L&M

L&M
BAB 30 : Terungkap



Kak Daffa menepuk bahuku dan bahu Rangga pelan-pelan sambil menghela napasnya, "Rangga, Tiara!mungkin akan berat untuk kalian menerima ini, terutama untukmu Tiara. Kamu akan sangat terpukul jika aku memberitahumu, tentang Leon."Jawabnya dengan nada pelan.


Aku menggenggam erat dan penuh harapan pada kak Daffa, karena hanya dialah yang selama ini dekat dengan Leon dan dia sebagai dokter pendamping yang baik untuk Leon. "Katakan saja padaku kak!aku akan menerimanya, aku akan mendengarkanmu!aku tak mau kehilangan Leon, aku gak mau!"Air mataku lagi-lagi tak bisa kubendung, hatiku terasa tersobek-sobek dengan pisau yang amat tajam sekarang. tetapi ku tetap berusaha menahannya.


"maaf, Tiara!Rangga, kamu mungkin sudah tahu kan?Leon....sudah dipastikan terkena leukemia stadium B dari 5 bulan yang lalu, Ti."Jelas kak Daffa yang juga berusaha menahan kesedihannya, harus mengetahui kalau Leon yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri harus menerima semua itu. Aku langsung menutup wajahku dan menangis dengan keras, Rangga juga tak bisa mengatakan apapun untuk menenangkanku. dia hanya bisa memelukku sambil mendengarkan tangisanku yang amat lama, "Sekali lagi, aku minta maaf! Aku ternyata bukan dokter dan kakak yang baik untuk Leon, dia sudah berjuang sendirian selama lebih 6 tahun ini, dan akhirnya semua terungkap sekarang."Lanjutnya amat merasakan penyesalan.


"Ti, kamu gak boleh tumbang!kamu harus bangkit, Ti. Kamu harus bisa buat Leon percaya kalau dia bisa sembuh, kamu adalah satu-satunya harapan dia hidup di dunia ini!kamu gak boleh buat Leon kecewa, dia udah berjuang demi membuatmu bahagia."Rangga menyuruhku untuk tidak berlarut dalam kesedihan ini, dan tetap tegar menerima kenyataan kalau Leon....sedang sakit saat ini.


Aku menghapus air mataku dan mencoba menenangkan diriku, seakan aku tak tahu tentang hal ini. Aku tak boleh menunjukkan kalau aku juga putus asa di depan Leon, kan? Aku tak boleh melakukan ini supaya dia tetap memiliki harapan untuk tetap hidup? Agar dia punya alasan dengan Tuhan, supaya tak mengambil nyawanya begitu cepat? Agar dia bisa terus bersamaku, menikmati matahari pagi, sinar bulan dan bintang yang indah menerangi langit malam setiap hari tanpa memikirkan hal lainnya.


Kak Daffa pun pamit untuk pergi melanjutkan tugasnya sebagai dokter, "Tiara, Rangga!Saya pamit, kondisi Leon sudah kembali stabil tetapi belum bisa dipastikan kapan dia akan sadar. Kamu harus tenang, Ti."Jelasnya dengan nada pelan.


Kak Daffa pun meninggalkan ku dan Rangga di depan IGD ini dengan wajah yang masih tersimpan kesedihan. Tak lama kak Daffa beranjak dariku, dari dalam IGD terdengar suara beberapa pasang roda yang mengarah keluar dari dalam sana, aku pun mengamatinya dengan saksama. Rangga juga memperhatikan, "Itu Leon, Ti!"Ucapnya pelan sambil menatap ke dalam IGD.


Aku pun melihatnya, ternyata benar kalau yang sedang dibawa keluar oleh perawat di ranjang pasien adalah Leon, Sang makhluk sempurna yang terukir di dalam hatiku. Saat mereka melewatiku dan Rangga, aku meminta salah satu perawat untuk berhenti sebentar agar aku bisa melihat wajahnya itu. Rangga juga menjelaskannya, "Ya, kalian tahu, Tiara adalah kekasih dokter Leon. Jadi berikan dia waktu sebentar untuk melihat!"Jelasnya dengan nada pelan.


Para perawat itu mengangguk dengan tatapan yang sedih. Aku meraba wajahnya yang dingin pucat itu dengan kedua tangan hangatku, aku menatapnya sambil menangis. Aku tak tahu harus mengucapkan kata apa padanya sekarang ini, aku bingung. Semua yang aku katakan belum tentu bisa dia dengarkan, aku hanya akan mengatakannya di depan semua orang yang ada di sini bersamaku, hanya membuang tenagaku. tetapi karena aku sudah ingin mengatakan ini padanya, aku akan tetap berbicara pada Leon walau dia tak bisa membuka matanya untukku saat ini.


"Hai, Malaikat penyembuhku!....bagaimana keadaanmu sekarang, kamu sudah merasa baik?"Tanyaku dengan nada bergetar sambil terus menatapi wajah kakunya itu. Para perawat itu tiba-tiba ikut menangis dan tak bisa menahanku untuk menjauh dari Leon, begitu juga dengan Rangga yang hanya bisa diam sambil menahan semua perasaannya melihatku seperti ini di depannya. "Leon, please! Go to your eyes, listen to me! Aku ingin kamu tetap sadar, aku ingin kamu tetap bisa berbicara denganku, dan aku ingin...kamu tetap menunjukkan padaku your mysterious smile setiap detik denganku!"


Aku menggenggam tangannya, aku ingin memakaikan kembali cincin itu padanya, tetapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan itu. Karena Rangga sudah tak kuat melihatku terus menangis, dia pun menarikku untuk menjauh dari Leon supaya bisa cepat dibawa ke ruang rawat. Aku tak menolak, para perawat itu pun langsung membawa Leon pergi dariku. "Ti, kita akan bertemu Leon lagi nanti! Sekarang kita harus istirahat sejenak sambil menunggunya dipindahkan ke ruang inap. Aku janji kalau Leon akan baik-baik saja nanti."


Sore harinya aku dan Rangga masih menunggu Leon segera sadar, tetapi dia belum juga membuka matanya itu. Rangga yang sudah tampak kelelahan karena kondisinya pun masih belum pulih, masih saja memaksa untuk tetap menunggu sampai Leon terbangun, karena dia tidak mau membuatku sedih di depannya. Ku tak mau Rangga mengapa-mengapa, jadi aku memanggil kak Daffa untuk memeriksa kondisinya itu.


Kak Daffa mengetuk pintu lalu masuk, "Ada apa, Tiara?"Tanya kak Daffa dengan nada pelan sambil memperhatikanku dan Rangga.


Aku pun berdiri dari kursi dan menghampirinya, "Begini kak, aku khawatir pada Rangga, kondisinya itu."Jawabku.


"Ti, aku tak apa-apa. Kamu terlalu khawatir, aku sudah baik kok."Ucap Rangga menolak diperiksa oleh kak Daffa, dia merasa sudah sangat sembuh sekarang, padahal yang kulihat tidak seperti itu.


Kak Daffa mendekat padanya lalu menepuk bahunya pelan, "Benar apa yang dikatakan, Tiara! Kamu belum cukup pulih sekarang, benturan di kepalamu itu cukup bahaya tahu?!kalau terjadi sesuatu aku yang akan dimarahi Leon, dia memintaku untuk mengawasimu."Jelasnya dengan wajah santai. "Bagaimana mau mengawasi, kalau yang diawasi saja otaknya bebal!"Lanjutnya menyindir Rangga.


Rangga tampak kesal karena ucapan kak Daffa itu, dia tak bisa menjawab perkataan itu karena sepertinya dia sadar dirinya memang seperti itu. Aku sejenak menganggap ini semua hiburan karena tingkah laku mereka itu, tetapi aku tetap tak bisa tertawa lepas karena masih ada Leon yang menderita sendirian. Aku menatap wajah Leon yang kaku itu dengan penuh kekecewaan, karena dia tak mau memberitahuku tentang kebenaran ini. "Sudah berapa kali kubilang padamu, sepahit apapun kebenaran itu aku akan menerimanya!tak perlu begini, aku malah akan tambah tak menerimanya."Ucapku pelan, Rangga dan Kak Daffa juga tak mendengar perkataanku itu untuk Leon.


Mereka masih saja berdebat karena masalah kesehatan Rangga, sampai-sampai karena kak Daffa kesal padanya, kak Daffa ingin mengajaknya bertarung seperti laki-laki yang kuat. Lagi-lagi mereka membuatku tersenyum walau hanya sejenak, ku yakin mereka sebenarnya ingin aku kembali tertawa seperti diriku yang biasanya. Yang tak sedih dan selalu tertawa bersama Leon, bersama keluargaku, dan juga teman-temanku. Leon, jika kamu dengar suara hatiku ini, ku ingin mengatakan sesuatu padamu. Hanya satu kalimat, Aku menyayangimu. Seberapa besar perasaan itu, aku tak bisa menghitungnya. Yang jelas lebih luas dari lautan.


"tetapi Rangga, menurutku kamu harus istirahat sekarang!"Ucapku agak tegas pada Rangga.


Rangga tersenyum kecil, "Iya, Ti. Aku tahu kok, kak Daffa juga udah ingatin."Jawabnya. "tetapi kamu juga tak bisa terus di sini, Tiara. Kamu pulang sana, biar Leon aku yang awasi!"Lanjutnya sambil menyuruhku untuk pulang sekarang.


"Rangga benar, Ti. Kamu gak bisa terus nunggu Leon seharian, kamu bisa percayakan sama pihak rumah sakit dan juga ada saya di sini. Sebaiknya kamu istirahat di rumah, tunggu kabar dari kami di sini."Usul Kak Daffa.


Mereka berdua menyuruhku untuk pulang sekarang, kalau aku menolak pasti akan tambah ribut nanti. Ku ikuti saja apa yang baik, mungkin memang aku tak harus menunggu Leon di sini terus sepanjang hari, aku masih punya kegiatan lain untuk masa depanku. Aku mengangguk karena setuju dengan Rangga dan kak Daffa, "Ya, baiklah. Aku akan pulang sekarang, tetapi....jika ada sesuatu pada Leon langsung beritahu padaku!"


Rangga mengambil tas sandangku itu dan memberikannya padaku, "Iya, Ti. Kamu harus tetap tenang, kamu bisa percayakan denganku. Kamu tahu, kan kalau aku dan Leon sekarang satu ruangan? makanya tak perlu khawatir."Ucapnya berusaha meyakinkanku kalau tidak akan terjadi apapun pada Leon karena ada dia yang akan selalu bersama Leon.


Aku pun mengangguk sambil tersenyum kecil, "Ya, aku percaya padamu Rangga. Aku pulang dulu ya, sampai nanti!"Sapaku sambil membuka pintu, lalu keluar dari dalam ruang rawat itu untuk kembali pulang ke rumah.


"Hati-hati, Tiara!"Teriak serentak Rangga dan kak Daffa dari dalam ruangan itu. Aku hanya melambaikan tangan tanpa melihat kebelakang lagi, aku melangkahkan kakiku dengan begitu cepat karena aku tak mau perasaanku semakin berat meninggalkan Leon.


Aku menunggu taksi di luar, tetapi pada saat menunggu aku bertemu dengan salah satu Senior Leon di rumah sakit. Namanya kak Chika, kulihat dia berlari menuju ke arahku, tetapi aku tetap diam sambil memperhatikannya. mengapa dia seperti berlari kemari? Apa aku salah melihatnya, tetapi aku yakin dia mengarah padaku. Aku berusaha menghiraukannya, tetapi dia terus berteriak memanggil namaku dari kejauhan saat dia berlari, jadi aku tetap diam.


"Mutiara!Tiara, tunggu! Kamu harus tahu sesuatu, jangan pulang dulu!"Teriaknya dari kejauhan, kulihat dia terus melambai sambil memegang sebuah amplop ditangan kanannya lalu menghampiriku.


Aku kebingungan, ada apa dengan senior Leon ini. "Iya, kak. Aku sudah dari tadi diam di sini, ada apa?"Tanyaku dengan nada pelan.


Kak Chika langsung memberikan amplop yang tadi dia pegang padaku, "Nah, kamu perlu tahu semua tentang Leon. Kamu mau tahu, kan?semua kartunya....eh, bukan semua kartunya juga sih, tetapi setidaknya yang dia sembunyikan padamu ada di dalam situ!"Jelasnya dengan napas belum teratur.


Aku menatap serius amplop itu, lalu menyimpannya dalam tas. "Dari mana kakak mendapatkannya?"


"Hah, kamu bertanya padaku?tentang dari mana aku dapatkan hasil itu?Tiara, kamu masih tidak menyimak ya?!aku sudah pernah bilang kalau aku bertugas di bagian laboratorium, jadi siapapun yang melakukan tes dan sedang menunggu di sana, aku mengetahuinya dengan jelas."


"Tiara?"Tegur kak Chika.


Astaga, lagi-lagi aku melamun hal yang tak jelas. "Iya, kak. Aku ingat kakak pernah bilang gitu, maaf!aku pelupa orangnya, aku mencoba mengingatnya tadi."Jawabku tersenyum kecil.


"Oke, tetapi sudah dibilang loh, kalau melamun itu gak baik."Tegasnya. dia sontak langsung melihat jam tangannya sambil mengekspresikan wajah terkejutnya. "Hah, jam berapa sekarang? Ya, ampun!aku lupa, Tiara kamu mau bareng sama aku? Cepetan, aku agak telat nih biar sekalian?!"Ajaknya dengan buru-buru.


Karena aku juga tak mau berlama-lama di sini, akhirnya aku menerima tawarannya. "Ah, iya kak, Tiara mau kok."Jawabku.


Kak Chika pun langsung mengajakku masuk ke dalam mobilnya, dia tampak buru-buru aku tak mau membuatnya menunggu lama jawabanku tadi. Setelah masuk ke mobil, dia langsung menghidupkan mesin mobil dan tak ragu menginjak pedal gas secara langsung tanpa berpikir panjang dahulu. Aku tak bertanya ke mana dia akan pergi terburu-buru seperti ini, karena aku tak mau mengganggunya menyetir mobil, soalnya kan keadaan jalan juga masih licin sehabis hujan deras tadi pagi.


Sesampainya di rumahku, kak Chika tetap saja mengingatkanku untuk membaca amplop yang dia berikan tadi. Katanya aku akan menyesal jika tak membacanya, dia bilang terlalu banyak yang Leon sembunyikan dariku, tetapi aku selalu berusaha untuk tak mengetahuinya karena Leon juga tak pernah bisa berkata jujur padaku tentang apa yang terjadi padanya. Aku berjalan menuju ke tangga dan mengetuk pintu rumahku itu dengan perlahan, dengan raut wajahku yang juga sudah lelah karena hari ini.


Pintu terbuka, aku mengira kalau bunda yang membuka pintu, tetapi ternyata bukan. Ternyata adikku yang paling menyebalkan itu, si Dhika. Aku langsung memasang wajah malas, karena melihat wajahnya yang menyebalkan itu. "Haaah, mengapa kamu yang membuka pintu? Di mana bunda, ayah?"Tanyaku dengan tak bersemangat.


"Hey, mengapa denganmu? Kamu selalu saja tak pernah mau menerimaku kembali pulang ke rumah, aneh. Aku kan adikmu, tetapi kamu menganggapku sebagai monster aneh yang hanya beberapa kali ke rumah."Jawabnya dengan wajah kesal.


Aku langsung mendorongnya karena aku tak mau mendengar ocehan di mulutnya itu, aku juga sudah sangat lelah karena hari ini. Dia menutup pintu depan dengan wajah kesal, tetapi aku tak peduli dengan itu. "Ish, kakak yang aneh ini!"Ucapnya ketus, aku berhenti berjalan dan menatapnya dengan perasaan kesal. "Aku sudah tahu semuanya, bunda dan ayah juga. Kamu tak perlu menyembunyikannya sendirian tentang kak Leon, semua sudah mengetahuinya."Jelasnya dengan nada pelan.


Hah, mereka semua tahu dari mana? Siapa yang memberitahu mereka, apa Rangga?


Karena ku penasaran dari mana keluargaku tahu tentang semua ini, tanpa basa-basi aku langsung bertanya pada Dhika. Aku mendekat padanya, "Dari mana kalian tahu?"Tanyaku penasaran.


"Kami sudah tahu sebelum kamu mengetahuinya. Kurasa sudah sekitar 3 tahun yang lalu, dia bilang dengan bunda dan ayah, karena dia tidak mau jika kamu,....."


" 3 tahun yang lalu?sudah selama itu kalian mengetahui ini? mengapa kalian seolah tak tahu, mengapa kalian seolah tak mengerti?"


Dhika menggelengkan kepalanya, "Bukannya sengaja, tetapi kami tak mau membuatmu sedih. Kak Leon juga bilang untuk tidak memberitahukan ini padamu, dia berniat untuk mengatakannya sendiri, tetapi ternyata.....kamu sudah tahu dari orang lain."


Aku menatapnya tak percaya, "Benarkah?"Tanyaku ragu.


Lagi-lagi air mataku terjatuh, mungkin karena aku memang wanita yang lemah. Aku mudah menangis, aku mudah marah, aku takut dengan darah, aku takut dengan air yang tergenang, aku takut pada ketinggian, aku takut pada orang-orang yang mungkin akan meninggalkanku satu per satu. Aku takut semua itu, tetapi yang lebih aku takuti adalah kehilanganmu 'Malaikat Penyembuhku' Aku takut kamu pergi meninggalkanku.


Dhika menepuk bahuku pelan, sebagai seorang adik dia memang kadang menyebalkan, tetapi dia juga bisa bersikap baik jika aku terpuruk seperti ini. "Aku tahu kesedihan itu menyakitkan, kan? Aku tidak mau membuatmu kesal dengan sikapku, tetapi mau bagaimana lagi, inilah diriku. Kamu juga tahu itu, kamu harus mengerti!"Ucapnya pelan, lalu mengajakku untuk segera istirahat di dalam kamarku.


"Aku tak bisa melihat saudariku ini sakit, istirahat di atas dan tenangkan dirimu dulu! Aku yakin dia akan baik-baik saja. Tidurlah, aku akan menunggu bunda dan ayah pulang dari bandara untuk menjemput mama dan papa."


Aku pun menuruti niat baik adikku itu, ku langsung menutup pintu kamarku dan tersungkur dibalik pintu sambil menangis. Aku tak percaya kalau hari ini akan begitu panjang dan sangat menguras tenagaku, aku tak percaya apa yang baru saja aku lihat dan aku dengar tentang Leon. Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan jika esok Leon bertanya padaku tentang dirinya? Apa aku harus jujur, kalau aku sudah tahu tentang keadaannya yang tak baik itu? Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, aku tak tahu harus melakukan apa saat nanti Leon akan bertanya padaku.


Aku ingat, sesuatu yang tadi diberikan oleh senior Leon di rumah sakit padaku. Kak Chika berusaha meyakinkanku untuk membuka dan membaca apa yang ada di dalam amplop putih itu, Aku pun mengeluarkannya dari dalam tas dan segera membacanya. Baru beberapa baris aku membaca surah itu, aku langsung membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di samping meja riasku itu. Aku tambah tak percaya karena pernyataan yang ada di dalam surah itu mengatakan kalau Leon positif terfonis leukemia stadium B, dan itu sudah antara hidup dan mati.


Aku menangis sangat histeris, aku tak bisa menghentikan kesedihan yang aku terima ini. Aku terus menyalahkan diriku sendiri karena tak tahu apapun tentang keadaan sebenarnya pada Leon. "mengapa kamu tak tahu tentang ini sejak dulu, Tiara?! mengapa kamu baru tahu sekarang?! Bodohnya, kamu yang menganggap dirimu sudah mengenalnya dengan baik."


Karena sudah merasa sangat lelah, aku pun merebahkan tubuhku ke atas tempat tidurku sambil menutup mataku. Kurasakan hati ini juga sudah butuh istirahat, aku terus menyalahkan diriku sendiri karena hal ini. Aku sudahi perjalanan hari yang panjang ini, esok aku harus menerima kabar tentang Leon yang sudah baik-baik saja. Aku juga harus bisa bersikap seperti diriku yang biasanya di depan Leon, aku harus bisa menyembunyikan hal ini dari Leon.


Keesokan paginya.....


Aku baru saja merapikan tatan rambutku, aku ingin berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Leon. tetapi ada yang membuat suasana jadi tak enak, terdengar suara beberapa orang yang berdebat di ruang tamu sampai terdengar ke dalam kamarku ini. Karena penasaran dengan kegaduhan itu, aku pun turun ke bawah untuk melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi di saat pagi hari seperti ini.


Ternyata ada bunda, ayah, papa, dan mama yang tampak sedang berbicara dengan serius. Dhika juga ada di sana, tetapi dia tampak kebingungan dengan apa yang dibicarakan oleh empat orang tua kami itu. Sambil berjalan, aku menatap bingung pada mereka semua yang pagi-pagi sudah berdebat. "Bunda, ayah, mama, papa. Ada apa ini?"Tanyaku menghampiri mereka sambil merapikan tas sandang yang kupakai.


"Tiara, kamu mau ke mana?"Tanya mama dengan wajah penasaran.


"Tentu saja, Tiara mau lihat Leon. Memangnya mengapa dengan itu?"Aku balik bertanya karena semakin kebingungan dengan situasi yang saat ini sedang terjadi.


Bunda menarik tanganku dan menatapku dengan putus asa, "Ti, Leon tak akan mau bertemu dengan kamu. Dia bilang sudah tak ada harapan, dia menyuruh kami untuk tak ikut dalam masalah ini."Jelas bunda.


Mendengar ucapan bunda itu membuatku kembali tertusuk duri tajam di dalam hati, "Kalau Leon putus asa, berarti Tiara juga harus putus asa? Apakah itu akan membuatnya tenang?"Tanyaku berusaha menahan tangisku, "Walau dia bilang begitu, apapun yang terjadi, Tiara gak boleh ninggalin Leon. Ayah, bunda, mama, dan papa juga udah tahu kalau kami berdua tak menjalani ini main-main, Tiara....harus buat Leon kuat menghadapi ini semua."Lanjutku menentang keputusasaan mereka.


BERSAMBUNG .....