
Aku pun melihat keadaan sekitar yang langsung kembali beraktivitas. Novi menegurku, dia tampak kecewa dengan tindakanku tadi. "Ti, apa yang kamu pikirkan itu sangat egois!"Ucapnya pelan sambil menatapku sinis, lalu dia langsung pergi meninggalkanku tanpa mendengar perkataanku lebih dulu.
Ada apa dengan Novi? Bukan hanya Rangga yang berubah, tetapi juga dengannya.
Dulu Novi, kamu tak seperti ini, kamu yang dulu selalu mendukung dan menemaniku jika aku sedang mendapat masalah.
tetapi mengapa sekarang aku merasa setiap kali aku berusaha memperbaiki Rangga dan bertengkar dengannya, kamu selalu marah denganku. Kamu bilang kalau aku egois?!!
Tidak, bukan aku yang egois. Ya, kan?!
Aku hanya diam memperhatikan punggungnya yang semakin lama semakin tidak terlihat oleh mataku. "Pemikiran kita tak bisa sama lagi, Nov. Kita sudah memiliki pemikiran dewasa masing-masing sekarang." Ucapku pelan, sambil berjalan perlahan meninggalkan kantin. Sepanjang jalan menuju kembali ke kelas, aku terus memikirkan apa yang sedang dihadapi oleh Rangga di Kantor Polisi bersama Leon. Aku berharap kalau dia tak habis membuat masalah! Aku harap dia tidak akan mendapat hukuman apapun di sana.
Lihatlah, aku sudah barzanj untuk tidak peduli lagi dengannya. tetapi apa? Sekarang aku sedang memperdulikannya, aku sungguh khawatir dengannya, dan aku sungguh ingin dia baik-baik saja. tetapi untuk kembali jadi yang dulu, aku tak bisa kalau kamu masih tidak berubah.
Rangga,....Dia penuh senyuman aneh, tetapi ternyata dia sedang menyembunyikan masalah terbesar dalam hidupnya dalam hati.
Leon,....Dia penuh kemisteriusan dalam hidupnya, tetapi aku sudah cukup memahaminya. Ternyata suasana hatinya tak misterius seperti senyum di wajahnya itu.
Dan aku,....adalah gadis yang takut akan terjadi sesuatu di antara Leon dan Rangga. Laki-laki yang pertama kali aku kenal adalah Leon, tetapi yang menemani Sekolahku adalah Rangga.
Walau kadang, dia sering melampiaskan emosinya padaku, karena aku sering melamun, tetapi Rangga tetap dirinya yang tak bisa berbuat apapun jika aku sudah menangis di depannya.
Begitu juga dengan Leon. Dia memang pernah barzanj tidak akan menampakkan emosinya di depanku, tetapi aku melihat waktu itu dia sunggug tak bisa menahan amarahnya, jadi aku tak menagih janjinya itu lagi.
Aku sudah masuk kedalam kelasku, aku menghentikan langkahku, duduk di tempat dudukku, dan kembali menangis dengan keras. Kelas sedang sepi, hanya ada aku sendiri di sana, aku bisa melampiaskan perasaanku sendirian tanpa ada yang menggangguku. Aku mengingat semua kejadian yang sudah aku lewati selama ini bersama dengan Leon, ada Rangga, dan juga Novi yang selalu ada di setiap kedipan mataku setiap harinya. Hatiku, jantungku, tanganku, kakiku, mataku, semuanya sudah sangat lelah! Aku ingin beristirahat sejenak, mungkin dengan menangis aku bisa meredakan semua rasa sakit yang aku hadapi. Aku meletakkan kepalaku di atas meja dan menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku ingin beristirahat untuk mengumpulkan kembali tenagaku.
Tak lama aku pun semakin terlelap dalam tidurku, aku tak tahu apapun yang terjadi setelah aku ketiduran di kelas. Berapa lama aku tidur pun, aku tak tahu. tetapi yang jelas, aku bermimpi tentang sesuatu yang membuatku semakin deras menangis. Aku terbaring di suatu tempat, terdengar jelas suara alat yang biasanya digunakan di ruang ICU untuk memantau kondisi pasien. Aku bingung, aku bangun dari tempat yang aku tiduri itu sambil melirik semua sisi ruangan.
Aduhh, mengapa kepalaku terasa sakit sekali? Apa yang sudah terjadi padaku, bukannya aku tadi ada di dalam kelas?
Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, berdenyut tak menentu, aku berusaha untuk menahan sakit itu. Aku masih tak mengerti di mana aku sekarang, aku turun dari tempat tidur itu seraya melangkahkan kaki ku perlahan-lahan untuk mengenali tempat ini. "di mana aku?"Tanyaku dengan langkah yang masih lemah. Aku memperhatikan baju yang aku pakai, ternyata bukanlah seragam Sekolah yang tadinya aku pakai. Pakaian yang aku pakai aneh, aku merasa ada yang aneh dengan pakaian ini, karena aku seperti mengenali hal ini.
Baju itu aku raba di bagian lengan kiriku, dengan wajah penuh kebingungan, aku tak tahu harus bertanya pada siapa di mana sebenarnya aku sekarang. Karena terfokus ke pakaian yang aku pakai, aku tak sadar kalau aku menabrak sebuah tempat tidur di ruang sebelah. Aduh, aku lupa kalau aku harus fokus berjalan. Sakit!!apa yang aku tabrak ini?Aku terus mengeluh dan banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku ini. Aku berusaha berdiri dan ku lihat di depan mataku ada sebuah alat yang namanya Pasien monitor. Leon pernah bilang tentang alat itu, katanya alat itu digunakan untuk di ruang ICU dan bisa dipantau melalui monitor tentang keadaan pasien. alat ini menggambarkan irama jantung, tekanan darah, suhu tubuh, kadar oksigen dalam darah, dan lain sebagainya.
tetapi tunggu! Kalau benar apa yang kulihat benda ini adalah Pasien monitor, berarti aku berada dalam ICU?
Bagaimana bisa? Aku tidak ke mana-mana sejak tadi. Aku hanya di dalam kelas dan tidur?!
Dan lagi, aku baru ingat, kalau baju yang sekarang aku pakai adalah pakaian rumah sakit yang digunakan untuk pasien. Baju ini berwarna biru muda bercampur putih dengan bercorak garis-garis halus. Lalu aku meratapi kedua telapak tanganku yang pucat dan dingin, aku juga meraba wajahku ternyata juga sama sangat dingin, dan di kepalaku ternyata.....ada luka, makanya kepalaku tadi terasa sakit. Apa yang sedang terjadi ini? Ya, Tuhan. Bisakah engkau menjelaskan keadaan yang hambamu hadapi ini?apakah ini ujian atau ini adalah bencana? Hatiku tiba-tiba bimbang dan dadaku terasa sesak.
Aku banyak melamun, aku melihat seseorang terbaring di atas tempat tidur pasien dengan banyak sekali alat pernafasan untuk membantunya bernapas. Aku melangkah maju dan mencoba mendekatinya, tetapi semakin ku mendekat semakin pula hati ini menjadi gelisah dan tak karuan rasanya. Aku sangat penasaran, jadi aku langsung menghampiri orang tersebut. Pada saat dekat, aku sudah bisa melihat wajahnya, sungguh aku tak percaya. Aku menangis sangat kencang, tak bisa menahan semua perasaan tak percayaku tentang yang terjadi saat ini.
Oh, semesta! Adakah dari kalian yang bisa menjelaskan situasi ini? Apakah ini nyata atau hanya mimpiku saja?
tetapi mimpi tak mungkin senyata ini, kan? Tak mungkin sejenas dan sedetail ini, kan??
Aku menggelengkan kepalaku sambil menangis karena tak percaya dengan siapa yang aku lihat sedang terbaring lemah itu. "Nggak, nggak mungkin dia kan? Ini pasti cuman mimpi?" Aku mendekati tubuh lemah dan menggenggam tangan dingin sosok itu dengan sangat erat.
Aku melihat dengan jelas kalau tangannya memang nyata, aku melihat di jari manis tangan kirinya terdapat sebuah cincin. Cincin yang aku dan Leon pakai, kami mempunyai cincin yang sama. Karena aku masih tak percaya, aku menyamakan cincin di tangan kirinya itu dengan yang aku pakai di jari manis tangan kananku. Dan hasilnya, Aku semakin kecewa dan tak percaya akan hal ini. "Leon? Leon?!bangun, aku gak mau lihat kamu di sini!bangun, buka matamu!"Aku menggoncangkan tubuhnya beberapa kali, aku berteriak sambil menangis untuk menyuruhnya segera bangun dari tidurnya itu.
"Bangun, Leon!!jangan tutup matamu. Aku kesepian, aku gak mau kamu juga pergi! Jangan tinggalin aku!" Teriakku histeris. Aku berkali-kali menghantukkan kepalaku pada lengannya itu, tetapi dia tak juga bangun. Ku lihat alat itu menunjukkan pergerakan jantung yang normal, tetapi dia tak juga bangun.
Beberapa detik ku diam sejenak sambil menatapi tubuh kakunya itu, "Untuk apa kamu tidur kaku di sini? Walau tanpa di sini pun kamu memang kaku, kan? Tunjukkan padaku kalau kamu bisa bangun, Leon?!jangan tinggalkan aku sendirian, kita sudah melewatinya bersama, tetapi kamu mau meninggalkanku?!" Setelah kata-kataku itu, tiba-tiba alat pasien monitor itu berbunyi dan garis yang ada di sana bergaris tak beraturan.
Aku kebingungan, tangan Leon yang ku genggam, lama-lama juga semakin dingin dan napasnya sesak. Aku mencoba memanggil namanya, tetapi dia tak sadar, aku pun semakin panik dan tak bisa berpikir. "Leon?kamu mengapa? Leon, kamu mengapa?!"Tanyaku.
Alat itu berbunyi sangat kencang sampai terdengar jelas ke telingaku. Tak lama dokter dan suster masuk ke ICU dan mereka langsung memeriksa keadaan Leon yang aku tak tahu mengapa, aku tak bisa menjelaskannya. Kalau kalian diposisiku, pasti kalian akan merasakan kebingungan dan juga panik yang tingkat tinggi, aku tak bisa berpikir jernih, ku hanya bisa menangis. Dokter itu menyuruh suster untuk membawaku ke ruang lain, aku tak mau, tetapi mereka tetap menarikku keluar dari sana.
Leon!! Leon!!! Bangun, aku gak mau sendirian lagi! Leon!!!
Aku sudah berusaha menolak untuk keluar, tetapi suster itu membawaku ke ruang pasien yang lain untuk sementara. Aku terus saja menangis tak berhenti sepanjang jalan menuju ke ruang lain, aku merasa khawatir tentang Leon. Aku takut dia akan benar-benar pergi dari kehidupanku dan meninggalkan nama di ingatanku. Aku di suruh berbaring di tempat tidur pasien, lalu suster itu menyuntikku dengan sesuatu sehingga membuatku mengantuk. Dan akhirnya aku benar-benar tertidur karena cairan itu, aku merasa jauh lebih tenang, tetapi aku masih memikirkan tentang Leon. Tubuhku tak bisa bangun, hanya arwahku saja yang masih tetap bangun, tetapi tak bisa melalukan apapun karena ragaku juga sedang di tidurkan.
Gelap.....tiba-tiba gelap! Semuanya yang ada di depanku gelap, aku tak bisa melihat apapun.
Sekarang di mana lagi aku? Aku akan pergi ke mana lagi?
Terdengar suara seseorang yang tak asing bagiku, bergema di telingaku. Aku berusaha mencari jalan untuk pergi ke sumber suara misterius itu, tetapi tak bisa, aku tak bisa melihat apapun. "Siapa di sana? Apakah ada orang?"Tanyaku sambil meraba semua arah yang aku lewati di depan.
TIARA!BANGUN, TI! KAMU BANGUN, KAMU MIMPI BURUK YA? TI, BANGUN! AKU DI SINI.
Aku panik, "Suara siapa itu?!di mana kamu?tunjukkan kalau kamu itu sebenarnya siapa?" aku menantang dengan penuh keberanian.
BERSAMBUNG .....