
Aku memperhatikan suasana sekeliling, ternyata ada beberapa orang yang melirik ke arah Leon, terutama perempuan. "Emm, Leon!kamu merasa gak kalau ...."
"Ya, aku tahu. Tidak usah dijelaskan lagi, Tiara!" Leon berbicara dengan nada pelan.
Aku tidak heran lagi kalau Leon sudah tahu, bagaimana tidak tahu kalau sejak awal memang dia yang selalu diperhatikan dan jadi pemandangan langka. Sedikit kesal sih, tetapi apa masalahnya denganku? Tiara, Tiara!!!
"Baguslah kalau kamu memang sudah menyadarinya, aku tidak perlu jelasin lagi."
Dia tersenyum, "Kamu kesal?" Tanya Leon.
Aku pura-pura membicarakan hal lain, "Apa? ... aku tidak tahu kamu suka apa gak sama tempat ini, tetapi yang jelas di sini nyaman."
Leon mengangguk, "Ya, di sini tenang. Aku merasa sangat tenang, hal yang membuat perasaan jadi lebih tenang." Jelasnya.
"Benarkah? Wah, berarti aku tidak salah membawa kamu kesini kan?" Ledekku sambil meminum seteguk sirup jeruk yang aku pesan tadi.
Dia hanya menatapku dengan tatapan dinginnya, padahal aku sudah berusaha untuk membuatnya tertawa, tetapi ternyata tidak berhasil. Memalukan, karena aku jadi tersenyum sendirian, Leon hanya duduk lalu menyantap makanannya itu tanpa menyinggung ucapanku tadi.
Aku baru ingat untuk melihat jam tanganku, sekarang sudah jam dua siang, biasanya jam segini kami pulang dari sekolah kalau belajar normal, tetapi karena tadi guru ada sebuah urusan makanya kami bisa pulang cepat dan libur dua hari.
"Sudah jam dua siang! Apa kita pulang sekarang?" Tanyaku dengan nada pelan sambil terus memperhatikan detik di jam tanganku.
Suara helaan napas terdengar jelas di telingaku seperti sedang sesak napas. Aku melirik ke arah meja orang lain, tetapi ternyata tidak ada yang bersikap seolah-olah menghela napas. Aku bingung, karena jawabannya ternyata bukan orang lain, tetapi ... " Leon?" Aku terkejut saat melihat wajah Leon sangat pucat sekali.
Aku mengencangkan suaraku, "Leon, kamu mengapa?" wajahku juga sangat terkejut sekali, aku tak bisa berkata-kata.
"Tiara, pelankan lah suaramu! Tenanglah!" Ucap Leon dengan napas tersendat. Sesekali Leon mengambil satu per satu lembaran tissue yang ada di meja kami, ternyata dia mimisan. Aku melihat banyak darah yang keluar, wajahnya juga terlihat sangat pucat seketika tadi.
Aku memperhatikan sekitar yang mulai memperhatikan kami berdua karena suaraku yang mungkin terlalu keras tadi, " Leon? kamu gak apa-apa?Muka kamu ....."
"Iya, aku tahu kok. Makanya kamu jangan panik dulu, Tiara!" Sambungnya mencoba menenangkan kecemasanku. Padahal dia yang sedang dalam masa sulit begitu, tetapi malah mencoba membuatku tenang.
Sungguh aku benar-benar terkejut sampai rasanya tadi aku ingin berteriak dan berdiri dari tempat dudukku untuk memanggil seseorang yang bisa memeriksa keadaannya. Tubuhku kaku, jantungku berdetak kencang karena ketakutan, mata dan mulutku juga tak bisa bergerak. Apa kamu tidak tahu Leon, saat ini aku sedang benar-benar merasa khawatir padamu? kamu kira ini persoalan biasa?
Aku terus memperhatikan apa yang dilakukannya, walau aku tak bisa membantu apapun, setidaknya aku harus bersikap tenang. Kulihat dan kuperhatikan dia memeriksa denyut nadi di tangan kirinya sendiri, wajahnya masih pucat, tetapi anehnya dia juga berkeringat padahal suasana di sini tidak panas. Sejenak aku berpikir, Leon benar-benar seorang dokter? dia masih muda, 19 tahun, tetapi kepintarannya dan juga tanggung jawabnya besar. Siapa wanita beruntung yang akan mendapatkan hatinya nanti? pasti wanita itu akan sangat beruntung. tetapi melihatnya kini seperti menderita sendirian, membuatku jadi berpikir panjang.
Menurutku, memang aku tak tahu apa yang membuatnya jadi seperti itu, tetapi aku yakin kalau Leon bisa membuat dirinya sendiri tenang, karena dia yang paling tahu keadaannya. Aku di sini, hanya bisa melihat dan bertanya apakah dia baik-baik saja, lalu semuanya selesai.
Beberapa menit menunggu, akhirnya wajahnya terlihat tidak pucat lagi. Aku pun langsung bertanya padanya, "Leon, sekarang sudah tidak apa?" Tanyaku dengan wajah khawatir.
"Beneran? emang tadi mengapa kamu bisa kayak gitu?"
Dia menggeleng, "Iya, udah biasa kok kayak gini. Kalau gak percaya, tanya sama mama atau papa aja nanti! Kamu kan kenal aku hanya saat di taman saja, kamu tidak tahu keadaanku diluar itu." Ucapnya.
"Kecapean? berarti fisikmu lemah?" Tanyaku semakin penasaran.
Dia kembali mengangguk, "Ya, fisikku memang lemah sejak dulu. Aku selalu tidak bisa melakukan sesuatu yang melelahkan sedikit saja."
Aku mengangguk mengerti, "Begitu ya? Baiklah, aku mengerti sekarang. " Aku tersenyum kecil padanya, " Lain kali kamu bilang, kalau kamu cepat lelah!" Lanjutku.
Dia membalas senyumanku dengan mencubit pipi kiriku, "Iya, bawel!" Ledeknya sambil berdiri dari kursi yang dia duduki tadi. "Ayo, katanya mau balik udah jam setengah tiga."
Dia berjalan menuju ke meja kasir, aku sudah berpikiran kalau dia akan membayar makanan yang tadi aku pesan untuk kami berdua. Karena langkah dan dia tinggi, jadi aku tidak bisa mencapai langkahnya dengan cepat. Ihh! kesal aku Leon!! tetapi ... ah, sudahlah terserah padanya aja!! Dia berhenti di meja kasir, sudah mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya tadi.
Aku berdiri di sampingnya sambil mencoba membuat Leon untuk tidak memakaikan kartu kreditnya untuk membayar makanan tadi, "Yǒu yīduàn shíjiān, zuì hǎo zhǐ bǎoliú nǐ de kǎ!" Saranku dengan bahasa mandarin.
Dia dan seorang penjaga kasir itu menatapku seperti patung, "Tidak masalah! Kamu ternyata bisa bahasa mandarin? Sejak kapan?" Tanya Leon sambil menahan tawanya.
Walau aku bilang begitu, tetap saja Leon menggunakan kartunya itu untuk membayar semuanya. Aah, aku sedikit kesal!!! mengapa aku sangat tidak rela kalau kartu itu dibelanjakan? padahal bukan punyaku juga pun. Transaksi selesai, aku hanya diam sambil memperhatikan sekeliling karena kesal.
"Untung saja Tiara tidak bertanya lebih banyak tentang kejadian tadi." Batin Leon sambil menghela napas.
Aku terus mengikutinya dari belakang hingga sampai di parkiran motor. Aneh, mengapa aku masih merasa kesal? Padahalkan uangnya yang dipakai untuk membayar, tetapi mengapa aku yang kesal?? Perasaan ini terus berputar di kepalaku sejak tadi, aku ingin membuka percakapan lagi dengan Leon setelah dari atas, tetapi mulutku tidak mau bergerak.
Dia memberikan helm di hadapanku, aku hanya menatap saja. "mengapa, Tiara?apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?" Tanya Leon dengan nada pelan sambil memakai helmnya.
Aku pun memakai helm itu, "Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak tahu mengapa denganku, apa kamu tahu?" Aku balik bertanya padanya.
Dia tersenyum kecil lalu menepuk kedua lenganku, "Kamu tidak salah bertanya padaku? Aku tidak bisa menjawab itu, Tiara." Jawabnya sambil menghidupkan mesin motornya itu.
Aku pun naik ke atas motornya, tetapi wajahku masih penasaran, aku jadi tidak ingin pulang ke rumah secepat ini. Sekarang masih jam tiga sore, Batam memang kecil tetapi masih banyak tempat yang bisa di jelajahi di Kota Kepulauan ini.
"Leon! Apa kamu sudah lelah sekarang? apa kita pulang saja?" Tanyaku dengan berat hati.
BERSAMBUNG .....