
Leon duduk di sofa sambil menyumbat lubang hidungnya dengan tissue, "Hah, lagi-lagi diganggu oleh darah menyebalkan ini," Gumamnya. Setelah itu, dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan sisa darah yang mengenai tangannya.
Beberapa menit kemudian, aku mencari Leon di kasurnya, tetapi dia tidak ada, "Leon?" Aku memanggilnya tetapi tidak ada yang mendengar.
Aku mendengar suara keran air yang hidup di dalam kamar mandi, jadi aku pun mendekat ke pintu kamar mandi untuk memastikan, "Leon? Kamu di dalam ya?" Tanyaku sambil mengetuk pintu.
dia mematikan keran air, "Iya, mengapa?" dia balik bertanya, tetapi tidak membuka pintu kamar mandinya.
"Tidak ada sih, aku cuma nyariin aja. Kirain ke mana tadi." Jawabku.
Leon membuka pintu kamar mandinya, lalu berdiri tepat di depanku. "Kamu gak usah khawatir, aku baik-baik saja."
dia mencoba meyakinkanku kalau keadaannya baik-baik saja. Memang seharusnya aku tidak perlu terlalu merasa khawatir padanya, karena dia masih baik-baik saja. Aku melirik ke dalam kamar mandi, di dekat keran air itu ada sebuah tissue yang sudah berdarah. Aku ingin bertanya apa hal itu mengganggunya, tetapi aku tidak ingin membahas tentang itu, sama saja membuat hatiku terluka lebih dalam.
Leon menggenggam tanganku, "Ti, aku tahu kamu bingung harus bagaimana, tetapi aku baik-baik saja itu yang penting kan?"
Aku mengangguk ragu, "Iya, Leon. Aku tidak akan memikirkan itu lagi," Jawabku pelan.
dia memelukku dengan tubuh dinginnya, aku pun memeluk erat tubuhnya, karena aku akan kehilangan pelukan ini untuk sementara. Aku tidak akan merasakan kehadirannya, aku tidak akan bisa melihat senyum di wajah dinginnya, aku tidak bisa berjalan-jalan dengannya, dan aku juga tidak akan bisa memeluk tubuhnya seperti sekarang mulai lusa.
Leon, aku harus memanfaatkan waktu yang seperti ini kan saat denganmu? Aku tidak akan bisa melakukan hal ini saat kamu di Singapura, aku tidak bisa melihatmu secara langsung lagi. Aku ingin bisa melihatmu terus, tetapi aku harus kuliah, mengejar cita-citaku untuk menuliskan kembali kisah kita. Walau harus mengorbankan sedikit perasaanku padamu, aku harus tetap kuat.
Malam harinya .....
Tepat pukul 20:45 WIB Rangga dan Leon sudah boleh kembali ke rumah. Saat ini kami sedang menunggu ayahku dan bunda untuk menjemput kami, semua sudah membawa barangnya masing-masing. Karena aku masih khawatir tentang dinginnya malam, aku menyuruh Leon untuk memakai jaket yang tebal supaya dia tidak kedinginan.
"Ti, aku sudah kepanasan, mengapa kamu malah menyuruhku memakai jaket ini?" Tanya Leon dengan wajah yang sudah mulai basah karena keringat, padahal hari sangat dingin.
Aku kesal, "Leon, tentu itu bagus kan? Kamu sakit gak boleh kena angin malam kayak gini."
Rangga tertawa, "Ti, kan Leon sakitnya emang walau di tempat dingin dia emang bakal keringatan," Sambungnya, "Kalau kamu menyuruhnya memakai jaket ini, sama saja dia akan semakin gerah karena panas."
Aku menatap mereka kebingungan, "Begitu ya?" Mereka berdua mengangguk serentak.
Saat kami berdebat, sebuah mobil datang dan tampak tidak asing bagiku. Aku perhatikan nomor plat nya, sudah tidak diragukan lagi, itu adalah mobil ayah dan bundaku.
"Leon, Rangga! Mereka sudah sampai." Ucapku dengan wajah senang.
Bunda dan ayah keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiriku, "Tiara, Leon, Rangga! Udah lama nunggu ya? maaf, tadi macet banget di jalan," Jelas bunda.
"Iya, gak apa-apa, bun. Lagian keselamatan yang paling penting, toh kami gak ngapain-ngapain juga," Balas Rangga dengan sangat santai.
Sementara aku, bunda, dan Rangga berbincang, Leon dan ayah mengangkat semua barang kedalam bagasi mobil. "Sudah semua kan? Gak ada yang ketinggalan lagi?" Tanya ayah.
Aku, Leon, dan Rangga menjawab serentak, "Tidak ada lagi, ayah."
Bunda dan ayah tertawa karena melihat kekompakan kami bertiga yang seperti anak kecil. "Yasudah, ayo naik semuanya ke mobil! terburu malem entar gak bisa istirahat," Ajak bunda sambil membukakan pintu belakang kiri mobil.
Ayah duduk di kursi setir, bunda duduk di samping ayah. Sedangkan aku, Leon, dan Rangga duduk di belakang. Leon duduk disebelah kananku dan Rangga duduk disebelah kiriku, yang artinya aku duduk di antara mereka berdua.
Aku memperhatikan Leon tampak risih karena menggunakan jaket itu, jadi aku menyuruhnya untuk melepas jaketnya itu, "Leon, buka jaketnya!"
Leon bingung, "Loh, tadi kamu bilang ...."
Leon menuruti apa yang aku katakan padanya, tetapi tampak di wajahnya sangat heran dengan perintahku itu. Setelah dia membuka jaket, aku mengatur AC mobil hanya ke arah Leon saja. Dia semakin heran, tetapi aku menghiraukannya saja, seolah-olah tidak ada siapapun di sampingku. Setelah itu, aku bersandar di kursi dan memejamkan mataku karena kelelahan.
Bukan hanya aku, tetapi Rangga sejak awal di mobil sudah tertidur sangat pulas sekali. Di antara kami bertiga, hanya Leon yang tidak juga beristirahat walau sebentar saja di mobil, sambil menunggu perjalanan ke rumahnya. Dia menatap wajahku dengan penuh harapan, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia memendamnya saja dalam hati.
Bunda melirik ke belakang untuk melihat kami, dia kaget karena hanya Leon yang tidak tidur, "Loh, Leon? Kamu tidak istirahat? Kan kamu sakit, istirahat sebentar aja," Usul bunda dengan wajah khawatir.
Leon menggelengkan kepalanya, "Gak apa-apa kok, bun. Biar Tiara sama Rangga aja yang istirahat, mereka sudah hampir seharian jagain Leon terus, kelihatan kalau mereka lebih lelah."
"Oke, terserah kamu aja. Kalau ngantuk istirahat aja, kita masih lama nyampenya karena macet," Bunda kembali menghadap ke depan.
Leon diam sejenak, lalu dia ingat pada papa dan mamanya yang masih di Jakarta. dia tak mengabari lagi kepada kedua orang tuanya itu tentang kondisinya sekarang, "Oh, iya, bun."
Bunda kembali memperhatikan Leon, "Iya, Leon?"
Leon ragu-ragu, dia ingin bertanya tentang papa dan mamanya, "Papa dan mama .... Apa mereka akan ke Batam untuk mengantar Leon besok?" Tanya Leon dengan nada pelan.
"Emm, bunda gak tahu pasti. karena papa kamu bilang keadaan kantor di Jakarta sangat darurat, jadi mungkin hanya mama kamu saja yang akan datang ke Batam," Jawab bunda.
"Begitu ya, bun."
"Leon, selama kamu dirawat di rs mama dan papamu tidak berkunjung?" Tanya ayah secara tiba-tiba.
Leon menggelengkan kepalanya, "Tidak, ayah. Mereka hanya menyuruh Leon untuk bersiap-siap ke Singapura besok, mungkin karena itu mereka mengira Leon baik-baik saja," Tampak di wajahnya kekecewaan yang sangat dalam yang tidak pernah dia tunjukkan padaku.
"Oh, begitu? Yasudah, kamu tidak perlu khawatir, sekarang kan sudah ada Tiara yang slalu nemenin Leon, mungkin papa dan mama mu memang sedang punya urusan yang mendadak, jadi harus meninggalkan Leon," Jelas ayah panjang lebar sambil fokus menyetir mobilnya.
Setelah hampir 1 jam di dalam mobil, akhirnya kami sampai di rumah Rangga, untuk mengantarnya lebih dulu. Leon membangunkan aku dan Rangga karena tujuan pertama kami sudah sampai. Bunda dan ayah juag sudah tampak berbincang dengan ibunya Rangga, memberitahukan kalau Rangga sudah pulang dengan kami. Ibunya tampak sangat senang, mungkin karena Rangga juga anak satu-satunya, dan tidak ada yang menemani ibunya selain Rangga, karena ayahnya sudah meninggal sejak dia masih SD.
Rangga keluar dari mobil dan dia langsung memeluk ibunya dengan sangat erat, terlihat rasa kerinduan yang sangat dalam di antara mereka berdua. Sedangkan aku dan Leon tetap di mobil, Leon membuka jendela yang ada di sampingnya supaya kami bisa melihat keluar.
"Rangga, ibu kangen banget sama kamu. Jangan bawa motor ngebut-ngebut lagi atuh, bahaya! Untung ada dokter Leon lewat mau nolongin," Ucap ibunya Rangga dengan wajah gembira sekaligus khawatir.
Rangga tersenyum, "Iya, buk. Rangga janji gak akan nakal lagi."
Melihat mereka senang membuat hatiku terasa hangat, tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu pada anak-anaknya. Walau Rangga sudah sedikit nakal karena bergabung dengan anak geng motor, tetapi ibunya tak lelah menasehatinya untuk tetap pada jalan yang benar.
Setelah mengantar Rangga, kami pun langsung menuju ke rumah Leon. Tak berselang lama, kami sampai. Saat bunda dan ayah baru saja akan turun dari mobil, dia langsung cepat mengatakan kalau bunda dan ayah tidak usah turun dari mobil," Bunda, ayah, gak usah turun! Gak apa-apa kok. Biar cepet nyampe rumah, Tiara juga udah ngantuk banget nih."
"Oh, iya. Gak apa-apa nih?" Tanya bunda.
Leon mengangguk, tadinya aku tidur di bahunya, tetapi sekarang karena dia akan turun dari mobil, Leon memindahkan kepalaku bersandar ke kursi supaya dia bisa segera turun dari mobil.
"Leon, kalau ada apa-apa telfon aja ke bunda, ayah, atau ke Tiara!"
"Iya, bun. Terima kasih, udah antar Leon sampai rumah! Bilang ke Tiara juga makasih, udah temenin Leon dua hari di rs," Ucapnya lalu keluar dari mobil," dia mengambil barangnya yang ada di bagasi dan menutup kembali bagasi. "Leon masuk dulu ya, ayah, bunda!"
"Iya, Leon," Jawab serentak ayah dan bunda.
Ayah pun mengunci semua jendela mobil dan kami melanjutkan perjalanan ke rumah. Sungguh di sayangkan karena aku tidak bisa melihat wajahnya, karena aku sudah tertidur. Setelah mobil ayah tak terlihat oleh matanya, Leon pun segera masuk kedalam rumahnya.
BERSAMBUNG .....