
Aku masih berdiri terdiam sejenak karena mendengar penjelasan ayah tentang keadaan Leon. Aku masih tak percaya, tetapi kalau aku hanya berdiri diam di sini, maka aku tidak akan pernah tahu bagaimana keadaan Leon sekarang ini.
"Bagaimana, Tiara? kamu mau menjenguknya?" Tanya ayahku dengan nada pelan.
Aku mengangguk walau dalam hatiku masih ragu, "Ya, ayah. Aku ingin ke rumah Leon, sekalian bertemu sama mama." Jawabku, "Tiara ke atas dulu ya ayah, mau beres-beres dulu!" lanjutku lalu bergegas naik ke lantai dua untuk mengambil tas sandang ku.
Aku berlari kedalam kamar, bergegas memasukkan barang yang perlu kedalam tas sandang kecil kesayanganku itu. Siapa yang menyangka kalau aku benar ingin cepat bertemu dan melihat keadaannya, entah mengapa jantungku sejak tadi terasa sangat sesak sekali sampai aku hampir tak bisa bernapas.
Aku menghela napas panjang supaya bisa menenangkan diriku, "Huuuuhh, mungkin tidak akan lama menahan perasaan ini tetapi setidaknya aku bisa tahan untuk sekarang."Aku pun turun ke lantai bawah untuk segera menyusul ayahku.
Saat aku turun ke bawah, bunda menunjuk keluar rumah, "Ayah sudah diluar menunggumu dalam mobil, cepat bergegas!" Ucap bunda cepat.
Aku pun mengangguk mengerti sambil berlari, "Ya, bun! Tiara, berangkat dulu, mungkin pulangnya agak malam!" Teriakku lantang.
Ayah sedang memanaskan mesin mobilnya, aku pun segera masuk kedalam mobil supaya ayah juga tidak terlambat pergi bekerja, apalagi Batam sekarang sudah macet seperti Jakarta. Setelah cukup lama, kami pun langsung berangkat menuju ke rumah yang Leon tinggali untuk di Batam selama dia kuliah.
Selama di perjalanan, aku merasa sangat gugup sekali, soalnya Leon adalah orang yang paling aku tunggu selama bertahun-tahun lamanya setelah kejadian di taman waktu itu. Aku masih merasa kalau dia akan terus menjadi malaikat penyembuh untukku sampai pertemuan saat ini. Jika aku hitung baru dua hari aku bertemu dengannya, tetapi aku sudah bisa menerimanya masuk kedalam kehidupanku. Aku mencoba menghubunginya, tetapi aku tak punya nomor hp Leon, aku tak sempat memintanya kemarin.
Jadi, satu-satunya cara adalah.... "Emm, ayah?"
"Ya, Tiara?" Jawab ayah sambil menyetir mobil.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas, "Ayah punya nomor Leon?Tiara ingin bicara sebentar dengannya." Tanyaku dengan nada pelan.
Ayah memberi isyarat untuk mengambil ponselnya di dalam tas kerjanya, aku pun mengambilnya, "Lalu?"
"Kamu cari nama Leon di kontak ayah, ada kok. Baru kamu salin ke kontak hp kamu, ternyata kalian tidak berbagi nomor hp? Padahal sudah tiga hari."
Aku terdiam sejenak, "Anu, aku lupa ayah! soalnya kami kan langsung bertemu. Tiara telpon Leon dulu, Yah!?" Ayah mengangguk mengerti, aku mencoba menghubungi nomor Leon yang ada di ponsel ayah tadi.
Sekali aku mencoba menghubungi memang tak diangkat oleh Leon, mungkin dia mengira kalau nomor orang iseng aja, tetapi aku tak menyerah.
Hp Leon berdering tetapi dia sengaja tidak mengangkat telpon masuk padahal dia mendengarnya. Mama Leon yang mendengar dari dapur pun menegurnya untuk segera mengangkat telepon itu, " Leon, sebaiknya diangkat, siapa tahu penting." Ucap mama dengan nada pelan.
dia pun mendengarkan ucapan mamanya, lalu segera mengangkat telepon dariku. "Halo, ini siapa?"
Bahkan ayahku yang sedang menyetir pun sempat terkejut karena aku tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi seperti itu, tetapi aku menghiraukan ayahku. "Aku baik, Tiara. Cuman kayak semalam aja, kecapean!" Jawabnya dengan nada suara yang lemah.
Aku tidak percaya padanya, "Bohong!aku akan segera kesana, tunggu aku!" Ucapku dengan nada tinggi, lalu langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Leon. Aku merasa kesal, aku langsung memasukkan kembali ponselku dalam tas, ayahku tertawa karena tingkah putri nya yang aneh ini.
"Tiara, kamu dan Leon itu memang cocok." Kata Ayahku.
Aku semakin kesal, "Apa? cocok? yang mana yang cocok ayah?" Tanyaku.
"Yang satu super dingin yang satu nya lagi super panas." Ledek ayahku sambil menyetir.
Aku menekuk kedua alisku ke bawah karena kesal nya tak bisa kugambarkan lagi, tidak mungkin juga aku membentak pada ayahku sendiri, jadi lebih baik aku menahan amarahku ini sampai di depan Leon, sasaran utamaku.
Aku terus meratapi jam tanganku yang kupakai di tangan kananku itu, aku sangat tidak sabaran kalau sudah menyangkut hal yang penting bagi hidupku. tetapi, entah mengapa aku merasa kalau Leon itu adalah bagian terpenting dalam kisah hidupku, apakah kalian juga merasa begitu? Ah, aku tak terlalu memikirkan urusan itu untuk sekarang, karena umurku masih 16 tahun, perjalanan yang harus kutempuh masih banyak.
Mama Leon menghampiri putranya yang tengah duduk di taman rumahnya itu, dia tampak khawatir. "Leon, apa tidak sebaiknya kamu beritahu semuanya di awal seperti sekarang? Mama khawatir, jika semuanya akan memperburuk keadaan saja."
Leon yang tengah fokus dengan sebuah notebook dan sedang menulis sesuatu pun langsung menghentikan kegiatannya itu karena mama nya sudah merasa khawatir dengan keadaannya sekarang.
"Ma, Leon gak bisa langsung bilang kayak gitu ke Tiara. Mama tahu kan, kami baru saja bertemu kembali setelah 12 tahun lamanya, kalau dia tahu kehadiran Leon kali ini karena itu, pasti dia gak akan nerima ini." Jelas Leon panjang lebar dengan wajah pucatnya itu.
Mama membelai kepala Leon dengan lembut, "Ya sudah, terserah kamu saja bagaimana. Mama hanya ingin kamu bisa bahagia, mama tidak mau kamu merasa semuanya cepat berlalu." Setelah itu mama kembali ke dalam rumahnya dan meninggalkan percakapannya dengan Leon.
Mobil ayah berhenti di depan sebuah rumah yang minimalis tetapi sangat modern berlantai dua itu. Ayah menatapku dengan senyuman nya, "Kita sudah sampai di rumah Leon, Tiara! kamu tidak mau turun?" Tanya Ayahku.
Aku mengangguk, "Ya, tentu saja aku akan turun ayah. Untuk apa sudah jauh-jauh kesini tetapi tak masuk kedalam dan menemui orangnya?!"
Aku turun dari mobil ayah, berdiri di depan rumah Leon? Apa aku mimpi?kalau iya tolong bangunkan aku!! Aku melihat ke segala arah yang ada di halaman rumahnya itu, ada sebuah bagasi disamping sebelum ke pintu depan rumah, ada motor kesayangan Leon terparkir di dalam sana. Ya Tuhan, mengapa semakin ingin bertemu dadaku terasa sesak? apa dia memang seorang malaikat? Aku tiba-tiba merasa aura aneh keluar dari dalam rumahnya, apa cuma perasaanku saja? tetapi, tak mungkin. Karena aku tak sedang bermimpi sekarang, semuanya nyata, dunia ini nyata.
"mengapa aku malah berdiri di depan sini? apa aku tak mau masuk kedalam?" Aku bergumam dalam hati. Kini sungguh, aku benar-benar mengalami tingkat kesulitan yang sangat besar karena aku tak paham soal hatiku ini.
Aku memberanikan hatiku untuk melangkah ke depan pintu rumahnya, akhirnya beberapa langkah sampai juga, Aku langsung mengetuk pintu rumahnya itu. "Akses diterima. Selamat datang, Tiara!" Aku terkejut, karena ternyata di pintu rumah Leon ada pendeteksi dan pelacak orang yang datang ke rumahnya. Wah, berarti aku sudah terdaftar di rumahnya? padahal aku belum pernah kemari, sungguh menakjubkan. Sama seperti orangnya, ternyata penuh misteri, bahkan aku benar-benar tak melihat ada alat di dalam pegangan pintu rumahnya itu.
BERSAMBUNG .....