L&M

L&M
BAB 14 : Leon sakit? part 2



Tak berselang beberapa detik kemudian, ada yang membuka pintu, saat ku lihat ternyata mama Leon. Aku sangat terkejut karena penampilan mama masih sama seperti delapan tahun yang lalu, aku seperti sedang melihat bidadari jatuh dari langit. Memang, ternyata ketampanan Leon turunan dari mama nya, kelopak mata mereka berdua juga tidak sipit seperti orang cina pada umumnya, itu yang membedakan pandanganku pada Leon.


"Eh, beneran Tiara?" Tanya mama dengan wajah senang.


Aku tersenyum, "Mama, iya dong. Ini, Tiara!" Jawabku.


"Kalau gak ada alat pengenalnya, mungkin mama akan nanya nih, karena kan kita udah lama gak bertemu. Sekarang kamu udah gak sering nangis lagi kan??"


Aku menggeleng, "Gak kok, mam. Tiara sekarang gak cengeng lagi, paling gampang kesel aja." Jawabku.


Iya, aku juga kesal sama putra mama yang bernama Leon Argata Putra.


"Tiara, yuk masuk! Leon di dalam lagi duduk di taman."Ajak mama sambil menggandeng tanganku untuk masuk kedalam rumahnya.


Aku mengikuti langkah mama sampai didalam rumah, aku sangat kagum melihat semua isi dalam rumah ini. Terlihat dari luar memang minimalis, tetapi yang aku lihat mataku sekarang saja tak bisa menjangkau semua bagian didalam sini.


Mama melepas genggaman tangannya sambil menatap dengan senyum di wajahnya, "Kita sudah didalam!" Ucapnya, "Itu, kamu tinggal berjalan beberapa langkah lagi ke depan dan belok kiri, nanti ada pintu kaca yang menghubungkan ke taman." Lanjutnya menjelaskan ke mana arah taman tempat Leon bersantai.


Aneh, sedang apa dia di sana?


Apa dia tidak istirahat saja? mengapa harus berada diluar rumah?!!


Aku tak peduli dengan hal itu, yang paling penting sekarang adalah aku harus bertemu dengan Leon Argata Putra. Aku melangkah cepat menuju ke arah yang ditujukan mama tadi padaku, aku sudah tak sabar ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki dingin berumur 19 tahun itu di taman rumahnya. Padahal dia sakit, tetapi tidak bisa diam di dalam kamar dan beristirahat?


Leon!! Leon!!


Aku baru saja bertemu kembali denganmu, tetapi mengapa malah buat aku jadi marah-marah terus??!


Aku tak percaya kamu benar anak laki-laki yang di taman delapan tahun yang lalu, aku sungguh tak percaya ....


Aku berhenti berlangkah dan kulihat di depanku makhluk sempurna yang sedang duduk di bawah meja berpayung yang ada di taman itu. "Leon! ngapain kamu duduk di situ?" Tanyaku sambil berjalan mendekat padanya.


Dia menoleh ke arahku, ternyata dia bukan hanya sekadar duduk di sana, tetapi dia sedang menulis sesuatu. Dia menatapku dengan tatapan dingin, lalu kembali fokus menulis, "Oh, beneran kamu, Tiara?"


"Apanya yang benar apa gak? kamu kira aku hanya menggertak mu?" Tanyaku lalu duduk di kursi kosong yang ada di depan Leon.


Aku menatapnya serius, dia juga balik menatapku serius, "Apa yang kamu lihat, Tiara? mengapa kamu kemari?" Ucapnya dengan nada pelan, lalu kembali lanjut menulis.


Lah, aku lagi kesal gini .... dia malah cuekin aku?!!


Memang Leon ini dingin kayak es batu!!


Siapa yang nanti bisa cairkan es di hatinya?


Karena aku kesal, aku merampas pena yang dia pakai untuk menulis dan mengabaikanku itu. Leon tidak marah, malah dia diam saja dengan tatapan dingin padaku. "Apa? kamu ingin pena ini kembali?" Tanyaku dengan wajah kesal.


"Tidak perlu, aku masih banyak pena lain. Lagian kerjaku sudah siap, masuk sana kedalam, jangan ganggu pikiranku Tiara!" Jawabnya dengan nada suara lemah.


Yang aku lihat wajahnya sekarang memang sangat pucat, cara dia bicara juga nadanya sudah tak seperti biasa, dan tadi saat dia menulis tangannya tak kuat menggenggam pena nya, makanya aku bisa merampas darinya. Aku tak mau buat masalah pada orang yang lagi sakit, jadi lebih baik aku kembalikan saja pena nya.


"Nih, aku juga gak butuh." Ucapku singkat sambil meletakkan pena di atas meja.


Dia menggeleng, "Terserah." Leon menyandarkan badannya di kursi yang didudukinya sambil memandang langit.


Dia meletakkan sebuah buku tulis yang tadi dia genggam di atas meja, karena aku penasaran, jadi aku baca saja mumpung juga Leon lagi tidak melihatnya. Aku bingung dengan tulisannya, mengapa sepertinya tidak asing ya??? Apa hanya perasaanku saja. Wah, aku baru ingat sekarang. Ternyata Leon menulis di buku itu menggunakan huruf mandarin, walau aku bisa berbicara bahasa mandarin, tetap saja aku tidak bisa membaca tulisannya itu.


"mengapa? tidak bisa membacanya?tetapi kemarin kamu bisa berbicara dengan .... "


"Lagipula aku bukan orang cina, jadi untuk apa aku harus mengetahui semua ini??"


Leon tersenyum kecil, "Terserah kamu saja, Tiara! tidak akan ada yang bisa melarangmu."


Sebentar, aku merasa wajahnya semakin pucat saja, apa hanya perasaanku saja?? perasaan hatiku jadi tak enak, aku langsung menggenggam tangan Leon, "Děng děng, wèishéme nǐ liǎnsè cāngbái? Apa karena aku melihat matahari terlalu lama?" Tanyaku semakin bingung dengan situasi ini semua.


Leon menatap sejenak genggaman tanganku itu, lalu dia melihat ke arah lain, "Kurasa sudah waktunya pindah ke dalam rumah, kalau kamu masih ingin di sini, terserah padamu!"


Aku lalu melepas genggaman tanganku padanya, barulah dia berdiri dari kursi itu, tanpa membawa alat tulis yang tadi dia bawa. Aku sekarang sungguh bingung, jika kalian jadi aku pasti kalian juga mengalami hal ini, kebingungan dalam hati. Atau apa karena aku masih bocah berumur 16 tahun yang lugu? Makanya aku tak tahu apa yang ada di pikiran Leon, dia kan sudah berumur 19 tahun? dia juga pintar, pasti dia tahu apa yang ada di pikiranku sekarang.


Saat dia baru saja melangkah, aku kembali menarik tangannya dan dia pun berhenti berjalan sambil menatapku dengan tatapan dinginnya, "Leon, aku hanya ingin bertanya sesuatu."


Aku .... ingin bertanya, apakah kamu sudah minum obat?


Wajahmu sangat pucat sekali, aku risih melihatnya.


Apa kamu tak bisa mendengar kata hatiku??


Aku menatap wajahnya dengan serius, genggaman tanganku pun semakin erat padanya, Leon terus memperhatikan genggaman tangannya itu. "Tanya apa, Tiara?"


Hah, dia sungguh tidak tahu? atau pura-pura tidak tahu?


Orang ini memang sulit ditebak, aku tidak mau terjebak padanya.


Leon!!


Aku terus bergumam dalam hati, pikiranku hanya fokus untuk mengetahui apa yang dia pikirkan sekarang ini, tetapi percuma sepertinya memang aku yang tidak waras lagi. Tentu saja tidak akan ada orang yang bisa mendengar kata hati dan pikiran orang lain, kecuali dia memang psikopat. Sedangkan Leon bukanlah orang yang semacam itu, untung mengekspresikan wajahnya sendiri saja tidak bisa bagaimana jadinya kalau dia memang psikopat??


"Anu, aku hanya ingin bertanya, apa kamu sudah minum obat?" Tanyaku dengan tatapan serius.


Leon melepas genggaman tanganku, "Belum, makanya itu sekarang sudah waktunya!" Jawabnya dengan wajah datar. "Aku masuk dulu ke dalam, Tiara. Aku akan beristirahat di atas saja, kalau kamu butuh sesuatu ada mama!" Lanjutnya, lalu berjalan meninggalkanku sendiri di taman itu.


Anehnya aku tak lagi berusaha untuk membuatnya tetap di dekatku, apa karena dia bilang akan istirahat? Menurutku itu sangat bagus, supaya dia juga bisa kembali beraktivitas seperti biasanya, dan mama juga tidak akan khawatir lagi padanya.


Hari pertama Leon masuk ke kampus, sama seperti pada saat aku akan kembali masuk sekolah setelah diliburkan sementara. Hah, sungguh membuat kepalaku pusing saja!! Aku belum mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan pada hari jum'at, aku sama sekali tidak memikirkan itu karena saking paniknya mendengar keadaan Leon yang drop tiba-tiba. Untung saja ada mama nya di sini, saat hari kedua Leon sudah masuk kampus, mama kembali pulang ke Jakarta, jadi Leon akan benar-benar sendiri didalam rumah aneh dan misterius ini.


Aih, mengapa aku malah melamun duduk di sini? 


Aku seharusnya masuk kedalam sesuai saran Leon, kan mama kasihan pasti gak ada yang bantuin kerjain semuanya.


Daripada aku gak punya kerjaan lain, mending aku membantu mama yang sedang memasak di dapur. Toh, aku juga lumayan bisa masak kok, tetapi kalau sudah masalah yang bikin meletup aku akan mundur saja. Ternyata memang benar mama sedang memasak di dapur, jadi aku langsung menghampirinya untuk membantu supaya pekerjaannya sedikit menjadi ringan. Soalnya kan entar juga aku bakal jadi ibu rumah tangga, udah mikirnya jauh banget padahal lulus sekolah aja belum.


tetapi emang benar sih, setinggi apapun wanita menjunjung pendidikan, pasti entar kerjanya di dapur juga. Bener gak nih???


Tadinya aku sempat berpikir untuk tidak sekolah loh, karena dibilang gitu. tetapi, kalau misalnya kita gak sekolah, bagaimana kita mau mengajarkan anak kita nanti??Nah, bingung juga kan?? Ah, masih lama!!udah pada bahas yang masih lama kejadiannya, bagiku masih 10 tahun lagi mungkin, baru akan kejadian sama aku.


tetapi, jodoh gak ada yang tahu.


Takdir juga sudah digariskan, sudah ada kodratnya.


Gak bisa kita mengubah semua yang sudah direncanakan oleh Tuhan untuk kehidupan kita.


Oke, jadi jalani saja semua dengan lapang dada dan jangan putus asa. Karena, Tuhan selalu memberi ujian kepada makhluknya berdasarkan pada tingkah kemampuannya. Jadi, untung Leon, memang kita berbeda kepercayaan, tetapi aku sama sekali tak mempermasalahkan itu sampai sekarang. Bahkan bukan cuman aku saja, keluargaku juga sudah menganggap keluarga Leon seperti keluarga sendiri, makanya keluargaku sangat akrab dengan keluarga si makhluk sempurna yang dingin itu.


BERSAMBUNG .....