
Keesokan paginya, di kampus .....
Suasana di depan kampus sudah dipenuhi oleh mahasiswa dari jurusan sastra yang tengah menunggu bus jemputan untuk ke bandara. Mereka membawa banyak tas, ada yang membawa dua koper, ada yang membawa tiga tas besar, karena tidak adanya informasi kapan kami akan kembali dari Yogya nanti.
Aku, Kia, dan Rangga juga baru sampai di kampus. Kami segera menghampiri kumpulan anak-anak yang lain.
Rangga berhenti berjalan, "Ti, Kia. Gue antar kalian sampe sini aja, ya? Gue masuk ke kelas, nih."
Aku dan Kia mengangguk, "Iya, Rang. Makasih ya, udah jagain aku semalaman." Ucapku sambil tersenyum.
"Iya, Ti. Yaudah, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan."
"Aamiin." Tanggapku dan Kia serentak.
Rangga berjalan mundur sambil melambaikan tangannya, "Sampai jumpa lagi, guys."
Eh, udah pada bawa banyak baju gak?
Emang kenapa bro?
Lo gak tahu ya? Kata kakak senior, kita bakal hampir 1 bulan di sana, gilak gak tuhh?
Wishh, enak juga tuh. Boleh lah, jadi uang lancar terus. Wkwkwk
"Ti, barang-barang lo udah semua gak tuh?" Tanya Kia.
Aku mengangguk, "Iya, udah kok, Ki. Gue udah nyiapin baju udah dari kemaren jadi gak perlu khawatir, satu koper cukup buat semua barangku." Jawabku panjang lebar.
Kami duduk di depan kampus untuk menunggu bus yang menjemput kami. Sudah 15 menit berlalu, tapi bus belum juga datang, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, waktu semakin berjalan. Rombongan kami belum juga diberangkatkan karena bus yang belum juga datang.
Mana nih, pak. Bus nya? Lama amat, entar ketinggalan pesawat nih.
Iya, gimana sih? Nanti kita ketinggalan.
Iya, sebentar-sebentar! Bapak sedang menghubungi pihak bus nya.
Gimana sih, katanya pesawat jam 11 loh, kita di perjalanan aja udah habis berapa jam nanti??
Entah, tuh. Kadang gak jelas juga, gak bisa on time.
Semua mahasiswa yang sejurusan denganku, rata-rata mengeluh dan mereka ingin segera berangkat sekarang, karena pesawat kami akan terbang sekitar 1 jam lagi. Sedangkan perjalanan menuju ke bandara juga lumayan jauh, ada beberapa lampu merah yang harus dilewati dan juga jalan yang panjang.
Kia menepuk lenganku, "Ti, duduk aja dulu di situ! Lo kan masih sakit, entar pingsan lagi, bisa gawat."
Aku tersenyum kecil, "Iya, makasih perhatiannya, Kia." Karena Kia, aku duduk di pembatas tanaman yang ada di samping gerbang.
"Masih lama nih kayaknya, bisa-bisa telat kita." Ujar pelan Kia.
Aku mengangguk, "Emm, iya sih. Tapi mau gimana lagi, kita tunggu aja deh. Kalau emang kita telat, entar tinggal minta pihak kampus yang tanggung jawab."
Tinn! Tiin! Suara klakson sebuah mobil yang sangat dekat. Ternyata klakson dari bus besar yang akan mengangkut kami menuju ke bandara sudah datang, jadi kami bisa segera berangkat.
Semuanya, ayo! Masuk ke bus, yang cewek kursi sebelah kanan, yang cowok isi kursi sebelah kiri!
Oke, pak.
Ayok, masuk guyss!
Wihhh, entar lagi mau naik pesawat bro.
Gue belum pernah ke Yogya, karna ini makanya bisa pergi.
Iya, kalau gak karna tugas gue mah ogah berangkat ke Yogya.
Yeeahhh, kita mau ke Yogya!!
Aku dan Kia pun juga masuk ke dalam bus, kami mencari tempat duduk di barisan kedua di sebelah kanan, seperti yang diperintahkan oleh pak dosen tadi. Kia menyuruhku untuk masuk lebih dulu, supaya ia bisa duduk sambil merentangkan kakinya. Aku duduk dengan tenang, lalu melihat jendela bus yang ada di sampingku.
Semua sibuk mencari tempat duduk mereka, bus ini lumayan besar, sepertinya muat menampung kami yang berjumlah 60 mahasiswa + 3 dosen pembimbing.
Oh, iya. Ngomong-ngomong soal 60 orang nih, kenapa aku merasa ada yang kurang?
Oke, semuanya sudah ada di dalam bus?
Emm, sudah bu. Kayaknya.
Eh, belum cuy! Si ....siapa tuh, Leodi? Iya, si Leodi belum keliatan tuh, buk.
Lah, ke mana dia?
Gak, liat dari tadi pagi.
Iya, gak ada tuh. Kayaknya gak jadi ikut mungkin?
Eh, Kia! Bukannya, Leodi itu sering sama kalian ya? Kalian gak tahu dia ke mana?
"Eh, ya mana gue tahu lah! Tanya aja sono sama mamaknya, masa tanya sama gue." Jawab Kia dengan wajah kesal.
Aku menegur Kia, "Kia, kemaren aku tanya sama lo ke mana sih Leodi? Kok dia ngilang gitu?" Tanyaku dengan wajah penasaran.
Kia pun membalikkan pandangannya fokus padaku, "Gimana jelasinnya, ya? Gue bingung banget, nih. Sumpah!" Ucapnya bimbang.
"Udah, bilang aja, Ki. Kenapa sama Leodi?"
Kia mencoba memberanikan dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya ia ketahui tentang Leodi padaku. Ia masih tampak ragu-ragu, ketakutan juga tampaknya mulai menghantui pikirannya.
"Kia?"
Ia memainkan rambutnya, "Ti, Leodi .... Dia gak akan sama kita lagi. Dia .... Itu udah pindah ke negara asalnya." Jelasnya terputus-putus.
Aku bingung, "Hah? Apa yang lo bilang, gue gak ngerti."
"Intinya gini ... Leodi, udah pindah ke kampus yang ada di negara kelahirannya, Ti. Dulu dia tuh lahir di London, tinggal di sana juga sampai SMP, pas SMA sampai sekarang ia ke Indonesia. Gue juga gak habis pikir kenapa dia harus pindah lagi ke sana, coba? Padahal udah pengen akrab juga sama tuh curut basi, kenapa sih??!!" Jelas Kia panjang lebar. Ia berusaha menahan hati yang sedih karena Leodi sudah pindah.
Aku .... Kenapa setiap aku dekat dengan seseorang yang sudah aku percayai, kenapa mereka semua tiba-tiba menghilang? Sedikit demi sedikit mulai pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Kenapa seperti itu? Kenapa, apa kesalahan yang aku lakukan pada mereka??
Melihat Kia bersedih, tentu saja membuatku juga ikut merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Jika dilihat, sepertinya Kia dan Leodi sudah cukup dekat, sampai Kia sering memanggil Leodi dengan sebutan yang agak kasar, tetapi Leodi tidak pernah memarahinya. Aku rasa sebenarnya, Leodi dan Kia bisa saja bersama, tapi rencana Yang Maha Kuasa sepertinya sudah jauh lebih sempurna untuk mereka berdua.
"Cuupp-cupp! Ki, udah jangan sedih! Entar kita coba telpon Leodi deh, kita tanyain dia baik-baik aja, okey?!" Bujukku dengan lembut sambil mengelus punggungnya.
Kia menghapus air matanya seraya mengangguk, "Iya, Ti. Gue pasti gak akan lupain tu si curut basi dari London, gue gak bisa kalau gak nyebut namanya dengan sebutan itu."
Pak, jadi gimana nih? Leodi belum juga keliatan, apa kita tinggal saja? Sudah kepepet banget waktunya.
Ah, Leodi ya? Tadi saya baru dapat kabar dari orang tuanya, kalau mulai besok Leodi akan pindah ke London.
Oh, jadi begitu?
Jadi, lebih baik kita segera jalan saja, pak!
Semuanya, kita akan berangkat ke bandara sekarang. Jadi, silahkan yang mau istirahat sebentar gpp, yang mau makan atau minum juga gpp, yang penting jangan membuat keributan!
Siap, bu dosen.
*****
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Kia hanya diam saja tidak seperti biasanya. Aku ingin mengajaknya mengobrol, tapi sepertinya ia masih sedih memikirkan tentang Leodi yang sudah pergi meninggalkan Indonesia. Sejak tadi, ia diam sambil memeluk tas ranselnya itu, aku hanya bisa menatap wajahnya dengan perasaan yang sedih.
"Kasihan, Kia. Kalau dipikir-pikir, aku juga pernah di posisi ini saat Leon ke Singapura." Gumamku dalam hati.
Di dalam bus, banyak anak laki-laki yang sibuk meramaikan suasana dengan bernyanyi bersama-sama, diiringi dengan alat musik gitar dan juga benda-benda yang ada di sekitar mereka.
Rasa sayange .... Rasa sayang-sayange ...
Eeey .... Lihat dari jauh rasa sayang-sayange
......
Walau sedikit keras, tapi bagus untuk mencairkan suasana ditengah perjalanan panjang menuju ke bandara. Karena perjalanan masih lama, aku pun memilih untuk beristirahat sejenak, karena dokter juga sudah mengatakan kalau aku kurang istirahat selama ini.
Sesampainya di bandara ....
Woii, bangun woii!!
Cepat turun, udah sampe di bandara!
Cewek-cewek ayo cepat bangun, guys. Entar ketinggalan pesawat kita, nih.
Kia, Tiara! Bangun, gih. Kalian berdua.
Aku langsung terbangun dari tidurku, "Astagfirullah! .... Maaf-maaf, gue ketiduran!" Ucapku dengan wajah kaget.
It' s okay, Ti. Yaudah, cepet gih keluar! Ajak Kia juga tuh, masih tidur juga.
"Ah, iya-iya." Aku bergegas mengambil barang-barangku seraya membangunkan Kia yang masih tertidur pulas. "Kia! Bangun, Ki. Kita udah sampe di bandara, ayo!"
Kia terbangun sambil mengusap matanya, "Astaga, Ti. Kenapa gak bangunin gue dari tadi coba?" Tanya Kia dengan wajah panik, ia langsung mengambil barang-barangnya juga.
"Aku juga baru bangun nih, tadi ketiduran juga. Ayo, kita harus cepat, entar ketinggalan kita nih." Ucapku cepat.
Aku dan Kia bergegas secepat mungkin mengejar rombongan kami. Mereka semua sudah berada di depan locket bandara untuk mengecek tiket dan meletakkan barang-barang ke bagasi pesawat.
BERSAMBUNG .....