
Walau begitu banyak yang sangat tidak suka melihatku sekarang, tetapi aku tak peduli dan tetap berjalan seraya mencari di mana keberadaan Rangga. Saat ku lagi sibuk mencari Rangga, ternyata Novi sejak tadi membuntutiku saja.
di mana Rangga? Tempat ini terlalu ramai dari hari biasanya, apa mereka sudah merencanakan ini semua???
Kalau iya, kamu memang sudah bukan teman yang aku kenal Rangga....
Aku terus bergumam dalam hati sambil terus memfokuskan mataku untuk mencari Rangga. Aku menghentikan langkahku, aku menemukan orang yang aku cari sejak tadi. Rangga, sekarang aku tak lagi menghampirimu untuk memberi senyumku padamu. tetapi, aku akan memperjelas semuanya sekarang. Rangga tahu kalau aku sudah menemukannya, tetapi raut wajahnya masih biasa saja malah dia sama sekali tak peduli dengan tatapan sinisku padanya.
Aku pun melangkah cepat menuju ke hadapannya, orang-orang yang duduk bersamanya langsung berdiri dari kursi dengan raut wajah santai. Bahkan saat-saat seperti ini mereka masing bisa meninggikan harga diri yang tak ada harganya itu. tetapi hanya Rangga, masih dia yang menatapku dengan penuh kepercayaan dan rasa yang aneh.
" Pagi, Mutiara yang cantik! Tumben mukanya di tekuk, biasanya tertawa mulu." Ledek salah satu teman Rangga yang duduk disampingnya.
Aku merasa geram dengan mengepal kedua tanganku, aku menahan amarah yang sangat besar di dalam hatiku. Aku menghiraukan mereka yang tak ada urusannya denganku, aku tetap menatap Rangga dengan serius dan berusaha untuk berbicara dengannya. "Ya, apa maumu sebenarnya? Tak puaskah apa yang aku jelaskan tadi pagi??"Tanyaku.
Dia hanya diam menatapku dengan tatapan penuh harapan, berbeda dengan tatapan pada saat dia menatap Leon. " puas, kok. Sangat puas! Sampai aku merasa, aku memang seharusnya tak pantas dekat denganmu, Ti." Jawabnya dengan nada pelan. dia menanggapi pertanyaanku dengan baik, tetapi dia tak mau berdiri untuk sejajarkan posisi mata di antara aku dan dia.
"Kamu kira hanya diriku saja yang peduli dan sayang padamu? Kau salah Rangga! Bukan hanya ada aku, tetapi begitu banyak..... Aku tak bisa menghitungnya." Ucapku dengan nada cepat sambil meninggikan nada suaraku padanya. Itulah kali pertama aku membentak Rangga, selama ini aku tak pernah melakukan hal itu padanya.
Aku menggelengkan kepalaku dan air mataku langsung menetes begitu saja di wajahku. Betapa kecewanya hatiku saat harus membentaknya seperti ini, tetapi dia tak mengerti dengan itu. Dia tak mengerti mengapa aku melakukan hal ini padanya, "Aku merasa bersalah, karena aku tak pernah mengenalmu Rangga. Aku tak bisa tahu apa yang kamu hadapi dalam masalahmu itu, aku tak tahu."
dia pun berdiri dari kursi itu, "Ti, aku tidak berpikir begitu. Aku sangat ingin kamu tahu, tetapi....."
"tetapi apa? tetapi aku tidak mau membuatmu memikir kalau aku orang yang lemah? Orang yang paling hancur di dunia ini?"Sambungku sambil menangis.
Rangga ingin menggapai wajahku yang sudah tersapu air mata, tetapi aku melangkah mundur. Aku tak mau terlalu dekat dengannya lagi, aku sudah sangat kecewa dengan jalan pikirannya sekarang. "Jangan menyentuhku! Kau bukanlah siapa-siapa!" Ucapku pelan.
" Pikirkanlah, masih banyak yang peduli padamu! Jangan tambah mengecewakan mereka dengan sifatmu yang sungguh tidak dewasa ini." Setelah kalimat itu aku pun langsung membalikkan badanku agar tak lagi melihat wajahnya. Aku menghapus air mataku, aku buang jauh-jauh rasa peduli padanya.
Pada saat aku baru saja akan melangkah pergi, Rangga langsung menarik tangan kananku dan menghentikan langkahku untuk pergi. Aku tak berpaling melihatnya lagi, aku hanya berdiri diam sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya itu dariku. Aku tak tahu apa yang akan di katakannya, entah dia akan meminta maaf dan merubah kembali dirinya menjadi yang dulu, atau sebaliknya.
"Dengarkan aku sebentar saja!"Ucapnya pelan dengan penuh harapan.
Aku ingin melihatnya, tetapi tiba-tiba saja langsung ada yang melepaskan genggaman tangan Rangga itu dan malah tanganku kembali di genggam oleh tangan lain. Semua orang langsung fokus pada orang yang menggenggam tanganku tiba-tiba tadi, sebagian terutama perempuan sangat terpesona. "Selesaikan masalah ini nanti!" Ucap sosok itu, saat aku melirik ke samping kanan ku ternyata dia adalah Leon.
Leon mengangguk, "Ya, tentu saja aku bisa ada di sini. Karena berkat Rangga, kalau tidak karena nya aku tidak akan ada di sini."Jawabnya sambil menatap sinis kepada Rangga.
Rangga juga kebingungan, semua orang yang berkumpul di kantin pun juga penuh kebingungan. Bukan hanya aku saja, tetapi hampir semua orang memperhatikan kami sejak tadi. Lagi-lagi Leon dan Rangga saling bertatapan dingin di depanku, aku sama sekali tak bisa menghentikan perang mata dingin mereka itu.
Beberapa detik kemudian, semua kembali menjadi situasi yang membingungkan. "Oh, iya. Rangga, maaf! Aku hanya mengantarkan tamu, ku harap kamu bisa jelaskan dengan kejujuran. " Jelas Leon, lalu tak lama datang dua orang pria dengan seragam polisi menghampiri kami bertiga. Leon tak terkejut, ya bagaimana mau terkejut dia kan memang tak bisa mengekspesikan kondisi wajahnya.
Salah satu polisi menunjukkan kartu identitasnya, keadaan di kantin semakin heboh dan ramai karena adanya dua Bapak Polisi ini. " Selamat siang, maaf menggangu jam istirahatnya! Apakah anda bernama Rangga?"
Rangga langsung bermuka pucat dan berkeringat dingin dengan pertanyaan itu, "Iya, saya Rangga Kartanegara. Ada apa, Pak?"Tanya Rangga dengan nada suara bergetar.
Karena penasaran, aku bertanya pada Leon sambil berbisik. "Leon, apa yang sedang terjadi?"Tanyaku.
Leon tersenyum kecil, "Akan ku jelaskan nanti, Ti!" Jawabnya singkat. "Oh, iya. Tiara, mungkin aku tidak bisa menjemputmu nanti, tidak apa?"
Raut wajahku langsung kembali tidak bersemangat, "Ya, baiklah. Aku mengerti kamu mungkin masih punya pekerjaan lain, aku ngerti kok!"
Walau agak kecewa karena Leon tak akan menjemputku pulang Sekolah nanti, tetapi yang penting sebagai gantinya kan dia sudah berada di depanku sekarang. Kami juga sudah sering bertemu, ku rasa hampir setiap hari kami harus bertemu, kalau tidak....rasanya hatiku akan bergejolak. tetapi alasan datangnya polisi mencari Rangga mengapa ya? Dan juga, mengapa Leon ikut terlibat. Padahalkan Leon bukan polisi, dia kan dokter? Aku masih bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya pada Rangga? Apa dia membuat masalah dengan polisi?
Dua polisi itu menjelaskan tujuan mereka mencari Rangga. Katanya, mereka akan bertanya pada Rangga tentang sesuatu hal di kantor polisi, yang artinya Rangga harus ikut dengan mereka sekarang. " Nanti kami akan jelaskan lebih detail di kantor, sekarang silakan ikut kami! Tadi saya sudah memberitahu pihak Sekolah dan mereka sudah mengizinkanya. Ini juga berkat kerja sama Dok. Leon, yang mau ikut penyelidikan!"
Leon mengangguk pelan, "Tidak perlu memanggil saya dengan gelar Dokter, karena saya belum resmi! Saya masih sarjana kedokteran, saya masih harus banyak belajar." Leon merendah.
Aku kadang salut pada sifat Leon yang rendah hati, dia tak mau menunjukkan kalau dia pintar dan juga mampu.
Itulah yang membuatku jadi.....eh, aku hampir saja keceplosan.
Setelah pembicaraan itu, Leon dan dua Bapak Polisi itu segera membawa Rangga pergi bersama mereka. Berat rasanya saat Leon melepas genggaman tangannya padaku tadi, aku sungguh tak rela. tetapi mau bagaimana lagi, dia harus menjalankan kewajibannya sebagai calon dokter yang baik dan punya kualitas yang bagus untuk menyembuhkan setiap pasiennya nanti.
BERSAMBUNG .....