L&M

L&M
BAB 36 : Lupakan sejenak



Sambil menunggu Leon berganti baju, aku tidak bisa berhenti menyantap makanan yang ada di depanku, sampai-sampai aku kadang hampir tersedak makanan karena tidak makan perlahan-lahan.


*Jangan ditiru ya guys, kalau makan harus perlahan, supaya tidak tersedak.


Leon keluar dari dalam kamarnya dengan wajah kebingungan, ia berjalan mendekatiku. "Ti, kamu doyan atau lapar?" Tanya Leon dengan wajah bingung.


Aku berhenti makan, "Hehe, iya. Aku lumayan lapar, Leon." Jawabku cengengesan.


Leon menggelengkan kepalanya, lalu duduk di kursi yang ada disampingku. "Ti, walau kamu lapar sekali pun, kamu harus makan dengan perlahan-lahan. Kamu tahu kenapa?"


Aku menggeleng, "Emm, supaya aku tidak tersedak makanankan?"


"Iya, selain itu, makanan yang masuk ke perutmu tidak akan tercerna dengan baik jika kamu makan seperti itu." Jelasnya dengan wajah serius.


Aku tersenyum mengerti, "Hehe, iya deh. Aku akan makan pelan-pelan saja nih, biar kamu gak berisik!" Sindirku lalu lanjut makan dengan sangat perlahan-lahan.


Leon tersenyum kecil, ia membelai rambutku dengan lembut. Triing .... Triing .... Triing. Tiba-tiba ponsel Leon berdering, seseorang menghubunginya.


Ia pun segera mengangkat telepon sambil berjalan menuju taman, "Hallo? Iya, ini saya Leon. Ada apa?" Bicaranya di telepon.


Aku penasaran dengan siapa yang menelponnya itu, tetapi aku tidak akan bertanya sebelum Leon selesai berbicara di telepon. Jadi, sambil menunggunya, aku mencoba mencari kesibukan lain yang lebih menyenangkan daripada duduk diam seperti tadi.


Sambil menunggu Malaikat penyembuhku itu selesai berbicara di ponselnya, aku berkeliling melihat-lihat semua bingkai foto yang tersusun rapi di ruang tamu. Dari ujung kiri sampai ke ujung kanan, hanya ada foto Leon sendiri, dengan teman-temannya, dan juga denganku, tidak ada foto yang menunjukkan kebersamaannya dengan kedua orang tuanya. Tiba-tiba aku menjadi ingat dengan penyakit Leon yang semakin parah itu, bahkan saat-saat seperti ini, mama dan papanya tidak menemaninya supaya ia semangat.


Hah, kenapa tiba-tiba aku mengingat hal yang sedih ini sih?? Padahal kami sudah mulai kembali melupakan itu walau sejenak.


Walau begitu, aku akan tetap bersamamu Leon. Aku akan selalu berusaha mengingatmu, keadaanmu, dan semuanya.


"Oke, Terima kasih. Kita bertemu di bandara nanti siang, ya!" Ucap Leon sambil tersenyum, lalu menutup teleponnya.


Ia berjalan menuju ke meja makan, aku yang mendengar langkah kakinya, langsung berlari secepat mungkin supaya aku bisa menggapainya lebih dulu sebelum ia mencariku. "Leon!" Teriakku sambil berlari ke arahnya dengan cepat.


Aku memeluknya dengan erat, bahkan ia tak sempat mengucapkan kata-kata karena aku langsung datang seperti itu padanya. Wajahnya tampak terkejut, tetapi ia tak mengucapkan sepatah katapun, kedua tangannya juga mulai memelukku.


"Leon, jangan tinggalkan aku!"


Leon bingung, "Tiara, sudah kubilang, kalau aku pergi darimu, aku bukan 100% pergi. Aku hanya sedang berbeda jarak saja denganmu."


Aku melepaskan pelukanku padanya, "Kamu selalu bilang gitu, aku tak bisa berkata-kata setelah kamu mengatakan hal seperti itu!" Keluhku dengan wajah sedih.


Leon mengelus kedua pipiku dengan telapak tangannya yang dingin itu, ia tak mengatakan apapun kepadaku setelah ucapanku tadi. Tampak di tatapan matanya, sebenarnya juga ingin mengatakan kalau ia tidak ingin pergi meninggalkanku, tapi ia harus menunjukkan kalau dirinya jauh lebih kuat dariku.


Leon mengambil kopernya dan juga tas ranselnya di dalam kamarnya, Lalu ia menggenggam tanganku, "Ayo, kita pergi sekarang!" Ucapnya sambil tersenyum.


Aku pun berusaha untuk tetap bahagia walau sebenarnya tidak begitu. Melihat Leon memperjuangkan sakitnya itu, aku jadi semakin bersyukur dengan kehidupanku yang masih sangat baik-baik saja. Aku mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku, aku diterima dengan baik oleh semua teman-temanku di kampus, dan juga aku punya Leon yang selalu mengingatkanku akan kehidupan yang hanya sementara ini.


Aku mengambil tas sandangku yang kuletakkan di atas meja makan tadi, tetapi .... Aku tak sengaja melihat helm yang Leon pakai diletakkan di atas meja rak sebagai pajangan semata. Seketika hatiku kembali gelisah, aku tidak akan bisa berboncengan lagi dengan Leon, karena ia akan pergi sementara.


Karena tidak ingin lama-lama berlarut pada kesedihan, aku segera keluar dari rumah Leon dan langsung mengunci pintu rumahnya itu. Walau rumanya sudah dikunci otomatis oleh alat modern yang ada di pintunya itu, tetap saja untuk mengantisipasi hal buruk, tetap memakai kunci. Saat aku baru saja ingin memberitahu Leon, ia ternyata sedang berbincang dengan sopir taxi yang akan mengantar kami kemana pun sampai tujuan terakhir adalah ke bandara untuk mengantar Leon.


Aku mendekati Leon sambil menunjukkan kunci rumahnya, "Sebentar, Ti!" Tolak Leon dengan nada pelan, lalu melanjutkan percakapannya dengan sopir taxi itu.


Leon mengangguk cepat, "Ya, pak. Nanti saya akan hubungi bapak lagi, jika saya juga sudah waktunya untuk pergi ke bandara."


Pak sopir itu mengangguk mengerti, aku dan Leon segera masuk ke dalam mobil itu. Lalu kami segera pergi meninggalkan rumah Leon, menuju ke tujuan pertama, yaitu tempat bermain Timezone.


Ditengah perjalanan menuju ke tempat Timezone, Leon sejak tadi terus menerus menghadap ke jendela yang ada di sebelahnya. Karena aku penasaran, aku langsung bertanya saja padanya. "Leon, kamu kenapa?" Tanyaku dengan wajah bingung.


Ia menatapku dengan wajah pucat, "Ah, tidak apa-apa kok, Ti." Jawabnya sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian, darah mengalir dari lubang hidungnya, ia langsung menutup dengan telapak tangannya. Aku panik, "Leon, hidung kamu berdarah lagi!"


"Tolong, ambilkan Tissue, Ti!" Perintahnya sambil menutup hidungnya yang sudah bercecer darah.


Aku langsung mencari tissue di dalam tas sandangku, ternyata aku tidak membawa stok. Pak sopir yang ternyata mendengar kepanikan kami, langsung memberikan satu kotak tissue kepadaku sambil ia menyetir.


"Ini, non. Saya punya, ambil saja!" Ucapnya.


Aku langsung mengambil tissue itu, lalu memberikannya pada Leon. "Iya, terima kasih, pak. Ini, Leon!" Leon dengan cepat mengambil tissue dan langsung membersihkan darah yang ada di hidung dan tangannya.


Tanganku bergetar, mulutku tak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya bisa menatap wajahnya dengan perasaan khawatir, Wajah Leon terlihat sangat pucat sekali. Aku merasa perjalanan ini semakin panjang saja, dan sepertinya memberi kesempatan padaku untuk tidak memikirkan waktu. Tapi aku tak bisa, Leon tetap harus pergi supaya ia bisa sembuh dari penyakit yang ia derita itu.


Setelah darahnya berhenti, keringat di wajahnya mulai bercucuran. Aku langsung tanggap membersihkan dengan tissue, supaya Leon merasa lebih baik. "Aduhh, gimana kita mau jalan-jalan? Kamu sakit gini, Leon!" Ucapku dengan nada khawatir.


Leon menatapku serius, "Ti, aku gak apa-apa, kok. Ini kan gejalanya udah biasa terjadi dan kamu sudah tahu cara menanganiku, aku akan baik-baik saja!"


Aku menunduk merenungkan ucapan Leon. Leon memelukku sambil menepuk pundakku dengan lembut, "Ti, jangan terlalu khawatir! Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan kepergianku, kita masih punya waktu untuk bersenang-senang kan? Aku tidak mau membuatmu semakin bersedih. Maafkan aku, ya!"


Ia mencoba meyakinkanku kalau ia akan tetap baik-baik saja. Aku melepas pelukannya, lalu mengangguk mengerti. Setelah aku kembali tenang, barulah kami melihat perjalanan sudah sampai di mana kami sekarang.


Setelah sampai di Timezone, aku langsung melihat gedung tempat bermain itu dengan mata berbinar-binar. "Wahh, Leon! Aku sudah lama tidak kesini, gedungnya sudah berbeda." Ucapku dengan nada suara gembira.


Leon berbicara dengan sopir taxi itu lewat jendela mobil, "Pak, nanti saya hubungi bapak saja, ya! Setengah jam sebelum panggilan saya ke bandara."


Pak sopir mengangguk, "Oh, oke. Siap, tuan. Saya akan tetap stay dengan ponsel saya."


Setelah berbincang, supir itu pergi meninggalkan kami. Leon menghampiriku, "Ayo, kamu terlihat tidak sabar masuk ke dalam." Ia tersenyum melihatku yang sudah bersiap-siap masuk ke dalam gedung tinggi itu.


Kami pun masuk ke dalam gedung itu, lalu menaiki lift menuju ke lantai tiga, di mana tempat Timezone itu berada. Aku melihat sekelilingku yang tampak asing, aku sudah lama tidak pergi ke sana untuk bermain Timezone karena kesibukanku untuk belajar di sekolah.


Setelah sampai di Timezone, aku langsung menarik Leon untuk segera masuk dan membeli tiket supaya kami bisa bermain semua permainan yang ada di dalam sana sampai puas.


Aku merasa senang untuk kesekian kalinya saat bersama Leon, malaikat penyembuhku ini.


Oh, Tuhan. Aku hanya ingin dia tetap di sini bersamaku, bercanda tawa denganku, bergandengan tangan, menyandar di bahunya, dan memeluknya dengan penuh rasa di hatiku ini.


Apakah aku terlalu serakah jika aku menginginkan hal itu? Kalau iya, ya aku akui kalau aku memang serakah, aku ingin dia ada disampingku selamanya. Tapi, jika aku tidak serakah, maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang.


Wǒ ài nǐ, Leon! Aku akan selalu mencintaimu sampai detak jantungku benar-benar tak berdetak lagi. Itu janjiku padamu dan juga pada diriku sendiri.


BERSAMBUNG .....