
Setelah selesai memasak, aku dan mama meletakkan masakan tadi di atas meja makan lalu membersihkan kembali dapur. Sesekali aku melirik ke lantai atas, karena aku kira Leon memperhatikanku sejak tadi, tetapi ternyata tidak, dia benar-benar sedang istirahat.
Wah, dia benar-benar tidur di atas?
Kata mama di lantai dua hanya ada ruangan kosong saja, hanya ada jendela kaca yang menghubungkan balkon di atas sana.
Memang sebaiknya dia harus banyak istirahat, fisiknya kan lemah.
Aku pun duduk di kursi yang ada di ruang makan, sambil merebahkan badanku di sana karena merasa lelah. Mama memperhatikan kelakuanku sambil tersenyum, dia duduk disampingku lalu aku pun kembali duduk dengan benar dan mencoba mendengarkan apa yang akan dibicarakannya.
"Tiara, makasih ya udah bantu mama masak tadi. Ternyata kamu bisa masak, jago banget loh!" Puji mama sambil tersenyum senang.
Aku pun jadi ikut senang mendengarnya, "Ah, tidak begitu bisa kok ma. Cuman, bisa sedikit aja." Ucapku merendah.
Mama menggelengkan kepalanya, "Gak kok, malah mama makin gak percaya kalau kamu itu bener Tiara. Kalau gak karena Leon yang cerita dan juga karena alat di depan pintu tadi, mungkin mama akan bilang kamu orang asing."
"Mama, masa lupa sama Tiara? Malah Tiara terkejut saat lihat mama setelah 12 tahun, ternyata tak ada perbedaan."
"Ah, kamu bisa aja. Mama udah makin tua, Ti! udah 40 tahun, masa kamu masih bilang sama kayak yang dulu?"
Aku menggeleng, "Iya, Tiara gak bisa bohong. Bahkan sepertinya kecantikan mama nurun ke Leon deh, soalnya Leon ...."
Aduh, napa bilang gitu sih Tiara?!!!
Tutup mulutmu mengapa sih? mengapa bisa keluar kata-kata itu dari mulutmu?!
Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku, aku baru saja akan bilang kalau Leon itu tampan karena menurun dari mama nya. Mama menatapku dengan wajah kebingungan, lalu aku berusaha tersenyum dan mengganti dengan topik lain supaya mama tidak bertanya kelanjutan ucapanku itu.
Aku melirik ke lantai atas, "Emm, mama? apa Tiara boleh ke atas, mau lihat Leon?" Tanyaku dengan malu-malu.
Mama mengangguk, "Ya, tentu saja boleh Tiara. Malah mama baru saja ingin bilang begitu sama kamu, soalnya mama udah lelah, jadi malas ke atas." Jawab mama.
Aku mengerti apa yang di katakan mama padaku, emang sih walau sering naik turun tangga di rumah sendiri, tetap aja kan kadang juga membuat lelah kalau harus sering bolak balik ke lantai atas. Lagipula aku memang penasaran dengan Leon di atas sana, sejak memasak tadi aku terus memperhatikan lantai dua, membuat sedikit tidak fokus tetapi itu tidak mengganggu ku sama sekali.
Aku pun berdiri dari kursi itu sambil menunjuk ke arah tangga, "Kalau begitu, Tiara naik ke atas dulu ya ma?"
"Oh,iya. Naik aja, gak apa-apa! Cuman ada tempat santai aja di atas, sekarang mama juga gak ngerti sama pikirannya. Dia bilang pengen aja punya rumah yang terlihat minimalis diluar, tetapi saat masuk kedalam penuh misteri." Jelas mama sambil menatap heran padaku tentang anaknya itu.
Karena mendengar penjelasan mama tentang Leon itu, aku jadi semakin penasaran dengan apa saja yang bisa aku pandang jika berada di lantai atas sana. Aku pun berjalan melangkah ke anak tangga satu persatu, sambil terus memperhatikan apa yang ada di depanku sekarang ini.
Tik ....Tok ......Tik ......Tok ....
Suara sebuah jam tik-tok? Di mana letaknya? Aku tak bisa menemukannya.
Bicara apa sih Mutiara Nabila? lagi-lagi kamu itu terlalu banyak menghayal dan juga berpikir seperti anak kecil terus!
Hentikan pemikiran aneh itu!!
Sepanjang menjelajahi lantai dua ini, aku berdebat dengan hatiku sendiri, entah apa yang aku mau sebenarnya semua kini sedang menemukan titik tanya besar dalam kepalaku. Aku tak tahu sebenarnya apa yang aku inginkan, apa memang aku ingin terus bersama Leon atau malah aku hanya menganggapnya sebagai seseorang yang akan kembali membantuku mewarnai sehari-hariku yang hampa ini.
Oh, iya. Selama satu hari aku tak pernah mendengar kabar tentang teman-temanku yang sedang jalan-jalan bersama. Aku juga tak mendengar tentang Rangga, biasanya dia akan langsung menghubungiku saat dia merasa bersalah, tetapi ternyata sampai sekarang pun itu tak terjadi, jadi untuk apa aku terlalu berharap kalau dia akan menelponku.
Ah, bodo amat!! Aku kan bukan orang yang mudah memaafkan orang lain.
tetapi, jika dia memang niat meminta maaf aku akan memaafkannya!
Aneh, sejak tadi aku hanya berputar-putar saja di sini, aku pun berhenti melangkahkan kaki ku. "Lah, aneh!mengapa daritadi aku cuman bolak balik saja? sudah berapa kali aku memutari lantai ini?" Tanyaku berbicara sendiri sambil menatapi lantai dan beberapa kali aku memperhatikan sekitarku yang melingkar.
Rumah Leon memang tampak dari luar terlihat persegi, tetapi saat berada di lantai dua ini aku baru menyadari kalau sebenarnya itu semua tak seperti dugaan semata saja. Sungguh, aku jadi semakin bingung, semakin aku mencoba mengenal dan mendekat pasti akan ada teka-teki baru yang menghampiriku. Entah itu karena sifatnya yang dingin dan cuek, tidak sama seperti pada saat dulu, entah pada caranya menyampaikan ucapannya yang singkat namun menyimpan sesuatu, dan juga kehidupannya yang benar-benar misterius bagiku.
Aku tak bisa menjangkau Leon, apa mungkin berarti aku tak bisa masuk ke dalam kehidupannya? Aku hanya bisa berdiri diam di sini, aku mau melangkah lagi tetapi aku ragu. Tunggu, apa yang sebenarnya aku cari? mengapa aku tak bisa menemukannya, padahal tempat ini begitu kecil dan sejak tadi aku hanya memutarinya?
Tuhan, tolonglah aku!
Aku cuman seorang gadis yang masih berumur 16 tahun, aku masih butuh penjelasan tentang semua ini.
Saat ini aku bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang? bagaimana aku bisa menemukan orang misterius itu?
Siapapun tolong bantu aku!!!
"Aku kesal!!!" Teriakku sangat lantang sampai bergema di semua ruangan yang ada.
tetapi aneh, tidak ada yang mendengarnya. Padahal suaraku sudah benar-benar yang paling full, akhirnya aku memutuskan untuk kembali berjalan mencari Leon. Aku menghitung langkahku satu persatu, sambil memperhatikan semua yang ada di hadapanku, aku tak mau kehilangan apapun itu lagi kali ini.
Apa yang membuatku buta?
Aku kebingungan, tak ada petunjuk sama sekali saat ini.
Tak lama setelah kebingunganku itu, terdengar kembali suara jam yang terus bergema di bagian rumah ini. Aku berusaha mencari arah suara jam itu, aku merasa jam itu diletakkan secara sembunyi-sembunyi di suatu tempat, tetapi aku tak tahu di mana keberadaan benda itu.
"Astaga, aku benar-benar bingung. Di mana si Leon, apa dia sengaja bersembunyi?" Tanyaku berbicara sendiri dengan wajah kesal.
BERSAMBUNG .....