
Tak lama, aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang mengarah di depanku. Karena silau, aku tak bisa melihat apapun. Aku menutup kedua mataku sambil berjalan lurus ke depan. Semakin ku melangkah mendekati arah cahaya itu, semakin pula rasanya tubuhku tertarik ke dalam cahaya itu. Oh, semesta. Tolonglah aku! Kembalikan aku ke dalam kelas, kalau memang ini hanyalah mimpi. Aku tak percaya akan yang terjadi ini, walau Leon.....Aku tak percaya dia sedang terbaring di sana.
"Tiara? Kamu mimpi buruk, bangun!" Suaranya seperti suara Leon.
Aku membuka mataku. Dan ternyata benar, itu semua hanyalah mimpi buruk saja. Aku terbangun di dalam kelas dengan posisi dudukku yang masih sama seperti awal aku tidur tadi. Aku kembali duduk, dan ada Leon yang sejak tadi menungguku untuk bangun. "Hah, Leon?" Ucapku dengan wajah terkejut.
Leon menatapku dengan kegelisahan, "Ti, kamu mimpi buruk, kan? Tentangku?"Tanya Leon.
"A..Aku...tidak begitu ingat dengan mimpi itu."Aku mencoba berbohong padanya. Kalau aku bilang iya, mimpiku itu adalah tentangnya, Leon pasti akan merasa buruk tentang itu. "Begitu pentingkah membahas mimpiku?"Lanjutku sambil menunduk.
Dia mengangguk, "Iya, penting bagiku."Jawabnya singkat.
"Aku benar tak ingat tentang mimpi tadi, Leon."
Leon menatapku dengan tatapan serius, "Benarkah? Maukah aku memberitahumu apa yang kamu katakan tadi?"Tanya Leon. Aku tak bisa membalas kata-katanya lagi. Mulutku langsung terkunci rapat dan mataku hanya tertuju pada tatapannya yang sangat serius padaku. "Kamu mengucapkan kalimat 'Tidak mungkin dia, kan?' Kamu juga bilang cincin di jari manis orang yang ada di mimpimu itu,......sama sepertiku."
Aku terkejut karena ternyata aku mengucapkan itu di depan Leon pada saat aku bermimpi tadi. Aku tak bisa menjelaskan apapun untuk menyangkal semuanya, dia sungguh tahu semuanya sekarang, dan aku tidak bisa berbohong lagi. "Itu, hanya mimpi." Aku mencoba membuatnya mengerti kalau mimpi tak akan menjadi kenyataan.
"Bagi kamu iya, itu hanyalah sebuah mimpi yang tak pernah jadi kenyataan. tetapi kamu tak tahu bagiku akan terjadi atau tidak, kan?" Leon mengucapkan kata-kata yang menusuk perasaanku tentangnya. Dia percaya kalau mimpi burukku tentangnya itu akan menjadi kenyataan suatu saat nanti, tetapi sungguh! aku tak pernah mau itu menjadi kenyataan.
"mengapa kita jadi terus membahas itu?"Keluhku.
Aku menundukkan kepalaku sambil merapikan semua buku kembali ke dalam tas ranselku dengan rapi. Aku baru sadar kalau hanya ada aku dan Leon di dalam kelas ini sekarang, aku tak memperhatikan keadaan sekitar, dan malah langsung berbicara tentang mimpi dengannya. Aku pun melihat jam tanganku, ternyata sudah jam setengah enam sore, ini sudah sangat sore. "Leon, kamu tak bilang sekarang sudah jam berapa?! Sejak kapan kamu menungguku di sini?Katanya kamu tidak bisa menjemputku, mengapa sekarang kamu...."
Leon menggenggam tanganku erat, "Berapa lama aku sudah di sini, itu tak penting. Aku tak masalah jika harus menunggumu terbangun lebih lama lagi, karena aku paham, sebuah mimpi itu berjalan sama seperti kehidupan nyata yang kita jalani sekarang."
"Lalu, bagaimana dengan semuanya dan juga Rangga?"Tanyaku penasaran.
Leon tersenyum kecil, "Sejak mulai masuk istirahat sampai pelajaran terakhir kamu tertidur nyenyak, Ti. Sampai guru maple yang masuk tak tega membangunkanmu, katanya kamu terlihat kelelahan."
Aku tersipu malu mendengar penjelasannya, "Benarkah? mengapa aku begitu memalukan, sih?! Aku tak tahu berapa lama aku tertidur, dan pada saat bangun aku sudah melihat kamu duduk di depanku."Ucapku.
Leon pun berdiri dari kursi yang didudukinya tadi sambil melihat jam tangannya, "Ti, udah sore nih. Entar kasihan pak satpam yang nungguin gerbang di depan, kelamaan nunggu kita keluar dari sini."
Aku mengangguk sambil menyandang tas ranselku, "Iya, yuk! udah mau malam, takut dicariin ayah dan bunda di Rumah. Entar dikira mengapa-mengapa lagi."
Leon setuju dengan usulanku, dia pun menggandeng tanganku dengan erat. Kami berjalan keluar dari Sekolah bersama-sama dengan penuh senyuman seperti biasanya, tanpa memikirkan apa yang baru saja terjadi tadi denganku.
Cukup 15 menit menempuh perjalanan, aku pun sampai di Rumah dengan perasaan hati yang aman dan juga tenang. Leon menghentikan mobilnya di depan pagar Rumahku, aku pun langsung turun dari mobilnya dengan wajah senang. Oh, Tuhan. Walaupun tadi itu adalah situasi yang sangat menegangkan, tetapi karena Leon aku jadi tak memikirkan hal buruk itu lagi di dalam kepalaku. Aku sungguh senang sehingga aku tak sadar menghiraukan ucapannya padaku, aku melamun lagi.
"Tiara?" Panggil Leon dengan nada suara agak meninggi supaya aku tersadar dari lamunanku.
Aku pun tersadar dan melihatnya sambil tersenyum lebar, "Aku tahu kok, kamu mau bilang aku gak boleh melamun kan?"
Dia mengangguk sambil tersenyum kecil dari dalam mobilnya itu, "Yasudahlah, masuk sana! kita bertemu lagi besok, Ti. Jangan lupa kewajibanmu ya?!"
Aku tersenyum mengerti dengan apa yang diucapkannya, "Iya, aku tahu. Aku gak akan ninggalin kewajibanku sebagai seorang muslim kok, Aku akan masuk!"Jawabku pelan sambil perlahan-lahan memundurkan langkahku ke gerbang Rumahku.
dia pun menutup jendela kaca mobilnya pelan-pelan dengan tatapan masih mengarah padaku, aku melambaikan tanganku padanya. Perlahan-lahan mobilnya pun berjalan meninggalkan halaman depan Rumahku, tetapi aku masih memperhatikan mobilnya sampai tak terlihat lagi di pandangan mataku ini. Tak tahu mengapa, aku selalu merasa tenang setiap kali masalah yang aku hadapi dengan Leon tak pernah memicu konflik yang sangat besar. Kami selalu bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin dan juga penuh ketenangan.
Walau aku tak tahu apa sebenarnya arti dari mimpi itu untukku dan Leon, aku yakin kalau tak akan terjadi hal buruk dengannya. Karena dia adalah 'Malaikat penyembuhku' yang selalu mengucapkan kata "Aku yang paling tahu kondisiku, Tiara!" Hahh, aku sebenarnya sudah bosan mendengar kalimat itu dari mulutnya, tetapi mau bagaimana lagi, setiap kali dia kembali drop hanya kalimat itulah yang membuat kepercayaanku padanya tetap pada hatiku.
Memang kepercayaan di antara dua hati itu sangat penting, nomor satu bagiku. Aku harap bukan hanya kepercayaan yang ada di antara kami, tetapi juga disertai sebuah kejujuran,.....dan juga sebuah kebenaran tentang hatiku dan dia.
Kebahagian bagiku sangatlah sederhana, yaitu melihatmu selalu hadir di setiap hariku, aku sudah akan merasakan kebahagian yang sangat berharga dalam hidupku. Kamu bisa pegang kata-kataku itu.
Aku masuk ke dalam Rumah, dan ternyata tidak ada orang di dalam. Keadaan sepi dan sunyi, sepertinya bunda dan ayah sedang pergi keluar sebentar. tetapi, aku juga tak melihat Dhika, apa dia kembali ke Rumah nenek lagi? Apa anak itu memang tak niat bertemu dan berkumpul dengan keluarganya sendiri, dia selalu saja bertengkar denganku.
Aku langsung mengunci pintu depan dan langsung naik ke lantai dua untuk segera istirahat di dalam kamarku. Kalian tahu? Aku sebenarnya sangat penakut loh. Aku takut dengan kegelapan, takut dengan darah, takut dengan hantu atau makhluk halus, dan juga.....yang terakhir aku paling takut kehilangan orang-orang yang aku sayangi dan cintai. Hari juga sudah malam dan aku sedang sendirian di Rumah, aku memutuskan untuk langsung ke kamar dan mengunci pintu kamarku juga, karena saking takutnya akan ada orang yang masuk ke dalam Rumahku.
"Huuufh, Aku sungguh tak habis pikir jika nanti mati lampu."Ucapku pelan sambil bersandar di belakang pintu kamarku. Aku pun segera beranjak untuk membersihkan diri dan juga secepatnya istirahat, karena aku sudah sangat lelah dengan kejadian yang terjadi hari ini.
Keesokan harinya......
Bulan sudah tak terlihat, bergantian dengan matahari yang akan bersinar terang di pagi hari. Seperti biasa, kegiatanku sebelum berangkat ke Sekolah adalah aku akan sarapan dengan bunda dan ayah. Aku sudah siap merapikan semua keperluan Sekolahku, tinggal turun ke bawah dan menyapa di pagi hari dengan wajah yang segar. Bunda dan ayah sudah duduk di ruang makan, aku pun melangkah cepat ke sana. "Pagi, bunda, ayah!"Sapaku lalu langsung duduk di kursi meja makan.
"Pagi, juga."Jawab serentak Ayah dan bunda dengan senyuman.
"Oh, iya. Semalam bunda dan ayah pergi ke mana?"Tanyaku dengan nada pelan sambil menyantap sarapanku perlahan.
"Semalam bunda sama ayah pergi ke Kantor, ada persoalan yang harus diselesaikan. maaf ya, bunda sama ayah gak bisa kasih tahu kamu."Jawab bunda dengan nada lembut.
"Oh, Begitu? tidak apa, bun. Tiara kan juga udah remaja bisa jaga diri sendiri, bisa berpikir lebih tenang lagi."Ternyata bunda dan ayah semalam pergi ke Kantor, sepertinya memang ada hal penting yang terjadi semalam. Makanya mereka sampai tak bisa memberitahuku, kalau ayah dan bunda tidak ada di Rumah.
Ayah yang sudah sarapan lebih dulu tampak mulai bergegas berdiri dan juga merapikan setelan kemeja yang dia pakai. Aku bingung, karena seharusnya ayah berangkat bersamaku. "Tiara, Ayah berangkat duluan ya?! Soalnya di kantor benar-benar lagi genting."Jelas ayah dengan nada cepat.
Aku pun mengangguk, tetapi masih kebingungan. Lalu, kalau sudah seperti ini, aku bagaimana dong? Aku harus berjalan kaki ke halte busway di depan sana?Atau aku memang akan jalan kaki sampai ke Sekolah. "Iya, Ayah."Jawabku singkat.
Ayah pun langsung berangkat setelah aku menjawab pertanyaannya tadi, bunda mengantarnya sampai di depan pintu saja. "Hati-hati, Ayah!" Ucap bunda pelan.
Di tengah lamunanku, tiba-tiba di luar Rumah terdengar suara klakson sebuah mobil. Dan bunda tampak turun ke tangga luar sambil berbincang dengan seseorang. Aku tak bisa mendengar apapun, tak lama bunda pun kembali masuk dan menghampiriku. "Tiara?"Panggil bunda dengan wajah senang.
Aku pun berdiri dengan wajah kebingungan, "Iya, bun. Ada apa?"Tanyaku.
Bunda langsung menarik tanganku untuk segera keluar dari Rumah, "Iya, bun. Sebentar, emangnya ada apa sih?Siapa yang ada di luar?" Aku sibuk mengambil tas ranselku dan secepatnya mengikuti langkah bunda.
Bunda menunjuk keluar di depan pintu. Aku awalnya kebingungan, tetapi ternyata saat aku melihat, "Leon?"Aku kebingungan, dia bisa ada di sini. Seharusnya dia bilang dulu kalau akan datang sepagi ini sebelum aku berangkat ke Sekolah. dia hanya menatapku dengan senyuman di wajah dinginnya itu, "Kamu gak bilang dulu sama aku."
"Bunda ke dalam dulu ya, soalnya masih banyak kerjaan. Tiara, kamu berangkat sama Leon, bunda yang hubungi Leon tadi."Ucap bunda sambil tersenyum, lalu kembali masuk ke dalam Rumah.
Aku pun turun ke tangga mendekatinya, "Kamu gak ke RS?"Tanyaku.
Dia menggeleng, "Tidak, aku tidak koas hari ini. Aku akan ke Kantor, bantu papa untuk mengatur keadaan." Jawabnya.
"Jadi, kok bisa kebetulan sih? Kantor ayah juga lagi ada masalah, kantor papa juga. Ada apa sebenarnya?"
Leon menggeleng, "Entahlah, aku belum tahu akar permasalahannya apa. tetapi ku yakin aku harus membantu di sana."Jelasnya dengan nada pelan. dia lalu menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobilnya, "Sebaiknya aku harus cepat mengantarmu ke Sekolah, Ti. Lalu aku akan tenang mengerjakan semuanya."Lanjutnya sambil tersenyum kecil.
Aku melepas genggaman tangannya dan segera masuk ke dalam mobil, "Kamu baru saja mengucapkan kata-kata yang tak biasa diucapkan, Leon."Dia hanya menatapku dingin, lalu masuk ke dalam mobil. Kami pun segera berangkat menuju ke Sekolahku.
Di tengah perjalanan, seperti biasa aku dan Leon tak banyak berbicara dan berbincang. Entah mengapa begitu, aku merasa keakraban kami berdua hilang seketika di dalam mobilnya ini. Aku sebenarnya tak pernah suka pada saat dia pertama kali menunjukkan mobil ini padaku. tetapi mau bagaimana lagi, tak mungkin juga Leon terus-terusan naik motor kena panas dan debu, yang pastinya dia akan terkena sakit.
Baru saja aku ingin membuka percakapan dengan Leon, tiba-tiba di depan mobil ada kerumunan orang yang sangat ramai sekali menutupi sebagian badan jalan. "Leon, Kamu tahu apa yang terjadi di depan?"Tanyaku.
Dia menatapku serius, "Tidak tahu, tetapi aku yakin itu kecelakaan."Jawabnya lalu bergegas melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil. Saat aku baru saja ingin ikut turun, dia menyarankanku tetap di dalam mobil. "Ti, jangan turun! biar aku saja yang mengurus ini, aku takut ini di jalan dan di sana ramai, kamu akan mengapa-mengapa nanti."
Aku pun mengangguk mengerti, "Oke, aku paham. Semoga saja tidak terjadi apapun, aku akan melihat ada di sini!"Ucapku pelan.
dia pun bergegas berlari ke tengah keramaian itu dan langsung bertanya ke beberapa orang yang ada di sana. Aku tak bisa mendengar apapun yang mereka bicarakan karena jendela mobil di tutup oleh Leon, aku pun membuka jendela itu untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh orang-orang itu.
"Bisa kasih ruang sedikit untuk korban?"Tanya Leon pada kerumunan itu. Semua orang langsung berjalan mundur, sedikit lebih jauh dari korban yang sedang Leon periksa. "Kamu bisa mendengar saya?" Leon bertanya pada korban tersebut, tetapi tak menjawab.
dia pun segera menyuruh seseorang untuk menghubungi ambulans Rumah Sakit, "Emm, maaf! apa ada yang bisa menghubungi ambulans Rumah Sakit Awal Bros?"
Seseorang bertanya pada Leon tentang berapa nomor telpon Rumah Sakit itu, "Dok, bisakah ucapkan berapa nomornya?"
"0778431777"Jawab Leon dengan cepat. Lalu orang itu langsung berusaha menghubungi pihak RS untuk segera datang membawakan sebuah ambulans ke lokasi kejadian. Aku tak bisa melihat lebih jelas apa yang dilakukan oleh Leon di sana, karena tertutup oleh keramaian orang-orang yang melihat di sana.
Beberapa menit kemudian, Ambulans pun datang ke sana. Aku sangat ingin turun melihat langsung ke sana, tetapi aku takut Leon akan memarahiku. "Ambulans nya sudah datang, apa Leon akan ikut dengan ambulans itu?"Tanyaku penasaran. Kalau memang benar dia akan naik ke ambulans itu dan meninggalkanku di sini sendirian, berarti dia sangat keterlaluan sekali padaku. Aku tidak akan memafkannya! Aku akan sangat kesal dan juga tidak akan mendengarkan perkataannya lagi.
Tampak Leon bergegas membantu petugas RS untuk membawa masuk korban ke dalam ambulans itu. Orang-orang pun segera minggir ke tortoar pejalan kaki, supaya tak mengganggu evakuasi ke mobil tersebut, dan jalan tidak akan terhambat lagi. Aku terus memperhatikan Leon yang tengah bekerja keras sekarang, di wajahnya terdapat sebuah bercakan darah, dan juga di lengan kanan bajunya juga terdapat darah yang banyak. Tetapi sepertinya Leon tak memperhatikan hal itu, dia lebih mementingkan korban itu.
"Padahal tadi dia bilang akan pergi ke kantor, setelan jaz nya itu jadi rusak dan penuh darah sekarang. Apa aku harus berbuat sesuatu untuk membantunya?"Tanyaku berbicara sendiri sambil memiringkan kepalaku ke samping karena bingung.
Korban sudah di masukkan ke dalam ambulans itu, ada salah satu petugas yang sedang diberi arahan oleh Leon. "Dengar! ada pendarahan di kepalanya, agak parah. Sekeras mungkin berusahalah untuk menghentikan pendarahan itu sampai di RS, nanti setibanya di sana, tolong bilang ke Dokter Daffa kalau saya yang menjadi walinya."Ucap Leon dengan nada panik.
Petugas itu pun mengangguk mengerti, "Oke, Dok. Saya mengerti, saya akan sampaikan kepada dokter Daffa tentang ini semua. Dokter Leon bisa percayakan semua pada kami sekarang, tidak perlu khawatir."
Leon pun meletakkan kepercayaannya pada petugas ambulans itu, "Baiklah, saya percaya padamu." Petugas itu pun masuk ke dalam ambulans dan langsung berangkat menuju ke RS secepatnya.
Leon menghampiri kerumunan orang tadi sambil menghirup napas lega, "Terima kasih atas bantuannya, Bapak dan Ibu! saya tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada yang membantu."dia berterima kasih pada orang-orang itu karena telah membantunya menyelesaikan masalah itu.
"Tidak masalah, dok! kami juga senang bisa membantu."
"Kalau begitu saya permisi, karena saya juga harus menyusul ke sana.Nanti, ada beberapa petugas Polisi yang akan bertanya tentang kejadian awalnya, saya mohon kerja sama nya! Saya permisi." Ucap Leon dengan sopan, lalu bergegas kembali ke mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Polisi datang mengatur lalu lintas supaya kembali berkoperasi dengan baik. Dan ada dua orang petugas yang langsung bertanya pada kerumunan orang-orang itu, Aku membuka pintu mobilnya supaya dia tak perlu susah-susah membuka pintunya. Aku tahu dia harus buru-buru ke RS sekarang, "Leon, apa akan baik-baik saja sekarang?"Tanyaku dengan wajah khawatir.
Leon tak masuk ke mobil, dia hanya berdiri dan berbicara denganku. "Aku tidak tahu, yang jelas untuk sekarang sangat berbahaya untuk orang itu."Jawabnya dengan nada cepat. "Ti, Kamu sudah terlambat ke Sekolah kan sekarang? maaf, aku tidak bisa mengantarmu!Kamu harus pergi Sekolah, aku akan memesan taksi untukmu ya?"
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak, aku tidak masalah! Aku akan bilang pada guruku nanti, aku akan jelaskan kalau...." Saat ucapanku belum selesai, Leon langsung menggenggam tanganku dengan erat. Seketika aku terdiam dan menatapnya serius, aku tak tahu apa yang akan dia katakan padaku sekarang.
"Ti, kamu tahukan kalau aku paling tidak suka kalau kamu bolos Sekolah? kita udah bicarakan tentang ini, kan? Aku gak mau cita-cita kamu terhenti, pelajaran kamu terganggu!"
"Gak, Leon. Ini semua gak akan mengganggu pelajaranku, aku nanti bisa meminjam cacatan dengan teman sekelasku kok."
Leon pun tampak menyerah untuk membujukku Sekolah, dia masuk ke mobil dan memakai sabuk pengamannya. "Seterah padamu sekarang, Ti."Ucapnya singkat. Aku pun mengangguk seraya tersenyum padanya, akhirnya aku bisa melihatnya bekerja keras dengan usahanya itu. Dengan kepintarannya, rasa perdulinya, dan juga cara bicaranya yang sopan pada orang-orang, membuatku semakin yakin tentang masa depannya yang berjalan baik.
Saat mobil Leon melewati tempat tadi, aku tak sengaja melihat sekilas sebuah motor yang sangat tidak asing bagiku. Aku seperti pernah melihat motor itu, tetapi ku tak ingat di mana dan siapa yang punya motor dengan model seperti itu. Aku tak ingin bertanya pada Leon, karena dia sedang fokus untuk menyetir secepatnya ke RS. Aku terus memperhatikan wajah dinginnya yang terkena noda darah itu, aku pun mengambil sapu tangan yang sengaja aku bawa di tas supaya saat menghadapi hal seperti ini aku bisa memakainya. "Kamu adalah dokter yang hebat, Leon! Padahal kamu bilang sedang tidak koas, tetapi kamu masih mau mengambil risiko itu."Ucapku sambil membersihkan wajahnya itu dengan perlahan.
dia menatapku sejenak lalu kembali fokus menyetir, "Kamu tidak perlu memujiku begitu! aku tak sebaik yang kamu kira."
Aku tersenyum, "Memangnya kamu tidak baik?"Tanyaku kebingungan.
BERSAMBUNG .....