa kamu malah cari masalah!" Ucap Novi pelan sambil menarik mundur Rangga dari hadapan Leon, aku pun juga membalikkan pandangan Leon kembali padaku.
Aku menatap bingung pada Leon, "mengapa kamu bilang gitu? emang kamu tahu soal ...."
"Apapun yang terjadi padamu hari ini aku sudah tahu, aku tahu semuanya. Jadi tak usah bertanya lagi Tiara!" Sambungnya menatap dingin padaku.
"Dari mana kamu tahu?"
"Entah, tetapi kadang perasaan hatiku tidak tenang kalau terjadi sesuatu padamu," Jawabnya, "Ayo, kita pulang!" Dia menghidupkan mesin motornya lalu memakai helm, Akupun segera naik ke atas motornya itu. Leon, memberikan helm satu lagi padaku, aku memakai helm itu. Tanpa menunggu lama, kami pun segera meninggalkan lingkungan sekolahku itu, sesekali aku melihat Rangga dari kaca spion motor Leon, Aku masih tak bisa terlalu dekat lagi dengan Rangga setelah kejadian tadi.
Sepanjang perjalanan aku mencoba membuka topik untuk bicara pada Leon, tetapi aku ragu. Karena walau aku tak lihat adanya amarah di wajahnya, aku yakin dia sebenarnya juga sangat marah dalam hati tetapi tak ditunjukkan padaku saja. Aku menepuk pelan bahunya, "Leon, mengapa kamu bilang seperti itu sama Rangga? kamu kesal?" Tanyaku penasaran.
"Kamu masih bertanya kesal? tentu saja aku kesal," Jawabnya sambil menurunkan kecepatan motornya.
"Emang mengapa kamu kesal?"
"Entahlah, aku juga tak mengerti! aku ingin saja mengucapkan kata-kata itu dan membuatnya marah."
Aku mengangguk mengerti, "Oh, begitukah? " Aku berbicara pelan, "Tak apa, aku baik-baik aja kok!Rangga hanya menegurku saja tadi," Jelasku.
"terserah apa katamu, Tiara!"
Tak terasa akhirnya sampai juga di depan rumahku, aku segera turun dari motor untuk membukakan gerbang, lalu Leon memarkirkan motornya di dalam. Aku kembali menutup gerbang itu, "Tadi, aku baru saja akan memarkir di depan saja, tetapi kamu sudah membuka gerbang lebar-lebar," Ucap Leon sambil tersenyum.
"Ah, tidak apa! Tiara takut kalau motornya hilang aja, karena kan mahal," Candaku sambil tersenyum. Aku berjalan menaiki tangga ke atas rumahku, dia mengikuti langkahku di belakang.
Sampai di depan pintu aku langsung memberi salam, "Assalamualaikum!Bunda?"
Aku tak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Bunda dan juga Leon di bawah, aku juga sedang sibuk mencari pakaian yang simpel, memang semua pakaianku rata-rata simpel dan tidak memakan banyak ruang di lemariku, "Emm, aku pakai merah lagi? sweater ini begitu cantik, lalu jeans hitam? dan sepatu kets putih? boleh juga, aku pakai ini saja!" Aku memilih beberapa style sweater yang aku letakkan di atas kasur, lalu mengganti baju dengan pakaian yang sudah aku pilih tadi.
Bunda dan Leon berbincang-bincang tentang bagaimana perasaan Leon saat melihatku lagi, " Leon, kamu senang gak bisa liat Tiara udah dewasa?" Tanya bunda dengan nada lembut.
Leon tersenyum kecil, "Ya, Leon senang. Karena Leon juga udah lama tidak mengobrol dengan teman kecil, bunda kan juga tahu kalau Leon jarang berbicara dengan orang asing," Jawabnya.
"Syukurlah kalau begitu, bunda jadi ikut senang. Lagipula kamu juga bisa lebih baik di sini, kan? Apalagi ada Tiara sekarang."
"Iya, bun. Leon bisa menjaga Tiara lagi, Leon akan berusaha semampu Leon."
Cukup dua menit aku menghabiskan waktu untuk mengganti pakaianku, lalu aku ke meja rias untuk merapikan rambutku, aku mengambil sisir rambut, "Wah, emang se simpel inkah hidupmu Tiara? No, it looks like my life isn't simpel, there's always a problem."
Aku membereskan segala sesuatu yang akan dibawa di dalam tas sandang kecilku yang berbentuk kelinci putih itu, aku memasukkan ponselku, lalu dompet untuk berjaga-jaga, powerbank, dan headset. Setelah semua selesai, aku pun segera turun ke bawah, sambil menenteng tas sandangku itu.
Aku melangkah cepat turun dari tangga, aku melihat bunda masih berbincang dengan Leon, tampak sangat serius sekali. Hentakan sepatuku membuat Leon tahu kalau aku baru saja turun dari atas, aku pun menghampiri bunda, "Bunda."
"Iya, Tiara. Lah, sweater Leon warnanya juga merah! Tiara, sweater kamu juga merah, sepatu kalian juga sama-sama warna putih?!" Bunda bingung memperhatikan pakaian yang aku dan Leon kenakan ternyata sama warnanya.
Aku juga baru menyadarinya, kami berdua saling memperhatikan satu sama lain, aku mencoba mengalihkan pandanganku darinya, "Aihh, mengapa aku memilih merah? aku tidak memperhatikan kalau Leon sudah tidak memakai sweater Army yang tadi pagi dia pakai saat mengantarku ke sekolah, "Batinku, "Oh, iya. Setelah mengantarku sekolah, apa dia langsung mengganti pakaian di apartemennya?"
Bunda tertawa sendiri melihat kami berdua tidak bisa mengatakan apapun, "mengapa wajah kalian jadi gitu? kan gak masalah, sudahlah!Kalian berangkat sekarang saja, takut pas Leon antar Tiara kemalaman nanti," Ucap Bunda dengan lembut.
"Ah, iya Bun. Tiara berangkat dulu ya!" Aku menyalami tangan bunda sambil tersenyum.
Leon pun berdiri dari sofa lalu dia juga menyalam bunda, "Leon, jaga Tiara ya!" Pesan bunda.
dia mengangguk pelan, "Iya, pasti Leon akan jaga Tiara. Leon pamit juga bun!"
"Hati-hati di jalan ya!" ucap bunda.
"Iya." Jawabku sambil berjalan keluar dari rumah. Leon langsung bergegas menghidupkan motornya, dia memutar arah motornya dan memberi isyarat untuk membukakan gerbangnya, "Iya, sebentar aku bukakan!" Jawabku pelan sambil membuka gerbangnya.
Gerbang terbuka, Leon langsung menjalankan motornya keluar gerbang, aku kembali menutup gerbang itu. Aku naik ke atas motornya, lalu dia memberikan helm padaku, "Kamu selalu bawa dua helm?" Tanyaku sambil mengenakan helm itu.
Dia mengangguk, "Iya, tetapi kalau sudah ada rencana mengajak Tiara saja. Kalau sendiri kan gak mungkin," Jawabnya.
Kami pun berangkat menuju tujuan pertama, yaitu kampus yang akan menjadi langkah belajar Leon selanjutnya. Kampus yang menerima Leon itu adalah kampus paling favorit dan mahal di Batam, ya tidak heran lagi kalau dia bisa diterima karena kepintarannya. Seharusnya di umur 19 tahun dia baru tamat SMA, ternyata dia sudah kuliah selama 3 tahun di Jakarta dan kuliah kali ini di Batam, dia hanya melanjutkan S2 nya dan untuk mengejar gelar Doktor.
BERSAMBUNG .....