L&M

L&M
BAB 19 : Nenek sakit



Sesampainya di rumah sakit, aku dan Leon langsung mencari ruang rawat nenek. Aku tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan bunda untuk melihat keadaan nenek.


"Leon, di mana ruangan nenek?" Tanyaku sambil menatapnya khawatir.


Leon mencoba menghubungi temannya tadi, tapi aku tidak tahu siapa yang ia hubungi itu. "Iya, Ti. Sebentar, aku lagi nanya sama teman yang kerja di sini." Jawabnya.


Tak lama kemudian, seorang pria dengan jas putih datang menghampiri kami. "Maaf, Leon! Saya tadi ada urusan sebentar."


"Ah, iya. Gak masalah, kak Daffa. Oh, iya. Ini Tiara, dia .... "


"Oh, jadi kamu yang namanya Tiara? Kebetulan, nenek kamu saya yang menangani, jadi kamu tidak perlu khawatir." Ucapnya. "Nama saya Daffa, saya dokter umum di rumah sakit ini."


Aku mengangguk pelan, " Ah, iya. Saya Mutiara, cucunya." Kami pun berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.


"Ti, kamu sekarang gak usah khawatir! Nenek bakal baik-baik aja kok," Ucap Leon pelan.


Aku mengangguk mengerti. Setelah itu, kami pun diantar oleh kak Daffa untuk menemui keluargaku yang sedang menunggu nenek siuman. Saat bertemu dengan keluargaku, aku langsung memeluk bunda yang sedang berdiri dan tampak gelisah saat itu.


"Ti, nenek baik-baik saja kok." Ucap bunda sambil membelai rambutku lembut.


Aku melepas pelukanku, "Bun, Tiara juga yakin gitu. Tapi, Tiara khawatir aja."


"Nenek akan siuman beberapa jam lagi, dia juga butuh istirahat, makanya dokter memberinya obat tidur." Jelas ayah.


Leon hanya diam memperhatikan jendela yang memperlihatkan keadaan nenek di dalam ruang rawatnya. Saat aku sedang dirunding kegelisahan karena kondisi nenek, Dhika yang tadinya sedang pergi membeli makanan pun langsung menghampiri Leon dengan wajah senang.


Dhika meletakkan makanan yang ditentengnya itu di kursi, "Kak Leon?" Sapanya sambil tersenyum.


Leon langsung merespon Dhika dengan baik, "Iya, ini aku Leon. Sudah lama tidak bertemu denganmu, Dhika." Jawabnya. Ia merangkul adik laki-lakiku itu, "Waktu berjalan cepat, dulu kamu masih sangat kecil."


"Iya, dong. Aku juga punya pertumbuhan sendiri, lagipula ini karena aku juga sering main basket, makanya badanku bisa tinggi."


Leon tersenyum, "Oh, benarkah? Kalau begitu, kapan-kapan kita bisa bermain basket bersama-sama kan?"


Dhika mengangguk senang, "Ya, tentu saja kak. Aku akan mengajak teman-temanku juga nantinya."


Leon dan Dhika jarang sekali bertemu, apalagi Dhika kan emang jarang tinggal di rumah, dia lebih suka tinggal berdua dengan nenek. Untuk anak laki-laki seperti dia, sangat jarang yang akan betah merawat orang yang sudah tua. Tapi mereka tampak sangat akrab sekali, sudah seperti adik-kakak saja, padahal aku adalah kakak kandungnya Dhika.


Aku menghampiri Leon, "Leon, kamu kenal dekat ya dengan dokter tadi?" Tanyaku mengalihkan perbincangan.


Leon mengangguk, "Ya, Ti. Aku sudah lama mengenalnya, dia juga banyak membantu saat aku mengerjakan skripsi di Jakarta dan akhirnya aku bisa lulus dari sana dengan nilai yang sangat baik." Jawabnya.


"Memangnya kenapa?"


Aku menggeleng, "Tidak ada, aku hanya ingin tahu saja."


Leon menatapku serius, "Tenang saja, kak Daffa bisa menolong nenek kok, dia sangat berpengalaman."


Mendengarkan perkataan Leon yang mencoba membuatku tidak khawatir pada keadaan nenek, aku sedikit tenang sekarang, walau nenek belum juga siuman. Lalu, Dhika menyuruh bunda dan ayah untuk makan terlebih dahulu, sedangkan aku, Leon, dan Dhika akan makan diluar rs.


"Bunda sama ayah makan saja di sini, selagi menunggu nenek sadar. Tiara, Dhika, dan Leon akan makan diluar saja, sambil mencari angin." Usulku dengan lembut.


Bunda mengangguk mengerti, "Iya, Ti. Kalian sebaiknya makan diluar saja, kalian juga jangan terlalu memikirkan nenek, dia akan baik-baik saja."


"Leon, kamu jaga Mutiara dan Dhika, ya!" Perintah ayah.


Leon mengangguk, "Iya, Ayah. Leon akan menjaga mereka."


"Kami pergi dulu ya, bunda, ayah!" Sapaku sambil melambaikan tangan.


Kami pun pergi meninggalkan rumah sakit dan mencari restoran yang jaraknya dekat dengan rs. Sepanjang perjalanan, aku hanya duduk diam sambil melihat ke arah luar jendela. Dhika sibuk dengan game yang ada di ponselnya, sedangkan Leon hanya fokus menyetir sejak tadi.


Seketika aku merasa kesepian, padahal ada Leon dan Dhika yang sedang bersamaku sekarang. Apa ini karena kami sibuk dengan diri sendiri saja? Makanya kami merasa kesepian,  di dalam mobil terasa sunyi sekali.


Triingg .... Triingg ..... Triingg


Aku langsung tersadar dan menatap ke arah ponselku, ternyata bukan ponselku yang berdering, tetapi ponsel Leon. Sambil menyetir dia mengangkat telepon itu, "Hallo, ini siapa?"


Dhika menepuk bahuku dari belakang, "Kak, Siapa yang menelpon kak Leon?" Tanya Dhika dengan wajah penasaran.


"Oh, iya? Baiklah, besok saya akan mengambilnya. Terima kasih, sudah membantu! Sampai bertemu besok." Leon langsung menutup teleponnya dan menetakkan ponselnya kembali.


Aku menatapnya kebingungan, "Leon, ada apa?"


Leon melirikku sejenak lalu kembali fokus menyetir, "Oh, ada barang yang sudah lama aku cari dan sudah ada. Jadi aku akan mengambilnya besok."


"Oh, begitu. Apa barang itu sangat penting? Sejak kapan kamu mencarinya? Memangnya apa yang kamu cari itu?" Ada banyak pertanyaan yang aku keluarkan untuk Leon.


Leon menatapku serius, "Ti, satu-satu kalau bertanya, aku jadi tidak fokus menyetir."


Dhika langsung berdiri dari kursi yang ada di belakang, "Entah, nih kak Tiara! Gak sabaran amat orangnya." Sindirnya lalu kembali duduk sambil bermain game.


Aku terkejut karena Dhika tiba-tiba muncul di sampingku, "Aku tidak bisa bertanya satu per satu, nanti aku jadi lupa mau bertanya apa. Jadi jawab saja, Leon!!"


Leon tersenyum kecil, "Benda itu sangat penting bagiku, karena benda itu yang menentukan masa depanku. Aku sudah mencarinya dari 3 bulan yang lalu, dan baru dapat sekarang." Jawabnya panjang lebar.


Aku mengalihkan pandanganku, "Ohh, gitu. Yasudah, kalau emang begitu pentingnya."


Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menahan tawanya karena sikapku yang masih seperti anak kecil itu.


Akhirnya kami sampai di sebuah restoran yang lumayan dekat dengan rumah sakit, gedung rumah sakit pun masih bisa terlihat.  Kami pun langsung masuk ke dalam restoran tersebut dan langsung di sambut oleh pelayan yang membukakan pintu untuk tamu yang datang dan pergi.


Leon berhenti berjalan, "Kalian berdua tunggu di sini dulu ya."


Aku dan Dhika mengangguk sambil melihat sekeliling restoran yang ramai dengan tamu yang tampaknya dari kalangan atas.


Leon pergi ke meja pelayan, "Selamat datang dan selamat malam! Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" Tanya pelayan itu dengan sangat sopan.


"Selamat malam, "Leon tersenyum kecil. "Saya memesan meja atas nama Leon Argata Putra."


"Oh, Tuan Leon ya? Wah, sudah disiapkan dari tadi mejanya, mari ikut saya!" Pelayan itu berjalan sambil menunjukkan di mana meja makan yang diatas namakan Leon itu.


Leon memanggilku dan Dhika untuk mengikutinya, "Leon, kamu sudah memesan meja sejak kapan?" Tanyaku.


"Tadi siang, tapi aku undur jadi malam."


"Ini Tuan, silahkan! Untuk tiga orangkan? Ini sudah kami siapkan juga makanan dan minumannya, selamat menikmati!" Pelayan itu lalu pergi meninggalkan kami bertiga.


Leon menarikku untuk duduk di sampingnya, ia juga langsung menyuruh Dhika untuk duduk di kursi yang ada di depannya itu.


"Tiara, Dhika, kalian sudah lapar kan? Ayo, dimakan!" Ucap Leon dengan sangat santai, lalu berdoa terlebih dahulu sebelum ia menyantap makanannya.


Aku dan Dhika saling menatap, lalu aku menegur Dhika supaya berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Setelah kami semua siap berdoa, barulah kami menyantap makanan yang sudah di pesan. "Selamat makan!" Ucap kami serentak.


Setelah makan malam berakhir, kami pun kembali ke rs untuk mengecek keadaan nenek. Sama seperti tadi, ternyata nenek belum juga sadar. Bunda dan ayah masih menunggu di luar dengan wajah penuh harapan, jika nenek harus segera sadar.


"Bunda." Panggilku sambil berjalan menuju ke arah bunda dan ayah.


"Kalian sudah selesai makan? Baguslah."


Aku mengintip ke arah jendela ruangan nenek, melihat kalau nenek memang masih belum bergerak sedikit pun dari tempat tidurnya. Tak lama kemudian, kak Daffa datang bersama seorang perawat untuk melakukan pengecekan malam.


Bunda dan ayah langsung berdiri dari kursi yang mereka duduki, "Dokter, Daffa. Nenek belum juga siuman, bagaimana?" Tanya Bunda dengan wajah khawatir.


Kak Daffa mengangguk mengerti, "Iya, bu. Saya mengerti, kalian semua sangat khawatir dengan kondisi nenek, tapi kita tidak bisa melakukan apapun sekarang. Karena, penyakit seperti ini memang sering menimpa lansia, tubuh mereka sudah mulai rapuh." Jawabnya panjang lebar.


"Benar apa yang dikatakan oleh dokter, Daffa. Kita tidak bisa berbuat lebih jauh, yang bisa kita lakukan hanya berdoa dan menunggu keajaiban dari Tuhan, supaya nenek bisa kembali sadar." Respon Leon dengan cepat.


Aku sempat ragu dengan apa yang dikatakan oleh kak Daffa pada bunda, tetapi mendengar Leon juga mengatakan hal yang sama, aku menjadi yakin dan berusaha membuat hatiku tetap tangguh untuk menghadapi cobaan ini.


"Kalau begitu, saya periksa nenek dulu, ya!" Izin kak Daffa dengan sopan.


Perawat yang bersamanya, membukakan pintu untuknya, lalu mereka masuk ke ruang rawat nenek dan mulai memeriksa kondisi nenek sekarang. "Ya, Allah. Semoga saja, nenek bisa berkumpul bersama kami lagi! Panjangkan umur nenek, Ya ... Allah. Mutiara masih ingin nenek melihat, Tiara memiliki keluarga yang bahagia nantinya." Aku berdoa di dalam hati dengan sangat tulus meminta pada sang Maha Kuasa.


BERSAMBUNG .....