
Keesokan harinya ....
Saat aku baru saja keluar dari rumah, ibu tetangga yang tinggal di depan rumah menyapaku.
"Ah, mbak Tiara. Pagi! Mau ke mana tuh, pagi-pagi?" Tanya ibu itu.
Aku tersenyum, "Iya, pagi juga. Saya akan berangkat kuliah, bu."
"Oh, jadi mbak masih kuliah ya? Pantes jarang di rumah, ya."
"Iya, buk. Kalau gitu, saya berangkat dulu ya, entar telat." Aku pamit dengan sikap yang sangat sopan.
"Oh, iya. Hati-hati di jalan, mbak."
Aku berjalan cepat menuju ke depan komplek untuk menunggu taxi, dan juga demi menghindari tetangga-tetangga komplek yang aneh itu.
"Ah, aku harus cepat-cepat nih!" Batinku.
Tak lama, satu taxi berhenti di depanku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menaiki taxi itu, dan berangkat menuju ke kampus.
Di dalam taxi, aku mengecek kembali semua barang-barangku. Mulai dari laptop, ponsel, tissu, flash dich, dan juga dompet. "Ah, semuanya ada di dalam tas. Syukur deh, aku kira tadi ada yang ketinggalan." Ujarku pelan.
Aku melihat jalan di luar jendela, semuanya masih terlihat sepi karena mungkin masih pagi. Aku sengaja berangkat pagi-pagi supaya tidak terlambat, apalagi kelas pagi emang yang paling menyebalkan saat kuliah ataupun masa-masa sekolahku dulu. Daripada telat, mending datang lebih awal supaya tidak kena hukuman.
Sesampainya di kampus, aku langsung bergegas pergi ke kelas untuk mengambil tempat dudukku. "Aku harus cepat, kalau gak mungkin kursinya diambil sama orang lain." Batinku sambil berjalan cepat menuju ke kelas.
Saat aku berjalan menuju ke kelas, kulihat keramaian yang ada di mading kampus. Aku berhenti berjalan dan menghampiri kerumunan itu, mungkin saja ada informasi penting yang harus aku tahu juga di sana.
Wih, gilak! Masa anak jurusan seni aja sih yang bakal jalan-jalan?
Ah, iya. Gak seru!
Ke mana? Berarti kelas seni semuanya ke Yogyakarta lusa?
Iya, mendadak banget ya?
"Permisi! Permisi!" Aku menyeberangi orang-orang yang berada di dekat mading.
Aku melihat sebuah pengumuman untuk semua anak jurusan seni. Saat aku membaca pengumuman itu, ternyata informasinya benar-benar mendadak untukku.
"Astaga, lusa pergi ke Yogya buat penyeluhan?" Tanyaku berbicara sendiri.
"Iya, katanya sih gitu. Lo anak seni?"
Aku mengangguk, "Ah, iya. Gue anak seni, duh gimana nih?!" Aku kebingungan sekali saat ini.
"Wah, lo juga baru tahu ya. Harus cepet-cepet cari dosen tuh, terus pesan tiket ke sana." Ucap salah satu mahasiswi.
Aku pun bergegas pergi ke kelas dulu, barulah aku bertanya pada anak-anak yang satu jurusan denganku tentang informasi itu. Di dalam kelas, aku hanya melihat beberapa orang yang sudah duduk di kursi mereka. Karena aku penasaran dan panik, aku langsung menghampiri mereka dan bertanya tentang informasi di mading tadi.
"Ah, kalian tahu tentang penyeluhan ke Yogya?" Tanyaku dengan nafas terengah-engah.
Mereka mengangguk, "Iya, kami juga baru tahu tadi pagi. Lo juga?"
Aku mengangguk, "Iya, jadi gimana menurut yang lain?"
Mereka menggeleng, "Ya, gak tahu juga. Belum ada info lanjut, dosen juga pada belum datang."
Karena kelelahan, aku langsung duduk di kursi dan meletakkan tasku di atas meja. "Kenapa tiba-tiba ke sana sih? Katanya semester 3 baru ada penyeluhan?" Batinku.
Aku mengambil ponselku di dalam tas, aku melihat pesan masuk dari Kia yang juga menanyakan tentang informasi itu. Aku kebingungan menjawab apa padanya, "Apa yang harus aku jawab coba? Aku juga gak tahu!"
Sekarang masih jam 7 pagi, masih ada waktu satu jam sampai kelas akan dimulai. Aku pun segera mencairkan pikiran, membuka laptop untuk mencari informasi di website kampus tentang penyeluhan seni di Yogyakarta lusa. Jika aku harus menunggu dosen, pasti informasinya akan sangat lama sampai, jadi aku mencari sendiri saja.
Aku berhasil membuka website kampus, kutelusuri informasi terbaru di website itu. Aku menemukan informasi pagi ini tentang kunjungan ke Yogya, lalu aku membuka informasi itu.
"Ah, sinyalnya ...." Tiba-tiba tidak ada sinyal di dalam kelas itu. Aku jadi semakin panik.
Website terbuka, aku pun langsung membaca dari awal sampai akhir informasi yang ada di mading tadi. "Kepada semua anak jurusan sastra, diharapkan berkumpul pagi ini di aula kampus! Untuk pengarahan tentang kunjungan ke Yogyakarta dua hari yang akan datang, diharapkan semuanya dapat hadir pagi ini. Terima kasih!"
"Huhh, kenapa lagi? Kenapa harus ke aula kampus coba? Astaga, kenapa gak di dalam kelas aja. Pantes kok sepi banget padahal udah jam segini." Ucapku.
Di tengah perjalan menuju ke aula, Kia datang dan langsung mengagetkanku yang masih panik.
"Tiara!" Tegurnya.
Aku terkejut, "Ah, Kia. Bikin kaget aja."
"Hei, lo kenapa? Kok buru-buru gini?" Tanya Kia sambil mengejar langkah kakiku.
"Aku mau ke aula, katanya kita harus ngumpul di sana."
"Oh, yang mau pergi ke Yogya itu ya?"
Aku mengangguk, "Iya, makanya. Kita harus cepat."
Aku dan Kia pun berjalan cepat menuju ke aula kampus. Setelah sampai, sudah banyak mahasiswa yang duduk di aula dan sedang menunggu dosen yang bersangkutan tentang informasi tersebut.
Ih, gue aja bingung sama informasinya, gak jelas.
Iya, gue kira bohongan cuy.
Kalau gitu mending gak usah ke Yogya, kan kita mau ujian semester lagi!
Iya, bikin repot aja.
Tiba-tiba kayak gini informasinya? Gak abis pikir.
Kia mencari tempat yang masih kosong untuk kami berdua dan ia mendapatkannya, "Ah, Ti. Duduk sini aja kita." Ucapnya pelan.
Aku pun ikut duduk di sampingnya. "Eh, Kia. Lo tahu informasi dari kapan? Tadi pagi juga?" Tanyaku penasaran.
Ia menggeleng, "Emm, gak tuh. Gue udah tahu dari kemaren sih, tapi gue lupa kasih tahu lo, hehe." Jawabnya sambil cengengesan.
"Jadi, lo bakal ikut?"
"Iya, dong. Kan ini demi nilai tugas kita juga. Kita kan anak jurusan sastra, udah pasti harus sering kunjungan ke tempat-tempat yang banyak sastra dan seni nya dong." Jelasnya panjang lebar.
"Aih, iya juga sih. Tapi ini terlalu .... Mendadak!" Keluhku sambil menunduk.
Mendadak sekali, karena aku baru saja tinggal di rumah Leon. Aku tidak mau meninggalkan rumah itu, aku tidak mau!
Kenapa tidak bulan depan aja sih?! Kenapa terburu-buru ke sana?
"Mendadak kenapa sih, Ti?"
Aku terbangun dari lamunanku, karena suaranya bukan suara Kia. Aku menatap ke depan, ternyata .... Leodi yang baru saja sampai.
"Oh, Leodi. Kirain siapa."
Ia tersenyum kecil, lalu duduk disampingku. "Emangnya kenapa? Abis lo ngelamun mulu kerjanya, gak bagus loh!" Tegurnya.
"Leodi, lo selalu lambat deh! Gue aja udah dari tadi datang tahu." Ujar Kia sambil menyindir Leodi.
"Aelah, baru datang cepat satu kali aja bangga banget ya lo?!"
Aku jadi ingat, kalau disaat ini masih ada teman-temanku yang selalu mendukungku. Mereka selalu bisa membuatku senang walau hanya bertahan beberapa menit saja, tapi aku jadi melupakan masalahku karena mereka.
Leodi, Kia! Terima kasih karena sudah mau menjadi temanku. Aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua.
Kia mengetuk kening Leodi dengan wajah kesal, "Eh, curut basi! Kenapa lo diam aja banci?! Ahahaa." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Kia tampak senang sendiri karena mengejek Leodi, "Ahaha, tertawa aja sepuasmu! Aku akan masukin tikus beneran ke dalam mulutmu nanti, liat aja." Leodi jadi kesal karena ucapan Kia yang kadang juga agak keterlaluan.
Kia mengejeknya, "Sttt, terserah! Gampang aja kok, tinggal lari apa susahnya?!!" Jawabnya dengan sangat santai.
"Ahahaa, Kia! Lo jangan buat ngambek Leodi deh, entar dia gak mau temenan sama kita lagi!" Tegurku sambil tertawa.
Kia dan Leodi masih saja tak berhenti saling mencubit satu sama lainnya, bahkan mereka tak mendengar apa yang aku katakan pada mereka berdua.
BERSAMBUNG .....