
Keesokan harinya ....
Aku berangkat ke kampus di antar oleh adikku Dhika. Kali ini berbeda karena Leon tidak akan bisa lagi mengantar-jemputku, karena ia berada di Singapura sekarang. Kini, aku mencoba untuk kembali menjalani hari-hariku dengan normal saja, tetapi kadang aku masih berusaha menelpon Leon padahal nomor ponselnya tidak bisa digunakan di negara lain.
Melangkah berjalan menuju ke kelas menjadi lebih berat sekarang, karena aku memikirkan banyak hal. Sampai-sampai teman-temanku yang menegur pun tidak aku hiraukan, aku hanya berjalan dengan kosong menuju ke dalam kelas. Saat aku sudah duduk di kursiku, teman-temanku langsung menghampiriku dan bertanya.
"Mutiara, kamu kenapa? Mata kamu kok agak beda gitu, abis nangis ya?!" Tanya Yuni dengan wajah penasaran.
"Iya, Ti. Kamu kalau ada masalah cerita aja ke kami, kami gak akan bocorin ke orang lain kok." Ucap Tara yang bersimpati padaku.
Aku menggeleng, "Tidak ada apa-apa kok, Yun, Tara! Aku hanya mengantuk saja, karna semalam ngerjain skripsi." Jawabku berbohong pada mereka berdua.
Saat aku tengah berbincang dengan kedua temanku, Yuni dan Tara, Novi tiba-tiba memanggilku dari depan pintu kelasku. Sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu denganku, jadi aku langsung menghampirinya. Kami berdua duduk di kursi yang ada di taman kampus, aku hanya diam karena Novi yang seharusnya membuka pembicaraan. Lagipula aku tidak ingin banyak bicara sekarang, hatiku masih kacau, aku akan gampang meluapkan amarah jika aku terlalu tertekan dengan keadaan.
Novi berbicara menghadap padaku, "Mutiara, aku ingin bertanya satu hal padamu." Ucapnya dengan jelas.
Aku terkejut, sekaligus penasaran. "Emangnya, kamu mau bertanya tentang apa, Nov?" Tanyaku.
Ia menatapku dengan sangat saksama, "Tiara, apa benar kak Leon sekarang sedang di Singapura? Untuk apa? Apa karena penyakitnya?" Ia balik bertanya padaku.
"Kamu .... Bisa tahu darimana?"
Novi menatapku kesal, "Ya, aku tahu dong dari Kak Daffa. Kan aku anak magangnya kak Leon, jadi aku bisa saja tahu hal ini, tapi kak Leon tidak beritahu." Jawabnya.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada Novi, tampaknya ia memang bisa tahu semua hal tentang Leon hanya dalam waktu sebentar. Sedangkan aku? Aku perlu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya untuk mengetahui semua yang ia sembunyikan dariku.
Ya, benar. Bagaimana Novi tidak tahu tentang Leon, jika ia adalah anak magang di rs tempat Leon bekerja. Sejak awal, aku sudah merasa Novi memang akan terus mengejar Leon sampai kemana pun ia pergi. Untungnya nilainya cukup untuk masuk kedokteran, kalau tidak mungkin dia sekarang sudah merasa putus asa.
Novi membangunkan lamunanku, "Tiara! Kebiasaan deh, melamun mulu. Gimana sih!?" Raut wajahnya tampak semakin kesal.
Aku terkejut, "Ah, Sorry, Nov. Aku gak fokus, banyak pikiran nih soalnya. Udah ya, kan kamu udah tahu kalau Leon di Singapura, aku masuk ke kelas, ya! Gak ada yang harus kita bicarakan lagi." Aku tak ingin berlama-lama berbicara dengan Novi.
"Hei, Tiara! Sebentar, aku masih ingin ....." Kata-katanya terhenti karena aku langsung pergi meninggalkannya di taman itu, tanpa berbicara apapun lagi. "..... Bertanya padamu." Suaranya pelan.
Aku berjalan dengan cepat menuju ke dalam kelasku, tanpa memperhatikan sekitar. Gara-gara Novi, aku menjadi ingat dengan Leon yang sedang tidak ada di sekitarku, aku tidak bisa terima itu. Pikiranku semakin campur aduk, aku tidak bisa berpikiran jernih, aku sungguh-sungguh bisa menjadi gila jika terus seperti ini.
Saat aku masuk ke dalam kelas, Rangga memanggilku dari depan pintu. Aku berbalik, lalu berjalan kehadapannya untuk mendengarkan apa yang ingin ia katakan padaku. "Tiara, kamu baik-baik saja kan? Kamu tidak sakit kan?" Tanya Rangga dengan wajah khawatir.
Aku mengangguk dengan wajah datar, "Ya, aku gak kenapa-kenapa kok. Terima kasih atas kekhawatirannya, tapi aku benar baik-baik saja! Sebaiknya kamu segera kembali ke kelasmu." Jawabku lalu kembali berjalan menuju ke tempat dudukku.
Ya, Tuhan. Kenapa aku menjadi seperti ini? Kenapa sifatku, aku tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan oleh orang lain padaku. Ada apa sebenarnya dengan diriku? Aku merasa aku mulai menghilang.
Tapi, tubuhku, pikiranku, hatiku, dan semuanya, mendukungku untuk menolak perbincangan panjang oleh mereka semua. Apa alasannya? Apa mungkin, karena aku benar-benar sudah muak dengan semua omong kosong yang mereka ucapkan? Aku sudah tahu apa yang ada di dalam hati mereka, makanya aku menjadi seperti ini kan?
Karena aku mengusirnya, Rangga langsung pergi dari kelasku. Terlihat di wajahnya jelas, bahwa ia khawatir namun aku mengabaikannya begitu saja dengan alasan yang tidak jelas.
Aku tidak menghiraukannya seraya membuka buku dan fokus membaca. Tak lama kemudian, dosen pun datang dan langsung memulai pembelajaran tanpa menyapa panjang lebar.
"Selamat pagi, semuanya!" Sapa pak dosen dengan wajah senang.
"Pagi, pak!" Jawab kami serentak. Semua langsung mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Oke, pagi ini kita akan langsung membahas persoalan yang kemarin telah kita diskusikan bersama-sama. Nanti kalian akan saya suruh membagi kelompok, sekarang kalian semua ada berapa jumlahnya?"
Satu orang perempuan yang duduk di depanku berdiri dari kursinya dan mulai menghitung dari barisan depan ke belakang dengan zik zak. "Satu .... Dua .... Tiga .... Empat .... Lima .... Enam .... Tujuh ...." Ia berhenti menghitung, "Semuanya ada 60 orang pak."
Pak dosen mengangguk, "Oke, baiklah. Jadi kita bisa membagi jadi berapa kelompok? Dan berapa anggotanya?" Tanya pak dosen dengan wajah serius.
Semua langsung berhitung dan berbincang dengan teman di sebelah mereka. "Emm, 60 : 6. Berarti 10 anggota dalam 1 kelompok, pak!"
"Yap, gitu. Bapak akan jelaskan kembali materinya, nanti kalian bapak beri kebebasan untuk mencari kelompoknya sendiri, jadi bapak harap skripsi kelompok kalian harus bagus!"
"Baik, pak."
Aku lelah, aku pun meletakkan kepalaku di atas meja sambil menghadap ke kanan. Tiba-tiba cahaya matahari yang terpantul dari kaca kelas menyoroti mataku sehingga membuatku tak bisa melihat sejenak. Setelah beberapa detik, semuanya kembali seperti semula, dan saat aku menatap tangan seorang laki-laki yang duduk di samping kananku, aku melihat tangannya tidak asing.
Mataku terbelak, tak bisa berkedip. "Leon?" Gumamku dalam hati.
Perasaan hatiku sudah bercampur aduk, mungkin karena itu aku beralusinasi. Mana mungkin Leon bisa ada di kampusku dan berada sekelas denganku, dia kan sudah pergi ke Singapura semalam.
Tiara! Sadarkan lah dirimu ini, kenapa kamu tetap tidak bisa membuka mata dan menghadapi apa yang sudah ada di depan matamu!!?
Untuk menentukan kebenaran, aku langsung melirik wajahnya, dan ternyata .... Ya, tentu saja bukan LEON. Dia teman laki-laki yang duduk di sampingku, karena kebetulan kosong tadi tempat duduknya. Ia menyadari aku memperhatikannya, lalu aku pun pura-pura tertidur supaya ia tidak bertanya hal yang aneh.
Wajahnya bingung, "Mutiara, kan? Lo kenapa? Sakit gak, siapa tahu?" Tanya laki-laki itu dengan nada pelan.
Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya itu, "Udah deh, gak usah sok tidur gitu! Gue dah tahu kali, kalau lo dari tadi liatin gue. Gue gak akan marah kok."
Karena ia sudah mengetahui kebohonganku, apa alasanku untuk tidak menjawabnya. Aku kembali membuka mataku dan menatapnya, "Emm, gak ada kok. Gue gak lagi sakit, maaf ya jadi salah paham, gue cuman mau liat matahari aja." Jawabku mengalihkan kebenaran.
"Oh, gitu. Eh, BTW, kenapa muka lo pucet gitu? Nama lo beneran Mutiara kan? Gue gak salah?"
Aku menggelengkan kepala, "Gak, gue beneran gak sakit! Ah, iya. Bener kok lo, nama gue Mutiara."
Saat aku dan laki-laki itu sibuk mengobrol, pak dosen sudah selesai menjelaskan di depan kelas. Ia pun langsung menyuruh kami semua untuk mencari kelompok masing-masing.
"Baiklah, bapak sudah selesai menjelaskannya. Jadi, sekarang juga, cari kelompok kalian! Lalu letakkan daftar namanya di atas meja, bapak mau ke toilet dulu. Jangan ada yang tidak bekerja!" Ucap Pak dosen panjang lebar seraya berjalan keluar kelas.
"Oke, pak. Aman!" Jawab kami.
Eh, lo sama siapa Tan?
Gue, gak tahu nih sama siapa.
Satu kelompok aja kita? Mau gak?
Ah, yaudah lah, serah kalian!
Mereka semua sibuk mencari teman untuk membentuk kelompok, sedangkan aku dan laki-laki yang duduk di sampingku sama-sama diam memperhatikan kegaduhan yang dilakukan oleh semua orang di kelas ini. Ada yang sampai emosian, ada yang merayu habis-habisan, ada yang membully juga, semuanya bercampur aduk hanya karena satu perintah.
Telingaku rasanya mau meledak, sudahlah ruangan ini besar dan penuh dengan 60 anak manusia, mereka bisa mengeluarkan suara dan kegaduhan seperti anak TK, padahal mereka adalah mahasiswa.
Aku menutup telingaku dan juga mataku karena tidak ingin mendengar apalagi melihat mereka semua membuat keributan seperti itu. Laki-laki yang duduk di sampingku itu menatap mereka semua dengan wajah kesal karena ia sepertinya tahu kalau aku tidak menyukai keributan itu.
Prakk! Prakk! Prakk! Suara buku yang dipukul di atas meja. Suara itu terdengar jelas di telingaku, terutama telinga kananku. Aku tidak tahu siapa yang melakukan itu, tetapi karena-nya, semua orang langsung diam dan suasana kembali sunyi.
Karena aku penasaran, jadi aku membuka mata dan melihat kalau laki-laki yang duduk di sampingku itu lah yang melakukannya. Ia berdiri dari meja sambil memukul kan buku yang tebal ke meja supaya semuanya diam, dia sangat berani sekali.
Lagi-lagi matahari menghalangi pandanganku pada wajahnya, walau silau aku tetap menatap wajahnya. "Kalian itu anak TK atau Mahasiswa sih? Kenapa sampai ribut gitu? Kalian gak liat ya, ada temen kalian yang gak bisa denger kebisingan gitu! Lo .... Lo .... Dan lo juga! Semuanya yang ada di sini langsung pecah karna satu instruksi dosen." Tegurnya dengan nada suara meninggi, raut wajahnya biasa saja, tapi aku tahu dia benar-benar sedang marah.
Ah, kenapa aku merasa dia mirip dengan seseorang? Dia marah, tapi ia tidak tampak marah! Bagaimana itu, aku tidak bisa menjelaskannya."
Sorry, ya bro! Kita semua gak maksud buat ribut.
Iya, santuy lah! Kan kita emang disuruh nyari kelompok, makanya bising.
Yaudah, maaf deh! LEODI, udah ganggu ketenangan!
Ia pun kembali duduk dan menatapku dengan wajah khawatir, "Lo, ga papa kan? Telinga lo sensitif ya kalau denger yang kayak gini?" Tanya-Nya.
Aku mengangguk ragu, "Ah, iya. Sedikit, makanya aku tutup telinga." Jawabku singkat.
Eh, tapi tunggu, sepertinya tadi aku mendengar ada yang memanggil nama Leon, kan? Leon atau Leo ... Apa tadi itu, aku lupa. Atau aku emang salah denger karena aku kan nutup telinga tadi. Aku juga belum tahu nama pria ini, seperti baru pertama kali bertemu saja, padahal sepertinya kami sudah sering mengikuti kelas yang sama.
BERSAMBUNG ....