L&M

L&M
BAB 12 : Ulang tahun, bunda



Dia menoleh ke belakang, "Gak juga, seterah kamu aja mau ke mana lagi! Emang kamu mau ke mana?"


Wah aku tak menyangka kalau dia tak menolak ajakanku, Leon emang paling the best lah!! Eh, mengapa jadi gak mikir ke mana lagi ya aku mau pergi sekarang?? Oh, iya aku lupa kalau hari ini sebenarnya adalah hari ulang tahun bunda yang ke 38 tahun, jadi aku harus beliin bunda kue ulang tahun dan juga hadiah dong. Emm, apa si tuan dingin ini bisa membantuku??


Aku menepuk pundak Leon pelan, "Leon, apa kita bisa pergi ke toko kue?" Tanyaku dengan senyuman lebar.


Leon mengangguk, "Ya, tentu bisa. tetapi aku belum tahu tempatnya, kamu yang kasih tahu jalannya ya!"


Aku tersenyum sambil mengangguk semangat, "Ya, aku akan melakukannya."


Leon kembali menoleh sambil menahan tawanya, "Kamu mengapa, Tiara? suasana hati mu gampang berubah ya?" Ucapnya juga heran dengan kelakuanku yang memang aneh.


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sambil melihat ke atas langit, "Anu, kita udah terlambat!ayo, Leon! kita harus cepat."


"Ya, baiklah."


Kami pun berangkat ke tujuan selanjutnya, yaitu toko kue yang sudah menjadi langganan sejak dulu. Tokonya sudah lama berdiri, sejak aku kecil bunda selalu membeli kue di toko itu, sampai mereka selalu ingat akan perkembanganku sampai lah sekarang. Emm, kalau dihitung sudah berapa tahun keluargaku berlangganan di toko kue itu??


Letak toko kue itu dengan kafe tidak terlalu jauh masih satu arah. Saat sampai aku langsung bergegas masuk ke dalam toko itu dengan masih mengenakan helm, padahal Leon baru saja mematikan mesin motornya di parkiran motor. Dia tampak santai, padahal aku didalam toko sudah memilih kue yang akan aku beli untuk bunda.


Seorang wanita paruh baya menghampiriku, "Tiara?"


Aku menoleh ke arahnya, "Eh, bibi Yun! apa kabar?"


"Bibi baik, kamu bagaimana? kesini sama siapa? mau beli kue untuk siapa?" Tanya bibi Yun penjual toko kue di sini.


Aku tersenyum, "Hehe, Tiara pergi bareng Leon. Tiara cuma mau beli kue untuk bunda. Hari ini kan bunda ulang tahun, apa bibi lupa?" ledekku.


Bibi Yun memang tak muda lagi maklum kalau dia lupa kalau hari ini bunda ulang tahun, kini umurnya sudah masuk 65 tahun, di toko ini yang membantunya bekerja adalah anak semata wayangnya kak Bima. Suami nya meninggal sekitar dua tahun yang lalu karena kecelakaan, jadi dia harus menjalankan bisnis ini hanya berdua dengan putranya itu. Kadang aku berpikir, aku sungguh masih beruntung karena kedua orang tua ku masih ada dihadapanku setiap aku akan berangkat ke sekolah, saat aku pulang ke rumah akan selalu ada yang menungguku.


"Tiara, bibi emang lupa tetapi tidak mungkin kan kakak lupa sama hari ini??" Saat aku dan bibi Yun sedang berbincang, Kak Bima memotong pembicaraan kami.


Aku tersenyum kecil, "Benarkah? kak Bima tidak lupa?" Tanyaku penasaran.


Dia mengangguk sambil tersenyum lembut, "Iya, Tiara!" Jawabnya lalu memberikan sebuah tas berbahan kertas berisi kotak kue padaku. "Nih, udah kakak siapin dari semalam sama bibi, jadi kamu tinggal ambil aja!" Lanjutnya.


Aku terkejut tetapi amat senang sekali, ternyata mereka tidak lupa dengan hari ulang tahun bunda. Aku langsung memeluk bibi Yun sebagai ucapan terima kasih, "Thank you, bibi Yun! Tiara, kira bibi lupa."


"Tiara sepertinya sudah akrab sekali dengan pemilik toko kue ini, sampai-sampai dia tersenyum sangat lebar seperti itu." Ucap Leon tersenyum kecil sambil memperhatikanku dari luar toko.


Saat pembicaraanku, aku lupa dengan Leon, dia tidak jadi masuk kedalam toko karena melihatku sedang asik berbincang dengan bibi Yun dan anaknya kak Bima. dia kembali melangkahkan kakinya mundur setelah di depan pintu masuk kembali ke motornya. Aku juga tak memaksanya masuk, karena kulihat walau dia tak bilang padaku, di wajahnya sudah kelihatan sangat lelah jadi aku biarkan saja dia duduk sebentar.


Aku melepas pelukan bibi Yun, lalu membayar kue itu pada kak Bima. Saat aku membayar kak Bima menunjukkan sebuah kalender yang sudah ditandai kapan ulang tahun semua anggota keluargaku. "Tiara, selanjutnya ulang tahunmu kan?sudah ada tandanya di sini, jadi tak perlu khawatir kalau kami akan melupakanmu." Ucapnya.


Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas masuk dan berteriak memanggil bunda. Suasana hatiku kini amat senang, aku tak bisa melukiskan sebuah kata-kata selain melakukan sesuatu untuk bunda.


"Bun?" Aku berjalan menuju ke ruang tamu sambil membawa kotak kue yang tadi sudah aku beli di toko kue Bibi Yun.


Aku meletakkan kue nya di atas meja, lalu berjalan perlahan mencari bunda didalam rumahku itu, beberapa saat Leon baru masuk ke ruang tamu dan dia langsung duduk di sana dengan tenang. Sedangkan aku kebingungan mencari bunda, "Bun? Bunda di rumah kan?" Tanyaku dengan wajah bingung.


"Bunda di sini, sayang!" Aku menoleh ke belakang, ternyata bunda berdiri disamping Leon yang sedang duduk. Bunda tersenyum lembut padaku, aku pun tak mau menyimpan perasaan sayang ku pada bunda lama-lama, aku berlari lalu memeluknya erat.


"Bun? Happy birthday!!" Ucapku tersenyum senang.


Bunda melepas pelukanku, "Iya, Thank you, Tiara. Bunda sayang sama kamu, kamu memang satu-satunya mutiara di hati bunda." Bunda membelai rambutku dengan lembut, sangat terasa kasih sayangnya begitu besar padaku. Hanya dengan suaranya, sentuhan tangannya, kasih sayang seorang ibu tak akan bisa tergantikan dengan nilai apapun oleh anaknya.


"Bun, tadi Tiara sama Leon pergi ke toko Bibi Yun, mereka sudah tahu kalau hari ini bunda ulang tahun jadi mereka yang buatkan kue nya." Jelasku sambil membawa bunda duduk disampingku. Aku membuka kotak kue itu supaya bunda bisa melihat betapa cantiknya hiasan yang ada di kue ulang tahunnya itu.


Aku mengangguk, "Iya, bun. Tiara sangat berterima kasih sama bibi Yun dan kak Bima yang sudah nyiapin semuanya untuk bunda, bahkan mereka juga sudah menandai kapan Tiara akan ulang tahun bulan agustus nanti."


Aku begitu asyik berbicara dengan bunda, sampai-sampai aku lupa lagi dengan Leon. "Ah, iya. Leon, makasih ya untuk hari ini! dari tadi kita udah jalan-jalan."


Leon tersenyum kecil, "Justru aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu udah menunjukkan tempat-tempat yang unik sesuai dengan keseharian kamu." Jawabnya.


Aku memotong kue itu untuk bunda dan juga Leon, tetapi baru beberapa menit kami berbincang bersama, Leon tampaknya harus segera pulang ke rumahnya, karena katanya mama akan datang ke Batam menginap di rumahnya sampai Leon masuk ke kuliah dua hari lagi.


"Bunda, Tiara! maaf, Leon gak bisa lama-lama, udah sore juga soalnya. Bentar lagi jemput mama ke bandara!" Ucapnya sambil berdiri dari sofa.


"Oh, iya. Tadi bunda mau bilang sama kamu, Tiara! tetapi bunda lupa, jadi tahu dari Leon langsung deh kamu nya."


"Ah, gak apa-apa bun! Yasudah, kalau memang mau pulang sekarang aku antar sampai depan ya?" Aku juga beranjak berdiri sambil berjalan menuju keluar rumah.


Leon menyalami tangan bunda, "Leon, pamit dulu ya bun! kalau mama udah sampai entar Leon kabarin lagi." Ucapnya dengan sopan.


Bunda pun berdiri, "Iya, yang penting kamu selamat sampai di rumah! Jangan ke mana-mana lagi loh Leon, tadi mama dan papa titip pesan gitu sama bunda."


"Iya, bun." Leon mengenakan helmnya lalu segera menghidupkan mesin motor kesayangannya itu.


Aku berdiri di atas tangga sambil memeluk helm yang tadi aku pakai, Leon bilang helm ini ditinggal padaku saja supaya kalau kami akan pergi lagi dia tak perlu repot-repot membawa helm dari rumahnya. Oh, iya aku lupa kasih tahu kalau warna helm nya tentu bukan warna merah muda ya! karena aku tidak menyukai warna itu. Ternyata Leon tahu kalau aku tak menyukai warna merah muda, jadi dia membelikan helm ini warna merah, warna yang aku sukai di dunia ini. 


Dia memutar arah motornya lalu mengendarai motornya keluar dari garasi rumahku, aku melambaikan tangan saat hanya bisa melihat punggungnya dari belakang saja. Seketika aku hampir saja melamun lagi, tetapi karena helm yang aku pegang itu hampir saja terjatuh, aku jadi kembali fokus dan tidak akan membiarkan helm itu rusak sedikitpun. Karena, hal itu sangat berharga bagiku. Jika kalian sekarang sedang pdkt dengan orang yang kalian cintai, mungkin kalian akan melakukan hal yang sama sepertiku, atau mungkin sebaliknya. Karena suara motor Leon sudah tak terdengar lagi di telingaku, aku pun beranjak kembali masuk kedalam rumah lalu menutup pintu.


Ya Tuhan, aku berharap semoga Leon dan mama nya baik-baik saja sampai di tujuan mereka, Aamiin. Perasaanku memang aneh kan? Sangat berbeda dengan gadis yang lainnya, aku mudah melamun, tetapi kalau tempat itu terlalu ramai aku juga tidak suka. Maka itulah, Tuhan menciptakan karakter manusia berbeda-beda supaya manusia bisa saling memahami antara satu sama lainnya. Jadi, kalau kalian merasa diri kalian berbeda dengan yang lain, justru kita semua tidak ada yang sama, semua punya karakter dan sifatnya masing-masing yang harus saling melengkapi.


Ah, Tiara udah mulai sok tahu nih!?Oh, iya. Sekarang masih di tahun 2016 loh, siapa yang lahir di tahun yang sama kayak aku? Atau pun Leon? Mungkin kalian pernah mengalami masa sekolah di tahun 2016 bagaimana keadaannya. Apalagi di kota kecil seperti Batam ini, walau tempat industri, tetap saja tidak semaju negara tetangga yaitu Singapura dan juga Malaysia yang hanya berbatas lautan dengan Batam. Batam juga tak besar seperti pulau sumatra dan jawa, dia kecil tetapi menyimpan banyak keindahan bawah lautnya.


Esok Harinya .....


Keesokan harinya, aku baru saja bangun dari tidur panjangku dari semalam. Karena aku masih libur, jadi kalau bangun sedikit terlambat tidak apa-apa lah, lagi pula aku tak tahu mau mengerjakan apa selain bermain piano dan menulis sebuah cerita yang selalu menemukan jalan buntu. Aku selalu membuang kertas di kamarku, karena tak ada satupun kisah yang dapat aku selesaikan menjadi satu karangan cerita, semua kembali kepada kisah cinta di


hidupku yang rumit ini.


Sekarang sudah jam delapan pagi, pas sekali pasti ayah dan bunda sedang sarapan di meja makan, Aku bergegas turun untuk menyapa pagi pada mereka setelah membersihkan diriku tadi. "Good morning, bunda!ayah!!"Sapaku sambil berjalan turun dari tangga.


Ayah dan bunda menjawab serentak sapaanku, "Good morning too, Tiara!"


"Oh, iya. Kamu libur sampai besok kan?" Tanya bunda.


Aku mengangguk lalu duduk di kursi yang ada disamping ayah, "Iya, bun. Memangnya mengapa? Apa Dhika akan pulang besok?"


Bunda tertawa, "Iya, sih. Dhika bakal pulang nanti sore, tetapi Bukan itu yang mau bunda bilang, sayang. Kan semalam Leon bilang kalau mama nya datang, kamu gak mau lihat mama Leon??"


"Oh, iya. Tiara lupa, kalau gitu Tiara beres-beres barang abis itu berangkat ke rumah Leon!" Aku bergegas berdiri dari kursi.


Ayah menarik tanganku, "Est, tunggu dulu dong! Kamu mau pergi sendirian?" Tanya ayah.


Aku menatap bingung pada mereka berdua, "Aaa, entahlah ayah! Ayah kan akan pergi kerja, jadi ya ... Tiara pergi sendiri lah." Jawabku.


"Jangan, ayah saja yang antar kamu! Soalnya tadi mama Leon nelpon katanya Leon lagi gak enak badan, jadi gak bisa jemput kamu kalau kamu mau ke sana." Jelas ayah dengan nada jelas.


Jantungku terasa tertusuk duri yang tajam, padahal baru semalam kami berjalan-jalan dan keadaannya masih baik-baik saja, ya walau dia memang bilang begitu. Mungkin, emang iya. Leon kecapean, karena dia sendiri yang bilang kalau fisiknya lemah jadi gampang tumbang, semalam di kafe juga dia sudah sampai mimisan begitu.


BERSAMBUNG .....