L&M

L&M
BAB 7 : Benci



"Yuk, keluar! yang lain udah pada ngambil alat tuh, nanti kelompok kita gak kebagian lagi, kan repot nanti!" Katanya sambil tertawa.


Aku pun baru ingat kalau kami harus segera mengambil alat untuk menanam pohon, tentu saja kelompok kami tidak boleh terlambat, walau aku tidak terlalu semangat karena Novi masih tidak bicara padaku. Aku mengikuti langkah Rangga keluar dari dalam kelas menuju ke lapangan sambil menundukkan kepalaku, bukan karena malu, tetapi karena panas matahari langsung menusuk kulitku.


Teman kelompokku Yuni dan Panji merasa heran dengan sikapku yang sangat berbeda hari ini, "Lah, mengapa kamu Tiara? Kok murung, padahal tadi pagi ada pangeran yang nganterin." Rayu Yuni sambil menahan tawanya.


Aku sedikit kesal, tetapi mau kesal gimana lagi, kan memang benar kalau aku tidak mau menyebut kak Leon sebagai manusia biasa. Dia terlalu sempurna, sampai aku lupa kalau dia menyuruhku memanggilnya dengan nama LEON tadi pagi, karena pesona wajah tampannya itu. "Emm, gak ada Yun! biasalah, karena mataharinya terlalu bersinar makanya aku jadi kesal." Jawabku menyangkal apa yang dikatakan Yuni.


"Iya deh, Tiara. Aku percaya kok!Udah, kita cepat kerjain pohonnya!entar biar langsung di tanam di sana." Ucap Yuni dengan nada pelan sambil menunjuk ke salah satu lubang tanah yang sudah disediakan untuk menanam pohon di dalamnya.


Aku mengangguk, masih dalam kondisi berdiri. Mereka sudah mulai mengotori tangan dengan tanah hitam dari bibit pohon yang akan mereka tanam, sedangkan aku masih saja tidak bergerak untuk membantu kelompokku bekerja. Rangga menyuruhku duduk disamping Novi, entah mengapa dia tiba-tiba membuatku berada dalam satu kondisi hati yang kacau ini. Aku menolak, tetapi aku tak bisa! berkali-kali Rangga mencoba meyakinkan ku untuk duduk disamping Novi, apa Rangga ingin aku dan Novi berbaikan lagi? atau dia ingin aku dipermalukan di depan teman-teman sekelasku karena sikap konyolku yang seperti anak kecil? Maunya pemikiranku sendiri saja, aku tidak memikirkan orang lain.


Aku duduk bersila sambil menatap wajah Novi yang sedang tidak memperhatikanku, dia sedang sibuk merapikan tanah yang berserakan di sekitar kami. Deg! Deg! Deg! Oh Tuhan, jantungku tiba-tiba berdegup kencang! apa yang sedang terjadi? apa aku punya riwayat sakit jantung?makanya setiap kali aku takut, aku akan merasakan seperti jantungku lepas? Aku tidak tahu alasannya, apa aku memang bersalah? apa kata-kata ku pada Novi kemarin membuatnya sakit hati?


Semesta, tolong bantu Tiara! Tiara bingung dengan semua ini!! kirim seseorang penolong untuk meredupkan rasa bersalahku pada Novi.


Prok! Suara tepukan telapak tangan yang sangat keras terdengar di telingaku. Astaga! lagi-lagi aku ditegur oleh Rangga karena melamun, Tiara .... Tiara! kamu memang rajanya melamun ya?! Kurasa kali ini dia kesal padaku, terlihat di wajahnya tergambar raut yang tidak seperti Rangga yang aku kenal karena senyumannya.


Aku menunduk, "maaf, Rangga! Aku melamun lagi, padahal kalian sedang bekerja, kita semua harus menyelesaikan pekerjaan ini." Ucapku menyesal.


Rangga meletakkan bibit pohon yang baru saja dia genggam kembali ke lantai, lalu dia menatapku serius, "Kalau kamu tahu kamu berbuat salah, mengapa masih diulangi lagi?Percuma minta maaf, kalau kamu masih melakukannya lagi!" Katanya dengan nada tinggi.


Bagai petir di tengah hujan deras, Rangga berkata sangat kasar sekali, sehingga rasanya dadaku baru saja tertusuk oleh anak panah yang begitu tajam. Aku tak menyadari kalau Rangga ternyata bisa mengeluarkan kata-kata itu dari dalam bibir manisnya itu, sungguh aku sangat kecewa padanya! Pemikiranku positifku terhadapnya mulai memudar satu persatu sekarang, aku kira dia adalah orang yang berbeda, ternyata dia sama saja seperti laki-laki lain.


"Oh, Tuhan. Apa aku tidak terlalu kasar pada Tiara? mengapa aku langsung memarahinya begitu tadi." Batin Rangga menyesal.


Aku mengepal kedua tanganku di atas lutut ku, kemudian kurasakan kembali kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya tadi. Aku berusaha kuat dan tidak menangis, tetapi tidak bisa!malah semakin terasa sakit di hatiku. Rasanya, bebanku bertambah lagi!masalahku yang satu saja belum selesai, ternyata masalah baru datang lagi.


Tuhan! apa kali ini aku benar-benar tidak boleh meminta maaf? Baik dengan Novi ataupun dengan Rangga?mengapa? mengapa hubungan baik ku dengan mereka tiba-tiba hancur hanya karena masalah sepele?


Novi terus memandangi wajahku yang gugup dan ketakutan, seakan dia sebenarnya masih peduli denganku, tetapi dia tidak mau menunjukkannya. Aku mencoba menahan semua perasaan kecewa yang ada di dalam hatiku, nanti ada saatnya aku akan mengeluarkan semua perasaan yang menjadi beban itu, tetapi bukan sekarang karena ini masih di Sekolah. Juga masih banyak kegiatan yang harus kami selesaikan sebelum jam istirahat, yaitu bekerja sama menanam pohon kecil di sekitar pekarangan lapangan Sekolah kami supaya ada penghijauan yang membuat suasana Sekolah menjadi lebih adem dan tidak terlalu terpapar sinar matahari.


Setelah aku terdiam, suasana di kelompok kami pun suram. Semua jadi hanya fokus memperhatikanku, aku hanya bisa diam sambil menundukkan kepalaku, seakan aku memang seperti pelaku kriminal yang sudah menjadi buronan. Untungnya, Bu Salsa sudah kembali dari kantor, jadi mereka bisa fokus mendengarkan Bu Salsa daripada terus memperhatikan orang yang tidak berguna sepertiku.


"Oke, sudah ada yang siap belum?Kelompok satu sudah siap?"


"Belum, Bu!"


"Aih, gimana nih? Kelompok dua?kelompok tiga, belum juga?" Tanya Bu Salsa dengan wajah kecewa.


Kami menggelengkan kepala sambil memperhatikan raut wajahnya itu, "Belum, Bu!"


"Ah, yasudahlah!kalian lanjutkan dulu ya, ibu ada urusan diluar Sekolah! nanti ada yang ngawasin kalian kok, ibu tinggal ya!"


Bu Salsa pamit untuk pergi meninggalkan Sekolah, dia bilang kalau ada urusan yang harus diselesaikan dahulu. Hah, ternyata sekarang aku benar-benar akan jadi pusat perhatian dan aku akan merasa diasingkan karena Bu Salsa sudah pergi.


"Oke, Bu! Siap, nih bentar lagi!" Jawab beberapa murid laki-laki dengan santai.


Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi tetapi kami masih saja berkeringat mengerjakan pepohonan itu. Bu Salsa tadi berpesan kalau kami tidak boleh masuk kelas kalau satu kelompok saja belum selesai, dan memang kelompokku yang belum siap. Semua teman-temanku begitu kesal dan marah karena kelompok kami bekerja dengan sangat lambat sekali, mereka seketika seperti seorang Ustad dan Ustazah yang akan berceramah panjang lebar pada kami kelompok dua.


tetapi sungguh aku tak peduli apa yang mereka katakan, karena pikiranku sudah kacau sekali sekarang, aku tak bisa berpikir untuk lebih santai seperti diriku yang biasanya. Semua orang hari ini seperti menunjukkan sisi sebenarnya yang ada didalam diri mereka padaku, seperti aku berbuat salah pada mereka semua. Padahal aku hanya merasa punya kesalahan pada Novi dan juga Rangga ..... eh, salah! bukannya aku bicara baik-baik pada Rangga, mengapa aku yang salah? seharusnya dia! dialah yang berkata kasar padaku tadi, sungguh tidak sopan! aku baru tahu kalau sifat aslinya ternyata seperti itu! aku tidak akan percaya lagi padanya.


Novi memperhatikanku dengan sangat saksama, "Tiara? Jangan sengaja melamun lagi! Aku tidak suka, tetapi ternyata bukan aku saja." Katanya sambil menunjukkan raut wajah kesal padaku.


Aku sadar bahwa sejak tadi banyak yang memperhatikan aku, tetapi aku benar-benar tak peduli! Aku sungguh mematikan hati dan perasaanku hari ini karena Rangga! Rangga yang datang dengan senyuman ternyata juga bisa pergi dengan amarah yang besar padaku. Tampak Rangga juga sangat serius memperhatikan kerjaku sejak tadi, tetapi aku tak mau lagi berpura-pura melihatnya! Kali ini aku benar-benar tidak menganggapnya ada di antaraku, aku sudah muak melihatnya.


Kriiing! Kriiiing! Kriiiing! Perhatian!Perhatian! Bel istirahat pertama telah berbunyi! Dipersilahkan semua murid untuk keluar dari ruang kelas dan pembelajaran akan dilanjutkan setelah 15 menit istirahat. terima kasih!


Astaga! sudah istirahat, kami belum juga menyelesaikan pekerjaan ini. Pasti nanti Bu Salsa marah sama kami semua anggota kelompok dua.


Semua orang mulai keluar dari dalam kelas mereka, suasana kembali ribut, aku sungguh tidak suka hal ini!Akhirnya pekerjaanku sudah selesai, semua pohon yang kami tanam tadi sudah ku beri pupuk dan disiram oleh Novi.


"Wooah! Akhirnya kita bisa istirahat juga,Yuk!" Ajak Panji dengan wajah senang.


"Hei, Panji! kita tunggu yang lain juga lah! mengapa kamu ini, mau enak sendiri aja?" Yuni menanggapi ketus ajakan Panji yang ingin secepatnya pergi ke kantin untuk istirahat.


"Iya, iya! cerewet amat sih?" Jawab Panji kesal. "Novi, Rangga, Tiara! kita istirahat bareng aja, mau?"


Aku mengangguk pelan tanpa menjawab sepatah kata, Novi dan Rangga juga mengangguk dan mereka berdua langsung berjalan menuju ke kantin. Yuni merasa heran, dia menatapku berulang kali dengan wajah bingung. Sepertinya dia bingung mengapa Novi tak berbicara dan mengajakku ke kantin bersama, tetapi aku tak mau menjelaskan padanya apa yang terjadi pada kami berdua.


Aku biarkan mereka berempat jalan lebih dulu dariku, aku merasa harus menjaga jarak dengan mereka semua, rasanya aku tak harus dekat dengan mereka lagi. Apa aku salah? aku sungguh berharap ada yang bisa membuatku lupa akan semua hal yang sudah terjadi antara aku dan Rangga ataupun aku dan juga Novi, aku sungguh ingin melupakan saja semua itu! Bisakah?


Kantin sudah penuh dengan semua murid, tetapi ada yang berbeda hari ini. Tiba-tiba ada keramaian di salah satu meja, ada apa? apa mereka melihat sesuatu yang sangat istimewa sehingga rela meninggalkan meja makan mereka? Suara teriakan dari sana sini mengisi seluruh kantin kami, entahlah mengapa tiba-tiba aku merasa telingaku mulai sakit!


Aku mencoba melihat dari kejauhan, "Apa yang mereka lihat? kalian bisa melihatnya?" Tanyaku pada Novi dan Panji yang ada di depanku.


Rangga mendengar apa yang aku katakan, dia memalingkan sekejap wajahnya lalu kembali melihat keramaian itu. "Entah, aku juga gak tahu! heboh banget, mending kita makan aja!" Jawab Novi tidak peduli dengan kegaduhan itu.


Panji tak setuju dengan Novi, dia malah ingin sekali menyingkirkan semua orang supaya bisa melihat apa yang terjadi. "Aih, nona cerewet! aku tidak setuju denganmu! ..... ini ada yang aneh, tidak seperti biasanya mereka heboh gitu."


"Aku juga sependapat denganmu, Panji! Apa kita coba lihat saja, biar mereka bertiga bisa lihat siapa yang membuat kehebohan itu?" Ucap Rangga sependapat dengan Panji sambil menatap serius ke arah keramaian itu.


Tanpa bicara panjang lebar lagi, dia dan Panji sama-sama berjalan menyingkirkan semua orang yang ada di depan mereka, entah apa yang mereka pikirkan! seakan aku, Novi, dan Yuni adalah Tuan Putri yang sedang dijaga dari keramaian masyarakat nya saja. Sampai orang pun mau menyisihkan tempat supaya kami bisa melihat apa yang terjadi, sampai membuat suasana menjadi sangat ramai seperti antrian sembako.


"Permisi! Permisi!" Yuni meminta semua mundur dengan sopan. Aku hanya bisa diam, sambil menatap penuh rasa penasaran dalam hatiku kini.


"Kalian baru istirahat? apa kalian kenal seseorang dengan pipi chubby nya? Dia anak kelas 10 IPS. "


"Kyaaaa! yang mana kak? sebutin namanya? kami akan menebaknya!!" Ucap histeris semua siswi yang ada di kerumunan itu, seakan tergila-gila akan sesuatu.


" Oppa, Saranghae. "  Dalam bahasa korea. Artinya, 'kakak, aku mencintaimu' .


tetapi, Tunggu sebentar! Aku seperti tidak asing dengan suaranya, tetapi siapa dia? sampai bisa membuat kehebohan di kantin seperti itu?Apakah dia selebriti? Artis? aktor?atau apapun itu yang terkenal dalam dunia Entertainment?


"Kalian tidak tahu? sayang sekali, padahal tadi pagi saya mengantarnya!" Ucap laki-laki itu lagi dengan nada suara lembut.


Lagi-lagi aku sangat yakin kalau aku mengenal suara itu, walau sedikit samar-samar karena banyaknya keramaian di sekitarku, aku tidak mungkin salah kan? Kalian tahu siapa pria itu? Apa hanya aku yang merasa kalau dia itu adalah makhluk sempurna yang itu? Apa kalian tidak merasa begitu? Apa aku benar? segera tunjukkan padaku wujudnya!


Akhirnya Rangga dan Panji berada di posisi depan, aku melihat tubuh mereka berdua seperti tidak percaya akan apa yang mereka lihat, bagaimana denganku nantinya? kalau benar dia adalah orang yang sudah lama hilang itu? Jantungku tak bisa berhenti berdetak kencang, aku gugup, gelisah, semua bercampur menjadi satu sekarang. Kita lihat sama-sama ya! satu .... dua ... tiga ....


"Leon!" Teriakku dengan wajah terkejut.


Dia menatap wajah panikku dengan senyuman kaku nya itu, "Iya, Tiara! ini aku, mengapa?"


BERSAMBUNG .....