L&M

L&M
BAB 23 : Kekecewaan



Setelah Rangga tak terlihat lagi di jendela kelasku, aku pun segera mengeluarkan buku mata pelajaran yang akan di pelajari nanti. Beberapa menit kemudian, Pak Fandi pun masuk kedalam kelas. Dia duduk di kursi guru yang ada di samping papan tulis, lalu kembali berdiri seraya tersenyum. "Selamat pagi semuanya!"Sapa Pak Fandi.


"Pagi juga, Pak!" Jawab kami serentak.


"Oke, pagi ini kita akan mengulang kembali pelajaran yang kemarin kita pelajari. silakan keluarkan buku catatan kalian, Bapak akan mencoba meringkas sedikit tentang materinya."Ucap Pak Fandi sambil berjalan ke papan tulis, lalu kami pun menuruti apa yang dia katakan. Pak Fandi adalah guru Bahasa inggris, dia sengaja tak memakai bahasa inggris saat pembukaan pelajaran, karena dia bilang kita tetap harus mengutamakan bahasa asli kita yaitu bahasa indonesia.


Biasanya aku sangat bersemangat dengan pelajaran bahasa inggris, tetapi sekarang aku sedang benar-benar tidak bisa memikirkan tentang pelajaran lagi. Aku baru saja mengatakan kalimat yang mungkin membuat teman lamaku itu sedih sekarang. Apakah aku terlalu kasar pada Rangga? Aku yakin dia tak akan lagi bertegur denganku. Aku terus memikirkan masalah tadi pagi sampai tak fokus belajar, aku tak tahu harus bilang apa kalau bertemu dengan Rangga nanti saat jam istirahat atau pun jam pulang Sekolah.


tetapi mengapa aku jadi memikirkan hal itu?bukannya Leon tadi sudah bilang akan menjemputku, tetapi apakah sudah pasti? Apa Leon akan menepati janjinya padaku?


Aku ragu......


Aku sudah membuat kekecewaan....


Aku merasa berdosa sekarang....


Apa aku harus minta maaf pada Rangga nanti??


Saat dulu, sebelum ada Leon di kehidupanku lagi, hanya Rangga lah yang bisa membuatku salah tingkah dengan semua ucapannya. tetapi kini, aku yang tak mengerti dengan jalan kepalanya yang memilih untuk berjalan ke arah yang salah. Kalau pun aku tak bertemu dengan Leon, apakah Rangga akan tetap menjadi Rangga yang aku kenal? Atau dia akan tetap menjadi Rangga yang sekarang? Yang pastinya, semua ini sudah di gariskan oleh takdir dari Tuhan. Tidak akan ada yang bisa merubah semua kehendaknya, semua manusia hanya perlu menjalaninya saja.


Ah, apaan sih Tiara!kamu mikir yang gak-gak deh.


Kalau kamu gak bertemu sama Leon, kamu bakal bisa senang tiap hari? Gak kan, semua itu karena adanya malaikat penyembuh itu dalam hidupmu lagi!!


Tak lama bel Sekolah pun berbunyi, attention! attention! it's time to take a break dan leave each class. perhatian!perhatian!sudah waktunya untuk istirahat dan meninggalkan kelas masing-masing. Thank You!


Bahkan aku tak sadar kalau sudah waktunya istirahat sekarang. Semangat hidupku tiba-tiba saja hilang karena kejadian tadi pagi, aku sungguh merasa campur aduk sekarang. Haahh, apa yang terjadi selanjutnya akan kuserahkan padamu saja Tuhan. Karena ku tak punya semangat dan juga keberanian untuk menghadapi situasi yang mungkin akan terjadi nanti, aku lebih baik duduk di dalam kelas saja sekarang. Semua teman-teman sekelas ku sudah pada keluar dan menyapa teman mereka dari kelas lain untuk berkumpul ke kantin bersama, tetapi tidak denganku aku tak punya teman sekarang.


"Heiii, Tiara! Keluar sekarang dong, katanya kamu berani?!!" Teriak beberapa orang anak laki-laki dari kelas sebelah seraya berlari menuju ke arah Kantin Sekolah.


Aku menutup kedua mata dan telingaku supaya tak mendengar teriakan yang tak penting itu, aku sungguh kesal sekarang. Ohhh, Tuhan! Bisakah engkau membiarkanku berpikir bagaimana cara menghadapi ini semua? Tolong bantu aku!! Apa yang mereka lakukan itu tidak akan berpengaruh padaku, aku tahu kalau itu semua untuk memancingku untuk ke kantin dan menyelesaikan semuanya dengan Rangga. Seperti yang aku bilang tadi, kalau Rangga adalah ketua geng aneh di Sekolah ini. Semua orang takut pada tingkah gilanya itu, bahkan kakak-kakak kelas yang memiliki kemampuan lebih tinggi pun tak mampu melawannya, karena dia punya otak yang licik.


"Mutiara, ayo ke kantin! Jangan di kelas mulu, gak seru tahu. Jangan gitu dong!!"


Beberapa kali sudah mereka terus berteriak di luar kelas sambil memanggil namaku dengan sangat jelas masuk kedalam telingaku ini. Karena aku sudah geram dengan semua ini, aku pun berdiri dari kursiku sambil mengepal kedua tangan disamping tubuhku. Sabar, Ti! Sabar, ini hanya memancingmu untuk melihat wajah Rangga lagi! Aku mengumpulkan semua amarahku dalam kepala ini, tanganku sudah terasa sangat panas sekali.


Pada saat aku baru saja akan keluar dari Kelas, Novi datang menghampiriku dengan wajah khawatir. "Ti, ku harap kamu jangan ke sana! Rangga..... Dia sudah merencanakannya tadi di kelas, aku sudah melihat mereka berkumpul tadi, jangan ke sana ya?!"Usulnya sambil menahan tanganku.


Aku menatap Novi sinis, lalu melepas genggaman tangannya tadi. "Aku harus selesaikan ini dengannya sekarang juga! Aku tak mau lagi bertemu dengan 'orang tidak waras' seperti Rangga Kartanegara!" Jawabku. "Lebih baik kamu lihat saja, aku benar-benar sudah muak dengan sifat anehnya itu. Dia bukan lagi temanku yang dulu!"Lanjutku. Novi hanya menatapku berjalan, dia tak bisa berkata-kata lagi untuk menghentikanku ke kantin. Aku pun tak mau lagi mendengarkan Novi berbicara omong kosong itu, dia sudah memancing harimau untuk keluar dari dalam kandangnya.


Orang-orang yang tadi berteriak itu pun sekarang sudah tidak berkoar-koar lagi, mereka langsung berlari cepat pada saat melihatku berjalan menuju ke kantin dengan penuh rasa kebencian di dalam hatiku. Langkahku semakin cepat pada saat sudah mendekati pintu kantin, aku sungguh tak sabar melihat wajah kebencian Rangga yang tadi di tunjukkan pada Leon. Aku berhenti di depan pintu kantin sambil menggenggam gagang pintu itu dengan sangat keras. Aku membuka pintu itu, dan melangkah cepat mencari di mana keberadaan orang-orang yang membuatku harus keluar dari dalam kelas tadi. Suasana di kantin lebih ramai tidak seperti biasanya, aku tak peduli yang penting aku bisa menemukan di mana Rangga sekarang.


Beberapa orang memperhatikanku berjalan dan beberapa nya lagi sibuk menyantap makan siang mereka dengan tenang. Apakah ini akan menjadi awal di mana aku dan kamu Rangga untuk tidak berteman lagi? Aku sudah bilang padamu, tidak ada yang bisa merubahmu kecuali dirimu sendiri, tetapi kamu tak mau mendengarkan. Kamu malah memilih mendengarkan perkataan dari teman-teman barumu itu, aku pun tak akan pernah peduli lagi jika memang itu kemauanmu Rangga. Dan satu lagi, jangan salahkan aku kalau aku tak akan pernah menerima wajahmu ada di hadapanku lagi, jika kamu tak juga berubah.


BERSAMBUNG .....