
Setelah berdebat cukup lama dengan diriku sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk memasak sendiri di rumah. Mulailah aku mengambil bahan-bahan dan alat masak yang akan digunakan, dan juga mencatat apa saja yang akan di masak.
"Bumbunya ada .... Merica, jahe, kunyit, garam, dan .... Apa nih, lupa?" Ujarku sambil mengingat satu lagi bahan bumbunya.
Aku membuka kulkas dan mengamati semua yang ada di dalamnya, "Nah, astaga! Lengkuas, kok bisa lupa sih?!" Aku mengambil lengkuas lalu meletakkannya di atas meja masak.
Aku mulai menghitung semua bahannya, apakah sudah lengkap atau belum. Mulai dari daging yang sudah dicuci dan diiris tipis-tipis, sampai sayur yang juga sudah kupetik juga sudah ada di depan mataku.
"Oke, dan sekarang .... Ya, tinggal masak aja, kan?" Ujarku sambil tersenyum.
Aku memulai memotong semua bahan-bahan, lalu mencampurkan bumbu ke daging ayam yang sudah aku potong tadi, barulah setelah itu aku memanaskan minyak nya di dalam wajan.
Bermenit-menit memasak, aku sangat serius loh. Kalau sudah soal memasak, aku gak mau main-main, soalnya kita kan perempuan, setinggi apapun kita sekolah entar pasti kerjaan utama itu ya emang di dapur dan mengurus pekerjaan rumah lainnya. Makanya nih, pesanku bagi kalian, jangan bangga deh sekolah tinggi-tinggi tapi kalian gak bisa masak dan ngurus kerjaan rumah, karena itu hal yang paling penting walau kelihatan remeh.
15 menit kemudian .....
Aku meletakkan masakan tadi di atas piring dan menyusunnya dengan rapi. Aku juga memasukkan sebagian ke dalam kotak makanan yang waktu itu diberikan oleh tetangga depan rumah.
"Ah, siap juga. Aku antar makanan ini dulu deh ke depan, baru abis itu mandi." Ucapku sambil menenteng kotak makanan itu menuju ke pintu depan rumah.
Aku keluar dari rumah dan langsung bergegas berjalan menuju ke rumah tetangga yang ada tepat di depan rumah Leon itu. "Hmmm, ada orang gak, ya?" Aku berdiri di depan pagar rumah itu sambil melihat ke halaman yang ada di dalam.
Kulihat suasana rumahnya sepi sekali, tidak ada mobil yang biasanya terparkir di depan pagar. Aku beranggapan kalau mereka sepertinya sedang keluar rumah, karena itulah aku memutuskan kembali pulang.
"Hah, kayaknya emang gak ada orang. Kalau manggil dari sini, kan .... Gak sopan." Aku menekuk bibirku ke atas karena kecewa. "Yaudah deh, entaran aja kasihnya, aku simpan di kulkas dulu." Lanjutku sambil membalikkan badan menuju ke arah rumah.
"Mbak, Tiara!"
Aku menoleh, ada yang memanggilku. Ternyata tetangga yang baru saja aku cari-cari, "Ah, iya?" Aku tersenyum kecil.
Ia menghampiriku dengan wajah bingung, "Loh, kok mbak Tiara ada di depan rumah saya, mau ngapain?" Tanya ibu itu dengan nada lembut.
Aku pun memberikan kotak makanan itu padanya, "Anu ... Saya tadi mau kasih ini buat ibu. Itung-itung, rasa terima kasih saya juga." Jawabku.
Ibu itu menerima apa yang aku berikan padanya, "Oh, iya. Kirain kenapa, mbak Tiara ke rumah saya. Tadi saya baru habis dari depan, ke locket yang jual tiket untuk suami saya."
"Oh, gitu ya, bu. Emangnya suami, ibu mau ke mana?" Tanyaku penasaran.
"Ini, mbak. Suami saya itu dituntut sama pihak kantornya buat pindah tugas sementara di Bogor, jadi saya bingung harus gimana." Jelasnya.
Aku mengangguk mengerti, "Oh, begitu. Berarti sama aja sih, ya."
Ia mengangguk, "Iya, mbak. Kerja zaman sekarang kalau gak nurut apa kata atasan langsung di DO, padahal gaji juga gak sesuai juga."
Aku tersenyum, "Ahaha, iya. Leon juga kadang bilang gitu juga, bu. Tapi, ya ... Namanya dokter, kalau pindah tugas bisa buat dia banyak membantu orang, mau gimana lagi?"
"Iya, mbak. Apalagi jauh gitu, langsung ke negara orang, apa gak kesepian di rumah sendirian, mbak?" Tanya ibu itu dengan wajah khawatir.
Aku menggeleng, "Ah, gak masalah kok, bu. Saya emang udah terbiasa sendiri juga, kan saya juga masih kuliah." Jawabku.
Ibu itu menepuk bahuku sekali, "Aih, kenapa gak berhenti aja kuliah, terus jagain anak? Kan dokter Leon gajinya pasti gede?"
Waduh, mulai lagi nih pembicaraan yang tidak seharusnya.
Bagaimana nih? Udah terlanjur ke bawa, jadi gimana mau ngindarnya coba?
Apa langsung pura-pura sakit perut, terus balik ke rumah? Ah, janganlah gak sopan banget!
Terus gimana dong, Ti?
Ayo, otak! Berpikir kritis, sebelum banyak pertanyaan-pertanyaan yang lebih pribadi!!!
"Mbak, Tiara?" Tegur ibu itu, membangunkan lamunanku.
Aku terkejut dan sepontan menjawab pertanyaannya, "Ah, iya. Saya dan Leon masih punya kesibukan masing-masing, saya masih mau lulus kuliah, dan juga Leon. Leon juga harus .... Bekerja lebih giat lagi."
"Oh, gitu. Iya, sih. Namanya juga pasutri muda, ya kan. Pasti untuk sekarang lebih mikirin karir masing-masing dulu, entar kalau udah selesai semua baru deh."
Aku mengangguk, "Aha, iya, bu."
Ini kesempatan untuk aku pamit pulang ke rumah.
"Udah sore nih, bu. Saya mau beres-beres rumah juga, saya balik ya, bu."
"Ah, iya. Makasih ya, mbak Tiara. Maaf ngerepotin, nih."
"Gpp, bu." Jawabku sambil berjalan menuju ke rumah.
Aku berjalan cepat, lalu langsung masuk ke dalam rumah supaya tidak ada yang memperhatikanku lagi. Aku bersandar di belakang pintu sambil menghela napas lega.
"Huufhhh, akhirnya bisa lolos dari pertanyaan emak-emak!" Ujarku sambil mengelus dada.
Karena aku sudah kembali dari rumah tetangga, aku pun langsung bergegas mandi, Lalu melakukan aktivitas lainnya sambil menunggu waktunya sholat magrib tiba.
******
Keesokan harinya, di kampus .....
Aku dan Kia baru saja sampai di kampus, tadinya dia yang menjemputku ke rumah Leon, makanya kami bisa bersama sekarang. Aku juga sudah menjelaskan padanya, kalau rumah itu bukan rumahku, melaikan rumah Leon.
"Ti, sejak kapan lo tinggal di rumah pacar lo?" Tanya Kia sambil berjalan.
Aku meliriknya, "Emm, baru beberapa hari ini sih, masih barulah." Jawabku singkat.
"Lo serius? Gilak, gak ada yang curiga gitu, kalau lo tinggal di situ?" Tanya Kia semakin penasaran.
Aku menggeleng, "Ya, gak. Karna ... Mereka ngira kalau gue sama Leon itu ..."
"Sttt, Ki ... Jangan gede-gede dong ngomongnya! Entar kedengaran orang, salah paham lagi nanti." Ujarku pelan.
Aku mengangguk, "Iya, gitu deh. Gue juga gak tahu kenapa mereka langsung mandang gue gitu, padahal gue atau pacar gue gak pernah tuh bilang kalau kami berdua udah nikah." Jelasku panjang lebar.
Kia menggeleng, "Astaga, gila-gila! Makanya itu mereka gak curiga sama lo? Kenapa bisa gitu, ya?!"
"Yaa, gue juga gak tahu. Pas baru pindah ke situ, langsung diomongin sana-sini kalau gue itu istrinya pacar gue, Ki."
Kia tertawa, "Ahaha, astaga! Beneran, deh. Iya, sih. Ini juga karna pacar lo gak kasih tanggapan apa-apa kali soal hubungan kalian sama tetangga-tetangganya, makanya jadi salah paham gitu. Tapi, kayaknya seru juga ya?!" Sindirnya.
Aku kesal, "Yah, seru gimana? Tiap menit kalau keluar pasti selalu ada yang nanya, mau ke mana mbak Tiara? Udah dari kapan nikahnya? Capek banget!!!"
Kia mencoba menenangkan emosiku, "Ahaha, yaudah. Sekarang kita pergi ambil tiket aja dulu, baru deh kita entar jalan-jalan bentar ke mana gitu? Biar ngilangin stress lo." Sarannya.
Aku pun mengangguk, "Ah, iya deh."
Tidak mau lama-lama berdebat, aku dan Kia pun segera bergegas ke loket pengambilan tiket yang ada di depan kantor dosen.
Dari jauh, sudah terdengar keramaian yang berasal dari ruang dosen. Aku dan Kia langsung berlari melihat apa yang sedang terjadi di sana.
"Liat, Ti! Desak-desakan gitu, lo gpp? Gak ada Leodi loh di sini, dia kayaknya gak masuk karna ...."
"Gpp, Ki. Gue pasti bisa kok, gue gak bisa bergantung terus-terusan sama Leodi, lagian gue gak mau juga entar kayak ngasih harapan sama dia." Sambungku.
"Emm, yaudah deh. Kita langsung ke sana aja, entar gue bakal tarik lo, jangan pernah lepasin tangan gue, oke!"
Aku mengangguk, "Iya, Ki."
Raja Arwan! Ada orangnya, gak?!
Gak tahu! Ada kayaknya!
Awas A**U! Jangan dorong-dorong!
Finka Riska! Ada?
Ada! Makasih, pak.
An**r, cewek duluan broo!
We, kasih jalan duluan buat yang cewek! Punya otak, gak?!!
Kenapa gak baris aja sih? Biar pada ngantri, gak kayak gini?
.......
Ditengah keributan itu, aku dan Kia berpegangan tangan dengan sangat erat sekali untuk menembus ramainya manusia yang juga ingin mengambil tiket tur mereka. Tidak tahu kenapa, mereka tidak berbaris dan mengantri, sehingga membuat pihak kampus kesulitan untuk membagikan tiket kepada kami semuanya.
"Ti, sini! Jangan lepasin tanganku, ya! Kita tunggu nama kita disebut, abis itu baru kita langsung cabut!" Saran Kia dengan nada suara tinggi.
Aku mengangguk, "Iya, aku ngerti." Jawabku singkat.
Pak, cepet, pak! Tiket saya mana nih? Kelamaan.
Sabar-sabar! Bagiin yang cewek dulu, tong!
Kasih jalan nih buat yang cewek, jangan sampe kenapa-napa cuy!!
Awas, ba**ke! Banyak kali mulutmu.
Nira Zazkia! Ada orangnya?!
"Ada, pak! Saya di sini!!" Teriak Kia sambil mengangkat tangannya supaya terlihat.
Oh, ada. Nih, tiketnya ya! Jangan ketinggalan besok ngumpul di kampus dulu.
"Iya, pak. Makasih." Kia menerima tiketnya lalu kembali mencariku.
Aku sengaja melepaskan tangan Kia supaya ia bisa pergi mengambil tiketnya, sepertinya ia benar-benar tidak sadar akan hal itu. Aku berada di tengah kerumunan banyak orang, terutama sih laki-laki. Mereka semua mendorong satu sama lain untuk mengambil tiket, padahal pihak kampus akan memberikan tiket sesuai dengan nama bukan dikasih sembarangan.
Mendengar suara keramaian yang begitu ricuh, ditambah lagi sikap saling dorong-mendorong, membuat kepalaku terasa sangat pusing sekarang ini.
Ya, Tuhan. Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing gini? Apa karna sesak? Karna keramaian ini?
Siapapun, tolong bantu aku ....
Pandangan mataku pudar, tubuhku langsung tersungkur ditengah kerumunan itu.
Eh, ada cewek pingsan, pak!
Mana? Ih, iya. Wah, gawat tuh.
Kenapa pingsan? Kayaknya kena desak-desak tuh.
Kini, aku masih bisa mendengar suara mereka, tapi tidak bisa membuka mataku dan juga tidak bisa menggerakkan tubuhku. Setelah itu, aku tidak tahu apapun yang terjadi lagi padaku. Aku tidak tahu aku di mana, aku tidak tahu apakah aku masih bisa membuka mataku atau tidak, aku juga tidak tahu apa yang Kia lakukan saat tahu aku pingsan begini, aku benar-benar tidak mengetahui kejadian selanjutnya.
*******
Sepertinya aku sudah tidur cukup lama, aku ingin segera bangun, aku mohon!
Buka matamu, Mutiara! Buka!
Aku mencoba menggerakkan jari-jari tanganku, semuanya terasa masih kaku. Aku juga merasakan kalau aku berada di ruangan yang sangat dingin, mungkin saja aku sekarang berada di rumah sakit. Apa mungkin aku pingsan dengan kondisi yang parah?
BERSAMBUNG ....