
Batam, 2019....
Sudah tiga tahun lamanya hubunganku dengan seorang makhluk sempurna itu. Sampai sekarang pun kadang aku benar tak percaya dengan kenyataan ini, kenyataan bahwa aku dan Leon sudah menjadi dua hati yang bersatu sekarang. Selama tiga tahun ini, kami berdua banyak menghadapi berbagai macam persoalan aneh dalam keseharian. Baik itu dengan orang yang di sekitar kami, ataupun teman-teman baruku di tempat kuliah.
Saat ini, aku baru saja masuk di Universitas UIB dengan mengambil jurusan sastra inggris. Sedangkan Leon, dia sudah lulus kuliah setahun lalu dan sekarang sedang melanjutkan mimpinya untuk mengejar titel dokter(dr.). Dia kan pintar, aku yakin dia pasti bisa melewati semua tugas yang diberikan pada dokter pembimbingnya, umurnya saja masih sangat muda. Tiga tahun yang lalu umurku 16 tahun dan dia 19 tahun, berarti sekarang kurang lebih dia berumur 21 tahun.
Kalian tahu apa saja yang kami lakukan selama tiga tahun? Yang aku dan Leon lakukan hanyalah melakukan hal yang sama seperti remaja pada umumnya, kami sering berjalan-jalan dan juga menonton film di bioskop. Aku juga jarang sekali menangis, kini juga ada yang agak berbeda dari Leon, dari dirinya yang aku kenal selama tiga tahun. Yaitu, senyum di wajahnya, senyum yang terukir di wajahnya kini tak lagi dia sembunyikan dariku. Bahkan hal itu tertangkap di kamera setiap kali kami pergi berjalan-jalan berdua, aku menyimpan foto itu di dalam kamarku lebih tepatnya ada di dalam laci tersimpan dengan rapi.
Pagi ini aku harus kembali bersekolah, Kali ini aku agak bersemangat karena yang akan mengantarku ke sekolah adalah Leon. Aku sangat senang karena dia tak pernah bisa melakukan itu semenjak aku masuk sekolah, ini adalah kesempatan pertamanya untuk mengantarku di pagi hari. Kalian tahu, melihat wajah dinginnya pada pagi hari saat akan sekolah itu adalah hadiah pertama dari saat aku bangun tidur.
Aku bergegas turun dari lantai dua sambil memegangi tas ranselku, "Tiara, jangan lari-lari!" Ucap bunda dengan wajah kesal.
Aku menoleh sejenak lalu kembali berjalan keluar dari dalam rumah, "Iya, bun. Tiara tahu kok, sekarang kan udah gak usah dibilangin!" Jawabku sambil tersenyum senang.
Saat aku berjalan ke tangga, ternyata Leon sedang mengobrol dengan Dhika, adikku yang menyebalkan di dunia ini. Dia lah teman berkelahiku jika di rumah, tetapi anehnya walau kami sering begitu tetap saja entar baikan sendiri tanpa harus minta maaf. Karena aku penasaran apa yang mereka bicarakan, aku pun menghampiri Leon dan Dhika.
"Pagi, Leon!" Sapaku sambil tersenyum manis.
Leon berhenti berbicara dengan Dhika lalu menjawab sapaanku dengan ramah, "Iya, Ti. Pagi juga!"Jawabnya dengan senyuman terukir di wajah dinginnya itu.
Aku diam termenung mengagumi ketampanannya itu, bodohnya aku tak menyadari hal itu sejak dulu. "Ti, melamun lagi?!"Ucap Dhika dengan ketus.
Aku pun berhenti menghayal, "Ah, apaan sih kamu?! Biarin, kan gak ada yang larang juga, aku kan bisa sadar sendiri!"Ucapku membalas ketus padanya.
"cihh, seterah kamu saja. Aku bilangin bunda entar, yaudah berangkat sana!"Ucapnya mengusirku.
Aku kesal, "Ihhh, siapa juga yang mau lama-lama di sini??"
Saat aku dan Dhika berdebat, Leon langsung membuka pintu mobilnya dan menarik tanganku. Aku terkejut, "maaf, Ti! Entar lagi aja ya berantemnya, soalnya entar telat!"Jelasnya dengan wajah datar.
Aku pun mengangguk mengerti, "Oh, iya. Sekarang sudah jam setengah delapan, aku harus cepat ke kampus. " Aku bergegas masuk kedalam mobil dan segera memasang sabuk pengaman, tak lama Leon pun menyusulku masuk ke mobil. tetapi dia tak memasang sabuk pengamannya, "Leon, pakai sabuk pengamanmu! "Usulku.
Dia baru saja menginjak pedal gas, tetapi karena aku bilang begitu dia langsung memasang sabuk pengaman itu. "Aku lupa, makasih udah ngingatin!" Ucapnya sambil tersenyum kecil, lalu segera menyetir mobilnya menuju ke sekolahku.
Huuufh, untunglah dia mau mengikuti apa yang aku katakan. Aku sungguh bersyukur padamu Tuhan, karena telah memberiku seorang malaikat penyembuh yang sangat tampan dan mengerti tentangku yang bodoh ini. Aku juga berterima kasih padamu semesta, karena kalian juga telah membantuku berangkat di pagi ini tanpa ada hujan yang akan menghambat perjalananku.
Perjalanan masih agak lama nih, Leon juga sedang sibuk nyetir. Apa yang harus aku lakukan? Emm, bingung....
Apa aku tanya aja sama Leon, tetapi tanya apaan? Aku gak tahu mau nanya apa entar dia marah lagi.
Aku coba ajak ngobrol aja deh biar gak sumpek.
Aku tak tahu apa yang dikatakan oleh temannya di percakapan mereka, aku hanya mendengar Leon menjawab percakapan itu. Sungguh menyebalkan, ini membuatku bosan!!! Entah berapa lama percakapan mereka aku tak menghitungnya, tetapi yang jelas hampir sampai di sekolahku sekarang.
Tak lama kemudian, barulah berakhir percakapan yang panjang itu. Dia langsung meletakkan earphone itu ke laci mobil lalu menatapku dengan wajah datar, "mengapa, Ti? kamu kesal aku cuekin kamu?" Tanya Leon sambil tersenyum kecil.
Aku menggeleng, "Gak, tuh. Kamu aja yang mikirnya gitu, aku bosan karena takut terlambat." Jawabku sambil melihat jam tangan.
Dia kembali melirikku, "Kamu gak bisa bohong, Ti! Aku udah kenal kamu gimana orangnya. maaf, Ti! tadi dokter Daffa kasih info untuk cepat ke RS, karena ada masalah." jelasnya lalu kembali fokus menyetir.
Ohh, gitu aja cara bujuknya? Okay, fine!you're the coldest doctor for me.
Aku hanya diam memperhatikannya menyetir, sungguh di dalam hatiku sekarang sangat merasa kesal tetapi aku tak bisa meluapkannya. Aku tak mau merusak pagi ini hanya karena masalah sepele, ya mungkin dia memang sibuk karena mengejar cita-citanya untuk menjadi dokter. tetapi jangan cuekin aku, Leon!!!!
Aku memendam dalam-dalam perasaan yang campur aduk itu jadi satu dalam hatiku sekarang. Karena aku sadar kalau aku sudah sampai di depan sekolah, Leon baru saja menepikan mobilnya tetapi aku masih saja diam padanya. dia balik menatapku dengan serius, aku pun mengalihkan pandanganku ke jendela mobil yang ada disampingku sambil menunjuk keluar.
Aku menepuk keningku, "Aku hampir lupa, aku udah telat nih. Kamu cepat pergi ya, soalnya ....." Aku panik, aku baru ingat kalau Leon keluar dari mobil dan banyak yang memperhatikan bisa kacau nanti. Dia kan gampang jadi pusat perhatian, apalagi aku belum pernah diantar sama Leon semenjak aku kuliah, aku juga belum cerita ke teman-teman di kampus soal dia.
tetapi sudah terlambat, Leon sudah keluar lebih dulu dari mobil, aku pun terpaksa cepat keluar untuk mengatakan hal itu padanya. Aku langsung memegang lengan kanannya dengan erat lalu menatapnya serius, "Leon! Kamu sebaiknya cepat ke rs deh, kan tadi juga udah dibilang harus cepat ke sana, entar telat loh!" Ucapku dengan wajah panik.
Leon bingung, dia tak mengerti dengan apa yang aku katakan padanya. "Iya, sih. Memang aku harus segera ke rs, tetapi mengapa kamu tiba-tiba panik gini? mengapa, Ti?" Tanya Leon sambil tersenyum kecil.
"Nanti saja kita bicarakan, sekarang kamu cepat masuk ke mobil!!" Jawabku sambil mendorong tubuhnya ke depan pintu mobil.
Dia masih saja menatapku dengan penuh kebingungan, padahal sudah banyak yang mulai memperhatikan kami berdua di sini. "Cepat, Leon!!"
Aihh, mengapa Leon tak peka- peka sih?? Emang dia gak lihat ya banyak mata yang lihatin dari tadi??
Oh, semesta. Tolong berpihaklah lagi padaku, aku ingin semua ini tak terjadi lebih rumit!!!
Aku masih berusaha membuat Leon untuk cepat masuk kedalam mobilnya, tetapi dia semakin kebingungan dan malah menyuruhku untuk menjelaskan secara detail apa yang aku maksud padanya. "Leon, tidak ada waktu! Cepat masuk ke mobil, atau kita berdua tidak akan pernah bisa bergerak ke mana-mana. Kamu ngerti?!" Ucapku berbisik padanya.
Leon membuka pintu mobilnya, "Oh, begitu. mengapa kamu tidak jelaskan padaku sejak tadi? Baiklah, aku pergi dulu!" Sapanya dengan wajah dingin.
Pada saat Leon baru saja akan masuk kedalam mobil, aku menarik tangannya. Aku ingin berbicara padanya sebentar, "Leon, kamu ...."
"Ah, aku tahu. Kamu pulang jam 5 sore kan? Aku jemput kamu, tetapi jika aku tak bisa, aku akan segera menghubungimu. Aku pergi dulu, Ti!" Sambungnya dengan cepat sambil menunjukkan senyum dinginnya itu padaku.
BERSAMBUNG .....