
Aku lama-lama terduduk kaku di depan pintu itu, aku tak tahu harus berbuat apa. "Leon, kamu gak bisa buka pintu ini? Aku mau lihat kamu baik-baik aja." Usulku dengan nada suaraku yang bergetar.
Entah apa yang sedang dilakukannya di dalam sana, aku tak akan pernah tahu jika Leon tidak membuka pintu ini untukku. "tetapi, Ti? Kalau aku buka pintunya, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Leon dengan nada melemah.
Tuh, kan. Aku paling gak bisa disuruh jawab yang kayak gini Leon, aku paling gak bisa ......
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelah aku bisa melihatmu di balik pintu ini ......
"Leon, aku gak tahu. Buka saja dulu pintu ini!"
"Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya sejak tadi. Aku tidak di belakang pintu, Ti. Aku ....."
Tiba-tiba air mataku langsung jatuh begitu saja dari wajahku, aku tak mengerti, aku sangat panik. Aku terus mengetuk pintu kamarnya dan berusaha menyuruh Leon untuk membuka pintu kamarnya itu, tetapi dia tidak bisa melakukannya.
"tetapi, apa pintu kamu kunci dari dalam?"
"Iya, aku kunci dari sini. maaf, Ti! Aku mungkin memang selalu gak bisa lakuin apa aja yang seharusnya bisa aku lakuin sampai lelah sekalipun." Ucapnya menyesal karena dia tidak bisa seperti anak yang normal, yang bisa melakukan semuanya tanpa harus khawatir tubuhnya akan melemah tiba-tiba.
Tentu saja siapa yang tidak merasa putus asa jika tubuh yang mereka punya itu tak sanggup melakukan semua hal yang diinginkan. Di dunia ini kita semua dipersiapkan untuk mencari bekal menuju alam yang abadi di sisi-Nya selamanya. Bahkan bukan Leon saja, aku saja kadang masih suka mengeluh pada kehidupan yang aku hadapi sekarang ini, aku selalu bertengkar dengan perasaanku sendiri.
tetapi aku tak tahu apa alasanku menangis, hatiku juga seperti tertusuk anak panah yang sangat tajam bertubi-tubi. "Tiara, kalau tidak salah ada kunci cadangan di atas kulkas. "Ucapnya.
"Di atas kulkas?" Tanyaku sambil melihat sebuah kulkas yang ada di dapur, tanpa berpikir panjang lagi aku langsung berlari untuk mencari kunci itu. "Aku akan cari di sana, kamu tunggu ya?!"
Aku menghampiri kulkas itu, ternyata tak semudah yang aku pikirkan tadi. Kulkas ini sangat besar dan juga tinggi, bagaimana caranya aku mengambil kunci cadangan yang di simpan di atas kulkas ini? Tinggi badanku tak mendukung, aku masih 158 cm, sedangkan kulkas ini kurasa sudah melebihi 180 cm bahkan mungkin Leon pun lewat dibuatnya.
Aku harus cari kursi, ya kan?
Pas sekali, ada sebuah kursi yang bisa membantuku mengambil kunci itu di atas sana. Aku mendorong kursi itu ke depan kulkas, lalu aku naik di atasnya untuk mencari kunci itu. Aku mencari di mana kunci itu diletakkan sambil merabanya, karena walau aku sudah pakai kursi pun masih saja tak bisa menjangkaunya.
tetapi, karena bantuan Tuhan akhirnya aku menemukan kunci itu dari atas sana. Aku langsung turun dari kursi dan berlari ke pintu kamar Leon secepat mungkin yang aku bisa. "Leon, aku udah bertemu kuncinya. Bertahan sebentar lagi, aku akan masuk!!" Ucapku dengan cepat sambil mencoba membuka pintu itu.
Sedangkan Leon di dalam kamarnya sudah tak berdaya, dia lagi-lagi mimisan, dia tak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk berdiri ke tempat tidurnya pun tak bisa, apalagi membuka pintu untukku. "Apa ini saatnya aku memberitahunya?" Batinnya sambil memperhatikan telapak tangannya yang sudah penuh darah.
Seluruh tubuhku bergetar, jantungku berdetak kencang. tetapi, aku tak bisa bernafas, rasanya dadaku masih sesak. Air mataku juga terus mengalir di wajahku, bahkan pada saat ini juga masih terasa bencana besar terjadi di dalam kepalaku ini.
"Cepat, terbuka!" Ucapku dengan rasa putus asa yang sudah mau meledak di kepalaku ini, rasanya sakit.
Beberapa detik kemudian, pintu akhirnya bisa terbuka. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari masuk dan kulihat Leon menyandarkan tubuhnya di depan tempat tidurnya itu. Aku memeluknya erat, dia sudah tertidur. Aku rasa, aku sudah terlambat untuk melihatnya, aku memang tidak bisa diandalkan kalau soal pekerjaan seperti detektif ini.
"Leon, kamu cuman pingsan aja kan? Kamu gak mengapa-mengapa kan?" Tanyaku sambil menangis.
Aku menangis semakin deras, begitu juga pelukanku padanya. Pada tubuh dinginnya itu, aku tak peduli apa yang akan dia katakan padaku karena memeluknya, aku tak bisa berpikir apapun lagi sekarang. Jalan di kepalaku sudah buntu, aku hanya bisa menangis dan memeluknya, inikah diriku yang sebenarnya tersembunyi di dalam hatiku? Mutiara Nabila yang selalu menangis, hanya bisa menangis, dan menangis. Pada saat dulu, pertama kali kenal dengan Leon, aku juga menangis di depannya, dan kini aku melakukannya lagi setelah dua belas tahun aku menyembunyikan Tiara yang dulu pernah mengenal Leon.
Leon, apa sekarang ini kamu merasakan Tiara yang dulu?
Gadis kecil yang suka menangis sendiri di Taman dan kamu menghampiriku dengan senyum, ajakan dan juga janjimu padaku???
Aku ingat, aku yang berbeda! Bukan kamu Leon, bukan kamu!
Kamu yang tidak mengenalku, karena aku bukanlah gadis kecil yang waktu itu kamu temui kan?
Aku terus bertengkar dengan hatiku sendiri, aku menangis keras sambil memeluknya. "Aku yang beda, Leon. Bukan kamu!" Ucapku pelan.
Aku sadar sekarang, mengapa kamu menyembunyikan masalahmu dalam senyum itu. Karena, aku tahu kalau kamu sengaja menyembunyikan masalahmu supaya aku tak tahu kan? Aku juga tahu sekarang, kalau kamu sebenarnya sedang berusaha membuatku kembali menjadi Mutiara yang dulu, Mutiara yang selalu inginkan kehadiranmu.
"Tiara? mengapa kamu menangis?" Tanya Leon dengan nada suara lemah.
Aku menghapus air mataku dan menatap wajahnya itu, "Tentu saja aku akan menangis jika melihatmu begini, apa yang kamu pikirkan?!!" Jawabku sambil berusaha menahan air mataku keluar lagi.
Dia tersenyum kecil, bahkan saat seperti ini pun dia masih bisa berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu. "Aku tidak akan mati semudah ini, Tiara. Aku tahu masih banyak hal yang harus aku jaga di dunia ini, masih banyak!" Dia menatap wajahku dengan serius, lalu menghapus air yang ada di wajahku dengan telapak tangan dinginnya itu.
"Saking terlalu banyak yang harus aku jaga, tubuhku tak kuat menopangnya. " Lanjutnya singkat.
Aku melepas pelukanku padanya, lalu duduk disamping kanannya sambil menyandarkan kepalaku di bahunya itu. Jika kalian bertanya apa yang aku rasakan sekarang, itu sangat membuat hatiku lelah, jantungku juga tak juga berhenti berdetak kencang sejak tadi. tetapi, saat ini berada disampingnya membuatku merasa jauh lebih baik dan merasa ketenangan yang tadi membuatku hampir kehilangan akal.
"Leon, mulai saat ini jangan berusaha keras membuatku kembali jadi gadis es krim vanila itu, Okay?!" Usulku padanya sambil memeluk lengan kanannya itu.
Leon membelai rambutku dengan lembut, " Iya, baiklah. Aku tidak akan lakukan hal bodoh itu lagi, karena sekarang aku tahu kalau gadis disampingku ini adalah 'gadis di taman waktu itu'. "Jawabnya.
" Oh, iya. Dan jangan lupa juga, kamu jangan membiarkan dirimu tersiksa sendirian di dalam sini lagi." Ucapku berusaha membuatnya tak melakukan hal gila ini lagi lain kali, apalagi kalau lagi denganku. "Kalau kamu memang lebih mengenal Tiara yang dulu, kamu pasti tahu alasannya kan?" Lanjutku sambil menundukkan kepala saat bersandar di bahunya itu.
"Shì de, wǒ lǐjiě nǐ de yìsi. No need to explain anything to me, Tiara. I know you better." Jawabnya dengan nada pelan sambil menyandarkan kepalanya di atas kepalaku.
Malam harinya......
Aku masih di rumah Leon. Kini kami hanya berdua di rumahnya ini, Mama Leon belum juga kembali dari tempat berbelanja. Aku juga harus segera pulang, karena sekarang sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. tetapi, bagaimana mau pulang kalau tidak ada yang menjaga Leon? Sekarang dia sedang istirahat di atas tempat tidurnya, saat aku terus berjalan mondar mandir di dekat jendela kamarnya itu. Aku bingung harus bagaimana, kalau aku pulang nanti bagaimana dengan Leon? Kalau mama pulangnya larut dan pada saat Leon membutuhkan bantuan bagaimana?
Mama kok belum pulang juga ya?sebenarnya ke mana mama? Sejak tadi siang keluar tetapi, tak juga kembali sampai sekarang.
Pada saat aku sedang mondar mandir di dekat jendela kamarnya itu, Leon kembali terbangun karena tingkahku yang aneh ini. "Tiara?" Panggilnya.
Aku pun langsung mendatanginya, duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya itu. " Ya, ada apa?kamu ingin sesuatu?" Tanyaku sambil menatapnya khawatir.
Dia menunjuk ke laci yang berada tak jauh dari belakangku, sambil berusaha untuk kembali duduk. Aku pun menoleh ke belakang sambil membantunya duduk sambil menyandarkan bantal di belakangnya, " Ada apa di sana?" Aku bingung.
"Ada sebuah obat di sana, bisa kamu ambilkan?" Jawabnya.
Aku pun mengangguk, lalu membuka laci bagian atas, ternyata memang benar ada sebuah tempat obat. Aku berjalan kembali kepadanya, "Inikah?"
dia mengangguk pelan, aku pun memberikan obat itu padanya, lalu mengambilkannya secangkir air putih yang tadi sudah aku letakkan di laci samping tempat tidurnya itu. Dia meminum dua tablet obat itu, aku sungguh tak mengerti tentang obat, karena aku bukan dokter. Setelah dia selesai barulah aku meletakkan kembali obat itu ke tempatnya dan kembali membantunya istirahat dengan perlahan-lahan.
Saat aku menyentuh telapak tangannya, lagi-lagi aku merasa ada keanehan. Seluruh rumah ini sudah dipenuhi oleh AC, bagiku pun sudah sangat dingin, masa bagi Leon suhu serendah ini masih panas? Tidak masuk akal kan? Aku saja sudah kedinginan, apa karena dia sedang sakit makanya seperti itu?
"Tiara!"
Aku tersadar dari lamunanku, "Iya, Leon?" Tanyaku dengan nada pelan.
Dia menggenggam telapak tangan kananku dengan erat, "Kalau kamu mau pulang sekarang, pulang lah! tidak ada yang melarangmu, yang penting sekarang aku sudah mendingan." Ucapnya berusaha untuk membuatku percaya kalau dia bisa ditinggal sendiri di rumahnya.
Bagaimana ini? Aku harus melakukan apa sekarang, apa aku memang harus cepat pulang?
tetapi, bagaimana dengan Leon? Sungguh, aku tak tega meninggalkannya sendiri di rumah ini walau dia sudah menyakinkanku.
Aku hanya berbicara dalam hati karena tak bisa menjawab apa yang Leon katakan tadi, aku tak bisa melakukan itu. "mengapa diam, Ti?" Tanya Leon.
Aku menatapnya dengan serius, "Kamu tahu, aku memang masih bocah 16 tahun. tetapi, aku tak akan berpikir untuk meninggalkanmu sendirian!" Jawabku dengan percaya diri yang tinggi, aku sudah kekal tidak akan meninggalkannya sendirian, walaupun dia sudah memohon padaku.
Dia hanya menatap kecewa padaku, sambil berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat. tetapi, sungguh aku tak akan pernah kecewa karena menjagamu di sini Leon. Malah aku akan sangat merasa tersakiti dan tersiksa kalau aku tega meninggalkanmu, aku akan mati mendadak karena hal itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara alat pengenal di pintu depan rumah, aku pun langsung beranjak keluar dari kamar Leon. "Tunggu sebentar ya, Leon?!" Ucapku sambil berjalan keluar.
Terdengar suara hentakan kaki, dan juga suara perempuan yang tidak asing di telingaku. " Huh, capeknya!"
Aku berjalan menuju ke ruang tamu, dan ternyata aku melihat mama yang baru saja pulang dari belanja. Aku pun langsung menghampirinya, "Ah, ternyata mama?!" Panggilku sambil berdiri terheran melihatnya.
Mama merapikan barang belanjaannya di atas meja, "Eh, Tiara? Kamu masih di sini, belum pulang? Leon, Leon mana?" Tanya mama dengan wajah kebingungan.
Aku menoleh sejenak ke arah kamar Leon, "Ada kok ma, di dalam kamar lagi tidur dia."Jawabku dengan nada pelan.
Mama melihatku dengan penuh kebingungan, "Loh, mengapa sama kamu? maaf ya, kalau mama pulangnya malam, soalnya ini untuk perlengkapan Leon?!"
Aku mengangguk mengerti, "Iya, ma. Tiara ngerti kok, tetapi soal Leon...." Aku ragu mengatakan pada mama tentang Leon. "Leon, udah membaik kok. Dia tidur duluan tadi, tetapi Tiara belum mau pulang karena takut entar mama gak tahu kalau Tiara pulang." Lanjutku berbohong, aku memilih menyembunyikan apa yang sudah terjadi tadi.
"Begitukah? makasih ya, kamu bisa mengerti. Soalnya, kan Leon juga belum sembuh, mama masih khawatir pas tinggalin dia!"
Aku baru ingat kalau aku harus segera pulang sekarang, karena mama juga sudah kembali dari tempatnya belanja maka aku bisa tenang meninggalkan Leon. "Ah, iya. Ma, Tiara harus pulang nih. Gak apa-apa kan kalau Tiara ...."
"Gak apa kok, mama tahu kamu khawatir sama Leon, tetapi dia juga bisa jaga diri sendiri." Sambung mama sambil berusaha membuatku percaya kalau tak akan terjadi sesuatu pada Leon setelah aku pulang.
Aku mengangguk, "Baiklah, kalau begitu. Tiara pamit pulang dulu ya ma, sekalian pamit sama Leon juga!" Aku mengambil tas sandang yang aku letakkan di atas meja makan tadi, lalu kembali berjalan ke ruang tamu.
"Ya, Ti. maaf ya mama gak bisa antar kamu pulang, hati-hati di jalan ya!"
Aku tersenyum lembut, "Iya, ma. Tiara pulang dulu ya, selamat malam!" Aku menyapa sambil berjalan keluar dari rumah Leon.
Mama berdiri tepat di depan pintu, sambil memperhatikanku menunggu taksi yang tadi sudah Leon sarankan untuk membawaku kembali pulang ke rumah. Tak lama taksi jemputanku datang, aku pun melambaikan tangan pada mama untuk berpamitan lalu masuk kedalam taksi ini tanpa memikirkan khawatirnya hatiku tentang Leon.
Setelah masuk ke mobil, aku ingin bilang di mana rumahku berada, " Pak, nanti berhenti di ....."
"Saya tahu kok, mbak. Tadi udah di bilang sama emas nya, kalau saya harus antar mbak sampai rumah dengan keadaan selamat dan baik-baik saja."
Pak sopir sudah tahu dari Leon, "Oh, begitu ya? Kirain saya dia belum kasih tahu sama bapak, Makasih pak!"
Tadi Leon tak bilang kalau pak supirnya tahu tentang perumahanku di mana, apa dia sengaja?!!
tetapi, ya sudahlah. Jadi sekarangkan aku tak perlu bilang panjang lebar lagi, hari ini sungguh melelahkan.
Aku sungguh berharap hal ini tidak akan terjadi lagi padaku di masa depan, baik itu saat bersama Leon ataupun saat bersama dengan orang lain. Mulai saat ini aku akan kembali jadi diriku sendiri, sesuai apa yang diinginkan oleh 'Malaikat Penyembuhku' itu, dia benar aku harus menjadi diriku sendiri. Karena kejadian hari ini aku jadi belajar banyak hal, pengalaman baru yang aku dapatkan, dan juga bisa tahu Leon dalam satu hari saja.
BERSAMBUNG .....