
Setelah sampai di rumah Leon, aku langsung masuk dan pergi ke dalam kamar. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur sambil menatap langit kamar itu. Terasa sekali kalau semua tubuhku sudah lelah, padahal aku tidak melakukan kegiatan yang membuang energiku.
Kembali ke rumah ini, perasaan itu perlahan menghilang. Aku mengerti kenapa Leon lebih suka menyendiri dari pada berada di keramaian, sama sepertiku, dia lebih suka tempat yang seperti ini. Makanya pantas jika aku bisa merasa tenang jika berada di rumah.
Triiingg! Triing! Triiing! Ponselku berbunyi, aku pun langsung melihat siapa yang menelponku.
Kutatap layar ponselku dengan sangat serius. Tertulis jelas di layar itu enam huruf yang berawalan R, siapa lagi kalau bukan Rangga. Tanganku kaku, aku tidak menjawab telponnya, aku hanya diam sambil menatap layar ponsel yang terus berdering karena Rangga menelpon.
"Kenapa .... Aku tidak mau berbicara denganmu, ya?" Tanyaku dengan wajah bingung.
Aku meletakkan ponsel di atas kasur, lalu memejamkan mataku. Perasaanku saat ini, tidak mau diganggu oleh siapapun, aku butuh waktu untuk sendiri sekarang.
Triingg! Triing! Triingg! Lagi-lagi ponselku tak berhenti berdering, Rangga masih berusaha untuk menghubungiku.
Karena berisik, aku pun menjawab telpon darinya dengan perasaan terpaksa. Aku yakin pasti dia cuman mau ngomong asal-asalan, makanya aku tidak berniat menjawab telponnya itu.
"Hallo, Rangga."
"Ah, Ti. Ke mana aja? Aku udah telpon dari tadi tapi kamu gak angkat."
"Oh, itu .... Aku lagi di kamar mandi tadi jadi gak tahu ada telpon." Jawabku menutupi kebenaran.
"Ti, aku dengar dari Kia ... Katanya kalian bakal ke Yogya lusa?"
"Iya, kami bakal ke sana. Emangnya kenapa, Rang?? Kamu gak bakal larang aku, kan?"
"Hah, ya gak lah. Ngapain coba, gak ada kerjaan lain aja."
"Tapi, Ti .... Kalau kamu lusa ke Yogya, berarti ....."
"Berarti apa?" Tanyaku dengan nada penasaran.
"Berarti .... Kamu gak sedih lagi, kan?"
Ucapan Rangga, aku kira ia akan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, ternyata hanya mengatakan hal itu.
" .... Aku kira kamu mau bilang apa, ternyata cuman itu."
"Ti, sebenernya sih bukan itu aja. Aku juga ingin kamu tahu, kalau bulan depan .... Kamu bisa ketemu langsung sama Leon lagi. Ya ... Kalau kamu ke Yogya nya lama ...."
Aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rangga kata per kata. Aku awalnya tidak percaya kalau ia mengatakan aku bisa bertemu dengan Leon lagi, tetapi sudah jelas suara Rangga di telingaku, tidak mungkin salah, kan?
"Gak!"
"Apa? Ti, gak .... Apa?"
"M-maksudku ... Aku gak mungkin lama di Yogyakarta, Rang. Kami bukan mau lama-lama juga tuh, tapi aku juga gak tahu sih sampai kapan, yang jelas gak sampai bulan depan!" Jelasku.
"Ah, gitu. Oke lah, berarti kamu bisa ketemu sama Leon. Aku akan bilang ke kak Daffa untuk mengurus semuanya, yah walau kamu nanti juga bakal di jaga ketat sama ...."
Aku langsung menyambung perkataan Rangga karena perasaan hatiku sangat senang mendengar berita darinya. "Aku gak peduli! Mau itu pihak rumah sakit atau siapapun, aku hanya ingin Leon!"
"Hah, baiklah. Aku mengerti, nanti aku akan jelaskan semuanya. Kamu jangan khawatir! Yasudah, aku tutup ya, bye Tiara."
Rangga langsung menutup telponnya setelah menjelaskan kabar baik itu untukku. Kini hatiku benar-benar seperti bunga yang sedang bermekaran, aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku karena aku akan bertemu lagi dengan Leon.
Aku menguling-gulingkan tubuhku di kasur dengan wajahku yang masih memerah karena terlalu bahagia, "Yeeeahh, Tiara .... Kamu bakal ketemu sama Malaikat penyembuh lagi!" Ucapku kegirangan.
Saking senangnya, aku pun tertidur tanpa memikirkan hal lain lagi.
*******
Triiingg! Triiingg! Triiingg!
Ponselku berdering, aku tidak tahu letaknya ada di mana. Mataku belum benar-benar terbuka lebar, nyawaku juga belum terkumpul.
"Huuh, siapa sihh?" Tanyaku sambil mencari-cari di mana ponselku.
Triiing! Triiing! Triiing!
Aku menemukan ponselku di bawah bantal. Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku pun langsung mengangkat telpon itu. "Hallo? Ini siapa ya?" Tanyaku sambil bangun dari tempat tidur.
*masih ngumpulin nyawa guys.
"Tiara, besok pagi gue jemput ya? Soalnya kita ambil tiketnya urutan gitu, gue juga gak ngerti sih gimana, tapi .... Yang jelas gitu deh!"
Aku mencerna suara dari ponselku itu, sepertinya aku mengenal jelas siapa orang ini. "Kia? Ah, maaf ya! Gue baru bangun tidur nih, jadi masih rada rabun."
"Iya, gpp. Jadi gimana? Lo mau gak besok gue jemput? Biar cepet juga, abis ambil tiket kita boleh langsung balik besok." Tanya Kia dengan nada cepat.
"Btw, gue kan gak tahu alamat lo, entar share location ya?!"
"Iya-iya, Ki! Udah dulu, ya? Gue mau mandi nih, gara-gara lo juga gue jadi kebangun nih."
"Ahahaa, iya. Yaudah, sampai jumpa besok ya, Ti."
"Iya." Aku langsung menutup telpon dengan Kia.
Ah, gara-gara, Kia nih. Aku jadi kebangun, kirain ada masalah apa.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB, sudah pas lah buatku bangun dari tidur.
Karena aku sudah bangun, tidak mungkin, kan aku harus kembali tidur lagi? Nah, jadi lebih baik aku melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dan yang pastinya gak bikin gabut ya.
Allahu Akbar ..... Allahu Akbar ....
Suara adzan bergema, aku baru ingat kalau jam segini sudah memasuki waktu sholat ashar.
"Pas banget, baru bangun langsung sholat ashar." Ucapku pelan, lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera berwudhu.
*pesen nih, bagi yang agamanya islam, jangan ninggalin sholat ya! Ya, wlau author juga msih bolong² sih sholatnya juga. Hehe, sama² belajar, yuk :-)
Setelah selesai berwudhu, aku masuk ke kamar lalu mengambil sajadah dan mukenah yang akan aku gunakan untuk menunaikan kewajibanku. Aku merapikan kiblat sholatku lalu memakai mukenah, setelah itu barulah aku membaca niat dan menunaikan ibadah sholat ashar dengan sangat khusu'.
Satu rakaat lewat, dua rakaat lewat, tiga rakaat lewat, dan rakaat keempat masih kujalani. Tibalah saat tashaud akhir, telunjuk kananku tunjuk ke depan sambil membaca bacaan sholat.
"Assalamualaikum warohmatullah ..." Ucapku pelan sambil menoleh ke kanan. "Assalamulaikum warohmatullah ..." Kuulangi lagi ke arah kiri, lalu mengusap wajahku sambil mengucapkan istigfar 3x.
Aku menadahkan tanganku sambil menatap ke atas, "Ya, Allah .... Ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dan dosa saudara-saudaraku. Ya, Allah .... Tiara mohon berikan kesehatan, keselamatan, dan juga kebahagian untuk, Leon. Ya, Allah. Tiada tempat bersandar selain kepadamu, Ya, Allah. Kuatkan juga hati hamba untuk menjalani berbagai cobaan yang engkau berikan. Ya, Allah .... Kabulkanlah permintaan, Tiara. Hanya kepadamu lah, aku bisa meminta. Aamiin, Aamiin, Ya Robbal .... Alamiin."
Selesai berdoa aku kembali melepas mukenah dan membereskan sajadah kembali ke tempatnya. Setelah selesai sholat, hatiku rasanya tenang sekali, mencurahkan segala isi hatiku kepada sang Maha Kuasa adalah pilihan yang paling tepat untuk setiap permasalahan yang sedang dihadapi.
"Huuufh, akhirnya tenang juga." Ujarku sambil duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
Suasana hatiku sudah tenang, jadi lebih baik melakukan sesuatu sebelum hatiku kembali tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun nanti.
Aku kembali berdiri seraya berjalan menuju ke dapur. Aku berpikir keras makanan apa yang akan aku masak untuk nanti malam, kadang hal sesimpel itu membuatku bingung, karena tinggal sendirian.
"Emm, masak apa ya nanti?" Tanyaku sambil membuka kulkas. Kulihat masih banyak persediaan sayur, buah-buahan, daging ayam, dan juga bumbu masak lainnya.
Emm, masak apa ya?
Apa aku gak usah masak, makan diluar aja? Ah, jangan-jangan!! Kan lusa bakal ninggalin rumah ini.
Jangan makan di luar! Kalau gitu ... Ya terpaksa masak, tapi bingung mau masak apa?!!
Bahan-bahannya ada, lengkap lagi! Tapi .... Bingung benerann nihh.
Oh, iya. Catatan hitam! Aku gak bisa masak ikan. Emm, sebenernya bisa sih, cuma .... Takut entar meletup-meletup gitu jadi ngeriii!
Apalagi ... Aku, kan lagi sendirian. Gak ada yang bakal bantuin masak.
Emm, yaudah deh. Aku masak daging ayam aja kali, ya? Kalau kebanyakan entar kasih ke tetangga depan atau samping.
Gak enak juga kalau diam-diam kayak gini aja, mereka juga udah baik banget sama aku.
BERSAMBUNG .....
Hallo, Tim Berrysmile Dan Tim Berryvanilla!!
Wahh, kalian semangat banget bacanya, sampai udah dipertengahan L&M 2 nih.
Hehe, biasanya sih ... Author gak akan kasih tahu readers kalau misal ceritanya udah mau End, tapi karna nih cerita yang paling lama author selesaikan ... Yah, mau gak mau harus ngasih kode keras ke kalian nih, hehe.
Mutiara : "Langsung ke intinya aja, thor!"
Iya, Ti! Sabar napa sih?!
Jadi intinya, nih. Beberapa Bab lagi, L&M 2 akan segera meninggalkan kalian nih readers tercintahhh :-(
Gimana, sedih? Seneng? Biasa aja? Yah, itu urusan kalian sih.
Yang penting sekarang author udah ksih tahu kalian semua tentang hal itu, jadi makanya jangan baca terlalu cepat ya .... Wkwkwk entar tahu-tahu udah Ending aja kan sad banget gak sih?? 😂
Okeyy, karna author masih punya banyak kerjaan lain, jadi segini aja deh dulu ya! Sampai jumpa di next Bab readers tercintaaaahhh.
*BTW, Ada yang nungguin Leon gak? masih lama dia munculnya guys, jangan sedihh ya!