
Di sana terdapat sebuah pondok yang dibuat di antara sebuah pohon yang sudah sangat tua, tetapi tetap terlihat kokoh dan juga penuh keindahan tersendiri karena hal itu. Kayu yang menghiasi sekelilingnya untuk menjadi pembatas juga terlihat indah karena berwarna-warni, pemandangan yang bisa kulihat dari atas sini juga tak hanya satu keindahan, tetapi begitu banyak. Aku tak bisa melukiskan perasaan bahagiaku saat ini, semuanya terlihat sangat sempurna, aku tak bisa mengatakan apapun selain,.... "this is amazing! Leon, kamu tahu tempat ini darimana?"Tanyaku dengan senyuman lebar di bibirku.
Dia daritadi memperhatikan tingkahku yang sudah mulai kembali tersenyum, "Ya, tempat ini memang yang paling terbaik selama aku di Batam, dan selama aku bersamamu."Jawabnya pelan, dengan wajah yang menunjukkan kesedihan dan kegelisahannya itu. "Katanya tempat ini dulu adalah rumah dari Presiden ke-3 kita, Pak Habibie. Makanya dinamakan Habibie 1000 tangga, karena tadi sebelum kita kemari dan menikmati keindahannya, kita harus melewati tangga yang membuatmu kelelahan."Jelasnya panjang lebar.
Aku tak terlalu memperhatikan raut wajahnya yang tiba-tiba kembali pucat itu karena aku sangat senang sekarang ini. "Benarkah? Wah, berarti tempat ini sangat bersejarah sekali dong!"Ucapku sambil tersenyum seraya melihat pemandangan alam yang ada di depan mataku dengan sangat saksama.
Lalu beberapa menit kesenanganku harus tertunda, karena.... "Ti, maaf! aku mengganggu kesenanganmu sebentar, apa kamu membawa tissue?"Tanya Leon dengan wajah pucat dan ternyata dia mimisan lagi.
Sontak aku langsung menghampirinya dan langsung mengeluarkan tissue yang ada di dalam tas sandang kecilku itu. "Astaga, Leon! mengapa kamu tak bilang sejak tadi, mengapa kamu merasa kalau kamu mengganggu kesenanganku?"
dia berusaha menghentikan mimisan itu, dia hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapanku itu. Aku juga tak bisa diam saja sekarang, aku membantunya supaya tetap tenang dan supaya pendarahannya itu segera berhenti secepatnya. Agak lama ku menunggu dia menghentikan pendarahan itu, tetapi aku tetap harus tenang menunggunya.
"Sudah baik-baik saja?"Tanyaku dengan wajah khawatir.
Dia membalikkan badannya dan memegangi pembatas kayu yang ada di depannya, "Ya, aku sudah baik-baik saja sekarang, kamu tak perlu khawatir."Jawabnya.
Aku sungguh khawatir, aku sungguh gelisah, aku sungguh tak bisa mengontrol perasaan hati ini lagi sekarang. Aku langsung memeluknya dari belakang sambil menangis di punggungnya itu, aku sangat takut kalau hal kecil itu akan membuatku kehilangannya untuk selama-lamanya. Aku kembali tak percaya diri, Leon hanya diam sambil menggenggam tanganku yang melingkar di tubuhnya itu. Ku tak bisa menyembunyikan soal perasaan khawatirku padanya lagi, walau mungkin ini hal kecil, tetapi bagiku tidak.
"Kamu yakin tak akan meninggalkanku sendirian, kan? Kamu sudah pernah janji seperti itu padaku, kamu bilang kalau kamu tidak bisa mengingkari setiap perkataanmu." Tanyaku sambil menangis.
"Ti, aku bisa membuat janji yang lain, tetapi kalau yang satu ini aku tidak bisa! aku tidak bisa memastikan esok aku masih bisa membuka mataku dan melihatmu."Jawabnya. dia melepaskan pelukanku seraya membalikkan tubuhnya ke hadapanku, dia menghapus air mata yang sudah mengalir di wajahku itu. "Minta yang lain, Ti! minta yang lain selain nyawaku, aku tak bisa memastikan aku bisa tetap hidup esok atau aku akan mati esok. Aku tak bisa memastikan itu, makanya hari ini aku menyempatkan semua untukmu."Ucapnya dengan nada suara agak meninggi, dia ingin membuatku mengerti akan posisinya itu. Setelah mengatakan itu dia memalingkan pandangannya dariku.
Aku hanya bisa menangis sekarang, aku tak tahu harus mengatakan apa lagi untuk meyakinkannya untuk tetap hidup. Aku menyentuh wajah dinginnya itu, "Aku tak inginkan apapun. Yang aku inginkan, hanyalah kamu Leon! hanya kamu, hanya satu dirimu, dan tak akan bisa tergantikan oleh siapapun lagi di hatiku!"Jawabku mengatakan semua yang ingin kukatakan dalam hatiku untuknya, "Aku ingin kamu tahu semua perasaanku seperti yang ada dalam lirik lagu 'Angin Rindu'. Semua perasaanku terukir di sana, bahkan saat hanya angin yang bisa mengantarkan cinta ini, aku akan mengatakannya." Lanjutku.
Kurasa emosi kami berdua tak bisa dibiarkan terus membara di tempat ini, Leon pun menarik tanganku dan menyuruhku untuk kembali turun ke bawah. dia bilang akan lebih baik semua hal ini diselesaikan di rumah daripada di sana, tetapi aku sudah tak bisa menahan perasaan sakit itu lagi dalam hatiku. Aku tak mau apapun, sudah kukatakan itu padanya! tetapi dia malah menawarkan semuanya, asalkan jangan dia?! Lalu apa yang harus aku minta? Aku tak ingin apapun di dunia ini, hanya kamulah yang aku inginkan dari berjuta umat manusia di dunia ini. Hanya kamu yang kusebut sebagai 'Malaikat Penyembuh'ku, Leon Argata Putra. Aku ingin hanya kamu yang akan tetap bersamaku, selamanya! Hanya kamu.
Di tengah perjalanan, aku dan Leon tak saling berbicara lagi, kami sama-sama memalingkan pandangan ke arah luar kaca jendela taksi untuk meredakan emosi yang menguasai hati ini tadi. Aku masih saja tak berhenti berpikir dan menangis di sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, sedangkan dia tampak tak tenang dengan kondisinya yang belum sehat itu. Bahkan pak sopir pun melihat sejenak ke arah kami berdua yang saling tak bicara di dalam mobilnya ini, dia tampak kebingungan tetapi tak ingin bertanya padaku ataupun Leon.
Sesampainya di halaman rumahnya, Leon langsung turun tanpa bicara apapun padaku. Baru saja aku ingin menyusulnya berjalan, tiba-tiba hujan turun dan membahasi tubuhku dan dia. Dia berhenti berjalan sejenak dan sempat berpaling ke belakang untuk melihatku, setelah itu dia kembali berjalan dan segera masuk ke dalam rumahnya itu, tanpa bicara apapun padaku.
"Apa yang kamu pikirkan, Leon? Kamu sungguh tak ingin terus bersamaku?"Tanyaku berbicara pada diriku sendiri di tengah lebatnya hujan yang membasahi tubuhku ini, aku tak peduli dengan ini, bahkan aku tak peduli akan sakit nantinya.
Beberapa menit aku berdiri di lebatnya hujan, aku pun mencoba untuk masuk ke dalam dan melihat apa yang sedang dilakukannya sekarang ini. tetapi apa yang kulihat, semua keadaan barang di rumahnya sudah berantakan, ada beberapa benda yang pecah dan kaca di mana-mana sekarang ini. Aku langsung berpikiran kalau Leon akan melakukan sesuatu yang..... "Leon!"Teriakku langsung berlari mencari ke semua ruangan yang ada di rumah sambil memperhatikan semua benda yang berserakan di mana-mana.
Aku mencarinya ke kamarnya, tetapi dia tidak ada. Aku mencari ke taman dan juga ke lantai atas di mana dia sering duduk santai, tetapi dia juga tak ada di dua tempat itu. Kebingungan ini mulai menghantui hatiku lagi, aku harus mencarinya ke mana lagi? Dia masih ada di dalam rumah ini, kan? Jangan membuatku mati mendadak, Leon! Di mana kamu? Aku harap kamu tak melakukan hal yang berbahaya untuk dirimu sendiri, aku tak akan memaafkan diriku jika terjadi hal itu padamu!
Hatiku terus menyalahkan diriku sendiri sekarang ini, "Leon!"Panggilku sambil menangis, aku tak tahu harus mencarinya di mana lagi, semua tempat sudah ku jelajahi, tetapi aku tetap tak menemukannya.
Tes....Tes....Tes.... Terdengar suara air yang menetes dari suatu tempat, tetapi tak berasal dari dapur. Tak berselang lama, aku mendengar suara air yang sangat deras dari kamar mandi yang ada di samping dapur, lalu aku mencoba untuk melihat ke sana dan memastikan kalau tak terjadi apapun di sana.
Aku tak memperhatikan langkahku, ternyata aku menendang sebuah pisau dapur yang juga berantakan di lantai rumah ini. Ku coba berpikir positif, kurasa Leon hanya menjatuhkan semua pisau ini lalu masuk ke kamar mandi, tetapi....hatiku tak yakin hanya itu yang terjadi di sini. Aku berpikiran kalau pisau ini, mengarah ke kamar mandi itu. "Tidak, aku tak boleh berpikir macam-macam tentang hal ini! Aku tidak boleh mengira kalau Leon....Kalau dia akan melakukannya, kan?!"Ucapku pelan sambil merapikan pisau-pisau itu kembali ke rak yang ada di meja dapur, baru kusadari ternyata pisau itu kurang satu.
Tanganku mulai bergetar, jantungku berdetak sangat kencang dan pikiranku tak bisa jernih. Hatiku juga sangat bimbang, aku mencoba mengingat-ingat kembali berapa jumlah pisau dapur yang ada di rumahnya, dan aku tak salah, memang ada satu yang hilang dari tempatnya ini. "Leon, jangan lakukan itu! Jangan, kumohon! Aku salah menduga, kan?!"Tanyaku bertanya pada diriku sendiri.
Aku kembali menangis deras sambil menatap serius semua pisau dapur itu, "Kalau kamu menghindariku dengan cara seperti ini, apakah semuanya akan selesai begitu saja?! Jangan pergi dengan cara bodoh seperti itu! Malah kamu sengaja membuatku semakin kehilangan akal, aku akan hidup sengsara seperti ini?!"Aku berteriak dengan nada tinggi sambil mengeluarkan semua kalimat yang ingin kukatakan padanya, untuk tidak melakukan hal bodoh apapun untuk menghindariku.
Tanpa berpikir panjang, aku mengambil salah satu pisau dan membuka paksa pintu kamar mandi itu. Karena aku yakin Leon berada di dalam sana, sedang melakukan hal yang akan membuatku tambah tak bisa menerima dia akan pergi dariku. Sambil menangis, aku mencoba membuka paksa menggunakan pisau pintu itu. Aku tak peduli apa tanganku akan terluka karena pisau ini, yang aku pikirkan sekarang adalah keadaan Leon! aku ingin dia tetap baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja!
Ku sempat mendengar seperti suara tangisan dari dalam, tetapi ku ragu kalau Leon lah yang sedang menangis itu, karena tak terdengar jelas dengan adanya suara derasnya air dari dalam sana. "Leon, jangan melakukan apapun di dalam sana! Aku akan segera membuka pintu ini, aku akan masuk ke dalam! Jangan mencoba menghilangkan dirimu dariku, aku tak suka caramu ini!"Tegurku dengan penuh amarah, aku tak bisa menahan emosiku yang sudah bercampur aduk menjadi satu sekarang ini.
Ku sempat bilang takut akan darah, kan? tetapi sepertinya aku tidak takut, karena sekarang telapak tanganku sudah tergores oleh pisau ini untuk berusaha membuka pintu ini secara paksa dari luar. Yang kuutamakan sekarang adalah Leon, aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Karena dialah alasanku bisa kembali tersenyum, merasakan semua warna dalam kehidupan ini kembali, setelah bertahun-tahun aku merasakan kesuraman dalam kehidupanku itu. Apa aku terlalu tamak sehingga engkau akan mengambil satu per satu apa yang sudah engkau titipkan padaku semesta? Terlalu cepat untukku, sebaiknya ambil saja aku sekalian, tidak perlu menunggu satu per satu dari mereka semua hilang diantaraku! Aku hanya butuh Leon, aku tak butuh berlian atau permata yang indah nan mewah, aku sudah bilang aku hanya ingin Leon selalu ada di depan mataku!
Pintu akhirnya bisa terbuka, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi itu, dan yang kulihat adalah....darah di sekitar kamar mandi itu. Tubuhku melemas sementara, semua yang ada di depan mataku merah dan juga sangat membuatku ketakutan untuk melihatnya lama-lama, tetapi semua ini pasti karena Leon. Kulihat dia duduk bersandar di dekat bathroom dengan menutup sebagian wajahnya menggunakan telapak tangan kanannya yang sudah terlumur oleh darah. Kulihat dia menangis, dengan sebuah pisau di tangan kirinya itu.
Aku sungguh tak menyangka kalau seorang Leon bisa menangis dan merasa sangat putus asa seperti ini. Bahkan dia tak lagi menghiraukanku, dia tidak menganggapku ada di depannya sekarang. Semua tubuhku melemas karena melihat banyaknya noda darah disekitarnya, tetapi aku berusaha melawan rasa takutku terhadap darah hanya untuk mendekat padanya, hanya untuk memeluknya, dan membuatnya tak bisa melakukan hal ini lagi. Perlahan-lahanku duduk didekatnya dan menyingkirkan pisau yang dia genggam jauh-jauh darinya.
Aku lalu memeluknya erat sambil menangis, "mengapa kamu melakukan hal bodoh ini, Leon?! Kamu ingin membunuhku? Kamu ingin mati seperti ini di depanku? Kamu ingin aku melakukan apa sekarang, aku tak bisa berpikir apapun lagi!"Ucapku.
Dia tetap menangis sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanannya yang sudah penuh darah itu, dan aku rasa dia memang sudah melukai tangan kanannya itu makanya dia berusaha menyembunyikannya dariku. Aku terus memeluknya erat, "Apa yang kamu pikirkan dengan hal seperti ini, Leon? Sudah kubilang, aku tak akan meninggalkanmu sendirian di saat-saat seperti ini! tetapi mengapa kamu tak mengerti itu, mengapa kamu malah semakin ingin meninggalkanku untuk pergi selamanya?!Apakah semua yang kita lewati bersama selama ini tak cukup membuktikan seberapa besar cintaku padamu? Apa lagi yang harus aku lakukan supaya kamu percaya padaku, dan barzanj akan terus berjuang bersama melawan sakitmu ini?!"Tanyaku sambil menangis histeris.
Kuucapkan kalimat panjang itu padanya, tetapi dia hanya diam sambil memelukku. tetapi tak kusangka, ternyata dia sejak tadi sudah tak membuka matanya. Aku pun baru menyadari saat tangannya terjatuh begitu saja di pangkuannya, aku pun kembali panik dan berusaha menghubungi seseorang di ponselku. Ku berkali-kali mengecup keningnya, aku merasa sangat khawatir, aku takut kalau Leon bukanlah pingsan biasanya, aku khawatir kalau terjadi sesuatu padanya lagi kali ini.
tetapi aku tak mau semakin membuat diriku panik, aku pun menghubungi kak Daffa dan mengatakan semuanya tentang yang terjadi hari ini di antara aku dan juga Leon. Lalu kukatakan kalau Leon sekarang pingsan dipelukanku, "Bisakah kak Daffa membantuku?"Tanyaku dengan nada khawatir sambil terus memperhatikan wajah pucat Leon.
"Ya, tentu saja. Aku akan segera mengirim ambulans ke rumah Leon, dan akan kusiapkan segera ruang ICU setelah dia dibawa kemari, karena kurasa sekarang ini kondisi tak bisa dianggap main-main."Jawab Kak Daffa dengan cepat.
"Aku akan menunggu, kak. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya, lakukan yang terbaik untuknya, dan juga untukku!"
"Ya, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Leon. Kamu tetap tenang, dan jangan panik! tetaplah bersama dengan Leon sampai ambulans datang ke sana, aku akan menunggu kalian di sini." Aku mengangguk lalu menutup telpon itu dengan kak Daffa.
Aku terus memperhatikan wajah pucatnya yang banyak ternodai oleh darahnya sendiri, ku sangat merasa bersalah karena telah bersikap aku harus memilikinya. Aku sadar sekarang, kalau aku tak bisa memiliki semua yang ada di dunia ini, termasuk Leon sekalipun.
Tak lama kemudian, terdengar suara sirene ambulans dari luar. Beberapa petugas langsung masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaanku dan Leon, karena mereka kebingungan aku pun berteriak sekencang-kencangnya dari kamar mandi supaya mereka bisa menemukan kami secepatnya. "Pak, di sini! kami di kamar mandi, cepat kemari!"Teriakku dengan nada sangat lantang sampai bergema di semua ruangan.
"Mereka di sini."Ucap salah satu petugas yang menemukan kami. Aku bisa bernapas sedikit lega sekarang, karena Leon akan segera dibawa ke rumah sakit dan akan mendapatkan pertolongan yang seharusnya dia dapatkan. Tanpa menunggu lama, mereka langsung mengangkut Leon menggunakan tempat tidur beroda yang biasanya digunakan untuk membawa korban di ambulans. Aku pun juga ikut masuk ke dalam ambulans untuk tetap ada di sampingnya apapun keadaannya sekarang ini, kami pun segera berangkat menuju ke rumah sakit untuk membawa Leon.
Sepanjang perjalanan menuju ke rs, aku hanya menggenggam tangannya sambil menangis, aku juga berdoa dalam hati agar dia tetap baik-baik saja. Akhirnya kami sampai di rs setelah melewati beberapa kemacetan di lampu merah, untungnya semua pengendara bisa bekerja sama dengan kami, dan tidak memperlambat perjalanan tadi. Setelah sampai, pintu belakang ambulans langsung di buka kembali dan mereka mengeluarkan Leon secepatnya dari dalam ambulans menuju ke dalam rumah sakit. Anehnya, mereka masih ingin menungguku. Mereka bilang kalau aku tak boleh meninggalkan Leon, jadi aku terus menggenggam tangannya dengan erat sambil mengikuti ranjang roda itu membawanya ke ruang IGD untuk sementara di periksa terlebih dahulu, setelah itu barulah dia akan dipindahkan ke ruang ICU, dan aku bisa melihatnya di sana nanti.
Kulihat kak Daffa sudah masuk ke dalam IGD dan segera menindak lanjuti apa yang terjadi dengan Leon. Bersamaan dengan itu, Rangga berlari ke arahku dengan wajah yang gelisah, dia langsung memelukku erat untuk menenangkanku. "Ti, kamu harus tenang ya! Aku yakin Leon baik-baik aja, kamu harus tetap tenang!"Ucapnya sambil mengelus punggungku lembut.
Aku mengangguk, "Terima kasih, Rangga! kamu selalu support aku di saat seperti ini, aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu."
Aku dan Rangga pun sekuat mungkin menunggu mereka ke luar dari dalam IGD dengan hasil yang baik. Sudah beberapa jam aku dan Rangga duduk menunggu mereka keluar, tetapi tak juga ada tanda apapun, sampai azan zuhur, dan asar juga lewat. Aku dan Rangga bolak-balik kembali dari musala menunggu di sana, tetapi tak juga ada yang ke luar untuk mengatakan sesuatu padaku. Ku mulai kembali cemas, hatiku kembali bimbang. Bahkan Rangga yang emosinya gampang memuncak akhir-akhir ini pun, dia mulai menghantam dinding yang ada di depan wajahnya itu karena juga geram dengan menunggu lama seperti ini.
Tak lama kemudian, kak Daffa keluar dari dalam IGD dan kami berdua pun langsung bertanya padanya tentang kondisi Leon sekarang. "Bagaimana dengan Leon?"Tanyaku dengan tatapan penuh harapan.
"Dia sudah sadar sebentar tadi, tetapi dia harus istirahat jadi....paling tidak Leon akan bangun sebentar lagi."Jawabnya dengan nada pelan.
"Apa tak ada masalah lain? Apa dia akan baik-baik saja?"Tanya Rangga panik.
Kak Daffa menggelengkan kepalanya, "Untuk saat ini dia masih baik-baik saja, dia juga bilang tadi kalau 'Tunggu aku, Tiara!'itu yang sempat dia ucapkan tadi."Jawabnya.
Setelah penjelasan kak Daffa, perawat-perawat itu membawa Leon ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan langsung jika terjadi sesuatu padanya lagi. Kak Daffa pun pamit padaku dan Rangga untuk mengurus Leon, ku juga tak bisa diam saja di sini, aku harus melakukan sesuatu, kan? Apa yang harus aku lakukan, mengapa Leon mengatakan "Tunggu aku, Tiara!"Apa artinya kalimat itu untukku, kalau dia saja tidak berniat untuk kembali?
Rangga mengajakku untuk menunggu di kursi tunggu yang ada di depan ICU, selagi menunggu kak Daffa yang masih berada di dalam sana untuk mengatur semuanya dengan benar. Aku duduk sambil menundukkan kepalaku karena hatiku masih merasa gelisah, sedangkan Rangga tidak bisa duduk diam dan menunggu saja. Dia malah terus bolak-balik berjalan sambil mengatakan "Ayolah, kau tidak bisa menyerah! Ada yang menunggumu, ada yang peduli padamu, jangan membuatnya kecewa!" Aku mendengar ucapannya itu, tetapi ku tak menanggapinya dan tetap duduk diam memikirkan bagaimana keadaan Leon di dalam ICU sekarang ini.
Setelah menunggu agak lama dan membuatku mengantuk, akhirnya kak Daffa keluar dari ICU dan dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku pun langsung berdiri dan menatapnya serius, "Ada apa, Kak Daffa?"Tanyaku.
"Leon sudah siuman, dia ingin mengatakan sesuatu padamu, Ti. Kuharap dia tidak mengatakan kalau dia akan menyerah lagi padamu, aku harap dia tak membuatmu kecewa! Aku permisi dulu, Tiara dan Rangga!"Jawab kak Daffa cepat, lalu segera pergi meninggalkanku dan Rangga.
Aku menatap Rangga gelisah, "Masuklah! Aku akan menunggumu di luar, aku akan menunggumu di sini."Ucapnya pelan sambil tersenyum kecil padaku.
Aku mengangguk dan masuk ke dalam ICU. Leon duduk bersandar di tempat tidurnya itu, ku tak bisa menahan air mataku saat melihatnya seperti itu. Dia tersenyum kecil sambil mencoba menggapai tanganku, "Kemarilah, Ti! Aku ingin dekat denganmu."Ucapnya.
Aku pun melangkah cepat menuju ke hadapannya, lalu aku langsung memeluk tubuh dinginnya itu dengan sangat erat. Dia juga lakukan hal yang sama sepertiku, dia memelukku sambil membelai rambutku. Aku tak tahu sebenarnya harus bahagia atau sedih sekarang, karena aku belum mendengar kalau dia ingin tetap hidup atau tetap pada pendiriannya itu.
dia melepaskan pelukannya, aku menatapnya serius lalu duduk di kursi yang ada di sampingnya itu. "Jangan menangis lagi, oke?! Aku sudah memikirkannya, Ti. Aku akan berusaha untuk tetap bernapas dan akan terus ada di sampingmu! aku ingin kita tetap sama-sama menjalani semuanya. Kamu mau menemaniku terus, kan?"Tanya Leon.
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum, "Ya, aku tak akan meninggalkanmu! Aku sudah bilang berkali-kali tentang itu, aku akan terus menemanimu sampai kamu kembali sembuh!"Jawabku dengan nada pelan.
Dia menggenggam kedua tanganku, "maaf, aku sudah membuatmu merasa bersalah! maaf, Ti. Aku tidak akan bersikap lemah lagi mulai sekarang, aku akan menunjukkan kalau aku bisa!karena kamu selalu ada di sampingku!"
Aku mengambil cincin yang seharusnya memang menjadi miliknya itu dalam tasku, aku memakaikan kembali di jari manisnya. Dia tak menolaknya, "Come back to me?" Tanyaku sambil tersenyum senang. Aku tak bisa menggambarkan kebahagiaan yang sekarang kembali lagi di hatiku. Leon menganggukkan kepalanya, lalu aku memeluknya erat.
SELESAI ....