
Sesampainya di rumah Leon, aku langsung berlari dan berdiri di depan pintu rumahnya. Aku menatap penuh perasaan pada pintu tersebut, aku membayangkan saat dulu aku menunggu suara pendeteksi dari pintu ini untuk membuat Leon segera membuka pintu. Tapi, sekarang tampaknya tidak akan ada lagi yang membukakan pintu rumah ini untukku, karena Leon akan tinggal lama di Singapura.
Aku meletakkan telapak tangan kananku di pintu itu. Selamat datang, Mutiara! Sudah lama tidak berjumpa. Tenang, Leon akan kembali!
Bahkan mesinnya mengatakan hal itu padaku. Aku pun membuka pintu dan menatap ke dalam rumah yang tampak kosong itu. "Ya, aku juga yakin dia akan segera kembali dan tinggal di sini lagi." Ucapku pelan.
Aku berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, lalu pintu otomatis kembali tertutup. Tidak ada yang boleh masuk selain Mutiara, aku akan selalu berada di sini. Alat pendeteksi itu berbicara sendiri, seolah-olah ingin semua orang tahu kalau hanya aku yang boleh masuk ke dalam rumah Leon.
Aku menelusuri ruang tamu, kulihat dulu aku sering duduk di sana sambil mengerjakan skripsi dibantu oleh Leon yang juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lalu berjalan ke dinding di mana begitu banyak bingkai foto yang masih memajang wajahku dan wajah Leon, semuanya tetap sama. Berjalan lagi menuju ke ruang makan, aku melihat Leon memasak di dapur dan aku merayunya untuk segera membawaku makanan karena aku lapar.
Ya, Tuhan. Betapa bahagianya aku waktu itu, aku tidak menghitung setiap detik aku bersamanya, semuanya terasa sangat singkat.
Wajahku tak bisa menyembunyikan betapa hatiku masih bahagia mengingat hal-hal itu, aku pun tersenyum sambil berjalan menuju ke kamar Leon. Aku masuk ke dalam kamarnya, lalu melihat hanya ada tempat tidur yang tidak memakai kainnya dan juga jendela itu tidak dikapaikan tirai yang menutupinya. Seolah-olah rumah ini memang tidak akan ada lagi yang menetap lama seperti dulu lagi.
"Leon, cepatlah kembali! Atau aku akan menemui di Singapura, aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi."
"Aku sangat merindukanmu, malaikat penyembuhku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hari-hariku benar-benar tidak ada kamu lagi?"
Karena aku berniat untuk tinggal sementara di rumah ini, aku pun segera bergegas merapikan semua bagian rumah yang sudah terlihat kotor karena ditinggal seminggu. Mulai menghidupkan kembali semua kontak listrik, alat elektronik seperti kulkas dan juga tv, kompor untuk memasak, makanan apa saja yang masih ada di kulkas, dan juga memasang kain untuk kasur yang ada di kamar Leon, semuanya aku bereskan.
Saat aku sedang sibuk merapikan semua isi rumah, ponselku tiba-tiba berdering. Aku pun langsung mengangkat siapa yang menghubungiku, sambil memegang kain pel yang baru saja akan aku letakkan.
"Hallo?"
"Hallo, Ti." Suara Rangga yang khawatir padaku.
"Iya, ada apa? Kenapa kamu menghubungiku, aku baik-baik aja." Tanyaku.
"Ah, kata bunda kamu belum pulang ke rumah, makanya aku hubungi kamu. Sekarang kamu ada di mana?"
"Tidak usah mencariku! Aku ada di rumah Leon, aku ingin sendiri di sini." Tegasku.
"Ti, kenapa kamu pergi gitu aja sih tadi? Kenapa kamu gak bilang kalau mau ke sana, biar aku mengantarmu!"
"Tidak perlu, aku naik taxi. Aku tidak mau merepotkanmu terus, yasudah ya .... Aku mau beres-beres!" Tanpa mendengar jawaban Rangga, aku langsung mematikan telpon darinya dan kembali mengepel lantai.
Keringat sudah bercucuran di wajahku, rambutku juga sudah basah. Bermenit-menit aku mulai menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Menyapu sudah, mengepel juga, memasang sprai di kasur sudah, mengganti tirai jendela sudah, dan tinggal membeli beberapa bahan makanan untuk di letakkan di dalam kulkas ke super market.
Saat aku sudah selesai mengepel lantai, aku tak sengaja melihat pintu menuju ke taman. Di mana dulu Leon pernah mengungkapkan perasaannya padaku di luar sana, aku tidak akan pernah melupakan hari bahagia itu seumur hidupku.
"Aku tidak mau melupakan hal itu, Leon. Jadi, cepatlah kembali dan datang padaku." Ujarku sambil berdiri di depan pintu taman.
Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung mengambil dompet di dalam tasku dan segera pergi menuju ke super market yang berada tidak jauh dari rumah Leon. Aku berjalan kaki, karena letaknya cukup dekat, hanya berjalan lurus dan belok kiri sekali lalu sampai di super market itu.
Saat aku tengah berjalan menuju ke super market, ibu-ibu di sekitar komplek terus memperhatikanku. Awalnya aku hiraukan saja, tetapi suara mereka semakin terdengar jelas di telingaku.
Ehh, itu bukan sih istrinya dokter Leon?
Iya ya? Baru liat juga aku, katanya sih dia udah nikah kan?
Ish, bener loh ibu-ibu! Waktu dokter Leon berangkat ke Singapura kan yang ngantar wanita itu.
Ohh, jadi bener dokter Leon udah nikah ya? Pantas aja, dia gak mau di dekatin sama anak saya.
Berarti pasangan muda, kan?
Iya jelaslah, udah ganteng juga baik lagi anaknya, gimana gak cepet diambil coba!
Berarti dia tinggal sendirian tuh istrinya di rumah?
Aku mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi aku tetap berjalan dan fokus menuju ke super market untuk membeli bahan makanan. Sesampainya di super market, juga banyak ibu-ibu yang memperhatikanku. Mereka seperti tidak ada pembahasan lain yang bisa mereka bahas selain membicarakan aku dan Leon, kenapa mereka berpikir kalau aku dan Leon sudah menikah? Padahal aku tidak merasa begitu.
Bu komplek, udah pada tahu belum itu siapa?
Yang mana? Oh, gadis cantik itu, ya? Katanya sih denger-denger dari suami saya itu istrinya dokter Leon.
Wih, iya baru saya mau bilang.
Wah, jadi dokter Leon beneran udah menikah ya? Pantesan tiap kali ditanyain udah punya pacar, dia cuman diam aja.
Iya, suami saya juga bilang dokter Leon itu enak orangnya. Padahal gak ada disuruh ngeronda, tapi ikut ngeronda untuk jagain komplek.
Ohhh, iya juga. Kalau dokter Leon masih lajang kan, dia pasti gak akan mau ngeronda bareng bapak-bapak.
Iya-iya, ibu bener tuh.
"Aihh, Tuhan. Kenapa mereka berbicara seolah-olah aku tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan? Aku dengar semuanya!" Batinku sambil mengambil beberapa bahan makanan.
Aku meletakkan sayur-sayuran ke dalam keranjang dorong, dan beberapa makanan ringan lainnya sebagai pelengkap di kulkas. Ibu-ibu yang tadi membicarakanku langsung tersenyum dan menyapa saat aku berjalan searah dengan mereka. Aku hanya tersenyum dan pura-pura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan tadi, berusaha fokus mencari semua bahan masak.
Tuh, liat kan? Cantik banget ya dari dekat.
Iya, iri banget ya.
Ya, pantes dong. Dokter Leon ganteng, istrinya juga harusnya cantik.
Iya, kayaknya orangnya ramah deh, coba besok-besok mampir ke rumah dokter Leon!
Iya, ayo-ayo! Bisa jadi temen baru emak-emak komplek nih. Hehe
Sttt, awas orangnya denger loh, entar gak enak.
Tidak mau berlama-lama di tempat itu, aku pun langsung pergi ke kasir dan membayar semua barang yang sudah aku beli tadi. Aku pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang padaku, tapi tetap saja aku kepikiran sampai rasanya ingin berteriak sangat kencang sekali.
"Astaga, gak habis pikir aku! Kenapa mereka nyebarin berita yang gak jelas gitu sih? Padahal Leon kan juga gak bilang karna biar gak dipikir aneh-aneh." Batinku.
Pelayan kasir itu menegurku dengan senyumannya, "Mbak orang baru di komplek ini ya? Saya belum pernah liat soalnya, hehe." Tanya wanita itu sambil memasukkan barang-barangku ke dalam kantong plastik.
Aku terbangun dari lamunanku, "Ah, iya ... Eh, gak baru juga kok." Jawabku ragu-ragu, aku takut ada orang yang mendengar ucapanku.
"Oh, berarti mbak ini .... Istrinya dokter Leon ya? Gak pernah keliatan, hehe biasanya dokter Leon sendiri yang kesini."
Aku tersenyum terpaksa menanggapi ucapan wanita itu. Dalam hati aku sudah tidak tahan dengan semua situasi ini dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah Leon dan mengunci pintu supaya tidak ada orang yang datang nanti.
"Semuanya Rp 220. 000, mbak." Ia memberikan kantong plastik itu padaku. Aku pun mengambil uang di dalam dompet dengan sangat terburu-buru sekali.
Aku mengeluarkan 5 lembar uang 50 rb dan langsung meletakkannya di kasir. Wanita itu menghitung uangnya, "Ah, ini kembaliannya ..."
Aku langsung mengangkat barang-barangku dan bergegas pergi. "Emm, ambil aja kembaliannya, soalnya saya buru-buru." Sambungku cepat, lalu berjalan menuju kembali ke rumah Leon.
"Terima kasih, mbak!" Teriak wanita yang menjaga kasir itu padaku.
Ada-ada saja kelakuan ibu-ibu di sekitar lingkungan Leon, kenapa dia harus memilih tempat ini? Kenapa ia tidak tinggal di daerah komplekku saja, kenapa harus di tempat seperti ini? Aku sangat kesal sekali!!! Mau aku jelaskan pada mereka pun tidak akan ada habisnya, karena berita itu sudah tersebar hampir ke seluruh komplek ini.
BERSAMBUNG .....