
Akhirnya aku dan Leon bermain berbagai jenis permainan yang ada di Timezone itu. Mulai dari game memasukkan bola basket ke ring nya, bermain tinju-tinjuan, bermain mobil-mobilan, dan juga permainan yang lainnya. Kami berdua benar-benar dibuat lupa oleh waktu, sekarang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, berarti tinggal 1 jam lagi kami punya waktu untuk bersenang-senang seperti ini.
Aku tertawa lepas, "Haha, Leon. Seru kan?" Tanyaku dengan wajah senang.
Leon juga ikut tersenyum, "Iya, Ti. Kalau kamu senang, aku juga jadi senang, kok." Jawabnya. Lalu ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, raut wajahnya tiba-tiba berubah sunyi.
Aku menatap wajahnya, "Lah, Leon, kenapa?" Wajahku ikut datar.
Leon menggeleng sambil tersenyum, "Ah, tidak ada apa-apa kok. Ayo, kita mau main yang mana lagi, Ti? Masih banyak tiketnya nih!"
Aku langsung menunjuk ke permainan menangkap boneka di yang memakai capitan itu, "Aku ingin boneka yang ada di sana."
Leon menggandengku ke tempat permainan itu, semua orang yang sibuk memainkan itu langsung terdiam saat mereka melirik wajah Leon yang tampan itu. Mereka langsung menyingkir, dan menyuruh Leon untuk bermain lebih dulu, mereka juga sesekali seperti membicarakan tentangku walau aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Leon menggerakkan capit itu, "Ti, kamu mau boneka yang mana?" Tanya Leon sambil menatap serius permainannya.
Aku menunjuk ke boneka Koala yang ada di tumpukan boneka lainnya. "Itu, boneka koala, aku suka melihatnya."
Leon memasang wajah bingung, sepertinya ia tak percaya kalau aku akan menyukai hal yang berbau dengan Koala. Tentu saja yang ia ketahui sejak dulu aku hanya menyukai hewan peliharaan seperti kucing saja, tapi tentang boneka koala itu aku benar-benar sangat ingin saja saat ini, makanya aku menyuruh Leon untuk bisa mengambil boneka itu.
Eh, liat deh! Ganteng banget gak sih tu cowok yang lagi main capit boneka?!
Wah, iya. Ganteng banget, dih. Udah punya cewek ternyata, sayang banget!
Ceweknya yang disamping dia itu ya? Lumayan juga tuh, tapi kurang tinggi aja.
Iya, kayaknya beda umur juga deh.
Wah, lagi zaman ya sekarang pacaram kayak gitu? Beda umur yang jauh.
Tapi yang jelas sih, cewek itu beruntung banget dong punya cowok yang bisa di bawa kemana-mana gitu.
Leon berusaha menyesuaikan capitnya supaya dapat menarik boneka yang aku inginkan itu, ia tampak sangat serius sekali loh. Hehe, wajahnya lucu sekali loh, kalau kalian bayangkan, kalian akan tertawa sendiri. Saat ini saja aku sedang berusaha untuk tidak tertawa, memang sih Leon emang punya wajah datar gitu, tapi kali ini beda banget deh.
Aku berusaha merayu Leon, supaya ia cepat memenangkan permainan itu. "Leon, ayolah! Itu sedikit lagi loh, kalau kamu tidak berhasil, biar aku saja yang bermain!" Sindirku sambil menahan tawa.
Leon masih tampak serius, ia terbawa suasana sekali. "Ish, Tiara! Sabarlah, aku sedang berusaha untuk mendapatkannya, ini lebih sulit tahu!" Jawabnya dengan nada kesal.
"Emang lebih sulit dari apa sih?" Aku penasaran.
Ia mendapatkan boneka itu di capitnya, lalu menjatuhkannya ke kotak tempat boneka itu di ambil. Aku langsung berteriak senang dan mengambil sendiri boneka itu dengan sangat gembira sekali.
"Kyaaa! Leon, akhirnya dapat juga nih boneka nya. Yeaaahh!!" Aku sangat senang sekali, aku memeluk berkali-kali boneka itu, lagipula emang boneka juga masih wangi karna baru.
Leon tersenyum kecil, "Sudahkan? Tidak mau boneka yang lain?" Tanya Leon dengan wajah yang basah karena keringat.
Karena aku sudah melihatnya seperti itu, aku langsung mengambil tissue di dalam tas kecilku yang selalu aku bawa kemana pun. Lalu aku membersihkan keringatnya menggunakan tissue dengan perlahan-lahan.
"Leon, kamu ni jangan terlalu berusaha keras kayak gitu dong! Kalau kamu gak sanggup, bilang gak sanggup." Ucapku kesal.
"Aku tidak mungkin menolak permintaanmu, Ti. Kamu adalah pacarku, wajar kan aku harus menurutimu? Lagipula, ini adalah hal terakhir sebelum aku pergi ke Singapura. Aku ingin membuatmu senang, aku tidak ingin membuatmu sedih." Jawabnya panjang lebar dengan wajah serius.
Leon tersenyum, lalu membelai rambutku. "Yasudahlah, kita pergi ke tempat lain saja! Cari makan atau apa gitu, kamu bosan kan?" Usulnya sambil menggandeng tanganku.
Aku berpikir keras, "Emm, apa ya?? Apa di sini ada toko es krim?" Tanyaku.
Leon mengangguk, "Nah, ada kok. Aku baru ingat kalau kamu menyukai es krim, maaf hampir lupa dengan hal itu."
Aku termenung sejenak, kini untuk hal sepele seperti itu, Leon sudah melupakannya, padahal kami sering memakan es krim bersama-sama. Kata kak Daffa, Leon akan melupakan perlahan-lahan hal yang memang tidak perlu ia ingat atau hal yang tidak terlalu penting. Dia hanya akan mengingat orang-orang yang ada di sekitarnya, kesehariannya, dan juga wanita yang mencintainya, hanya itu yang akan ia ingat walau sampai ia tidak sadarkan diri.
"Tiara? Kamu melamun lagi, ya??" Leon menegurku.
Aku terkejut, "Ish, Leon! Aku kaget tahu."
"Ya, makanya .... Katanya mau es krim, tapi malah tiba-tiba melamun gitu. Yuk, ah. Entar waktuku habis, kita tidak bisa berjalan-jalan lagi." Ajaknya sambil berjalan cepat menuju ke cafe kecil yang menjual berbagai macam es krim di lantai yang sama dengan tempat bermain Timezone tadi.
Leon mengatakan tentang waktu, aku langsung membalikkan tangannya dan melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 9:35 pagi. Yang artinya, kesenangan itu akan berakhir dalam waktu 40 menit lagi. Ya, 40 menit kan? Ia langsung memelukku, aku hanya terdiam memikirkan jam yang terus berputar.
"Ti, udah! Gak usah mikirin itu, aku gak akan pergi sebelum kamu benar-benar menghabiskan semua waktumu denganku, dan membeli apa yang kamu inginkan." Ucapnya pelan.
Aku melepaskan pelukannya, "Iya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Hanya tersisa 40 menit lagi, aku harus bisa makan es krim dulu bersamamu, kan?!"
Ia mengangguk, lalu kami datang ke cafe tersebut dan aku boleh memesan es krim apa saja yang ingin aku makan. Tentu saja, walau ada begitu banyak rasa pada es krim, aku hanya akan memilih es krim rasa? ..... VANILA dong, ya kan? Makanya aku membeli es krim vanila saja dan Leon membeli es krim rasa blueberry yang katanya enak.
Kami berdua tak ingin duduk di cafe tersebut, karena mengingat waktu hampir habis. Jadi, Leon segera menelpon sopir itu untuk segera stay di depan gedung, karena sebentar lagi kami harus berangkat ke bandara.
"Ti, kita makan di bawah saja ya! Sekalian liat taxi nya, entar biar bisa langsung berangkat."
Aku hanya mengangguk sambil menjilati es krim ku. Karena aku terlalu fokus memakan es krim, Leon memegangi tanganku dan mengarahkan jalanku supaya tidak tersenggol orang lain dan tidak salah jalan. Kami menaiki lift lagi untuk turun ke lantai dasar dan keluar dari gedung tinggi itu.
Keadaan di dalam lift cukup ramai, ada 4 orang di antara aku dan Leon yang juga akan turun ke lantai dasar. Saat di dalam lift, Leon terus memperhatikan sekelilingku dan juga memenggang erat tanganku. Aku bingung dengan sikapnya itu, tetapi ia tidak berusaha menjelaskannya padaku tentang apa yang ia lakukan.
Lift berhenti dan pintunya terbuka, Leon langsung melangkah keluar dari lift, jadi aku pun juga ikut melangkah bersamanya karena tanganku masih ia genggam. "Leon, kamu kenapa sih?" Tanyaku dengan wajah bingung sambil berjalan sejajar dengannya.
Leon melirikku sekilas lalu kembali melihat ke depan, langkah kakinya juga semakin cepat, membuatku sulit mengejar langkahnya. "Tidak, Ti. Aku takut terlambat saja, aku hanya takut hal itu terjadi." Jawabnya dengan wajah datar.
Aku melepaskan genggaman tanganku itu, lalu berhenti berjalan. Ia melihatku dengan tatapan serius, aku mengepal kedua tanganku dan rasanya aku ingin marah padanya. "Kenapa kamu bersikap seperti itu? Tiba-tiba saja kamu menarikku begitu tanpa mengatakan apapun, lalu kamu akan pergi begitu saja?!" Nada suaraku meninggi.
Ia mendekat padaku sambil melihat sekitar, ada yang sedang memperhatikan kami. "Ti, aku tidak boleh telat ke bandara. Kamu tahu kenapa alasannya, kamu yang paling tahu. Lalu kenapa kamu masih bertanya?" bicaranya melembut.
Rasanya hatiku ingin sekali mengatakan padanya kalau ia tidak boleh pergi meninggalkanku. Tapi aku tak bisa melakukannya, aku terlalu takut hal yang lebih buruk akan terjadi jika Leon tidak melawan sakitnya itu.
Ia membelai rambutku lembut, "Sudah, Ti! Ayo, antar aku dengan suasana hatimu yang baik. Aku ingin kamu tersenyum, aku ingin kamu bahagia." Ucapnya pelan, lalu kembali menggandengku untuk segera keluar dari gedung itu.
Setibanya di luar, kami sudah ditunggu oleh sopir taxi yang sama. Ia sudah sampai sebelum kami berdua turun dari dalam Timezone, baguslah kami tidak perlu menunggu lama lagi. Tanpa berpikir panjang, aku dan Leon langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir itu untuk segera menyetir menuju ke bandara secepatnya.
Di dalam mobil, aku dan Leon tidak mengobrol sama sekali, kami sama-sama sibuk dengan kegiatan yang tidak penting. Mungkin bagiku tidak penting, aku hanya berusaha mencari barang-barangku yang ada di dalam tas sandangku, sedangkan Leon sejak tadi sudah dihubungi terus oleh direktur rs dan pihak rs di Singapura. Ya, dia memang sangat sibuk. Bahkan saat-saat ia akan meninggalkan Indonesia pun, ia tetap saja sibuk seperti itu. Aku tidak bisa menegurnya jika ia sudah mengobrol lewat telepon dengan orang-orang di rumah sakit tempatnya bekerja itu.
BERSAMBUNG .....