L&M

L&M
BAB 22 : Rangga bukan Berrysmile ku



Aku mengangguk sambil tersenyum, " Ya, baiklah. Kamu janji kan, kalau gak bisa langsung telepon aku?!" Jawabku.


Lagi, pada saat Leon akan masuk kedalam mobilnya untuk kedua kalinya, tetap ada saja yang akan menghambat perjalanannya itu. "Tiara!" Panggil Rangga berjalan dari pekarangan kampus, aku pun menoleh kebelakang juga dengan Leon.


Aku lupa memberitahu kalian tentang si Berrysmile yang dulu selalu membuatku tersenyum itu. Kali ini, Rangga sudah tak seperti dirinya yang aku kenal selama tiga tahun, dia benar-benar berbeda dari dulu yang penuh senyuman aneh di wajah tulusnya. Dia berjalan menghampiriku tak sendirian, tetapi dia sekarang sudah memiliki anggota geng bersamanya, akan selalu begitu sekarang. Tak akan ada yang bisa mengembalikan dirinya seperti dirinya yang dulu, kecuali dirinya sendiri.


Aku memperhatikan langkahnya yang seperti penuh dengan amarah dan juga dendam, kulihat caranya menatap padaku juga tak seperti Rangga yang ramah dan juga selalu tersenyum setiap kali di dekatku. Aku melirik ke Leon, Leon bahkan hanya diam sambil memperhatikan Rangga yang tampak ingin mendekat padanya. Tentu saja aku tak mau hal yang pernah terjadi dulu akan terulang lagi sekarang, tetapi entah mengapa setiap kali mereka saling menatap seperti itu, aku tak bisa berbuat apapun untuk menghentikan pembicaraan mereka.


Rangga berhenti tepat di depan mataku sekarang bersama dengan empat temannya lagi, asal kalian tahu mereka adalah anggota geng paling ricuh di angkatan kami yang paling dihindari semua anak kampus. Karena Rangga berdiri di depanku dengan tatapan membenci, aku perlahan menundukkan kepalaku sambil berjalan mundur. Mulutku seperti terkunci, aku ingin mengatakan kalau dia seperti orang yang tidak waras sekarang, tetapi tak bisa aku hanya bisa menatap amarah yang ada di hatinya.


Leon langsung menggenggam tanganku dan dia menarik tubuhku bersembunyi di belakangnya. Saat itu juga dadaku langsung terasa sangat sesak, jadi aku menggenggam erat-erat tangan Leon dan tidak ingin melihat wajah Rangga lagi. Leon melirik padanya sejenak, lalu aku seperti mendengar suara detak jantung yang sangat kencang. Apakah itu suara detak jantung Leon? Aku bersandar di belakang Leon, yang pasti aku masih bisa merasakan apapun yang Leon rasakan, iya kan??


Aku memberanikan diriku untuk melihat Rangga dan dia pun melirik padaku dengan senyuman liciknya itu, " Apa yang lucu?" Tanya Leon dengan dingin padanya.


Saat Leon membuka percakapan itu, Rangga dan teman-temannya hanya tersenyum melihat satu sama lain. Aku tak sadar ternyata sudah banyak yang memperhatikan kami sejak tadi, inilah yang akan menjadi masalah kalau Leon tidak segera pergi.


Oh, Tuhan! Ini salahku juga, aku tidak menolak tawaran Leon untuk mengantarku Sekolah, aku yang salah!!


Rangga melangkah satu kali ke depan sambil menatap Leon dengan semakin penuh kebencian di dalam hatinya itu, "Apa yang lucu? Kamu tak mengetahuinya? Coba saja pikirkan sendiri, kan kamu pintar!" Ledeknya dengan wajah santai.


Sepertinya dia sengaja ingin membuat Leon menghajarnya di Sekolah saat SMA dulu, Rangga kamu sungguh licik!!! KAMU BUKAN LAGI BERRYSMILE YANG SELALU MEMBUATKU KESAL DENGAN SENYUM ANEHMU !!


"Begitukah? Haruskah memulai percakapan setelah lama tak bertemu dengan cara seperti ini? Harusnya kamu yang berpikir panjang!"Jawab Leon dengan tenang.


Aku melirik ke suatu tempat, di antara banyak orang yang melihat, Novi ada di sana. Ya, kami satu Sekolah lagi karena dia juga pintar semenjak kami berbaikan kembali. Novi bilang kalau dia pengen jadi perawat, pengen berdampingan sama dokter yang berpengalaman, dia juga ingin sering bertemu dengan orang baru nanti pada saat di Rumah Sakit. Novi, tolong hentikan Rangga!! Novi mencoba memberiku isyarat untuk segera masuk ke kelas, aku menggelengkan kepalaku karena aku tak bisa memahami apa yang dia isyaratkan padaku.


"Kamu masih ingatkan tiga tahun yang lalu, kamu pernah mempermalukanku di depan semua orang di SMA. Terutama dengan Mutiara?!" Rangga mulai menaikkan nada suaranya.


Leon tetap menghadapi Rangga dengan sikap dinginnya, "Itu adalah kesalahanmu sendiri. Kamu yang lebih dulu membuat orang lain tak bisa menahan emosi, kamu tak sadarkah itu adalah kesalahan terbesarmu?!" Balas Leon dengan kalimat yang tajam sekali.


Tiga tahun lalu, Leon dan Rangga pernah berkelahi karena aku. Masalah inilah yang mereka bicarakan sekarang, aku yang membuat mereka semakin tak bisa akur. Awalnya Rangga yang membuatku sangat benci melihatnya, entah mengapa tiba-tiba Leon langsung datang menghampiri Rangga dan langsung memberinya sebuah karya di wajah kiri Rangga. Tentu saja Rangga juga tak mau diam, aku langsung menengahi mereka, tetapi tak bisa. Emosi Leon benar-benar sangat naik pada saat itu, itu adalah pertama kalinya aku melihat kemarahan di wajah dinginnya. Dan Rangga tak bisa berkutip setelah terkena pukulan itu karena Leon, aku tak bisa meredam emosinya lagi sekarang.


Dan sekarang mereka ingin membuat kacau kepalaku lagi? Oh, semesta! Jangan biarkan ini terjadi, aku tak bisa memisahkan mereka.


Cukup membuatku melihat Leon marah dan juga aku sudah melihat semua yang ingin dia luapkan tiga tahun yang lalu, aku tak mau melihatnya lagi sekarang.......


Tak lama, bel berbunyi.....


Dia menoleh padaku lalu melihat jam tangannya sendiri, Rangga juga mulai berdiskusi untuk segera masuk ke kelas pada teman-temannya. "Iya, Ti. Kamu duluan masuk kedalam, aku awasi dari sini!" Ucapnya dengan nada pelan lalu perlahan melepaskan genggaman tangannya.


Aku pun perlahan berjalan masuk ke pekarangan kampus sambil terus memperhatikannya berdiri menatapku. Sekarang aku tak tahu apa yang aku rasakan, tetapi walau Rangga menjadi ancamanku tetap saja selalu ada Leon yang bisa mengatasinya agak aku tak terluka. Makanya, aku merasa pantas kalau dia aku sebut sebagai 'Malaikat penyembuhku' Makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan untuk menjagaku sepanjang perjalananku sampai saat ini.


Pada saat aku pergi meninggalkan Leon, Leon baru masuk kedalam mobil, tetapi dia belum pergi. Dia masih memperhatikan Rangga dan teman-temannya yang mengikuti langkahku dari kaca mobil, aku sudah merasa mereka mengikutiku sejak tadi. "Tiara!" Panggil Rangga, aku pun berhenti berjalan tetapi tak menoleh padanya. Dia pun maju ke hadapanku dengan tatapan yang berbeda dari yang tadi dia perlihatkan padaku, "mengapa kamu takut melihatku?" Tanya Rangga.


Hah, aku gak salah dengar? Dia bertanya seperti itu saat ini? Kurasa urat kepalanya baru saja nyambung lagi sekarang, makanya dia bersikap seperti orang waras sekarang.


Karena aku masih menganggap dia sebagai temanku, jadi tak ada salahnya aku menjawab apa yang dikatakannya kan? tetapi tak perlu bersikap ramah padanya Tiara, karena dia sudah melakukan hal yang salah. "Kamu tak tahu apa alasannya?You don't know where your fault is? are you insane? "Aku balik bertanya padanya sambil menatapnya serius. Aku maju satu langkah ke depannya, "You don't remember having a big mistake on me dan Leon? Sadarkah kamu?" Lanjutku.


Dia menggelengkan kepalanya, "I think, I don't have any mistakes on him. he was the one who first attacked me suddenly, do you still want to defend him? Seharunya kamu membela temanmu sendiri, bukan ...."


"Bukan apa? ..... kamu ingin bilang Leon apa? dokter aneh? Itu yang kamu ingin bilang kan?" Aku sudah sangat muak mendengar semua kebodohan yang dia katakan padaku, aku tak mau mendengarnya lagi. Aku pun memilih meninggalkannya dan berjalan menuju kelas, tetapi dia tetap saja mengikutiku hingga di depan kelas dan di perhatikan oleh semua teman kelasku.


"Tiara, cepat duduk! Entar lagi dosen masuk kelas kita nih." Tegur salah satu teman sejurusanku.


"Tiara! Ti, dengarin aku dulu!" Teriak Rangga sambil mengikuti langkahku.


Aku mengangguk, "Iya, aku tahu kok." Jawabku pelan, sambil berhenti di depan pintu karena sejak tadi Rangga terus mengikutiku.


Rangga menatapku serius, tetapi tidak denganku. Malah aku menatapnya dengan rasa tak peduli lagi padanya, aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuatnya pergi. tetapi aku masih ragu, aku tak ingin membuat hatinya rapuh, aku masih punya pikiran yang jernih. "Rangga, aku mau bilang sesuatu!"


"Apa, Ti?"


Kamu.....bukan lagi Berrysmile ku, jika kamu tetap seperti ini. Aku tak bisa melihat sisi itu padamu yang sekarang, yang ada di depanku.


Aku menguatkan mental, "You are not 'Berry Smile' for me, Rangga! I hope you don't bother me anymore, I don't want to deal with you anymore. " Ucapku dengan berat hati, tanpa mendengar jawabannya aku langsung duduk di kursiku dan dia pun langsung pergi meninggalkan kelas ku tanpa bicara apapun.


Semua orang di kelas memberi tepuk tangan padaku, karena ucapanku tadi. Padahal tak ada yang menarik, entah mengapa mereka malah menganggap aku berbicara seperti lelucon semata untuk mereka. Tak apa, yang penting aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan padanya semenjak dirinya berubah jadi berandalan. Aku yakin kini hatinya rapuh, rapuh seperti kayu yang habis di makan rayap. maaf, Rangga. Sudah begitu keterlaluan sekali caramu berbicara dan bersikap, aku tak mau kamu makin tersesat, biarlah aku membuatmu begitu asal kamu bisa kembali menjadi Rangga yang dulu. Aku tak bisa merubahmu, karena seharusnya kamu lah yang merubah dirimu sendiri kembali menjadi yang aku kenal. Aku akan selalu menunggumu kembali, sampai kapanpun itu. Aku terlalu serius memperhatikannya berjalan dengan tatapan kecewa sepanjang melewati jendela yang masih kawasan kelasku.


maaf, Rangga. Aku sangat peduli denganmu, makanya aku ingin kamu tidak salah melangkah. even though the designation has been erased from me, it doesn't mean you aren't my friend. I will still think of you as my friend, Rangga.


BERSAMBUNG .....