
"Hei, jangan lari kalian!" Teriak pak satpam ikut berlari mengejar mahasiswa yang membuat onar.
Kia yang khawatir padaku langsung bertanya padaku, "Tiara! Lo .... Gak kenapa-napa kan?"
Wajahnya khawatir. Aku menggelengkan kepala, "Tidak, kok. Gue baik-baik aja. Ini semua berkat ...." Aku menatap Leodi.
"Bukan karna gue kok. Di mana-mana kalau ada cewek ditengah keributan, ya harus di jagain." Sambung Leodi.
Setelah kejadian itu, kami bertiga langsung bergegas keluar dari kantin kampus supaya menghindari hal yang seperti itu lagi. Sepanjang perjalanan menuju ke gerbang depan kampus, kakiku tiba-tiba terasa kaku, aku tidak tahu kenapa.
Leodi dan Kia sudah berjalan lebih dulu dariku, aku ingin mengejar mereka, tapi aku tidak bisa. Aku berusaha menggerakkan kakiku, tetapi saat aku memaksanya, aku malah terjatuh dan tidak bisa bangkit.
"Kenapa? Ada apa dengan tubuhku?" Tanyaku dalam hati.
Berkali-kali kutatap telapak tanganku dan juga jenjangnya kakiku, mulutku juga tak bisa memanggil nama mereka supaya berhenti dan melihat keadaanku. Aku mengulurkan tanganku ke depan seraya berusaha mengeluarkan suara dari dalam tenggorokanku, tetapi tetap tidak bisa.
Leodi berhenti berjalan, diikuti oleh Kia yang juga merasa ada yang kurang dari mereka. Aku masih mengulurkan tanganku, tak lama Leodi melihatku dan langsung menghampiriku karena aku tampak kesulitan berjalan.
"Tiara, lo gpp, kan?" Tanya Leodi dengan wajah khawatir.
Kia mengambil uluran tanganku, "Yaampun, Ti. Lo bilang kek kalau jatuh, jangan diem aja."
Aku menggeleng, "Bukan. Gue juga gak tahu kenapa tadi kaki dan mulut gue gak bisa berfungsi." Jawabku pelan.
Mereka membantuku untuk kembali berdiri. Lalu kami pun langsung pergi meninggalkan lingkungan kampus. Aku dan Leodi menunggu Kia yang sedang mengambil mobilnya di parkiran seraya terus memijat kakiku yang masih terasa sakit.
Leodi memperhatikan tingkahku, "Tiara, kalau lo emang gak kuat berdiri, duduk aja gpp kali!" Ucapnya.
"Ah, gak kok. Gue baik-baik aja, ya cuman ini nih yang buat masalahnya." Jawabku menolak sarannya, padahal Leodi tampak khawatir pada keadaanku.
Tak lama menunggu, Mobil Kia datang ke hadapan kami berdua. Kia membuka kaca mobilnya, "Hei, kalian cepat masuk! Kita makan di tempat lain aja, sekalian gue antar balik deh."
Aku tersenyum, "Kia, serius nih? Ngerepotin lo banget gue dari tadi. Terutama, Leodi juga."
Leodi menanggapiku, "Santai aja, Ti. Gue gak merasa keberatan tuh."
Kia mengklakson mobilnya, Tiinnn!
"Kalian berdua malah diskusi, makin lama nih, perut gue udah lapar!" Kesal Kia.
Iya-iya, kita masuk ke mobil nih!" Ucapku pelan sambil membuka pintu mobil Kia.
Tetapi, tiba-tiba saja Rangga datang dan langsung menarik tanganku supaya aku ikut dengannya.
"Aghhh! Sakit, Rangga! Kamu kenapa sih?" Tanyaku teriak kesakitan.
Rangga menutup kembali pintu mobil Kia, "Ti, kamu balik sama aku aja! Kita juga harus bicara, ini penting banget!" Ujarnya cepat.
Aku menggeleng, "Gak, kamu pasti cuman mau aku ikut sama kamu aja kan? Kamu gak usah bohongin aku, Rang!" Aku bersikeras tak mau ikut dengannya.
Rangga menahan amarahnya, "Ti, serius! Ini soal kamu, aku, dan juga Leon. Kamu beneran gak mau tahu tentang itu?" Tanya Rangga.
"Memangnya ada apa dengan Leon? Ada apa sama kamu? Ada apa sama aku?" Aku balik bertanya padanya.
"Kita bahas sambil jalan, Ayo!" Rangga mengajakku pergi bersamanya.
Aku pun ikut berjalan dengannya, "Kia, Leodi! Maaf, aku gak bisa ikut kalian, aku ada urusan!" Teriakku sambil berjalan.
"Oke, gpp." Jawab Kia dengan lantang.
Rangga sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya itu. Kakiku padahal masih terasa sakit, tapi aku tetap berusaha berjalan mengejar langkahnya yang semakin cepat itu.
Ia berhenti berjalan lalu melihat ke arah kakiku, aku berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. "Kenapa kamu berjalan agak aneh? Kenapa kamu hanya diam saja dan seperti kesulitan mengejar langkahku?" Tanya Rangga.
Aku menunduk, "Ah, tidak apa-apa kok. Tadi aku hanya terjatuh sedikit, karna ramai di kantin. Tak masalah!" Jawabku sambil tersenyum.
Aku ikut memperhatikan dan menahan sedikit rasa sakit itu, "Iya, tapi itu tidak apa-apa. Paling besok sudah sembuh kok." Aku terus berusaha menghindar supaya Rangga tak terlalu khawatir tentang apa yang terjadi padaku.
Rangga menggerakkan kaki kiriku itu perlahan-lahan, aku langsung terkejut dan kakiku terasa sakit. Ia menatapku dengan wajah datar, "Kalau sudah begini, aku harus bagaimana denganmu?" Tanya Rangga.
Aku termenung memikirkan apa yang ia maksud itu. Aku diam, ia kembali berdiri seraya menggendongku, aku langsung terbangun dari lamunanku. Aku menatap matanya yang sangat dekat dengan wajahku, kedua tanganku saling mengikat satu sama lain supaya aku tidak terjatuh.
Ia berjalan perlahan sambil menggendongku, aku tahu semua orang memperhatikan Rangga yang bersikap seolah-olah pacarku. Karena aku tak mau melihat mereka semua, aku menyembunyikan wajahku di dada kiri Rangga, ia tak berhenti berjalan walau orang memperhatikan.
"Ya, Tuhan. Kenapa Rangga bersikap seperti ini padaku?" Batinku sambil menutup mataku.
Sesampainya di depan motornya, aku diturunkan dan kembali berdiri. "Kamu tidak perlu memperhatikan mereka! Lagipula apa urusannya coba?" Ia tanpa ragu langsung memakai helm dan menghidupkan mesin motornya.
Ia memberi syarat supaya aku segera naik ke atas motornya, tetapi aku hanya diam memperhatikan wajahnya.
Ia melambai di depan wajahku, "Hei, Tiara! Jangan kebiasaan melamun kamu! Cepat naik." Ia mengulurkan tangannya supaya aku bisa naik ke motornya.
Aku mengangguk, Lalu menggapai uluran tangannya dan segera naik ke motornya tanpa bicara apapun. Kami pun berjalan meninggalkan kampus, aku tidak tahu Rangga akan membawaku ke mana tapi aku yakin kalau dia tidak mungkin melukaiku. Aku sudah kenal padanya sejak SMP sampai sekarang, walau sikapnya kadang susah ditebak, tetapi Rangga adalah teman laki-laki yang dekat denganku selama kurang lebih 6 tahun lamanya.
Selama Rangga mengendarai motornya, aku sama sekali tidak berpegangan pada tubuhnya. Aku tetap meletakkan kedua tanganku di masing-masing samping pahaku. Ia tidak tampak terburu-buru membawa motornya itu, tetapi aku merasa ia benar-benar ingin mengatakan hal yang penting untukku.
Tak lama perjalanan, akhirnya kami sampai. Ia membawaku ke salah satu cafe yang dari luar saja sudah tampak sangat unik dengan bahan dasar kayu dengan hiasan klasik membuat cafe ini terlihat sangat mengagumkan.
"Rang, kenapa kita ke sini?" Tanyaku sambil memperhatikan sekitar.
Rangga menatapku serius, "Ya, kamu belum makan siang kan? Makanya kita lebih baik ke sini, sekalian aku akan memberitahumu sesuatu tentang Leon." Jelasnya panjang lebar.
Aku mengangguk, lalu kami pun masuk ke dalam cafe unik itu.
Setelah memesan makanan dan makanannya sudah ada di meja makan kami, aku dan Rangga langsung menyantap makanan itu tanpa berbicara satu sama lain.
Karena aku penasaran, walau aku sebenarnya juga sedang lapar, aku langsung bertanya pada Rangga. "Rangga, jelasin apa yang mau kamu bilang tentang Leon!" Perintahku seraya meletakkan sendok dan garfu yang aku pakai untuk makan tadi di atas meja.
Rangga pun berhenti melahap makanannya, "Iya, Ti. Aku gak akan lupa kok." Jawabnya singkat.
Aku sungguh sangat penasaran dengan apa yang akan ia katakan soal Leon padaku, kalau bukan karena ini aku tidak akan mau pergi dengannya. Ia menatap wajahku yang sudah tampak penasaran, "Ti, kamu gak akan bisa menghubungi Leon mulai saat ini!" Lanjutnya.
Aku terkejut, kedua mataku membesar, bibirku tak bisa bergerak untuk menanyakan hal lain pada Rangga. "Aku tahu kamu pasti bingung, kenapa gitu, kan?" Tanya Rangga.
"Iya, tentu saja aku bingung. Kenapa? Kenapa aku gak bisa menghubunginya sekarang atau nanti?" Aku balik bertanya.
"Alasan pertama, Kamu tahukan kalau Leon ke sana itu untuk menjalani pengobatan? Alasan kedua, kamu juga seharusnya tahu kalau kode negara kita berbeda dengan Singapura." Jelas Rangga panjang lebar.
Aku terdiam sambil menghela nafasku perlahan-lahan, berusaha menerima kabar yang dikatakan oleh Rangga padaku. "Apa aku sungguh tidak akan pernah bisa menghubunginya lagi? Apa aku tidak akan bisa melihat wajahnya lagi? Mendengar suaranya? Melihat senyuman di wajah dinginnya?!" Aku meninggikan nada suaraku karena begitu banyak pertanyaan di benakku ini.
Air mata mengalir di wajahku, Rangga hanya bisa menatapku dengan wajah sedih dan kecewa. "Maaf, Ti. Aku juga tidak tahu soal itu."
"Lalu bagaimana kamu bisa tahu informasi ini?"
"Aku diberitahu dari kak Daffa, kalau hanya pihak rs yang bisa menghubunginya untuk saat ini. Bahkan orang tuanya juga tak bisa menghubunginya, aku juga sudah mencoba tetapi tidak bisa." Jawabnya berusaha meyakinkanku.
Aku tidak bisa menahan perasaan sakit di hatiku saat mendengarkan penjelasan Rangga. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi, aku bingung apa aku benar-benar tidak bisa melihatnya lagi. Aku tidak mau kehilangan Leon di dalam kehidupanku, aku sungguh tidak rela.
Aku menggenggam kedua tanganku di atas meja, Rangga mengulurkan tangannya dan meletakkan tanganku di atas tangannya. "Ti, sangat sedih! Aku yakin Leon baik-baik saja sekarang ataupun nanti. Aku yakin kamu dan Leon pasti bisa bersatu lagi, aku yakin itu! Jadi, kamu juga harus yakin dengan cinta kalian."
Perasaan hatiku yang hancur, mulai perlahan-lahan kembali karena Rangga berusaha membuatku percaya akan kekuatan cinta yang ada di antara aku dan Leon.
BERSAMBUNG .....
Hai, para readers L&M!!! Aku sayang kalian semuanya, hehe.
Oh, iya. L&M sudah memasuki masa-masa yang akan semakin menegangkan nih, gimana kalian udah pada siap belum??? Harus tetap siap dong, ya. Soalnya walau kalian gak siap, author akan tetep update L&M tetap pada alurnya, hehe. Jadi, jangan sampai ketinggalan, ya! Terima kasih yang sudah membaca dan juga mendukung L&M, semoga kalian semua sehat selalu dan selalu setia menunggu L&M.