L&M

L&M
BAB 43 : Rindu, Leon!



Tidak lama kemudian, Tiba-tiba Rangga datang dan langsung duduk disamping Leodi. Aku terkejut dan Kia langsung berhenti mengoceh karena itu, hanya Leodi yang tampak biasa saja pas Rangga datang dan langsung duduk disampingnya.


"Siang, semuanya! Hehe, Ti. Kamu kenapa?" Tanya Rangga sambil tersenyum.


Aku menatapnya dengan wajah terkejut, "A-anuu .... Gak kok. Aku cuman kaget aja, tiba-tiba kamu duduk di situ, gak manggil dulu." Jawabku.


"Iya, Ti. Lo bener banget, jatung gue mau copot rasanya. Leodi, lo gimana? Sehat gak?" Ucap Kia.


Leodi masih menatap serius Rangga yang menyentuh bahunya itu, Rangga pun tersadar dan menurunkan tangannya dari bahu Leodi. "Oh, iya. Maaf, hehe."


Seketika suasana langsung menjadi canggung, aku sibuk menyantap makananku, Kia dan Leodi saling menatap satu sama lain, dan Rangga memperhatikan sikap kami bertiga yang sibuk sendiri.


"Ti, kamu masih mikirin Leon?" Tanya Rangga, tiba-tiba ia membahas Leon di depan teman-temanku.


Aku langsung menanggapinya, "Kenapa kamu tiba-tiba nanya itu? Kamu kan tahu, aku sampai kapanpun akan menunggunya." Jawabku.


Ia mengangguk mengerti, "iya, Ti. Aku cuman mau nanya aja kok. Bagus deh, aku jadi tenang."


Leodi langsung ikut berbicara, "Loh, kenapa lo yang tenang? Seharusnya pacarnya Tiara dong yang harusnya tenang." Ujarnya dengan wajah serius.


"Eh, iya juga. Kok lo pinter ya kali ini, Leodi? Gue setuju sama lo!" Kia juga ikut-ikutan menginterogasi Rangga.


"Ah, maksud gue tenang itu .... Soalnya ya gue masih dipercaya buat jagain Tiara sampai Leon kembali." Jawab Rangga dengan nada jelas.


Kia dan Leodi terdiam setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Rangga pada mereka berdua. Mereka pun kembali menyantap makan siang yang sudah ada sejak tadi di atas meja.


Karena sudah ada Rangga, aku pun penasaran seberapa banyak ia tahu tentang Leon. Sedangkan aku, yang seharusnya jauh lebih tahu tentang Leon, aku tidak tahu apapun.


"Rangga, seberapa banyak kamu tahu tentang Leon?" Tanyaku dengan nada pelan.


Tanpa berpikir panjang ia langsung menjawab pertanyaanku, "Ya, sebanyak yang tidak kamu tahu, Ti. Aku tahu karna Leon percaya padaku, untuk menjagamu." Jawabnya.


"Kenapa harus kamu? Gak langsung ke aku aja?" Kia dan Leodi memperhatikanku dan juga Rangga. "Aku kan pacarnya, kenapa dia lebih bisa ngomong semua itu sama kamu dibanding sama aku?" Lanjutku.


Rangga tampak kebingungan harus menjelaskan situasi Leon seperti apa, "Ti, bukannya Leon gak percaya atau gak sayang sama kamu. Tapi, Leon bilang ini demi kebaikan kamu juga, karna dia gak mau kamu sedih."


"Rang, sampai kapan? Sekarang udah lewat 7 hari, tapi aku gak dapat informasi apapun tentangnya. Bagaimana bisa aku tenang?" Tanyaku dengan wajah kesal.


"Ti, kamu juga harus percaya sama Leon. Dia gak mungkin gak ingat sama kamu, dia itu selalu mikirin kamu. Aku tahu Leon, dia sudah cerita semua denganku." Rangga berusaha meyakinkanku kalau Leon akan baik-baik saja dan harus percaya padanya.


Aku tidak bisa menahan perasaan rinduku pada Leon, aku benar-benar ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya, mendengar suaranya. Aku ingin semua itu kembali, kenapa tidak bisa?!!


Bagai malam yang menunggu matahari untuk menjadi pagi, dan sebaliknya, bagai pagi yang menunggu bulan untuk menjadi malam. Aku sungguh merindukan malaikat penyembuhku, akankah semesta mendengar suara hatiku ini? Akankah aku bisa melihatnya lagi?!


Karena aku tidak tahan lagi dengan hatiku yang merasa kesepian ini, aku pun segera pergi meninggalkan Kia, Leodi, dan Rangga di kantin kampus. Aku pergi tidak berbicara apapun pada mereka, aku benar-benar tidak berpikir mereka akan khawatir padaku atau tidak karena aku pergi begitu saja tanpa memberitahu mau ke mana.


"Tiara!" Teriak Rangga dari kursi yang ia duduki.


Aku tak menghiraukannya, sambil berlari sekuat tenagaku, aku pura-pura tidak mendengarkan kalau ia memanggilku. "Aku benar-benar merindukanmu Leon! Tidak bisakah kamu kembali?" Batinku seraya menahan tangis.


Saat aku pergi meninggalkan mereka bertiga, aku tak melihat mereka mengejarku keluar. Baguslah, aku perlu sendirian untuk sekarang ini, aku tidak ingin ada yang menggangguku.


Aku berlari ke luar kampus, di trotoar jalan, aku mencari sebuah taxi supaya aku bisa pergi dan mereka tak bisa mengikuti ke mana aku pergi untuk menyendiri. Setelah ada satu taxi berhenti di depanku, aku langsung masuk ke dalam taxi dan menyuruh sopirnya untuk pergi dari kampus itu.


Sepanjang perjalanan menuju ke cafe yang dulunya adalah tempat nongkrongku waktu SMP, aku terus menerus tak bisa berhenti menatapi wallpaper ponselku yang memunculkan wajahnya yang dingin itu.


"Tuhan, kenapa engkau pisahkan kami seperti ini? Apa salahku?" Batinku menyesali perasaan ini. "Kalau begini, seharusnya tidak perlu mempertemukan kami!"


****


Setelah 10 menit menunggu perjalanan, akhirnya sampai di depan cafe itu. Aku pun segera turun dan langsung masuk ke cafe tanpa ada perasaan ragu yang ada di hatiku.


Aku menaiki anak tangga menuju ke lantai dua, ternyata aku sudah merasa asing dengan tempat ini. Sekarang semuanya sudah tampak berubah, bahkan suasana jauh lebih ramai dan juga banyak orang-orang baru yang berada di sana. Bahkan aku juga tidak melihat semua orang yang sudah aku kenal di sana.


Di lobi aku menghampiri yang menjaga di sana, "Ah, permisi! Saya mau nanya kakak yang biasa jaga di sini mana ya?" Tanyaku.


"Oh, kakak itu ya? Udah gak kerja lagi,  mbak di sini. Katanya dia pindah gitu, tapi gak ngerti ke mana." Jawab pelayan itu.


"Oh, gitu ya. Terima kasih! Kalau gitu saya pamit, sekali lagi makasih." Aku langsung pergi meninggalkan tempat itu setelah mendengar kalau orang yang aku kenal di sana pun sudah tidak ada lagi. Entah pergi ke mana pun aku juga tidak tahu, semuanya datang dan pergi begitu saja dariku, tidak ada yang benar-benar menetap.


"Leon, aku harus pergi ke mana lagi supaya aku bisa merasakan kehadiranmu?" Tanyaku di dalam hati. Air mataku lagi-lagi mengalir di wajahku.


Aku berpikir keras ke mana yang harus kutuju sekarang, karena tidak ada lagi yang bisa aku tuju. Aku mencari ponselku di dalam tas untuk mencari tahu tempat mana saja yang pernah aku dan Leon datangi, tetapi aku malah menjatuhkan sesuatu barang.


Aku menjatuhkan sebuah kunci rumah, aku pun langsung mengambil kunci itu dari tanah dan memperhatikannya dengan saksama. "Kunci apa ini? Aku seperti pernah melihatnya?" Tanyaku berbicara sendiri.


Saat Leon akan pergi ke Singapura, ia bilang kalau aku boleh memegang kunci rumahnya kan? Walau rumahnya sudah memiliki kunci otomatis dari mesin di pintu rumahnya itu, tetapi ia masih memberikan kunci itu padaku untuk berjaga-jaga.


Ya, aku baru ingat hal ini. Mutiara, kenapa kamu benar-benar bisa lupa akan hal itu? Sekarang satu-satunya tempat yang bisa kamu tuju hanyalah 'Rumah Leon' di mana tempat yang benar-benar misterius dan banyak menyimpan kenanganku dan Leon.


Mataku berbinar-binar, "Leon, aku boleh istirahat di rumahmu kan? Aku akan menjaga semuanya baik-baik, kamu tenang saja!" Aku menggenggam erat kunci itu di tanganku sambil berjalan menuju ke pinggir jalan besar untuk kembali mencari taxi.


BERSAMBUNG .....


Selalu suport L&M ya! Oh, iya bagi kalian yang suport couple Leon dan Mutiara kalian akan disebut sebagai 'Berryvanilla' sedangkan kalau kalian mensuport couple Rangga dan Mutiara, kalian akan disebut 'Berrysmile'. Oke, terima kasih yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca L&M.