L&M

L&M
BAB 38 : Good bye, Malaikat penyembuhku



Bagai dua hati yang saling mencintai tapi tak saling percaya satu sama lain. Kami berdua benar-benar berusaha untuk tidak memulai topik pembicaraan yang bisa membuat kami berdua semakin memiliki rasa percaya.


Kadang, hatiku benar-benar ingin Leon pergi, tetapi aku juga tidak ingin ia pergi tanpaku. Aku tidak bisa ikut bersamanya, tugas kampusku membuatku tidak bisa menemani masa-masa sulitnya itu, itulah yang membuatku merasa bersalah pada Leon. Seharusnya aku mengambil cuti saja dan tetap ikut bersamanya, supaya aku bisa melihatnya di sana, dan aku bisa mengawasi kesembuhannya. Tetapi semua itu hanya mimpi saja, kenyataannya Leon pergi sendirian dan aku .... Hanya mengantarkannya ke bandara untuk pergi ke Singapura.


Saat ini Leon tengah sibuk menjawab telepon dari rekan-rekannya yang bekerja di rs, ia tampak senang sekaligus berusaha menyimpan kesedihannya itu dalam-dalam di hati. Entah sudah berapa kali aku merasa aku yang paling tidak berguna, aku tidak tahu. Leon lah yang paling banyak berusaha dalam hubungan kami berdua, aku baru sekali memperjuangkan hubungan kami, saat dia sudah tidak punya semangat untuk tetap hidup waktu itu.


"Oh, kalau masalah itu .... Saya gak, tahu sih. Coba tanya dokter Lily, aja dok!" Ia masih berbincang di teleponnya.


Aku hanya bisa duduk sambil memperhatikan raut wajahnya yang pucat itu. Esok aku tidak akan bisa melihat wajahnya itu lagi, menyentuh pipinya, memeluknya, atau pun menggandeng tangan dinginnya lagi. Semua itu akan lenyap, karena ia akan pergi, tidak tahu kapan akan kembalinya.


"Malaikat penyembuhku, aku sangat mencintaimu. Saking cintanya aku padamu, aku benar-benar serakah, hanya ingin kamu tetap bersamaku." Batinku dalam hati.


Ia menatapku dengan tatapan serius, aku pun juga hanya bisa diam. Perjalanan menuju ke bandara sama sekali tak ada percakapan di antara kami berdua, itu juga membuat bingung pak sopir yang melihat kami tak berinteraksi satu sama lain.


30 menit kemudian, kami sampai di Bandara Internasional Hang Nadim Batam .....


Setelah kami turun dari mobil, Leon juga tidak mengatakan apapun padaku, ia langsung mengambil koper dan tas ranselnya yang ada di dalam bagasi mobil bersama pak sopir taxi itu.


"Sudah? Tidak ada yang tertinggal lagi kan?" Tanya pak Sopir sambil tersenyum lembut.


Leon menggeleng, "Emm, tidak ada kok pak. Terima kasih, sudah mengantar saya sampai tujuan."


"Sama-sama, saya juga berterima kasih pada kalian berdua."


Aku melirik sekelilingku yang di penuhi oleh para penumpang pesawat yang lagi menunggu keberangkatan mereka. Ada juga yang tampak masih santai-santai dan saling berbincang. Leon menatap ke arahku dengan tatapan sedih, lalu ia berbicara lagi dengan pak sopir taxi itu.


"Pak, tugas bapak belum selesai!"


Bapak itu mengangguk mengerti, "Iya, saya tahu kok. Saya harus antar, non Tiara sampai di rumah."


Leon tersenyum kecil, "Iya, pak. Setelah itu bapak bisa pergi mencari penumpang lain, saya sudah mentransfer uangnya pada bapak."


Sopir taxi itu tampak senang mendengar hal yang dikatakan Leon. "Ah, Terima kasih. Kalau begitu, saya menunggu di mobil sampai nona Tiara kembali dari dalam."


Leon menghampiriku, aku langsung menatapnya dengan wajah datar. "Ayo, antar aku sampai di locket, setelah itu aku akan langsung masuk ke ruang tunggu di gate 5." Ucapnya padaku dengan nada pelan.


Aku masih diam saja padahal ia sudah berjalan menuju ke dalam bandara. Aku melihat langkah kakinya yang tidak ragu berjalan menuju ke depan, aku juga melihat dirinya semakin menjauh, dan aku tidak bisa menggapai tangannya lagi.


Tangan kananku mengarah ke depan, berusaha menggapainya, tetapi tidak bisa. Tatapan mataku sudah berkaca-kaca, tetapi mulutku tidak bisa berbicara sepatah katapun untuk menyuruhnya kembali dan menungguku.


Leon .....


Leon ????


Kamu gak dengar aku? Kenapa kamu gak berbalik? Kenapa kamu gak ngerasa kalau gak ada langkahku mengikutimu?


Apa kamu benar-benar tidak akan bisa bersamaku lagi?


Tetaplah menjadi kekasihku yang pertama dan terakhir! Aku tidak ingin mencintai orang lain.


Air mata jatuh ke wajahku, tanganku masih mengarah ke depan, mengharap bisa menggapai Leon. Seperti ada sesuatu yang membisiki telinganya, Leon berhenti melangkah dan melirik ke belakang, melihatku terdiam menatap ke arahnya yang sudah melangkah lebih dulu. Jarak antara kami berdua agak jauh, mungkin 10 meter lebih, aku tidak tahu pasti, yang jelas menurutku itu sudah sangat jauh dari pandangan mataku.


Leon menatapku dengan saksama, sepertinya ia menyadari kalau aku sedang menangis. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berjalan cepat kembali ke hadapanku, kedua tanganku bergerak ingin merasakan lagi untuk memeluk tubuhnya itu.


Leon melepaskan genggaman koper dan tas ranselnya itu, lalu memelukku dengan sangat erat. Rasanya hatiku langsung bergejolak, aku tidak bisa menahan perasaan sedih itu lagi. Akhirnya aku melampiaskannya pada Leon, di pelukannya, di depan semua orang yang tidak kami kenal di sana. Aku menangis tersedu-sedu, tidak bisa berkata-kata, dan Leon juga hanya bisa memelukku sambil membelai kepalaku dengan lembut.


Beberapa detik, rasanya lega sekali, aku melampiaskan perasaan tertekan ini padanya. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan kalau aku tidak ingin dia pergi, aku ingin dia selalu ada bersamaku, tetapi tidak akan pernah semudah itu. Dia harus menjalani pengobatan di Singapura, aku tidak tahu sampai kapan, tetapi yang jelas aku berjanji akan menunggunya sampai kapanpun itu, asal dia kembali padaku.


Perhatian! Perhatian! Kepada penumpang Garuda Indonesia, JT-00045, dengan tujuan Batam-Singapura, di harapkan menunggu di gate 5 karena 15 menit lagi pesawat akan berangkat. Terima kasih. Attention!  Attention!  To Garuda Indonesia passengers, JT-00045, with the aim of Batam-Singapore, it is expected to wait at gate 5 because in 15 minutes the plane will depart.  thanks you.


Aku melepas pelukannya, ia juga menghapus air mata yang ada di wajahku. Lalu ia menggandengku, berjalan masuk ke bandara, aku membantunya mendorong kopernya itu dengan kedua tanganku yang masih melemas. Setelah masuk, kami mengecek tiket Leon dulu di locket, aku melihat di layar tv yang tergantung di atas locket menunjukkan perjalanan yang akan di lakukan pada hari ini. Dan ada perjalanan pesawat Leon yang akan berangkat sebentar lagi, aku langsung berhenti melihat tv itu.


"Terima kasih." Ucap Leon dengan lembut pada salah satu petugas locket.


"Iya, silahkan ke ruang tunggu 5!"


Leon masih menggenggam tanganku, sambil berjalan ia memeriksa tiket dan juga paspornya itu. "Leon, tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanyaku dengan nada pelan.


Ia menatapku serius, "Ya, Ti. Tidak ada kok, aku sudah membawa semua keperluan di dalam tas dan koper." Jawabnya singkat.


Kami berjalan sampai di depan gate 5, yang artinya selain penumpang tidak akan di izin kan masuk ke dalam sana. Yang artinya, aku akan berhenti melangkah bersamanya di situ. Sejenak aku mencoba menahan tangisanku, dan menggenggam kedua tanganku erat, supaya aku tetap kuat untuk mengantarnya pergi.


Ia memasukkan kembali tiket dan paspornya di dalam tas, lalu berhenti berjalan. "Ti, maaf ya, kamu cuman bisa ngantar aku sampai sini aja. Gak apa-apa kan?" Tanya Leon dengan wajah sedih.


Aku mencoba lapang dada, lalu mengangguk. "Iya, gak apa-apa kok. Selain penumpang kan, emang gak boleh masuk."


Terlihat di wajahnya juga merasa berat dengan hal itu, tetapi Leon bisa menahan perasaan itu supaya tidak meluap seperti perasaan yang aku rasakan. Ia tersenyum, mencoba meyakinkanku kalau semua akan kembali baik-baik saja, walau tanpanya, walau tanpa senyumnya, dan walau tanpa diantar olehnya ke kampus, semua akan tetap baik-baik saja. Tetapi jika aku dan Leon tidak bertemu lagi, akankah kehidupanku tetap akan baik-baik saja?


Ia mendekat padaku, lalu mengecup keningku sekali. Aku menatapnya dengan wajah datar, ia tersenyum kecil padaku. "Tetap menjadi milik 'Malaikat penyembuh' ya! Tunggu aku kembali, aku akan langsung mencarimu." Ucapnya.


Aku tersenyum seraya menganggukkan kepalaku. "Iya, aku akan menunggumu, Leon." Jawabku berusaha menahan air mataku.


Leon pun berbalik dan berjalan perlahan menuju ke dalam gate 5, pergi meninggalkanku sendiri di tengah keramaian itu. Sesekali ia melirik ke belakang, lalu aku melambai padanya sambil tersenyum, padahal hatiku sangat rapuh sekarang.


Setelah Leon tak terlihat lagi oleh pandangan mataku, aku tak ada tujuan lagi untuk tetap menunggu di sana kan? Jadi, aku berjalan kembali keluar bandara karena sudah ditunggu juga oleh sopir taxi sejak tadi. Hatiku langsung terasa campur aduk, aku tidak tahu perasaanku sekarang seperti apa, yang jelas sangat kacau.


Untuk kesekian kalinya, aku menangis lagi karenanya. Tetapi, Leon juga yang membuatku tersenyum, dia adalah satu-satunya alasan mengapa sekarang hidupku terasa berwarna setiap harinya. Dan sepertinya sekarang, semua itu akan kembali suram dan kembali ke warna asalnya, hanya akan ada hitam dan putih, ya kan? Tidak ada lagi cahaya yang akan menuntunku ke jalan yang seharusnya aku ambil, aku hanya bisa menunggu sebuah keajaiban yang akan menghampiriku.


"Zàijiàn, wǒ de liáo yù tiānshǐ! Aku akan menunggumu sampai kapanpun itu." Batinku. Sambil berjalan aku menahan tangisanku supaya tidak terdengar oleh orang lain yang ada di sekitarku.


Tidak ada tempat untukku mengadu selain pada yang Maha Kuasa, aku benar-benar sendiri di dunia ini sekarang, kan? Aku langsung masuk ke dalam taxi, lalu menangis sekuat-kuatnya. Sopir taxi itu melirikku dari kaca spion depannya, wajahnya juga terlihat sedih, tetapi ia tidak bisa ikut campur dalam hubunganku dengan Leon.


BERSAMBUNG .....