L&M

L&M
BAB 40 : OH, Leodi?



Suasana kelas kembali seperti semula, mereka berdiskusi dengan nada suara yang tidak terlalu besar jadi suasananya tidak memanas seperti tadi. Kalau saja tidak ada pria ini, pasti aku akan langsung pergi ke toilet karena aku tak kuat mendengar suara pecah di mana-mana.


Teman perempuan yang duduk di depanku tadi berbalik dan memperhatikan wajahku dengan saksama, "Emm, Tiara kan? Lo mau gak sekelompok sama gue?" Tanya perempuan ini dengan wajah berseri-seri.


Aku mulai kebingungan, "Emm, bagaimana ya? .... Gue mau ....."


"Oh, apa lo mau gue ajak Leodi juga, biar sekelompok sama kita?" Ia langsung memotong ucapanku.


Dengan semangat ia menunjuk ke pria yang ada di sampingku itu. Sontak aku langsung memperhatikannya dengan sangat saksama, karena ternyata namanya adalah LEODI! Nama yang benar-benar bisa membuatku salah menyebut namanya nanti, aku hampir stress jika begitu.


"Tiara, mau ya? Leodi, lo juga gimana? Mau gak masuk kelompok gue, cepetan keburu bapak datang!"


Leodi tampak mempertimbangkan tawaran itu, "Emm, gimana ya ...."


"Aishh, ayo lah guys! Kerja sama, biar nilai kita juga bagus nih!"


Aku dan Leodi saling menatap, aku langsung membuang pandanganku ke arah yang lain. "Ah, yasudah lah! Tulis namaku dengan benar ya, namaku Mutiara Nabila."


Ia senang, "Oke, Tiara. Btw, gue Nira Zazkia. Panggil aja gue Kia, biar deket, hehe! Gue tulis nama lo ya, terus Leodi, gimana lo?"


"Tulis nama gue Leodi Janshen. Kalau buat kelompok yang serius ya, Kia! Gue gak mau main-main kalau soal nilai." Ucap Leodi dengan wajah serius.


Kia memberi hormat padanya, "Oke, siap, komandan! Gue tulis nama lo berdua ya, abis tu gue antar ke depan." Ia tampak semakin semangat.


Ternyata aku benar-benar belum mengenal teman jurusan sastra dengan baik, begitu banyak yang belum aku kenali di kelas ini. Tentu saja aku selama ini hanya berteman dengan Novi atau Rangga yang berbeda jurusan dan kelas denganku. Mereka tahu namaku tetapi aku tidak kenal mereka, bahkan sepertinya aku hanya memikirkan diriku sendiri.


Aku mengechek ponsel, siapa tahu ada pemberitahuan dari chat Leon, ternyata tidak ada sama sekali. Leodi memperhatikanku, ia sepertinya tahu kalau aku sedang kecewa sekarang.


"Tiara, lo kenapa lagi? Mikirin apa?" Tanya Leodi dengan nada pelan.


Aku menggeleng sambil tersenyum, "gak papa kok, gue cuman kangen seseorang aja, hehe." Jawabku.


"Oh, gitu. Doain aja semoga dia baik-baik aja, Tiara. Kita gak tahu kapan waktu kita akan berhenti, kan?"


Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Leodi, bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini, mengakhiri kisah hidup kita, dan kisah yang lainnya. "Ya, aku selalu mendoakannya kok, bahkan aku tidak tahu berapa banyak."


Ia tersenyum kecil, senyuman Leodi sangat indah sekali, seperti bunga mawar yang mekar perlahan-lahan. Kami sibuk mengobrol sampai tak ingat waktu, ternyata pak dosen sudah duduk lagi di tempat duduknya sambil melihat kertas daftar nama kelompok yang sudah dikumpulkan tadi.


"Oke, ini sudah ada 6 kelompok ya. Jadi, kalian akan melakukan presentasi hasil kerja kelompok kalian pada pertemuan kita selanjutnya. Kita tidak memakai urutan kelompok, jadi bapak akan mengacak kelompoknya, makanya minggu depan kalian harus benar-benar siap." Jelas pak dosen panjang lebar.


Ia pun berdiri dari kursinya, "Baiklah, karena waktunya sudah mau istirahat, bapak akhiri saja sampai sini pertemuan kita, selamat pagi!"


"Pagi juga, pak!"


Semuanya langsung bergegas mengemas barang-barang mereka dan keluar dari dalam kelas. Sebagian ada yang masih duduk sambil berbincang dengan temannya, karena mereka ada kelas sastra tambahan, artinya mereka juga bisa saja sekelas dengan anak yang masuk siang.


Aku dan Leodi juga sibuk mengemas peralatan kami, "Eh, Tiara! Ke kantin bareng yuk, kita udah satu kelas berapa kali coba, tapi kayak baru kenal aja." Ajaknya dengan penuh percaya diri.


Aku memakai tas ranselku, "Ya, bagaimana lagi, gue kan selama ini main sama anak jurusan lain." Jawabku singkat.


"Ah, gitu ya. Emm, iya sih, kata anak-anak lain yang liat lo lagi deket sama anak jurusan komputer itu kan?"


"Gak, kok. Kami udah temenan dari SMP, makanya bisa deket gitu."


Pada saat aku dan Kia sedang mengobrol, ternyata Leodi juga dihampiri teman-temannya yang mengajaknya ke kantin bersama, tetapi tampaknya ia menolak tawaran itu.


"Oke, bro. Kami duluan ya!"


"Iya, santai aja lah."


Leodi tersenyum, "Yaudah, tunggu apa lagi? Ayo!"


Kami bertiga pun segera pergi menuju ke kantin kampus. Di sana ramai sekali, tentu saja karena anak pagi dan anak siang bergabung. Kami baru saja keluar dari kelas, sedangkan anak siang baru saja datang dan sekitar 1 jam lagi mereka akan memasuki kelas siang.


Sepanjang perjalanan ke kantin, Kia sibuk membicarakan tentang Leodi. Leodi yang ganteng lah, yang gentle men lah, perhatian, tanggung jawab, gak pelit, semuanya ia bicarakan padaku. Aku berusaha mendengarkan dengan baik apa yang di katakan oleh Kia, tetapi bagaimana bisa aku tetap tenang kalau orang yang sedang dibicarakannya itu berada di sampingku terus sejak tadi.


Tapi untunglah, sepertinya Leodi tak mendengar apa yang dikatakan oleh Kia padaku tentang dirinya.  Setiap berjalan, ia selalu di tegur oleh teman-temannya yang tampak ramah, jadi dia tidak mungkin mendengar pembicaraanku dan Kia.


Kia menepuk bahuku dan menunjuk ke salah satu bangku yang masih kosong. "Tiara, Leodi, kita duduk di sana aja yuk? Belum ada yang duduk di sana soalnya." Ajaknya.


Aku mengangguk, "Ya, terserah kamu aja deh. Aku ikut aja, yang penting bisa makan." Jawabku.


"Kalau lo gimana, Leodi?"


"Ya, ayok lah!"


Kami bertiga pun berjalan menuju ke bangku tersebut, mejanya berukuran sedang dan kursinya hanya ada empat, yang artinya tidak bisa untuk jumlah orang yang ramai.


Aku dan Kia meletakkan tas di kursi, "Emm, Leodi, lo tunggu sini aja ya! Gue sama Tiara yang ambil makanannya, biar tempat kita gak diambil." Usulnya dengan nada pelan.


Leodi menggeleng lalu berdiri dari kursinya, "Gak bisa gitu, lebih baik lo aja yang nunggu di sini. Emang lo bisa bawa dua porsi makanan? Di sini rame, belum lagi tangan lo kecil, entar yang ada malah tumpah tahu."


"Emm, bener juga sih. Aku sama Leodi aja deh yang ambil makanan sama minumannya, biar lo nunggu sini!" Aku ikut-ikut berkomentar.


Kia menatap wajahku dan juga Leodi dengan sangat serius, lalu ia tersenyum kecil. "Oalah, iya deh. Gue paham, dah kalian aja deh yang ambil sana! Tapi hati-hati aja ya."


Melihat ekspresi Kia yang tampak seperti itu, membuat hatiku tak bisa menerimanya. Dia sangat mencurigakan sekali, apa yang ia pikirkan di dalam otak kecilnya itu? Awas saja dia berpikir yang tidak-tidak soal aku dan juga Leodi.


"Baiklah, jaga meja kita baik-baik, jangan sampai lo yang diusir. Ayo, Tiara! Kita ke sana." Ajak Leodi padaku dengan nada lembut.


Aku mengangguk, pada saat kami baru saja akan melangkah pergi ke pemesanan makanan, tiba-tiba dari arah kananku datang mahasiswa laki-laki berlarian menuju ke arah aku dan juga Leodi. Bahkan ada yang berlari sambil membawa piring almunium makanan mereka, aku tidak bisa bergerak karena takut akan kena dorong dengan mereka.


Aihh, kenapa setan-setan ini bisa berlarian di tengah keramaian gini sih? Gak ada tata krama banget deh, kalau orang jatuh gimana? Pasti cuman minta maaf doang.


Kia yang duduk memperhatikan orang-orang itu pun menarik tanganku untuk mundur supaya mereka semua bisa lewat. Aku hanya diam, telingaku lagi-lagi merasa sakit karena mendengar keributan yang mereka lakukan di depanku. "Leon, bagaimana caranya aku menghadapi orang-orang ini? Aku tidak bisa!" Batinku sambil menutup kedua telinga dan mataku.


We, awas! Jangan ditengah jalan lah, mau lewat nih!


Bang**t lo yang awas an**ng!


Woi, ini kantin loh! Kenapa larian gitu setan?!


Awaslah asu! Diam lahh!


Leodi yang berdiri di depanku memperhatikan orang-orang yang lewat di depannya itu dengan saksama. Saking ributnya, mereka semua jadi berkelahi, yang membawa makanan menumpahkan makanannya kepada musuhnya itu. Bahkan tempat makannya pun dipakai untuk menyerang orang lain, semua orang yang makan di kantin itu panik, mereka juga melempari segerombolan orang yang berkelahi itu karena membuat keributan.


Aku berdiri terdiam sambil menutup telinga dan mataku, sedangkan yang lainnya sibuk dengan keributan itu. Saat aku baru membuka mataku lagi, tiba-tiba dari atas datang berbagai makanan beserta tempatnya menuju ke arahku. Tentu saja aku ingin menghindarinya, tetapi pada saat aku baru saja akan pergi, Leodi berbalik dan melindungiku supaya tidak terkena benda apapun yang dilempar.


"Tiara, Leodi! Astaga, gimana nih? Kepala lo gimana tuh Leodi?!" Teriak Kia yang panik melihat Leodi mempertaruhkan tubuhnya untuk melindungiku.


Aku terdiam sambil menatap wajahnya yang tidak berekspresi itu. Aku lagi-lagi ingat dengan kekasihku Leon, yang sedang berjuang sendirian untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Leon akan bersikap begini, saat aku dalam bahaya ia lah yang akan melindungiku sekuat tenaganya. Tapi sekarang, jangankan ia berada di sini, bayangannya saja pun tak bisa kulihat lagi.


"Ada apa ini?!" Teriak lantang satpam kampus yang mendapati kantin ricuh seperti itu.


Semua langsung berlarian meninggalkan kantin karena takut mendapat hukuman jika tertangkap dengan satpam itu.


BERSAMBUNG .....