
Jangan sampai, Tiara tahu soal ini. Aku gak mau membuatnya khawatir.
Ya, tenang aja. Tiara, aku jagain.
Emang mau ke mana sih buru-buru banget, baru juga datang?
Aku gak bisa lama-lama.
Kenapa gak nunggu sampai Tiara siuman?
Gak bisa, nanti ... Aku tidak bisa pergi.
Aku mendengar suara percakapan antara tiga orang. Aku mengenali semua suara-suara itu, ada suara Kia dan Rangga, lalu ada suara .... Gak mungkin Leon, kan? Aku pasti tengah bermimpi lagi, mungkin aku memang belum sadar total, makanya aku hanya bisa berhalusinasi sekarang.
Lah, kenapa gitu? Tiara pasti senang kalau ketemu sama lo?
Iya, dia senang. Aku juga gitu, tapi ... Aku gak bisa pergi kalau dia melihatku.
Karna nanti Tiara bakal nangis lagi?
Yang jelas, aku percayakan sama kalian berdua. Tolong jagain, Tiara, ya!
Tuh, kan. Aku gak mungkin salah dengar, kan? Itu benar-benar suara Leon, aku gak mungkin salah!
Aku harus bangun, aku harus bisa buka mata! Aku mau liat Leon, sebelum ia pergi! Pasti dia bakal pergi lagi, kan? Aku mau liat dia!
Tubuhku meronta-ronta, aku berusaha membuka mataku, dan akhirnya aku terbangun dan melihat Kia yang sedang duduk di kursi sambil memperhatikanku.
"Ah, Tiara! Akhirnya sadar juga lo, udah gue tungguin lama banget loh." Ucap Kia dengan wajah senang.
Aku memperhatikan sekitar, "Kia, gue beneran di rs? Tadi, gue kok kayak denger suara Leon, ya? Gue mimpi?" Tanyaku dengan wajah bingung.
"M-Mana ada, Leon! Gue dari tadi sendirian aja tuh di sini nungguin lo. Ada si Rangga sih, cuma dia lagi keluar bentar." Jawabnya gugup. "Lagian, lo ngapain sih mikirin cowok lo mulu?! Gara-gara itu lo jadi kurang istirahat tahu." Lanjutnya dengan wajah kesal.
"Aku kan cuma bertanya, kenapa lo jadi marah gitu? Kalau emang cuma halusinasi gue, ya gak usah kesal gitu, Ki." Ujarku sambil mencoba duduk. Kia membantuku menyandarkan tubuhku di dinding.
"Ya, gimana gak marah coba? Dokternya tadi bilang lo kurang istirahat, banyak pikiran, jadi gue yakin pasti ini gara-gara cowok lo!"
Aku dan Kia berdebat karena aku mengira kalau ada Leon tadi, ternyata itu semua hanyalah sebuah mimpi. Mungkin, karena aku juga dalam keadaan tidak sadar, makanya aku bisa beranggapan kalau itu adalah hal yang nyata. Padahal sejak tadi, hanya Kia yang menjagaku dan menungguku hingga aku sadar, seharusnya aku percaya padanya, kan?
"Ti, maaf ya, kalau gue kasar ngomongnya ke lo, soal Leon." Ucap pelan Kia.
Aku menggeleng, "Iya, Ki. Gpp, gue paham kok, lo juga khawatir sama gue. Makasih juga udah mau jagain gue sampe siuman."
Eh, mau ngapain sih?
Mana, Leon? Tadi aku liat dia baru keluar dari dalam sini.
Novi! Lo gila ya? Udah gak waras apa? Leon, kan ada di Singapura.
Ah, bohong aja kamu pasti, kan? Biar aku gak ganggu Leon?!
Eh, lo itu ya .... Gak percayaan amat sih? Dibilangin gak ada, dari tadi itu cuma ada aku dan temannya Tiara yang jaga di dalam.
Terdengar keributan di luar ruang rawatku, seperti suara Rangga dan juga Novi yang sedang berdebat di luar.
"Ki, itu pasti Rangga sama Novi deh."
Aku penasaran dengan apa yang mereka perdebatkan di luar. Aku mencopot infus yang ada di tangan kananku, lalu segera bangun dari tempat tidur itu.
"Eh, Ti. Lo gila, ya? Kenapa di buka infusnya, lo perlu loh?!" Kia tampak khawatir.
Aku menggeleng, "Gpp, kok. Nanti aku minta susternya pasang lagi. Aku penasaran apa yang dibilang Novi ke Rangga, kayaknya serius amat."
Kia tak bisa menolak permintaanku, ia pun merangkulku supaya bisa berjalan ke luar dan melihat apa yang sedang terjadi antara Rangga dan Novi.
"Ah, bacod aja! Lo bohong sama gue gak ada gunanya, tahu gak?" Tanya Novi dengan wajah kesal.
Rangga juga kesal, "Ishh, terserah lo dah sekarang! Cari aja sampe mampus, sampe ke lobang semut tuh cari juga."
Aku dan Kia menghampiri mereka berdua. "Rangga, Novi, kenapa sih?" Tanyaku penasaran.
Wajah Rangga langsung berubah kaget setelah menatapku, ia dan juga Kia tiba-tiba bersikap aneh, padahal tidak ada kejadian yang aneh.
"Ti, syukur deh, kamu udah bangun." Ujar Rangga pelan.
Belum menjawab Rangga, Novi langsung menarik tanganku dan menatapku dengan sangat serius. "Tiara! .... Lo juga nyembunyiin Leon, kan? Dia ada di dalam, kan??" Tanya Novi.
Aku melepaskan genggaman tangannya, "Apa sih? Kamu tiba-tiba bilang Leon ada di sini? Kamu kan tahu kalau Leon ada di Singapura, kenapa kamu datang-datang ke sini bilang kalau Leon ada di sini?"
"Tuh, iya. Jangan mengada-ngada deh lo, bikin orang gak tenang aja." Ucap Kia dengan wajah kesal pada Novi.
Aku melihat tatapan mata Novi yang tampaknya jujur, tetapi aku juga percaya pada Kia dan Rangga, tidak mungkin mereka berbohong padaku. Dan aku juga sudah memastikan kalau Leon gak mungkin balik ke Batam cuma gara-gara aku pingsan, kan? Dia gak punya waktu untuk mengurus hal sepele, walau gak bisa kontakan, tapi aku yakin dia sangat sibuk di sana.
Aku bingung siapa dari mereka bertiga yang harus aku percaya, tapi melihat kenyataan sekarang, bahwa saat aku bangun tidak ada Leon, maka aku harus percaya pada Rangga dan juga Kia.
"Tiara, lo percaya kan sama gue?" Tanya Kia dengan wajah serius.
Novi menarik tangan kananku, "Ti, lo seharusnya percaya sama gue. Gue kan temen lo dari SMP, gue gak bohong sama lo!!" Novi juga berusaha meyakinkanku.
Aku bingung, sisi mana yang harus aku percaya. "Aku gak tahu harus bilang apa!" Jawabku singkat. "Yang jelas, lo pasti berhalusinasi, Nov. Leon gak mungkin ada di sini, gue lebih percaya Rangga dan Kia dibanding lo." Lanjutku dengan jelas.
"Ah, Tiara. Lo beneran gak percaya sama gue?"
"Bukan gak percaya, Nov. Tapi emang gak mungkin, itu MUSTAHIL! Leon gak mungkin ada di sini."
Novi tampak tidak terima dengan apa yang aku ucapkan, ia seperti ingin sekali meyakinkanku kalau ia memang jujur mengatakan kalau tadi melihat Leon berada di sekitar rumah sakit.
"Hei, sekarang udah dengarkan? Lo gak ada waktu lagi dah di sini, pergi sana! Lo pasti banyak kerjaan, kan dokter Novi?!" Sindir Kia sambil melihat Bet nama yang ada di dada kiri baju Novi.
Novi mengepal kedua tangannya, "Yaudah deh, kalau lo gak percaya sama gue, gue bakal buktiin pasti apa yang gue liat tadi itu beneran." Ia pun langsung pergi meninggalkan kami bertiga dengan perasaan kesal.
Melihat Novi yang bersikeras mengatakan kalau ia melihat Leon, aku jadi curiga dengan Rangga dan juga Kia. Sejak tadi, mereka seperti sedang menutupi sesuatu dariku, tapi aku tidak tahu apa yang mereka sembunyikan itu.
"Ti, kamu kok udah keluar aja sih? Kamu harus banyak istirahat, dokter bilang ...."
Aku memegang bahu Rangga dengan lembut, "Rangga, aku tahu kok. Tadi, Kia juga udah bilang. Makasih udah khawatir." Sambungku.
Ia mengangguk, "Ya, oke. Tadi itu spontan aja, Ti."
Setelah Novi pergi, aku kembali masuk ke ruang inapku di temani Kia dan juga Rangga. Selama semalaman mereka menjagaku dan menungguku di rumah sakit, aku tidak mau membuat mereka khawatir, makanya aku memaksa diriku untuk beristirahat dan tidak memikirkan apapun lagi. Karena, alasan aku pingsan tadi bukanlah karena tersenggol orang lain, melainkan karena aku memang sedang melemah saja. Terlalu banyak pikiran, stress, dan juga kurang istirahat, bukan karena Leon.
BERSAMBUNG .....