L&M

L&M
BAB 16 : Ada di depan mata



Beberapa langkah aku ke depan, tiba-tiba terdengar suara dering sebuah hp dengan nada deringnya adalah lagu yang aku kenal. Oh, angin bisikkan padanya kucinta dia ..... Lagu itu pernah viral, aku saja sampai sekarang masih sering dengerin lagu itu. Rasanya pada saat aku memutar lagu itu, hatiku jadi lebih tenang, aku jadi semakin percaya diri, kalau mungkin di sana ada yang sedang menyayangiku.


Aku pun semakin cepat melangkah, dan apa yang aku dengar tadi ternyata dari ponsel Leon yang terletak di atas meja berbahan kayu yang sangat modern. Saat aku melirik ke samping kanan ku ada sebuah jendela kaca yang memantulkan cahaya matahari, dan juga ..... Leon?!!Ternyata Leon tertidur di sofa panjang yang ada di samping kananku itu, bahkan meja kayu di depanku ini berada di tengah dua sofa panjang.


Leon tidur di sofa ini kalau lagi di lantai atas? Apa badannya gak sakit, posisi tidurnya aja gitu??


Aku menatap serius Leon yang tertidur sambil menyilang kedua tangannya itu, kakinya yang panjang itu tampak lurus saja di sofa, tetapi kepalanya dia ganjal menggunakan sebuah bantal sofa. Kulihat wajahnya yang pucat itu tertutup oleh sinar matahari yang datang dari belakang sofa itu, aku ingin menjangkau nya karena wajahnya bukan sekadar pucat biasa.


Loh, aku ngerasa wajah Leon bukan pucat aja deh, tetapi apa ya?


Aku coba deketin deh ...


Aku pun berjalan mendekatinya sambil mengulurkan tangan kananku ke keningnya. Setelah tanganku menyentuh wajahnya yang pucat itu, ternyata benar. Tubuhnya juga panas, tetapi aneh sekali. mengapa dia berkeringat? Padahal seluruh ruangan yang ada di dalam rumahnya ini sudah terkena oleh AC, apa karena matahari yang masih bersinar itu?


Wah, gawat ini! Ini sudah benar-benar keanehan, sungguh aku tak mengerti.


Gejala orang sakit demam biasa kan gak kayak gini, kalau yang seperti ini apa dong???


Ah, aku bukan dokter. Lagipula dia sendiri yang paling tahu kondisinya, mengapa aku harus memikirkan terlalu jauh masalah ini.


Aku tak tahu harus melakukan apa supaya dia bisa sembuh lagi, tetapi untuk saat ini aku yakin kalau dengan istirahat sudah cukup membuatnya bangkit walau hanya sebentar saja. Ku turunkan tanganku dari keningnya itu, lalu kembali berdiri. Karena aku juga sudah lelah, aku merebahkan tubuhku di sofa yang ada di sebelah kiriku tadi sambil terus menatap wajahnya yang dingin itu.


Tiba-tiba jantungku kembali berdetak kencang, apa sepertinya aku sudah terkena serangan jantung? mengapa setiap kali melihatnya lebih detail, aku selalu merasakan bencana ini dalam hatiku?? apa mungkin orang lain juga merasakan seperti apa yang aku rasakan sekarang? atau hanya aku saja yang merasakan keanehan ini. Detik demi detik aku merasa sangat mengantuk, lama kelamaan aku terlelap dalam tidurku.


Tak lama setelah aku tertidur di sofa, tepat di depan leon, dia pun terbangun. dia langsung menghampiriku yang tertidur lelap di sofa yang tertutup cahaya matahari. Uraian rambutku menutupi wajah, Leon menyingkirkannya dari wajahku supaya dia bisa melihat dengan jelas.


"Ti, aku gak tahu harus mulai dari mana jika kamu tahu semuanya." Batinnya gelisah. Tatapannya tenang, saat dia membelai rambutku, aku sungguh tak merasa kalau ada yang menyentuh kepalaku.


Setelah itu, dia bergegas turun ke lantai bawah untuk menemui mamanya. dia meninggalkanku sendirian di sana, tetapi beberapa menit kemudian dia kembali lalu duduk di sofa sambil memperhatikanku dengan saksama.


Aku tak tahu apa yang terjadi saat aku tertidur tadi, tetapi yang jelas pada saat aku terbangun sekarang sekitar jam 3 sore, Leon duduk sambil menatap ke arahku. Karena aku terkejut, makanya aku langsung terbangun dari tidurku yang panjang itu. 


Dia tersenyum kecil dengan wajah yang masih pucat itu, "mengapa, Tiara?kamu terkejut lihat aku udah bangun duluan dari kamu?" Tanya Leon.


Aku pun langsung beranjak duduk sambil mengusap kedua mataku, "Huuahh, tidak. Aku hanya bingung saja, mengapa kamu duduk sambil menungguku bangun?"


"Aku tak melakukannya karena menunggumu bangun, Tiara."


Lalu, jadi apa sebenarnya niatmu??


Dia kembali tersenyum, lalu berdiri dari sofa yang dia duduki tadi. "Entah, aku juga gak tahu mengapa, sepertinya aku harus menunggu seorang gadis vanilla yang sedang tertidur di sofa ini." Jawabnya.


Wah, benarkah? Kamu tidak punya niat lain?


Siapa tahu saja, kan gak ada yang tahu isi hati orang lain.


Aku merasa kesal, tetapi tak bisa marah. Kurasa sifatnya memang begitu, kadang akan dingin dan super cuek, kadang juga bisa kayak gitu, aku tak bisa menggambarkan karakternya itu. Kalau aku bilang padanya, kalau sifatnya aneh nanti takutnya Leon akan marah padaku. tetapi, semenjak bertemu lagi dengannya, aku tak pernah melihat Leon menunjukkan wajah marahnya di depanku, bahkan ketika kemarin dia berhadapan dengan Rangga. Aku sama sekali tak melihat raut wajah marah, sedangkan Rangga sudah tak bisa menahan emosinya itu walau di depan mataku di antara mereka berdua.


"Tiara?" Leon menepuk bahuku sekali.


Ternyata aku melamun lagi, sudah kali keberapa aku melamun di depan Leon, aku tak bisa menghitung lagi. "Astaga, maaf! aku lupa, kamu habisnya bikin aku bingung sih." Ucapku dengan ketus.


Leon tersenyum sambil mengacak rambutku sekali, lalu dia berjalan meninggalkanku ke lantai bawah. "Iya, bawel. Aku turun ke bawah ya, mau mandi bentar!" Ucapnya sambil berjalan turun ke tangga.


Aku kembali merapikan tatanan rambutku, " Aih, untunglah rambutku pendek. Kalau rambutku panjang, Leon tamatlah!!" ucapku dengan perasaan kesal padanya. Aku pun turun mengikuti langkahnya itu, tetapi pada saat dia masuk kedalam kamarnya, ya gak mungkin kan aku harus masuk juga ke dalam sana??


Jadi aku berteriak di depan pintu kamarnya untuk memberitahukan sesuatu karena kekesalanku tadi, "Leon, kita belum selesai dengan pembicaraan tadi. Aku masih akan bertanya padamu, kamu harus jawab!"


"Aku tunggu di ruang makan ya." Teriakku.


Leon mengetuk pintu kamarnya dari dalam, "Iya, bentar." Jawabnya singkat dengan nada tersendat.


Pada saat aku ingin membalas ucapan singkatnya itu, aku merasa ada keanehan pada suara Leon saat menjawabku tadi. Sangat berbeda dengan suaranya yang jelas itu, yang tadi seperti samar-samar dan dipaksakan. Aku pun kembali mengetuk pintu kamarnya karena merasa khawatir, "Leon? Kamu gak apa-apa kan? kamu ....."


"Gak apa-apa kok, Ti. Aku cuman lagi kumat aja, biasalah!" Jawabnya.


Astaga, gejalanya itu kumat lagi? aduh, gimana dong? Dia mimisan lagi?


Mama? mama tadi di mana ya?


"Leon, mama di mana?" Tanyaku sambil melirik ke semua ruangan.


"Mama baru aja keluar tadi, katanya mau belanja." Jawabnya.


Aku semakin gelisah, karena bagaimana caranya lagi sekarang, Leon menutup pintu kamarnya aku jadi tak bisa melihat keadaannya. Semakin aku berusaha berpikir untuk menyuruhnya membuka pintu kamarnya itu, dadaku terasa sesak sekali, aku hampir tak bisa bernapas karenanya.


BERSAMBUNG .....