
"Entahlah, menurutmu bagaimana?"Leon kembali melompatkan pertanyaan padaku sambil tersenyum kecil.
Oh, semesta. Seketika waktu terasa berhenti saat dia menunjukkan senyumannya di balik wajah dinginnya itu. Hatiku terasa sangat tenang, aku harap dia juga begitu sekarang. Aku tak mau Leon terus memikirkan tentang kejadian tadi.
15 menit perjalanan, akhirnya sampai juga di Rumah Sakit tempat Leon bekerja. Yaitu Rumah Sakit Awal Bros, Rumah Sakit yang paling bagus dan juga bisa diandalkan untuk pasien. Katanya, Rumah Sakit ini juga punya 12 cabang di Kota-kota yang ada di Indonesia, tetapi yang jelas Leon masih stay di Rumah Sakit ini. Leon segera memarkirkan mobilnya dan langsung turun dari mobil.
dia langsung berlari masuk ke ruang IGD yang menangani pasien darurat. Leon tahu kalau korban tadi sepertinya sedang ditangani di ruang itu, aku menyusulnya tetapi aku tak bisa mengejarnya. Dia terlalu cepat berlari, langkahku tak bisa menjangkau tangannya. "Leon! Leon, tunggu!" Aku terus mengejarnya, tetapi pada saat mau masuk ke dalam aku langsung dihadang oleh security RS.
"maaf, nona. Anda tidak boleh masuk, hanya dokter, petugas, dan juga pasien yang boleh ke dalam."Ucap Security itu dengan nada pelan.
Aku terus melihatnya dari pintu kaca itu, aku harap tidak terjadi apapun pada korban itu. Seketika perasaan hatiku langsung kembali gelisah, padahal orang yang aku sayangi sedang baik-baik saja. Leon sempat berhenti berlari dan melirikku sejenak, lalu dia pergi lagi.
Aku pun memilih untuk menunggunya di luar, seberapa lama pun akan ku tunggu. Seperti yang dia lakukan setiap kali menungguku bangun dari mimpi buruk. tetapi mengapa hatiku terasa sangat....sangat sakit sekarang?Apa akan terjadi sesuatu atau sekarang memang sedang terjadi sesuatu? tetapi dengan siapa? Aku harus menunggu Leon keluar dan memberitahuku semuanya yang terjadi di dalam.Karena di sini tidak tersedia kursi tunggu, aku pun memilih untuk masuk ke RS lewat pintu depan dan menunggu Leon di sana saja. Siapa tahu nanti Leon ataupun dokter yang lain akan lewat di pintu satu.
Supaya tidak bosan saat menunggu, aku memainkan ponselku dan melihat-lihat sosial media. Kalau kalian bertanya bagaimana keadaan suasana di ruang tunggu ini, sungguh ramai sekali. Walau disebut sebagai tempat yang tak boleh banyak kebisingan, tetapi tetap saja keadaannya akan berubah menjadi pasar. "Haaah, mengapa di Rumah Sakit pun masih saja ada kebisingan?!bahkan Leon juga pasti tak suka dengan keadaan seperti ini."Ucapku pelan.
Waktu terus berjalan, sekarang sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tetapi Leon belum juga terlihat keluar dari ruang IGD. Karena aku tak mau kelewatan tidak melihatnya, aku berhenti bermain ponselku dan kembali menyimpannya dalam tas. Aku melihat ke arah resepsionis yang juga masih ramai di penuhi oleh beberapa keluarga pasien yang ingin mendaftar dan bertanya-tanya tentang yang berhubungan dengan pengobatan. Aku berkali-kali mengetuk kaca jam tanganku dan melirik ke sana- ke sini, tetapi tak juga kulihat sang pujaan hati.
"Aku rasa dia akan baik-baik saja, karena kamu sudah melakukan tindakan dengan benar sebelum di bawa kemari." Aku mendengar suara yang tidak asing ditelingaku. Ya, itu tidak salah lagi, suaranya kak Daffa.
Aku langsung berdiri dari kursi tunggu itu, sambil mencari keberadaan kak Daffa. "Ya, aku tahu. tetapi aku tak mengerti apa artinya ini semua, akankah semua baik-baik saja?" Aku juga mendengar suara Leon, aku berjalan semakin dekat ke arah suara mereka itu.
"Tenang, Kamu tak bisa khawatir dengan orang seperti ini Leon? apa yang terjadi denganmu, bukannya kamu bilang dia adalah penyebab Tiara selalu menghadapi hari yang panjang?"
"Iya, tetapi.....Aku tak mengerti saja."
Aku menemukan mereka, tepat di depan mataku. tetapi aku tak mau mendekat dulu, aku ingin mendengar apa yang mereka bicarakan dibelakangku, tentang korban itu juga. Aku sangat penasaran, karena kendaraan di lokasi kejadian tadi terlihat taka sing bagi mataku. Sebaiknya aku bersembunyi dibalik dinding ini, supaya tak terlihat dengan mereka. Aku juga bisa mendengar percakapan mereka, mengapa Leon gelisah dan sangat panik tadi.Leon dan kak Daffa sedang berbincang di depan ruang pasien VVIP, sepertinya korban tadi mendapat perawatan yang layak di sini.
tetapi aneh, sejak awal kecelakaan itu terjadi tadi, taka da satupun orang dari keluarga dari korban itu yang datang dan melihat keadaannya itu. Apakah dia sudah tak punya keluarga? tetapi mengapa aku merasa ada yang sengaja disembunyikan oleh mereka berdua dariku? Karena aku penasaran, aku harus mendengar semua percakapan mereka sekarang.
"Bagaimana dengan Tiara?kamu bilang dia datang denganmu, di mana dia sekarang?....Apa kamu meninggalkannya di luar tadi?"Tanya Kak Daffa dengan wajah terkejut sambil menggelengkan kepalanya.
Aduhh, mengapa mereka hanya membahas tentangku? Ayo, langsung bicara jelas saja tentang orang itu Leon!!Aku ingin tahu saja apakah dugaanku benar atau salah tentang orang itu.
tetapi kamu malah diam saja dan kak Daffa juga membahas masalahku?!Selesaikan masalah tentang kita nanti Leon, aku ingin semuanya jelas sekarang.
Tak lama Leon menjawab pertanyaan Kak Daffa padanya, "Mau bagaimana lagi, Tiara tidak boleh masuk ke IGD, kan?aku juga sebenarnya tak mau membiarkannya menunggu di luar."Jawabnya dengan nada datar.
Aihh, itukah yang kamu rasakan dalam hatimu tentangku? mengapa tidak langsung bilang padaku saja, Leon?! Kamu bisa jujur padaku, kalau kamu sudah khawatir, dan juga tak mau lelah bilang padaku!
Kak Daffa menepuk bahu Leon pelan, dia ingin memberikan saran pada Leon. "Hei, dengarlah!Aku tahu perjalanan cinta kalian itu tak semudah membalikkan telapak tangan. tetapi kamu juga kadang harus mengatakan apa yang kamu rasakan padanya langsung."
Leon menatapnya serius, "Apa?kamu merasa aku salah bicara?"Tanya Kak Daffa kebingungan, "Hei, aku lahir 5 tahun lebih tua darimu. Aku tahu dunia ini lebih dulu darimu, jadi dengarkan apa yang aku katakan agar kalian tetap di jalan yang sama. Aku balik ke ruang kerjaku ya!"Setelah mengatakan hal itu, kak Daffa langsung meninggalkan Leon tanpa menunggu tanggapannya.
Aku berusaha menyembunyikan diriku dari kak Daffa yang melewati jalan searah dengan tempatku bersembunyi. Dia tak melihatku, kak Daffa berjalan dengan santai berbeda dengan Leon, kalau dia sedang berjalan sendirian pasti dia akan melangkah sangat cepat. Aku selalu tak bisa mengejar langkah kakinya itu, aku selalu ditinggalkan jika telat berjalan.
Aku sangat setuju dengan apa yang kak Daffa katakan pada Leon, kejujuran adalah hal penting di antara kita berdua Leon. Bukan hanya saling percaya, tetapi juga harus ada kejujuran di antara kita. Kita harus tetap berada di hati dan jalan yang sama, agar kita bisa menemukan kebenaran hati kita sebenarnya.
Aku mengintip sedikit ke arah Leon, kulihat dia memperhatikan cincin di jari manisnya itu dengan wajah gelisah. Melihatnya begitu, aku juga jadi tak enak dengan perasaan hatiku sebenarnya. "Apakah dengan kejujuran semua masalahku akan selesai begitu saja? Apakah akan semudah itu?"Tanya Leon berbicara sendirian.
Menurutku begitu Leon. Kamu harus jujur tentang segalanya denganku!
Aku melihat banyak keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran dalam hatinya kini. Aku ingin menghampiri, tetapi aku tak mau melangkah mendekat padanya. Aku ingin tetap begini saja.
Aku tak tahu kalau kamu juga menghadapi keraguan ini Leon, aku tak tahu. Aku mengira kamu tak akan pernah mengalaminya, karena kamu juga tak pernah berbicara tentang ini denganku.Aku tak memikirkan hatimu bagaimana, aku tak pernah menduga ini akan terjadi.
Tak lama, Leon pun langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Untuk menebus kesalahanku padanya, aku menunggunya melangkah ke tempatku bersembunyi tadi, aku pun langsung menggandeng tangannya dengan erat dan mengatakan semuanya. "Leon, aku sudah dengar semuanya. Maafkan aku, aku tak bermaksud mendengarnya!"Jelasku.
"Tidak, siapa yang bilang aku marah padamu?lagi pula tidak ada yang aneh dari pembicaraan kami tadi, kan?"Tanya balik Leon padaku. dia tak mau berhenti berjalan dan menatapku, dia terus melangkahkan kakinya, jadi aku terpaksa bertanya sambil berjalan dengannya.
"Dari wajahmu dan caramu berbicara sudah membuktikan kalau kamu sedang tidak fokus."Jawabku singkat sambil menatap matanya serius. Aku berusaha membuatnya kembali ke topik utama pembicaraan ini, tetapi dia tak mau membuka kartu apapun denganku. dia malah mengarahkanku keluar dari RS dan kembali ke parkiran di mana dia meletakkan mobilnya tadi.
dia membuka pintu mobilnya untukku lalu segera masuk ke dalam mobil, "Nanti saja kita bicarakan hal itu, Ti. Sekarang sudah sangat terlambat ke Kantor!"Ucapnya dengan nada cepat.
Karena dia bilang begitu, aku pun langsung bergegas masuk ke mobil dan tak menunggu lama dia langsung menyetir mobil menuju ke arah kantor papa untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di sana. Di sepanjang perjalanan, aku terus memperhatikan pakaiannya yang sudah berlumuran darah karena tadi. tetapi aku takut dia akan marah jika aku bilang begitu, jadi lebih baik aku diam saja dan fokus.
"Ada yang ingin aku katakan padamu, aku sudah lama menyimpan ini semua. Aku akan bilang padamu di waktu dekat ini, aku tidak akan menyembunyikannya lagi padamu."
Aku terkejut seketika karena Leon tiba-tiba mengucapkan perkataan itu padaku, dia ingin memberitahuku tentang sesuatu. "Memang apa yang akan kamu katakan?Apakah kejujuran itu akan menyakiti atau memperbaiki kesalahpahaman ini?"Tanyaku dengan nada pelan sambil menatapnya serius, aku sangat penasaran dengan apa yang akan diungkapkannya padaku dengan kata-kata yang sangat serius itu.
"Aku akan katakan itu setelah semua urusan ini selesai, Ti. Aku janji!"
Ya, kamu memang selalu begini. Kamu akan menepati janjimu dengan cara yang tidak aku duga, kan? tidak akan berjalan sesuai rencana, tetapi pasti akan tetap seperti janjimu di awal padaku. Itulah kamu Leon, yang membedakan kamu dengan yang lain. Kamu adalah 'Malaikat penyembuh' yang selalu ada untukku, yang selalu punya cara untuk membuat suasana hatiku kembali membaik.
Aku mengangguk mengerti, "Ya, baiklah. Aku tahu kok, urusan keluarga kita lebih penting sekarang ini."
Sesampainya di Kantor papa, Leon menghentikan mobilnya di depan pintu masuk Kantor. dia menyuruhku untuk segera turun dan memberikan kunci mobilnya pada satpam yang ada di sana dengan berbicara sopan, aku menghampirinya dan dia langsung menggenggam tanganku hingga masuk ke dalam Kantor tanpa melihat sekitar yang memperhatikan kami.
"Leon, kamu tidak melihat semua memperhatikan kita?"Tanyaku sambil terus melangkah.
Leon tersenyum kecil, "Biarkan saja, Ti. Kita harus cepat ke atas sekarang."Jawabnya dengan nada cepat. dia membawaku masuk ke lift, di dalam sana ternyata bukan hanya akan ada aku dan Leon saja, tetapi juga ada karyawan Kantor papa.
Pada saat kami sedang menunggu lift ini naik ke lantai 12, tiba-tiba ada salah satu pegawai yang menghampiri Leon. "Pak wakil Direktur. Anda sudah ditunggu dari tadi di ruang meating."
Leon menanggapi apa yang di katakan pegawai itu padanya, "Iya, Terima kasih informasinya! tetap bekerja dengan baik, ya."Pegawai itu senang karena dia bisa berbicara dengan Leon, tampaknya pegawai di sini sangat suka dengan Leon.
Aku merasa kalau Leon adalah sosok yang menghargai semua pegawai di sini. Dia tak membeda-bedakan semua yang ada di bawahnya untuk berbicara dengannya. Tampaknya memang bukan hanya pegawai wanita saja yang menyukainya, tetapi semua kagum akan sosoknya yang mudah bergaul padahal dia sangat dingin. Lift menunjukkan lantai 12, pintu terbuka. Pada saat pintu lift terbuka, di depan lift sudah ada beberapa orang yang menunggu, mereka tersenyum hangat pada Leon.
"Selamat datang kembali di Lie FY, wakil direktur!"Sapa salah satu orang yang berdiri di depan yang lainnya.
Aku dan Leon melangkah keluar dari lift, aku sekarang tahu siapa mereka. Ada tanda pengenal di dada kiri mereka, ternyata orang ini adalah sekretaris Leon di kantor. Aku baru ingat kalau semua orang memperhatikan kami berdua karena Leon, pakaiannya yang berlumuran darah itu. "Emm, apa anda baru saja menjadi dokter sebelum kemari pak?"Tanya Sekretarisnya itu sambil memperhatikan Leon.
Leon mengangguk, "Iya, sepertinya harus membereskan semua ini. Kalian bisa membantu, kan?"dia menatapku sambil tersenyum, aku kebingungan mengapa dia tersenyum aneh begitu padaku.
Astaga, aku tidak sadar juga?Aku masih memakai seragam Sekolah, pantas saja aku diperhatikan. Dan Leon, juga karena terkena darah tadi. Kantor papa inikan adalah di mana berkumpulnya para desainer terkenal dari beberapa negara dan juga dari dalam negeri sendiri. Tempat berkumpulnya model-model cantik dan terkenal, dan juga tempat di mana keluarnya brand baju yang sangat bagus. Semua itu berkumpul menjadi satu di kantor milik keluarga Leon ini, hanya dengan satu tempat bisa menyesuaikan semuanya dengan baik.
Sekretaris nya itu menunjukkan jalan, kami pun mengikutinya di belakang. Karena aku baru pertama kali ke sini, jadi dia memberitahuku semua ruangan yang kami lewati sepanjang jalan. Aku mendengarkan dengan baik, tetapi aku masih tak mengerti mengapa dia harus memberitahuku semua ini. Aku pun bertanya langsung pada Leon, "Leon, aku bingung. mengapa Sekretarismu memberitahuku semua ini?"Tanyaku kebingungan.
Leon tersenyum kecil, "Aku akan mengatakannya nanti."Jawabnya singkat.
Apa yang akan terjadi sekarang ini???
Semua orang di sini tampak sangat aneh, aku tak tahu mengapa mereka menatapku dari ujung kaki hingga kepalaku.
Apa mereka mengira aku anak kecil karena memakai seragam??
"Kita sudah sampai di 'Lie Style'. Nah kalau di tempat ini, keluarga Lie akan menyesuaikan gaya pakaian mereka di sini, anda mengerti nona?"Tanya Sekretaris itu dengan nada pelan.
Aku pun tersadar dari lamunanku, aku mengangguk mengerti. "Iya, saya mengerti."Jawabku sambil tersenyum kecil. Huuuh, aku sungguh tak paham dengan semua ini. mengapa aku malah tidak pergi ke Sekolah saja tadi ya? mengapa aku harus mengikutinya seperti ini?!
BERSAMBUNG .....