
"Baiklah, kita masuk ke dalam!"Ajak Sekretaris itu dengan sopan.
Di depan pintu masuk Lie Style ada dua pegawai cantik yang berdiri untuk menyapa atasan-atasan mereka dengan sopan dan juga professional. "Selamat kembali di Lie Style, Wakil Direktur dan Selamat datang nona Mutiara!"Sapa dua pegawai cantik itu dengan lembut.
Aku pun membalas senyuman dengan mereka, "Iya, Terima Kasih."
Kami masuk ke dalam tempat ini, sungguh menakjubkan!!Aku baru kali ini melihat tempat yang cantik di penuhi brand baju mahal. Wah, aku sampai tak bisa berkata-kata.
Leon melihat raut wajahku yang terpukau dengan suasana tempat ini, "Ti, kamu mengapa?"Tanya Leon.
Aku menjawabnya, "Emm, tidak ada apa-apa kok. Aku hanya merasa asing saja dengan semua ini, kamu tahu kan kalau keluargaku tidak terlalu suka yang berlebihan."Jawabku.
Leon mengangguk mengerti, "Ya, aku mengerti."
Sekretaris itu menunjukkan beberapa orang penting yang juga ada di dalam, mereka juga sedang mencari beberapa model pakaian yang baru saja keluar. Aku mengangguk mengerti, kadang aku juga bertanya langsung pada Leon, dan dia menjelaskannya padaku tentang apa yang aku tak mengerti. Ternyata di dalam Lie Style bukan hanya tempat untuk mencari gaya pakaian saja loh, tetapi para pemimpin perusahaan ini juga bisa duduk sambil melakukan meating di sofa yang ada di dalam sana.
Kami pun berhenti sejenak untuk duduk di sofa itu, Leon dan aku duduk berdua sedangkan yang lainnya hanya berdiri sambil berbincang dengan Leon. Leon sudah menyuruh Sekretarisnya itu untuk duduk supaya pembicaraan mereka tak kaku, tetapi sekretarisnya merasa sungkan karena Leon adalah orang yang penting bagi mereka semua. "mengapa kamu tidak mau duduk dengan kami sekretaris Xiao?kamu sudah ku anggap seperti keluarga sendiri."Tanya Leon.
Sekretaris Xiao menggelengkan kepalanya, "Tidak, pak. Saya bukan siapa-siapa!"Jawabnya.
Karena Leon tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan apa yang dia inginkan, dia langsung menyerah. "Baiklah."Leon menatapku dengan serius, "Emm, kamu tidak mau mencoba brand yang ada di sini, Ti?"
Aku menunjuk diriku sendiri, "Aku?mengapa kamu bertanya padaku?kamulah yang harus membersihkan darah itu Leon!"Jawabku kebingungan.
Saat Leon bertanya seperti itu, langsung ada dua pegawai yang menghampiriku. Leon langsung berdiri dari sofa, "Seragammu akan kotor jika kamu tak menggantinya!"Ucapnya pelan sambil berjalan menuju ke ruang ganti khusus untuknya.
Haahhh, apa aku bermimpi? mengapa semuanya jadi begini?
"Nona Tiara yang cantik!aku sangat lama menunggumu datang, ternyata baru sempat datang sekarang ya?sangat sayang sekali, padahal begitu banyak style yang cocok dengan nona. Itu semua rancangan dariku."Ucap salah satu wanita berpakaian rapi yang datang menghampiriku bersama dua pegawai.
Aku tersenyum kecil, "Iya, aku baru pertama kali berkunjung ke Lie FY di Batam. Kalau di Jakarta, dulu sudah pernah. Soalnya kan papa nya Leon memfokuskan ke sana."
dia terkejut mendengar ucapanku, "Wah, ternyata sudah sedekat itu ya?sampai bisa di bawa ke Jakarta. Wakil direktur memang sempurna!selain menjadi dokter muda, dia ternyata juga sukses menggandeng gadis cantik seperti nona Tiara."
Aku merasa malu karena terlalu banyak di puji, "Ah,tidak kok. Aku tidak cantik seperti model yang ada di sini."
"Emm, jadi nona mau tidak memakai salah satu model yang terbaru di Lie Style?belum ada yang memakainya, kami juga belum mengeluarkan produknya secara langsung. Kita buktikan siapa yang lebih cantik, apakah nona Tiara atau model cantik tionghoa kami."Usulnya dengan wajah senang. dia menarikku untuk berdiri dan memaksaku untuk masuk ke ruang ganti khusus perempuan. Aku sudah menolak tetapi karena dia tak sendirian, maka tentu saja aku akan kalah. Aku pun menuruti apa yang mereka akan lakukan padaku, mencari baju yang cocok dengan tubuhku itu sulit, aku tak terlalu suka yang terlalu feminim. Aku sudah mengatakan itu pada mereka, jadi mereka sedang mencari yang sesuai apa yang aku inginkan.
Mereka menunjukkan beberapa style yang sangat feminim, aku pun menolak untuk memakainya. "Aa, Aku tidak terlalu suka yang feminim!"
"Yang ini bagaimana nona?"Tanya salah satu pegawai yang membawa dress pendek berwarna kuning.
Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak suka memakai rok."
"tetapi anda memakai rok sekarang nona!"
Aku melihat seragam yang aku pakai sekarang, "Iya, inikan terpaksa karena dari Sekolah."
Setelah beberapa kali menolak yang mereka tunjukkan padaku, ada satu style yang menurutku seperti yang ada dipikiranku saat itu. Kali ini aku tak menolak, aku memakai style baju itu dan.... "Akhirnya, selesai juga!"Ucap lega desainer cantik itu padaku.
"Wah, nona Tiara memang sudah dasarnya cantik! pakai style apa aja cocok loh."
Aku merendah, "Tidak kok, ini karena pendesainnya yang professional dan paham dengan fashion."Ucapku sambil tersenyum.
Mereka pun menyuruhku untuk segera keluar dan memperlihatkan pada Leon model baju yang aku pakai. Awalnya jantungku jadi berdetak tak karuan, tetapi sekarang sudah berkurang karena aku berjalan perlahan-lahan mendekat padanya. Saat ini Leon sedang berbicara di telponnya dan dia membelakangiku, jadi dia tak melihatku sekarang. Dia juga sudah mengganti bajunya dengan yang baru, dia memakai setelan jas berwarna biru tua. Sedangkan aku memakai setelan yang juga bisa dibilang 'jas' tetapi modelnya khusus untuk wanita yang suka dengan gaya yang simpel sepertiku. Warnanya mengapa kebetulan sama?
Leon sudah selesai dengan pembicaraannya di telpon, pada saat aku baru saja akan memanggilnya, dia langsung berbalik melihatku. Yahh, tidak jadi deh kejutannya. "Bagaimana?Apa menurutmu aku jelek?"Tanyaku dengan tidak percaya diri.
dia merapikan tataan rambutku, "Tidak kok. Ti, kamu itu memang sudah cantik, mau pakai apapun pasti kamu cocok."Ucapnya tersenyum kecil.
"Oh, iya. Sekretaris Xiao, di mana CEO kalian?sejak tadi aku tidak melihatnya."Tanya Leon.
Sekretaris Xiao baru saja ingin memberitahu tentang CEO mereka itu, "Emm, saya sudah ingin mengatakannya sejak tadi. CEO Lie Yan Zie dari tadi pagi tidak mau keluar dari ruang kerjanya, dan dia juga bilang tidak akan ikut meating hari ini."Jelasnya panjang lebar.
Leon menghela napasnya, Aku merasa tidak asing dengan nama itu. Oh, apakah dia adalah sepupu Leon?yang dulu masih sangat kecil, aku rasa sekarang dia sudah agak dewasa. "Leon, aku pernah mendengar nama itu. Sepertinya tak asing!"
Leon mengangguk, "Iya, memang Ti. Dia itu sepupu perempuanku. Lie Yan Zie, kamu ingat kan?"
"Iya, aku ingat. Di umurnya yang masih 14 tahun, apa dia menjadi CEO di perusahaan besar ini?"Aku sungguh terkejut jika Leon menjawab iya.
"Iya, Ti."Jawabnya singkat.
Jadi sebenarnya akar masalah di kantor ini adalah Lie Yan Zie?!Ah, memang sih anak itu memang menyebalkan bagiku. Menurutku Leon juga tak tahan dengan tingkah manja dan anehnya itu.
"Yan Zie, apa dia tidak Sekolah?"Tanyaku
"Sekolah kok, Ti. tetapi dia sekarang lagi libur, makanya aku menyuruhnya untuk mengurus kantor karena aku juga bisa membantu, aku kan sedang tidak koas."Jawabnya sambil berjalan keluar dari Lie Style, aku pun mengikuti langkahnya.
Leon mendorong pintu itu untuk membuka setelah memasukkan kode pengamannya. Tetapi pada saat akan masuk, "maaf, kata sandi salah!silakan coba lagi."ternyata pintu masuk itu telah berganti kode pengamannya. "Ada apa dengan anak ini?"Tanya Leon dengan nada kesal, sambil mencoba kode lain.
"Mungkin dia sedang bosan, siapa tahu saja kan?dia juga masih muda, tetapi sikapnya ini...."
"Kata sandi diterima, selamat datang Mr. Lie Lei Yin!" Setelah Leon mencoba beberapa kali, barulah bisa diterima. Dan dia langsung masuk ke dalam tanpa menunggu lama, sedangkan aku masih saja kebingungan dengan teknologi sekarang yang semakin canggih.
"Ternyata bukan hanya di Rumah Leon, tetapi kurasa kantor ini juga sebenarnya teknologi hebat semua."Ucapku kagum, lalu mengikutinya masuk ke dalam.
Sungguh tak percaya, Leon sedang menahan emosinya sekarang. Aku melihat kalau Yan Zie sedang asyik bermain game di layar TV lebarnya itu, sambil tertawa sangat lepas sekali. Dia sampai tak merasa kalau kami ada di dalam ruangannya sekarang, dia merasa dunianya hanya miliknya sendiri. Leon memperhatikannya yang serius bermain game itu, karena kesabarannya ada batas, Leon memukul meja kerja itu dengan tangannya sendiri.
Dhuuak! Suara meja yang di pukul Leon terdengar keras sampai aku menutup telingaku. Bahkan Yan Zie terkejut dan sontak melihat ke arahku dan juga Leon, dia langsung berhenti bermain game itu karena melihat Leon yang sudah menegurnya dengan keras.
dia terlihat ketakutan dan tak tahu akan melakukan apa supaya Leon tak marah dengannya, "Emm, anu....Hai, kak Leon dan kak Tiara!mengapa kalian tak bilang jika sudah di sini?aku jadi merasa tidak sopan."Ucapnya dengan wajah gugup sambil merapikan semua mejanya kembali. "Aku minta maaf, telah membuatmu marah sekarang!"dia menundukkan kepalanya di depan Leon.
Leon membuang napas pelan dan mencoba menenangkan amarahnya, "Kamu itu bukan anak kecil lagi, Yan Zie!Kamu sekarang tidak bisa hanya memikirkan dirimu sendiri, kita semua keluarga yang harus saling membesarkan Lie FY."Jelas Leon dengan wajah dingin.
Lie Yan Zie masih saja menundukkan kepalanya karena merasa bersalah, "Duibuqi, rang ni shiwang!wo zhishi yige zisi de ren ma?Aku memang masih seperti anak-anak."
Leon menatapnya serius sebagai seorang kakak yang baik. Dia tak menunjukkan kemarahannya, dia hanya kesal pada adik sepupunya itu. dia pun mencoba membuat pengertian pada Lie Yan Zie supaya di antara mereka taka da kesalahpahaman lagi. "Yan Lie!Wo zhidao ni hai nianqing, dan ni bixu nenggou chengshu. Kamu mengerti kan?"
Lie Yan Zie mengangguk mengerti, "shi de, wo lije. Aku tidak akan mengulangi perbuatan kekanak-kanakan ku lagi lain kali, ini adalah yang terakhir!"Jawabnya membuat janji dengan Leon.
Leon tersenyum lembut padanya, "Hao de, zhe xiang yewu yijing jieshule. Kamu tidak boleh mengulanginya lagi, Oke?!bekerjalah dengan baik, waktumu hanya sebentar saja, setelah itu kamu boleh bermain sesukamu. Aku pergi dulu, Yan Zie!"Leon pun langsung berpamitan untuk keluar dari ruangannya, karena urusan ini sudah selesai.
Aku tersenyum pada Lie Yan Zie, "Iya, jangan seperti anak kecil Yan Zie!aku juga pamit, sampai bertemu lagi."Sapaku mengikuti langkah Leon keluar dari ruang kerja sepupunya itu.
Aku mengikuti Leon, kali ini aku bisa menggenggam tangannya dan berjalan bersamanya. Aku tidak tertinggal dan tidak lagi harus berteriak terus padanya. tetapi ku perhatikan wajahnya sejak keluar dari ruangan sepupunya itu, Leon tampak cuek dan diam saja saat aku bahkan tersenyum padanya tadi. Apa dia masih kesal pada Yan Zie?tetapi tadi dia sudah mengatakan kalau dia memaafkan sepupu perempuannya itu. Apa dia kesal cuman karena masalah itu, atau masalah yang lain ya?Aku sungguh bingung sekarang, aku terus memperharikan raut wajahnya yang tetap datar.
Kami masuk ke lift dan langsung menurun ke lantai 1 untuk segera meninggalkan kantor ini, karena kulihat Leon sudah mulai merasa harinya tidak begitu bagus hari ini. Aku juga mau menghiburnya, tetapi bagaimana caranya?Leon itu sangat sulit tertawa, bahkan untuk mengekspresikan perasaannya saja sudah susah, apalagi jika dia harus tertawa?!Itu akan menjadi hal tersulit yang dia lakukan di dunia ini, dan suatu keajaiban jika dia memang bisa melakukannya di depanku secara langsung.
Lift terbuka, kami sudah sampai di lantai 1. Leon langsung menggenggam tanganku dan melangkah keluar dari lift, dia masih tak berbicara apapun padaku sampai saat ini. Ada apa dengannya?Aku curiga kalau dia sedang menyimpan sesuatu di dalam kepalanya itu. Baru berapa langkah menuju keluar dari Kantor, ponsel Leon berbunyi dan dia pun sontak langsung mengangkat telpon itu. Yang ku perhatikan, dia sangat panik dan juga terlihat wajah khawatirnya itu. Memangnya ada apa sih Leon?Tadi kamu bilang akan berkata jujur, tetapi tentang apa?
Aku berdiri di belakang Leon sehingga aku bisa mendengar sedikit apa yang mereka bicarakan, "Dia sudah sadar?syukurlah!aku akan segera ke sana sekarang."Ucapnya dengan nada panik lalu meletakkan ponselnya dalam kantong jas nya.
"Ada apa Leon?"Tanyaku berpura-pura tak mendengar apa yang dia bicarakan di telpon tadi.
Dia langsung menarik tanganku dan berjalan cepat, "Nanti aku jelaskan, sekarang kita harus kembali ke RS secepatnya."Jawabnya. Mobil Leon langsung terparkir di depan, satpam itu mengembalikan kunci mobil padanya.
"silakan pak!"Ucap satpam itu dengan tegas.
Leon mengangguk, "Ya, terima kasih. Ayo Tiara, kita harus cepat!"Leon menyuruhku bergegas masuk ke dalam mobil, dan tanpa menunggu apapun lagi, kami pun langsung kembali ke RS dengan secepat mungkin.
Seakan telah terjadi sesuatu, Leon tampak sangat terburu-buru sekali. Baru kali ini aku melihatnya mengendarai dengan kecepatan yang agak tinggi dari sebelumnya. Apa karena korban kecelakaan tadi pagi?mengapa aku jadi penasaran dengan sosok orang itu?aku merasa tak asing dengan model motor korban itu. Walau aku sudah mencurigai Leon, tetapi aku tak mau mengatakan kalau aku ingin bertanya padanya. Aku takut Leon tak fokus menyetir nanti, dan malah kami akan celaka. Lebih baik tak kukatakan padanya dan menyimpan saja dalam hatiku ini.
Di tengah perjalanan aku berusaha memberi pesan pada keluargaku supaya mereka tak perlu khawatir tentangku, dan tak lupa memberitahu wali kelasku tentang keterkendalaku tidak bisa masuk ke Sekolah tadi pagi. Ku sempat melirik Leon beberapa kali untuk memeriksa raut wajah dinginnya itu, tetapi tak ada yang berubah. Aku rasa dia masih merasa bersalah karena masalah tadi dengan Yan Zie. Kurasa tanggung jawabnya berasa kurang jika dia memarahi sepupunya itu, segitunya kamu Leon?!aku terus bergumam dalam hatiku tentangnya.
Tak kusangka ternyata kami sudah sampai di RS, Leon pun langsung bergegas keluar dari mobilnya. Aku tak mau ketinggalan apapun lagi, jadi aku juga segera keluar dan menyusul langkahnya dengan cepat. Setibanya di dalam RS, kulihat keramaian yang tak beraturan karena adanya keluarga pasien yang baru saja meninggal dunia. Mereka memadati ruang tunggu dengan tangisan dan juga rasa kecewa yang amat dalam terlihat di wajah. Langkah dan perhatianku langsung teralihkan ke arah keramaian itu, Leon pun berbalik dan menghampiriku.
Leon langsung memelukku di tengah kerumunan itu, sontak aku terkejut dan tak bisa berkata-kata. Mulutku terkunci dan tubuhku juga kaku seketika, aku tak bisa melakukan apapun untuk meresponnya. "Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku merindukanmu saat ini, tetapi aku yakin ini hanya sebuah kerinduan saja."Ucapnya dengan nada pelan sambil memelukku erat.
Kurasakan sekarang tubuhnya yang hangat dan juga ucapan yang keluar dari mulutnya itu membuatku tenang. Itulah Leonku, yang selalu bisa membuatku merasa tenang dan juga aman saat bersamanya. Aku juga merasa dunia ini hanyalah mimpi saja, karena kebahagianku tak akan lengkap tanpanya di sisiku.
Aku tak bisa menjawab ucapan manisnya itu, aku hanya bisa membalas memeluknya saja. Kulihat keramaian ini taka da satupun yang memperhatikan kami berdua, aku pun merasakan ketenangan dalam keramaian ini semua. dia pun melepas pelukannya dan meletakkan tangannya di wajahku, "Tunggu aku kembali kemari, oke?!Aku akan jelaskan semua yang terjadi padamu, semuanya!aku tak akan menyembunyikannya lagi darimu."Aku pun menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya, aku percaya dengan Leon. dia pun juga tersenyum dan perlahan-lahan melangkah mundur dari hadapanku sekarang ini, sampai aku akhirnya tak bisa melihat wajahnya lagi karena begitu ramainya orang di tempat ini sekarang.
Aku harap tak terjadi sesuatu padamu Leon!aku tak akan bisa menerimanya, ingat itu!jangan membuatku menerima berita yang tidak-tidak tentangmu.
Kamu akan mengatakan sesuatu yang membuatku senang atau malah membuatku sedih, itu akan ku pikirkan nanti. Aku sangat ingin mendengar semua yang kamu sembunyikan di dalam hati kecilmu itu Leon, aku sangat ingin!walau suatu kebenaran itu akan pahit, tetapi aku tak akan peduli dengan hal itu.
Aku jadi sedikit tenang karena dia tak seperti yang aku pikirkan tadi. Aku sempat berpikir yang tidak-tidak padanya, untuk mempercayainya aku harus menunggunya di sini. Aku baru sadar kalau kondisi di tempat di mana ku berdiri sedang ramai dengan orang-orang, aku pun memilih meninggalkan tempat itu dan mencari tempat duduk lain yang ada di sekitarnya supaya Leon masih bisa melihatku di tengah keramaian ini semua.
Karena ku bingung harus melakukan aktivitas apa supaya aku tidak mendengar suara berisik, aku baru ingat kalau di dalam tasku tak sengaja membawa heandset ponselku di sana. "Aku tak suka keributan ini, lebih baik aku mendengarkan lagu saja dengan heandset sekalian menunggu Leon kembali."Ucapku berbicara seorang diri sambil memakaikan heandset ke telingaku dan memutar lagu dengan agak keras supaya ku tak mendengar keributan di tengahku itu lagi. Aku menguap karena mengantuk, apalagi kalau sudah memutar lagu membuatku ingin tertidur saja sekarang. tetapi tak bisa Tiara!kamu tak bisa tidur di sini, kamu harus menunggu Leon.Aku berusaha menahan rasa mengantukku dengan menepuk kedua pipiku dan bernyanyi beberapa part dari lagu yang aku dengarkan. Tetapi tetap saja aku akan mengantuk, mataku terasa berat untuk terbuka.
"Huuahhh!Astagfirullah, tutup mulutmu Tiara!"Aku menguap beberapa kali sambil menutup mulutku. Karena ku tak tahan lagi karena mengantuk, aku pun menyandarkan tubuhku ke kursi dan perlahan menutup mataku untuk tidur. Dan akhirnya aku tertidur dan entahlah aku tak tahu apa yang terjadi padaku karena ketiduran.
Tiba-tiba di tengah tidurku itu, aku merasa kepalaku direbahkan ke suatu tempat yang membuatku nyaman dan aku tak ingin membuka mataku untuk bangun. Aku juga merasa ada yang membelai rambutku dengan lembut dan mengatakan sesuatu padaku, tetapi aku tak ingat dengan apa yang diucapkan. "maaf, Ti!aku selalu membuatmu kecewa. Walau kamu tak tahu apa yang aku sembunyikan, itu semua supaya kamu tak terkena masalah karena masalahku sendiri. Aku tak mau kamu tersakiti karena orang lemah sepertiku, Ti."
Leon?apakah itu Leon?aku merasa itu dia, karena suara laguku sudah tak terdengar lagi. Sepertinya heandsetku terlepas dari telingaku, makanya aku merasa ingin bangun lagi sekarang ini.
Tik....Tok....Tik....Tok....Tik....Tok....
Aku mendengar suara jam kuna itu dalam pikiranku ini, mengapa bisa ya?Aku tak melihat apapun tetapi aku mendengar suara jam aneh itu di telingaku.Siapa yang meletakkannya di dalam pikiranku sekarang ini?!aku akan mencarinya sampai dapat, jam ini sangat berisik, aku akan menghancurkannya.
Tik....Tok.....Tik....Tok.....Tik....Tok.... suara itu terdengar lagi di telingaku.
BERSAMBUNG .....