L&M

L&M
BAB 8 : Benci part 2



Semua orang melihat ke arahku sekarang, aku pun jadi tidak bisa bicara apapun, "Ya .... tidak ada sih!tetapi, kan kamu seharusnya pergi ke kampus."


Dia tersenyum, "Kamu lupa, aku kan baru saja akan mendaftar di universitas!"


Ah, aku lupa! bodohnya kamu Tiara, mengapa kamu bertanya begitu? sudah jelas kalau dia datang ke Batam hanya untuk kuliah. Aku diam seketika, Rangga memperhatikanku dengan sangat saksama seperti ingin aku mengatakan sesuatu padanya. tetapi, dia tetap diam saja, malah dia pergi meninggalkan kerumunan karena dia ingin membeli makan siangnya.


Leon mengetuk meja, "Tiara!bukankah sudah dibilang tidak boleh melamun? apa kamu belum mengerti?" Ucapnya menegurku dengan wajah dinginnya.


Aku pun tersenyum kecil, ternyata tidak seperti Rangga, walau Leon tak memiliki senyum semanis Rangga, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan amarahnya padaku, persis seperti pada waktu di taman waktu itu. "Iya, aku ngerti kok! Ternyata kamu gak bisa marah?" Ledekku.


"Bisa, tetapi bukan untuk masalah sepele seperti ini. Bagiku terlalu kekanak-kanakan jika seorang laki-laki marah, seperti itu." Jawabnya dengan santai.


Wah, dia memang sempurna! apakah aku pantas dekat-dekat dengan malaikat sempurna itu? Aku merasa sangat nyaman saat bersamanya, apakah karena dia adalah orang yang aku rindukan? atau aku hanya menganggapnya teman kecilku?


"Wah, ternyata Mutiara yang kakak cari ya? jadi, kakak yang mengantar Mutiara tadi pagi?" Tanya salah satu siswi yang berdiri tepat di belakangnya.


Dia tersenyum lebar, saat dia melakukan hal itu, sangat banyak mata yang menyaksikan bulan purnama indah yang terukir di bibirnya. Sungguh, aku seperti baru saja melihat bulan di tengah panasnya matahari.


"Kyaaaa! kak, senyumnya manis loh, mengapa sebentar aja? Kakak ganteng loh! aku kagum deh!"


"Boleh tunjukin lagi gak kak? Kami pengen lihat lagi!" Tanya mereka semua dengan wajah gembira dan sangat terpanah oleh sempurnanya makhlukmu ini Tuhan.


Dia menggelengkan kepalanya sambil menatapku, "Tidak, itu sudah cukup!Tiara, duduklah! kamu belum makan siang kan? Yang lain juga duduk saja!" Ajak nya dengan sopan.


Saat dia mengatakan kalau siapa saja boleh duduk bersamanya, aku merasa sangat risih, apakah dia tidak merasa begitu? Ternyata menjadi pusat perhatian karena memiliki kesempurnaan itu melelahkan? Aku rasa dia begitu, walau dia bisa berinteraksi dengan baik, tetap saja pasti ada masanya dia akan minder dari keramaian dan hatinya akan langsung berbicara jujur pada dirinya sendiri. Dia menunjukkan senyumannya hanya hitungan detik, bahkan terasa hanya seperti kedipan mata saja.


Karena perasaan kagumku pada Leon tak bisa berhenti, Aku sampai tak menyadari kalau Novi dan Yuni duduk di sebelahku, sedangkan Leon duduk tepat di depan mataku, satu meja bisa menampung 10 orang. Begitu ramai yang duduk di meja kami hanyalah anak perempuan, Leon sendirilah yang laki-laki sendiri di antara kami semuanya, tetapi dia sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Aku melirik Novi terlebih dahulu dan aku perhatikan caranya menatap Leon, sangat berbeda dari Novi menatap Leon. Aku seperti merasa kalau Novi menyukai Leon, bukan karena kagum dengan ketampanannya, tetapi karena hal lain, aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa memiliki tatapan seperti itu pada Leon.


Sedangkan Yuni, " Tiara!"


Aku menyahut, "Iya, Yun? Ada apa?" Tanyaku pelan.


Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku, "Aku sangat kagum dengan wajahnya, tampan sekali! Kayak oppa-oppa Korea tahu."


Baru saja aku ingin mendeskripsikan perasaannya pada Leon, Yuni sudah memberitahuku lebih dulu. Huuuuh, aku lega! dia ternyata hanya suka Leon karena mirip seperti para Idol Kpop, bukan karena dia benar-benar punya perasaan tulus pada Leon. tetapi, aku masih penasaran bagaimana dengan Novi? Aku semakin penasaran dengan hatinya itu, apakah aku sungguh akan selamanya kehilangan sahabatku itu?


Di tengah lamunanku, Leon masih berbincang dengan semua siswi yang duduk di antara dirinya. "Kak, sebenarnya apa hubungan kakak dengan Tiara? apakah kakak pacarnya?" Tanya salah satu siswi dengan sangat semangat.


"Apa yang kamu katakan?" Tanyaku langsung bangun dari lamunanku.


Semua orang yang ada di kantin memperhatikanku karena suaraku yang terlalu keras, membuat mereka semua mengira ada sesuatu yang terjadi. Aku sungguh tidak percaya kalau mereka akan bertanya seperti itu tentangku dan Leon, apa yang akan dia jawab nanti? Awas saja kalau jawabannya membuatku semakin ingin hilang ingatan hari ini!!


"Ehmm, pelanin suaramu Tiara! di sini bukan hanya kita aja, ada banyak orang yang mendengar, gak sopan! "Tegur pelan Yuni sambil mengelus punggungku.


Bahkan ternyata Rangga yang sedang minum pun tersedak, hingga dia memilih tidak meminum kembali. Leon kembali tersenyum, "Tiara, aku tahu! walau senyumanku tidak bisa mengalahkan senyuman salah satu dari kalian semua, tetapi aku akan tetap berusaha membuatmu tersenyum setiap bersamaku. Aku tahu ada seseorang yang berharga bagimu, tetapi kamu sedang berdebat dengannya kan?" Tanya Leon seakan tahu semua yang terjadi lewat tatapan mataku padanya.


Semua kembali kagum dengan apa yang keluar dari mulutnya, "Wooaah!kak so sweet banget sih? tetapi sayang, kakak sudah punya Tiara!"


"Romantis deh, aku pengen punya cowok yang kayak kakak aja deh!wajahnya dingin tetapi kalau udah ngomong langsung meleleh hatinya!" Kata yang lain.


Yuni mengangkat satu tangannya, "Jadi, apa nih jawabannya? Kak Leon sama Tiara, pacaran?" Tanya Yuni dengan wajah penasaran.


"Gak, tuh!" Aku dan Leon menjawab serentak.


"Aih, ya sudahlah. Siapa saja pacarnya kalian juga tidak bisa mendapatkan kak Leon, dia terlalu sempurna untuk kalian semua!" Tegas Yuni. Semua langsung mengeluh dan menyadari kalau mereka tidak pantas berada dekat dengan Leon, termasuk aku!


Aku menatapnya tajam, "Leon mau ngapain di sini?" Tanyaku.


"Memangnya tidak ada yang harus dilakukan di rumah? Apartemen yang kakak tinggali itu kan sangat besar, itu yang aku tahu." Dia hanya mengangguk sambil memperhatikan Novi yang duduk di depannya.


Aku mengamati sekitar, semua masih memperhatikan si makhluk sempurna itu, aku merasa ada aura dalam dirinya yang bisa menarik orang-orang untuk memperhatikan dirinya kalau dia memang ada. Dia menatap wajahku dengan wajah dinginnya itu, aku malah balik menatapnya dengan ketus, entah mengapa aku merasakan guncangan besar dalam hatiku. Apa aku saat ini sedang sakit? mungkin iya, karena kedatangan orang yang sudah aku tunggu-tunggu kehadirannya selama bertahun-tahun lamanya.


Kriiing! Kriiing! Kriing! Perhatian!Perhatian! Kepada seluruh siswa/siswi dipersilahkan masuk kedalam kelas masing-masing! Akan ada arahan dari wali kelas dalam waktu 10 menit!Terima kasih atas perhatiannya!


Kami yang berada di kantin langsung berhenti memakan makanan dan bergegas masuk ke dalam kelas sebelum guru lebih dulu menghukum kami. Bunyi sepatu yang ramai karena semua berlarian membuat rusuh suasana kantin, aku pun juga tak sanggup mendengarnya jadi aku menutup telingaku. tetapi, ternyata bukan aku saja yang merasa terganggu dengan keributan itu, Leon! dia juga menutup mata dan telinganya saat suara gaduh di mana-mana.


Aku memperhatikan wajahnya yang pucat seperti orang yang sedang sakit, "Leon? Kamu sakit?" Tanyaku sambil menepuk bahunya pelan.


Dia menatap wajahku dengan senyumnya, "Ah, tidak kok! mungkin karena ribut, kepala jadi terasa pusing." Jawabnya mencoba mengelak kebenaran.


Aku masih tidak percaya akan apa yang dikatakannya, seperti dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. "Beneran nggak apa-apa?"


Dia mengangguk, "Iya, Tiara! Aku baik-baik saja." Jawabnya berusaha meyakinkanku. "Sana masuk, udah bunyi bel katanya ada pengumuman kan? siapa tahu pulang cepat."


Aku mengangguk sambil berdiri dari kursi, "Ah, iya aku hampir lupa. Aku masuk dulu!" Aku berlari menuju ke dalam sekolah, sesekali aku melirik ke belakang untuk memperhatikan apa yang sedang dia akan lakukan di kantin selagi menungguku pulang.


Beberapa menit setelah kami semua masuk kedalam kelas, Bu Sukma datang untuk memberikan arahan dan pengumuman pada kami semua di kelas. Aku terus menatap jam dinding kelas, menghitung detik demi detik yang akan dihabiskan di kelas ini. Saat aku sedang melamun sambil menghitung jam, dari belakangku ada yang melempar gulungan kertas kecil yang mengenai kepalaku dan aku menoleh ke belakang.


Aku mengambil kertas itu, ternyata keusilan itu dari Rangga. Dia memberi isyarat supaya aku membuka kertas itu dan membacanya, aku pun mengikuti apa yang dia isyaratkan itu. "Tiara, nanti kamu mau ikut jalan gak? ada teman yang lain juga kok." Aku membaca dalam hati dengan wajah bingung.


Aku kembali menoleh kebelakang, Rangga kembali memberi isyarat kami akan membicarakannya lagi nanti setelah pengumuman ini selesai. Aku membuang kertas itu ke laci mejaku, lalu memperhatikan Bu Sukma yang sedang berdiri di depan kelas kami itu.


"Oke, Sengaja kami majelis guru mengumpulkan kalian semua dalam kelas masing-masing. Karena jika semua dikumpulkan di lapangan, itu akan membuang banyak waktu belum lagi menunggu yang dari lantai atas turun untuk berbaris, jadi kami kumpulkan di kelas saja." Ucap Bu Sukma dengan sangat serius.


Kami semua mencoba mencerna apa yang akan dijelaskan oleh Bu Sukma pada kami, sepertinya apa yang dikatakan oleh Leon benar, kalau kami mungkin akan pulang cepat. tetapi mengapa sepertinya setiap kalimat yang diucapkan itu memang benar terjadi? Seperti, dia sudah tahu akan kejadian di masa depan.


Bu Sukma juga beberapa kali melihat jam tangannya, sepertinya para guru sedang buru-buru akan sesuatu. Suasana diluar kelas juga sudah mulai banyak siswa/siswi yang baru saja dipulangkan oleh wali kelas mereka masing-masing, beberapa guru juga sudah meninggalkan sekolah dengan kendaraan mereka mobil ataupun motor.


"Karena sudah sangat buru-buru, ibu hanya mau menyampaikan kalau kalian sekarang pulang cepat dan untuk besok kalian semua diliburkan karena beberapa majelis guru juga sedang ada pelatihan mendadak ke Surabaya jadi, terpaksa kalian belajar dirumah selama dua hari kedepan." Jelas Bu Sukma dengan wajah kecewa.


"Buk! jadi, kami baru masuk kembali pada hari jum'at?" Tanya salah satu siswa yang duduk di belakang.


Bu Sukma mengangguk sambil tersenyum, "Ya, begitulah. Kalian akan masuk hari jum'at! ets, tetapi kalian jangan lupa akan tugas yang akan dibahas pada hari jum'at, karena aktivitas belajar sudah kembali seperti semula. Kalian sudah mengerti? apa ada yang mau bertanya lagi?"


"Tidak bu, Semua sudah jelas!" Jawab beberapa orang dengan serentak.


"Okay, kalau begitu semua boleh kembali pulang ke rumah masing-masing! Selamat siang semuanya!" Sapa Bu Sukma dengan lembut sambil berjalan keluar kelas.


"Iya, Siang juga bu!" Jawab kami serentak, lalu bergegas membereskan semua barang dan berlarian keluar kelas.


Aku juga tak mau berlama-lama di kelas, aku langsung berlari keluar kelas untuk segera menemui Leon yang sudah menunggu di kantin sejak tadi. Hatiku merasa bersalah karena dia pasti menunggu dengan perasaan kesal padaku, "Aku tak yakin kalau dia tidak marah padaku." Batinku gelisah.


Pada saat aku sudah sampai di kantin, keadaan kembali ramai karena Leon. Lagi-lagi untuk mendekatinya aku harus melewati kerumunan orang-orang. Dia sudah tahu kalau aku akan datang menghampiri makanya dia langsung berdiri dari tempat duduk itu sambil mengambil kunci motor yang dia simpan didalam kantong celananya.


"Leon, maaf nunggu lama! tadi ..."


Dia mengangguk, "Iya, gak masalah. Sudah pulangkan? Ayo, kamu temenin aku keliling Batam." Leon menarik tanganku dan membawaku keluar dari kantin ke tempat motornya di parkirkan tadi.


Aku tak bisa berkata-kata, langkahku mengikuti langkahnya itu. Rasanya hatiku sudah tak bisa menolak kehadirannya, walau masih merasa asing dengan wujudnya yang sekarang aku tetap yakin kalau dia memang anak laki-laki di taman itu. Beberapa orang memperhatikan kami berdua tetapi aku pura-pura tidak tahu akan hal itu, tampaknya Leon pun begitu. Leon berhenti berjalan, lalu dia menoleh kebelakang ku. Tiba-tiba ada yang menarik tangan kiriku kebelakang, aku pun membalikkan badanku. Ternyata Rangga, aku lupa kalau tadi Rangga akan berbicara padaku tentang pergi bersama teman-temanku.


BERSAMBUNG .....